Friday, June 12, 2026

Bayangan Sepuluh Hitam

 


Namanya Ru. Sejak kecil ia dirawat oleh Paman Xion dan Bibi Rah. Mereka menemukannya saat sedang berlatih bertarung melawan Beruang Alpha di Pegunungan Gedomazo.

Saat itu, mereka menemukan sebuah keranjang rotan yang tergeletak di tengah hutan. Di dalamnya terdapat seorang bayi laki-laki dan secarik kertas yang bertuliskan:

"Tolong rawat anak ini. Saya orang miskin yang terpaksa melakukan hubungan gelap untuk mencari sesuap nasi. Saya sangat menyesal."

"Hah? Anak siapa ini?" tanya Paman Xion saat menemukan bayi tersebut.

"Malang sekali nasib anak ini. Kita rawat saja dia, ya, Sayang," ujar Bibi Rah.

"Iya, kasihan sekali anak ini," balas Paman Xion.

Sejak hari itu, Ru tumbuh sebagai anak mereka sendiri.

Hari ini, Ru sedang berlatih Teknik Bayangan Sepuluh Hitam. Selama dua minggu penuh ia mengasingkan diri di hutan untuk mengasah kemampuannya.

Namun, saat kembali ke rumah, pemandangan mengerikan menyambutnya.

Tubuh Paman Xion dan Bibi Rah telah terpotong menjadi sembilan bagian.

"TIDAAAKK...!! SIAPA... SIAPA YANG TEGA MELAKUKAN HAL INI?! AKU TAK AKAN MEMAAFKANNYA!!"

Ru menjerit histeris. Air mata mengalir deras di pipinya.

Setelah menangis dua setengah jam, ia lalu membakar potongan tubuh paman Xion dan bibi Rah menjadi abu.


Abu tersebut kemudian dimasukkannya ke dalam sebuah guci yang selalu ia bawa saat berpetualang.

Ketika selesai, pandangannya tertuju pada seorang pria berjubah putih dengan topeng emas di kejauhan. Pria itu sedang mengangkat tumpukan kayu bakar menggunakan Teknik Hout Spot.

Tubuhnya dipenuhi lumuran darah yang masih segar.

Ru langsung menaruh curiga.

Ia yakin pria itulah yang telah membunuh Paman Xion dan Bibi Rah.

Sosok misterius itu terlihat berjalan menuju Gunung Muria, tepatnya ke Puncak 29.

Pada masa itu, sebagian besar gunung telah menjadi gundul akibat penebangan besar-besaran oleh berbagai kerajaan untuk membangun kastil dan istana. Ru merasa jika markas orang tersebut berada di situ karena ia pernah lewat dan menemukan istana besar nan megah berwarna putih cerah.

"Sepertinya aku tahu ke mana dia pergi. Aku harus mengejarnya sampai titik darah penghabisan."

Wajah Ru dipenuhi amarah.

Perjalanan menuju Gunung Muria bukanlah perjalanan yang mudah.

Tempat itu dipenuhi berbagai jebakan mematikan. Salah satunya adalah bunga mawar raksasa setinggi dua meter yang dapat meledak jika tersentuh oleh apa pun.

Namun, yang paling mengerikan adalah Macan Muria.

Seekor harimau putih raksasa tanpa satu pun belang hitam di tubuhnya. Konon, kecepatan larinya mampu mencapai 360 kilometer per jam.

Ru menggenggam guci abu paman dan bibinya erat-erat. Angin gunung yang dingin berhembus, tetapi kemarahan di dalam hatinya jauh lebih membara.

Dengan langkah cepat, ia berlari menuju Gunung Muria. Teknik Bayangan Sepuluh Hitam membuat tubuhnya seperti kabut hitam yang melesat di antara pepohonan.

Namun, perjalanan itu tidak mudah.

Saat memasuki lereng pertama, Ru hampir menyentuh bunga mawar raksasa setinggi dua meter. Kelopaknya berwarna merah menyala dan mengeluarkan suara mendesis.

