Sunday, September 27, 2026

Rindu Kehilangan Sosok Abuya




Detik telah berganti menjadi menjadi menit, menit telah berganti menjadi jam, jam telah berganti menjadi hari dan seterusnya. Banyak sekali waktu yang telah engkau habiskan dan pastinya engkau gunakan untuk mengabdi pada sang maha kuasa, engkau adalah anugrah terindah bagi kami. 


Aku dulu ketika lewat jendela sebelah ruanganmu untuk mengabdi, yang kami dengar selalu lantunan Al-Qur’an, sholawat dan ibadah lainnya, tapi itu dulu, karena sekarang engkau telah menuntaskan tugasmu dan sudah saatnya engkau kembali ke sisinya untuk menemui sang maha pengasih, kekasihmu, orang yang engkau sayangi, orang tua juga para guru-gurumu. Kami pasti ikut senang dengan hal itu, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, tapi kepergianmu adalah peristiwa yang sangat sulit dipercaya, hanya air mata yang dapat menjelaskannya waktu itu, langit pun turut bersedih kehilangan sosok sepertimu. segala sesuatu yang engkau lakukan padaku, aku takkan bisa melakukannya. kasih sayang, ketulusanmu tak pernah tergantikan, sekarang kami tak bisa lagi melihatmu, mendengarmu. Banyak sekali kenangan yang sangat indah yang sudah terlewatkan, bahkan jika kenangan itu dapat diputar beberapa kali pun, akan tetap kunikmati asal ada dirimu, awal mulaku bertemu dengan engkau, engkau dengan tulus memberikan senyuman dan pandangan yang teduh, tapi itulah waktu ia tak dapat untuk diputar kembali, dan sekarang yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang sangat kami rindukan. Rindu kepada guru, orang tua yang selalu mendidik anaknya dengan ketulusan dari hati yang terdalam. Kasih sayangmu menyeluruh kepada kami tanpa terkecuali, mungkin hanya sebatas kata terimakasih, saya sangat tidak pantas untuk menerima semua itu. 


  Maafkan aku jika khidmah ku kepadamu masih jauh dari kata sempurna, yang aku inginkan hanyalah aku masih engkau ingat, meskipun sangat tidak pantas aku mendapatkan hal tersebut. Entah apa jadinya diriku tanpamu, dan sampai kapan pun engkau takkan pernah aku lupakan, dan sampai kapan pun juga rindu ini terus ada untukmu…


Kito sedoyo kangen sanget kaleh Abuya….


Milad Abuya, 23 September



Tuesday, September 1, 2026

Rasulullah ﷺ, Pemimpin Sepanjang Zaman

 


Ketika mendengar kata “pemimpin,” mungkin yang pertama kali terbayang di pikiran kita adalah sosok yang punya jabatan, kekuasaan, banyak pengikut, atau harta yang melimpah.

Namun, ada satu pemimpin yang sangat berbeda dari gambaran tersebut. Beliau tidak memiliki istana yang megah, juga tidak meninggalkan harta yang banyak. Meskipun demikian, nama beliau tetap hidup dan disebut oleh miliaran manusia hingga hari ini. Beliau adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ bukan sekadar pemimpin yang mengomando masyarakat, melainkan sosok yang menuntun manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Beliau mengubah jalannya sejarah bukan dengan pemaksaan, melainkan melalui keindahan ajaran dan akhlak yang beliau contohkan.

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam masa kelam. Perselisihan antarsuku sering terjadi, dan kaum yang kuat bebas berbuat semena-mena kepada yang lemah. Orang-orang saat itu merasa lebih tinggi hanya karena faktor suku, keturunan, atau kekayaan.

Rasulullah ﷺ lalu hadir membawa cahaya Islam. Beliau menegaskan bahwa manusia tidak menjadi mulia karena harta, jabatan, atau garis keturunan. Di hadapan Allah, satu-satunya hal yang membuat seseorang mulia adalah tingkat ketakwaannya.

Beliau juga mengajarkan prinsip hidup yang sederhana namun sangat mendasar. Rasulullah ﷺ mendidik kita untuk selalu jujur, amanah, sabar, menyayangi sesama, menjaga lisan, dan berlapang dada untuk memaafkan. Beliau tidak langsung membangun sebuah negara besar, melainkan memperbaiki individu manusia satu per satu. Dari pribadi yang baik, lahirlah keluarga yang baik. Dari sana, terbentuk masyarakat yang baik hingga akhirnya tercipta sebuah peradaban yang mulia.

Hari ini, kita hidup di zaman yang jauh berbeda dengan masa Rasulullah ﷺ. Kita dikelilingi oleh ponsel, internet, dan media sosial. Kita bisa mengobrol dengan orang yang jauh hanya melalui layar, dan informasi bisa menyebar dalam hitungan detik.

Teknologi memang terus berkembang dan gaya hidup manusia ikut berubah. Namun, ada satu hal yang harus tetap kita genggam erat, yaitu akhlak.

Saat ada orang yang membuat kita kesal, ego kita mungkin ingin membalas. Namun, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menahan diri dan belajar berlapang dada. Ketika banyak orang berlomba-lomba mencari panggung demi pujian manusia, kita harus ingat bahwa hidup ini bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang mencari ridha Allah.

Pada akhirnya, ajaran Rasulullah ﷺ sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita. Kita tidak harus menunggu momen besar untuk meneladani beliau. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil di sekitar kita: berkata jujur, menghormati orang tua dan guru, menjaga ucapan, membantu teman, menepati janji, serta tidak gengsi untuk meminta maaf maupun memaafkan.

Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar menghafal nama dan kisah hidup beliau, melainkan tentang perjuangan kita untuk membumikan akhlak beliau dalam setiap langkah hidup kita sehari-hari.

Oleh: Ali.