"Hampir saja..."

Ru segera membuat bayangan kecil berbentuk tikus dan menyuruhnya menyentuh bunga tersebut.

BOOOOMM!!

Ledakan besar mengguncang tanah. Batu-batu beterbangan ke segala arah.

"Jadi benar, bunga ini meledak."

Ia pun melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati.

Beberapa jam kemudian, ia tiba di dataran gersang dekat Puncak 29. Tiba-tiba tanah bergetar.

GRRRRAAAUUUGHHH!!

Seekor macan putih raksasa muncul dari balik bebatuan. Tubuhnya hampir sebesar rumah. Matanya berwarna biru terang.

"Macan Muria..."

Ru langsung melompat ke belakang.

Dalam sekejap, macan itu menghilang.

"CEPAT SEKALI!"

BRAKK!!

Ru terpental puluhan meter setelah terkena hantaman ekor macan tersebut. Darah menetes dari sudut bibirnya.

Macan itu kembali menghilang.

Ru menutup matanya.

"Paman dan Bibi... pinjamkan keberanian kalian."

Ia mengaktifkan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam tingkat ketiga.

Sepuluh bayangan hitam muncul dari tubuhnya.

Bayangan pertama berubah menjadi serigala.

Bayangan kedua menjadi elang.

Bayangan ketiga menjadi ular raksasa.

Dan tujuh lainnya berubah menjadi prajurit bayangan.

"Serang!"

Pertarungan sengit terjadi.

Elang bayangan mengalihkan perhatian macan. Serigala bayangan menggigit kaki belakangnya. Sementara para prajurit bayangan menyerang dari segala arah.

Meski begitu, Macan Muria terlalu kuat.

Satu demi satu bayangan Ru dihancurkan.

Namun saat macan itu melompat untuk menerkamnya, Ru menemukan celah.

"Bayangan Kesepuluh: Tombak Kegelapan!"

Seluruh sisa energi bayangan berkumpul menjadi tombak hitam sepanjang lima meter.

"MATI KAU!!"

SRAAAKK!!

Tombak itu menembus dada Macan Muria.

Makhluk buas tersebut mengaum keras sebelum akhirnya roboh.

DUUUMMM!!

Tanah bergetar saat tubuh raksasanya jatuh.

Ru terengah-engah. Seluruh tenaganya hampir habis.

Namun dari puncak gunung, terdengar suara tepuk tangan.

"Hebat sekali."

Ru menoleh.

Di atas tebing berdiri seorang pria berjubah putih dengan topeng emas.

Di belakangnya tampak istana putih megah yang pernah dilihat Ru.

Dan yang membuat darah Ru mendidih adalah...

Di pinggang pria itu tergantung pedang yang sangat dikenalnya.

Pedang milik Paman Xion.

"Kau...!!"

Pria bertopeng itu tertawa kecil.

"Jadi kau anak yang mereka rawat selama ini."

"Apa maksudmu?!"

"Aku tidak membunuh mereka karena kebetulan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Lalu kenapa?!"

Pria itu perlahan melepas topengnya.

Wajahnya membuat Ru membeku.

Karena wajah pria itu...

Sangat mirip dengan wajahnya sendiri.

"Bersiaplah, Ru."

Pria itu tersenyum tipis.

"Saatnya kau mengetahui siapa orang tua kandungmu sebenarnya."

Ru membeku melihat wajah pria itu.

Wajah mereka hampir sama.

Hanya saja pria itu terlihat lebih tua sekitar dua puluh tahun.

"Siapa kau?" tanya Ru.

Pria itu tersenyum.

"Namaku Zaru. Aku kakak kandung ayahmu."

Ru terdiam.

"Apa?"

"Ayahmu adalah Raja Kegelapan dari Kerajaan Argen. Ia memiliki kekuatan yang ditakuti seluruh benua."

"Lalu kenapa aku dibuang?"

Zaru menarik napas panjang.

"Karena saat kau lahir, seorang peramal berkata bahwa suatu hari kau akan menjadi orang yang membunuh ayahmu dan menghancurkan kerajaan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Itu alasan yang bodoh."

"Memang. Tapi ayahmu mempercayainya."

Zaru kemudian menjelaskan bahwa ibu Ru menolak membunuh bayinya sendiri. Diam-diam ia melarikan Ru dan menitipkannya kepada seseorang. Dalam pelarian, ia menulis surat yang ditemukan Paman Xion dan Bibi Rah agar identitas Ru tidak diketahui.

"Lalu di mana ibuku sekarang?"

Zaru menunduk.

"Sudah meninggal sepuluh tahun lalu."

Ru terdiam.

Ia tidak sempat mengenal ibu kandungnya.

Ru mengangkat kepalanya.

"Kalau begitu, siapa yang membunuh paman dan bibiku?"

Zaru menjawab pelan.

"Bukan aku."

"Lalu siapa?"

"Orang yang saat ini menjadi Raja Argen."

"Katanya ayahku raja?"

"Sudah bukan."

Ternyata beberapa tahun sebelumnya ayah Ru dibunuh oleh jenderalnya sendiri yang bernama Kharzon.

Kharzon merebut takhta dan membantai siapa pun yang mengetahui keberadaan pewaris asli kerajaan.

Termasuk Paman Xion dan Bibi Rah yang diam-diam melindungi Ru.

Ru merasakan kemarahannya kembali membara.

"Kharzon..."

"Ya. Dia sedang mencarimu."

Tiba-tiba ledakan besar terdengar.

BOOOM!

Istana putih berguncang.

Puluhan prajurit berbaju hitam menyerbu.

Di langit muncul naga terbang raksasa.

Di atas kepalanya berdiri seorang pria berbadan besar dengan mata merah.

Kharzon.

"Akhirnya aku menemukan kalian!" teriaknya.

Pertempuran besar pun terjadi.

Zaru melawan pasukan elit.

Ru menghadapi Kharzon.

Kharzon sangat kuat.

Setiap ayunan pedangnya mampu membelah bukit.

Ru beberapa kali hampir terbunuh.

Namun ia teringat wajah Paman Xion dan Bibi Rah.

Orang-orang yang membesarkannya.

Orang-orang yang mengajarinya berjalan.

Orang-orang yang selalu menunggunya pulang.

"Aku tidak akan kalah."

Ru mengaktifkan seluruh kekuatan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sepuluh bayangan itu menyatu.

Tubuh Ru berubah menjadi sosok berjubah hitam pekat dengan mata berwarna perak.

Kekuatan itu disebut:

Kharzon terkejut.

"Tidak mungkin!"

Ru mengangkat tangannya.

Seluruh bayangan di sekitar gunung bergerak.

Bayangan batu.

Bayangan pohon.

Bayangan manusia.

Bahkan bayangan naga.

Semuanya tunduk kepada Ru.

"Ini untuk Paman Xion."

Satu tombak bayangan menembus bahu Kharzon.

"Ini untuk Bibi Rah."

Tombak kedua menembus kaki Kharzon.

"Dan ini..."

Ru mengumpulkan seluruh kekuatannya.

"...untuk semua yang kau bunuh."

Ribuan tombak bayangan turun dari langit.

Kharzon berusaha melawan.

Namun terlambat.

DUUUAARRR!!

Ledakan raksasa mengguncang seluruh Gunung Muria.

Saat debu menghilang, Kharzon telah lenyap.

Beberapa bulan kemudian.

Kerajaan Argen kembali damai.

Para rakyat meminta Ru menjadi raja.

Namun ia menolak.

"Aku bukan penguasa. Aku hanya seorang petualang."

Ia menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang bijaksana yang dipilih rakyat.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan.

Guci berisi abu Paman Xion dan Bibi Rah masih selalu dibawanya.

Suatu hari ia tiba di puncak bukit yang dipenuhi bunga.

Di sana ia menanam dua pohon.

Satu untuk Paman Xion.

Satu untuk Bibi Rah.

Ru duduk di antara kedua pohon itu sambil tersenyum.

"Aku sudah membalas dendam."

Angin berhembus pelan.

Daun-daun bergoyang seolah menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak kematian mereka, Ru merasa tenang.

Ia berdiri.

Mengambil tasnya.

Lalu berjalan menuju cakrawala.

Karena petualangan baru selalu menunggu.

Oleh: Kamil

Tuesday, June 9, 2026

Sesuatu Di Pondok Yang Tak Pernah Tidur


Jam sudah lewat dua belas malam. Pondok mulai sepi setelah patroli keamanan selesai. Angin dingin berhembus melewati lorong-lorong kamar yang remang-remang. Ahmad mendapat tugas mengambil buku yang tertinggal di kelas belakang bangunan lama yang jarang dipakai sejak atapnya bocor tahun lalu.

Awalnya biasa saja. Namun saat sampai di depan kelas, ia mendengar suara orang menjerit kesakitan.

"AAAA...!!"

Ahmad mengira ada santri lain yang belum tidur. Ia membuka pintu dengan perlahan. Kosong, tak ada siapa-siapa. Namun, suara itu masih terdengar, tepat di belakang telinganya.

Ahmad seketika menoleh cepat. Tidak ada orang. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku di meja lalu buru-buru keluar. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan kelas, suara itu berubah. Bukan jeritan lagi, melainkan suara gedoran pintu yang sangat keras.

Ahmad mempercepat langkah. Lorong pondok terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu di ujung lorong berkedip-kedip. Lalu terdengar suara sandal menyeret lantai di belakangnya.

Ahmad memberanikan diri untuk menoleh. Tak ada siapa pun. Namun, ketika ia melihat ke bawah, ada jejak kaki basah mengikuti langkahnya. Padahal malam itu tak ada hujan sama sekali.

Setelah itu, Ahmad pun bersegera berlari secepat mungkin menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia langsung mencoba tidur dengan rasa takut yang membara hingga tubuhnya gemetar dan dipenuhi keringat dingin.

Sialnya, Ahmad masih belum bisa tidur karena terus terbayang kejadian menegangkan yang baru saja dialaminya.

Oleh: Muktafin


Friday, June 5, 2026

Mbakung dan Kita: Hantu yang Pensiun karena Gadget


Malam itu rumah sedang sepi, orang tuaku sedang mengambil barang dagangan ke luar kota. Pas lagi bengong, tiba-tiba teringat omongan orang-orang tua di desa soal hantu Mbakung. Katanya, hantu ini sering keluar habis Isya dan hobi banget gangguin anak-anak.

Karena penasaran, saya niat buat ngebuktiin sendiri itu beneran ada atau cuma mitos. Pas banget malam itu kakak sepupu saya mampir buat nginep. Langsung deh saya ajak dia ekspedisi kecil-kecilan.

“Kak, ikut jalan-jalan yuk?” ajak saya antusias.

“Jalan-jalan kemana malem begini?” sahutnya bingung.

“Udah ikut aja! Ada deh. Pokoknya tenang aja, aman,” saya meyakinkan dia sambil nyengir. Akhirnya dia mau juga, asal nggak jauh-jauh.

Pas jam menunjukkan pukul 20.32 WIB, kita jalan santai. Sekitar 90 meter dari rumah, ada abang bakso yang mangkal di bawah pohon beringin gede. Kebetulan perut udah keroncongan dari sore, akhirnya kita mutusin buat mampir makan dulu di sana.

Di lapak itu udah ada dua orang pelanggan lain. Saya pesan bakso tanpa mie, sementara kakak pesan yang paket komplit. Sambil nunggu bakso, saya pun mulai buka topik yang bikin merinding.

“Kak, tahu nggak? Warga sini tuh lagi heboh cerita soal hantu Mbakung,” kata saya mulai memancingnya.

Kakak sepupu saya langsung nanya, “Hah, hantu apaan lagi tuh? Baru denger.”

“Itu lho, sosok kakek-kakek yang jalannya agak bungkuk,” jawab saya.

“Terus kenapa emangnya sama tuh hantu?”

“Ya… katanya dia sering muncul habis Isya dan hobi gangguin anak-anak. Makanya aku ajak kakak ke sini. Aku penasaran ini beneran ada atau cuma karangan orang-orang tua sini aja sih.”

Kakak sepupu saya cuma ketawa kecil sambil menyendok baksonya dengan santai. Dia nggak kelihatan takut sedikitpun, malah kayak lagi dengerin dongeng sebelum tidur.

“Kamu ini ada-ada saja, Dek. Namanya juga cerita orang tua dulu, ya pasti dibikin serem biar anak-anaknya nggak keluyuran malam-malam,” jawabnya enteng.

Saya masih bersikeras, “Tapi Kak, bukannya ada beberapa warga yang ngaku pernah lihat?”

Kakak saya meletakkan sendoknya, lalu menatap saya dengan tatapan sok bijak. “Dengar ya, tempat kita makan sekarang ini kan di bawah pohon beringin, gelap lagi. Kalau mau ada hantu, harusnya dari tadi kita sudah diganggu, kan? Tapi buktinya, kita malah enak-enakan makan bakso. Penjualnya juga santai saja tuh.”

Baru saja dia ngomong gitu, tiba-tiba ada suara krek dari atas pohon beringin. Saya langsung merinding, jantung rasanya mau copot. Tapi pas kita berdua nengok ke atas, ternyata cuma dahan kering yang jatuh karena tertiup angin malam. Penjual bakso pun cuma terkekeh melihat wajah panik kami.

“Tuh kan,” ujar kakak saya sambil lanjut makan. “Hantu Mbakung itu sebenarnya cuma hantu buatan orang tua sini supaya kita nggak main jauh-jauh setelah Isya. Biar kita aman di rumah, istirahat, nggak keluyuran. Jadi ya itu cuma fiktif belaka, alias akal-akalan aja biar anak-anaknya nurut.”

Mendengar penjelasannya, rasa penasaran saya pelan-pelan menguap. Ternyata ketakutan saya selama ini cuma hasil imajinasi yang dipicu oleh cerita takut-takuti khas desa. Kami pun menghabiskan sisa bakso dengan tenang, bahkan sempat bercanda sampai puas.

Selesai makan, Kakak membayar ke penjual bakso sambil melambaikan tangan. “Duluan ya, Pak. Jangan takut, Mbakungnya lagi cuti kok!” serunya iseng, yang langsung dibalas tawa renyah si bapak penjual.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih santai. Angin malam yang tadinya terasa mencekam, sekarang cuma terasa dingin menyegarkan di kulit. Sepanjang jalan kami terus-terusan mengoceh, menertawakan betapa lugunya saya yang bisa-bisanya takut sama cerita karangan orang tua.

“Bayangin ya, kalau beneran ada Mbakung, mungkin dia sekarang lagi galau karena nggak ada anak kecil yang dia takut-takutin lagi,” celetuk Kakak sambil tertawa lebar, sampai-sampai motor yang kami naiki sedikit oleng. Saya refleks memukul pundaknya sambil ikut tertawa.

Sesampainya di depan rumah, suasana desa sudah sangat sepi. Lampu teras rumah kami yang temaram menyambut dengan hangat. Saat saya turun dari motor dan melepas helm, Kakak menepuk bahu saya pelan.

“Tuh, sudah sampai rumah dengan selamat, kan? Nggak ada yang ngikutin, nggak ada yang narik kaki. Jadi mulai besok, kalau dengar cerita serem lagi, ingat saja bakso beringin malam ini,” katanya dengan nada jahil sebelum mematikan mesin motor.

Saya sampai di rumah dengan perasaan lega yang luar biasa. Malam itu, Hantu Mbakung resmi pensiun dari daftar ketakutan saya. Ternyata benar, terkadang hal paling seram di dunia ini cuma cara orang dewasa memastikan kita tidur nyenyak di kasur sendiri.

Setelah kejadian makan bakso tadi, saya dan Kakak duduk sebentar di teras rumah. Angin malam yang berhembus pelan bikin suasana jadi makin syahdu. Saya memperhatikan Kakak yang kini nggak lagi sibuk mengotak-atik ponselnya, melainkan asyik menyesap teh hangat yang baru saya buat sambil menatap bintang.

Tiba-tiba dia membuka obrolan, “Tadi pas kita makan, aku perhatiin sekeliling. Nggak ada satupun yang sibuk sama gadget. Ternyata tanpa HP, dunia terasa lebih luas ya, Dek? Kita bisa benar-benar ngobrol, ngetawain hal konyol, sampai ngerasin angin malam tanpa harus kedistreksi sama notifikasi.”

Saya manggut-manggut. Memang benar, biasanya kalau nongkrong, perhatian kami pasti terbagi antara lawan bicara dan layar ponsel. Malam ini rasanya berbeda, lebih real dan lebih hangat.

Kakak melanjutkan, “Mungkin itu juga alasan kenapa anak zaman dulu lebih mudah diatur dan nurut. Dulu hiburan kita ya cuma alam, tetangga, atau cerita-cerita orang tua seperti Mbakung itu. Karena nggak ada distraksi dunia digital, fokus kita ya ke lingkungan sekitar. Kita lebih menghargai apa yang ada di depan mata, termasuk nasihat orang tua.”

Dia tersenyum tipis. “Zaman sekarang, anak-anak lebih sibuk sama dunianya sendiri di balik layar. Jadi pas dibilangin buat nggak keluyuran, mungkin mereka ngerasa itu menghambat kesenangan mereka. Padahal orang tua dulu bikin aturan begitu ya supaya kita tetap punya waktu istirahat yang berkualitas dan tetap aman.”

Mendengarnya, saya baru sadar. Ternyata kepatuhan anak zaman dulu bukan sekadar takut karena ancaman hantu, tapi karena mereka punya koneksi yang lebih dalam dengan dunianya secara langsung. Mereka lebih “hadir” di tempat mereka berada.

“Mungkin kita perlu sesekali puasa gadget ya, Kak?” celetuk saya.

Kakak tertawa lepas. “Ide bagus! Besok-besok kalau keluar, HP kita simpan di tas. Kita nikmati dunia yang asli aja biar hidup nggak cuma sebatas scroll layar.”

Malam itu saya belajar satu hal: terkadang untuk benar-benar merasakan hidup dan lebih mudah terhubung dengan sekitar. Kita memang perlu berani meletakkan ponsel sejenak dan mulai mendengarkan cerita-cerita nyata di depan mata.

Oleh: Nasirin

Tuesday, June 2, 2026

Part 4 | Maid (End)

 


Tidak terasa waktu berlalu, melewati jalan yang naik turun dan pepohonan yang rimbun, akhirnya mereka sampai di villa pantai Heha. Biasanya saat sore menjelang malam, disana ada pertunjukkan dan atraksi dari berbagai daerah. Sayang mereka datang di jam 17.38 jadi pertunjukan itu telah selesai.

“Ayo kita masuk ke villa, biar besok subuh bisa liat sunrise.


“Iya buk.”

Mereka pun memasuki villa itu dan memesan kamar. Setelah menerima kunci kamar, mereka segera menuju kamar yang telah disiapkan. Dari balkon kamar, hamparan laut terlihat begitu luas. Langit yang mulai gelap dihiasi semburat jingga sisa-sisa matahari yang baru saja tenggelam.

“Wah, indah sekali ya, Pak,” ujar Pramono sambil memandang ke arah laut.

“Iya. Besok pagi lebih bagus lagi,” jawab Pak Sigit. “Kalau cuacanya cerah, matahari terbitnya kelihatan jelas dari sini.”

Mereka lalu membereskan barang bawaan masing-masing. Setelah itu, mereka turun untuk makan malam di warung yang berada tidak jauh dari villa. Suara ombak terdengar samar-samar, berpadu dengan angin laut yang sejuk.

Selesai makan, mereka berjalan sebentar di sekitar pantai. Lampu-lampu mulai menyala dan membuat suasana terlihat hangat.

“Sayang ya, kita datangnya terlambat,” kata Bu Ajeng. “Kalau lebih awal mungkin bisa lihat pertunjukan tadi.”

“Tidak apa-apa, Buk. Yang penting besok masih bisa jalan-jalan,” jawab Pramono.

Tidak lama kemudian mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Perjalanan yang cukup jauh membuat tubuh mereka lelah. Satu per satu akhirnya tertidur.

Keesokan harinya, sekitar pukul lima pagi, Pak Sigit sudah bangun terlebih dahulu. Ia segera membangunkan yang lain.

“Ayo bangun. Katanya mau lihat sunrise.”

Pramono membuka matanya perlahan.

“Masih ngantuk, Pak.”

“Kalau tidur terus nanti mataharinya keburu tinggi.”

Mendengar itu, Pramono langsung bangkit dari tempat tidur. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di area pandang dekat pantai.

Langit yang semula gelap perlahan berubah warna. Semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Tidak lama kemudian matahari perlahan naik dari balik lautan.

Masya Allah...” ucap Pramono pelan.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam menikmati pemandangan itu. Ombak berkejaran di tepi pantai, sementara sinar matahari pagi memantul di permukaan laut.

“Pemandangan seperti ini yang bikin orang betah datang ke sini,” kata Pak Sigit.

Mereka mengangguk setuju.

Setelah puas menikmati matahari terbit, mereka kembali ke penginapan untuk sarapan. Hari itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan, berfoto, menikmati berbagai makanan, dan bermain di sekitar pantai.

Pramono tampak sangat senang. Hampir setiap sudut yang menurutnya menarik selalu ia jadikan tempat berfoto.

Menjelang sore mereka duduk bersama menghadap laut.

“Terima kasih ya, Pak, Buk, sudah mengajak Mbok kesini,” kata Mbok Tun.

“Tidak usah berterima kasih, Mbok,” jawab Bu Ajeng. “Kita memang pergi bersama-sama.”

Mbok Tun tersenyum. Hatinya terasa hangat. Sudah lama ia tidak merasakan suasana seperti itu.

Keesokan paginya mereka bersiap untuk pulang. Barang-barang dimasukkan kembali ke dalam mobil. Setelah semuanya siap, mereka meninggalkan penginapan.

Perjalanan pulang berlangsung dengan lancar. Di sepanjang jalan mereka saling bercerita dan bercanda.

Beberapa jam kemudian mereka akhirnya sampai di rumah.

Alhamdulillah, sampai juga,” kata Bu Ajeng.

Mereka menurunkan barang bawaan lalu masuk ke rumah. Meski liburan itu hanya berlangsung dua hari, kenangan yang mereka dapatkan terasa sangat berharga.

Bagi Pramono, perjalanan itu bukan hanya tentang pantai yang indah atau penginapan yang nyaman. Perjalanan itu membuatnya semakin menyadari bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah. Kadang, keluarga adalah orang-orang yang selalu ada, saling peduli, dan saling menguatkan.

Dengan perasaan senang, mereka kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Namun kenangan tentang liburan di Pantai Heha akan selalu mereka ingat sebagai salah satu perjalanan yang paling Berkesan.

Oleh: Nizar