Dahulu, Rasulullah ﷺ menguatkan umat Islam dengan Al-Qur’an. pemudanya ditarbiyah baik-baik dengan totalitas. Bukan hanya sekedar mempelajari atau menghafalkan, namun berlomba-lomba mentadabburi dan mengamalkan. Maka wajar bila kita menjumpai kisah-kisah hebat dari para Sahabat, Mereka kuat dan disegani oleh lawan. Mereka menanggalkan gemerlap kehidupan dunia demi mengejar kehidupan abadi. Sehingga mereka menjadi pemuda akhirat, bukan pemuda dunia.
Dalam waktu lebih dari dua dekade, Islam berdiri sebagai pondasi peradaban yang kokoh. Kota jahiliyah Makkah berhasil ditaklukkan, dan cahaya Islam membentang hingga menundukkan negeri-negeri adidaya pada masanya: Persia, Romawi, dan Yaman. Islam disegani oleh lawan, dan dicintai oleh kawan.
Apa kunci keberhasilan mereka? Seluruh keberhasilan itu bukan karena jumlah, harta, atau kekuatan fisik, melainkan karena kedekatan mereka dengan Allah dan Al-Qur’an. Mereka mengaplikasikan seluruh tuntunan Islam dalam kehidupan. Mereka lekat dengan Al-Qur’an sebagaimana manusia hari ini lekat dengan gawai di tangan.
Sejak bagun hingga tidur lagi, mereka selalu membahas Al-Qur’an. Ucapan dan perbuatan mereka selalu mengandung unsur kebermanfaatan. Maka lahirlah banyak pengetahuan dan para ilmuwan, penguasa yang bijak, negeri yang tentram, tanah yang sejahtera, dan kehidupan yang tenang.
Namun, ketika berbagai fitnah menyerang.. satu persatu pejuang Islam diwafatkan, lalu digantikan oleh generasi yang tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Mereka mulai menoleh dunia, cinta berlebihan, hingga hati dipenuhi kegelisahan, bukan lagi ketenangan.
Fashion menjadi candu, hingga lupa cara berpenampilan sederhana.
Food menjadi hobi baru, sibuk mencicipi segala rasa hingga tak tahu lagi berpuasa.
Gadget menjadi kebutuhan dan sahabat sejati setiap hari, hingga Al-Qur’an tersingkir dan berdebu dalam lemari.
Syukur-syukur jika sehari membaca satu ayat, kenyataannya masih banyak yang seharian tak menyentuh Al-Qur’an sama sekali. Memikirkan bukan mahram menjadi hal yang lumrah, bahkan menangisinya dianggap wajar. sementara menangisi dosa sendiri justru dianggap berlebihan.
Inilah yang membuat generasi kita lalai dan lemah. Hingga mudah didikte oleh kaum kafir, dimana medianya lebih kita percaya daripada Al-Qur’an. Publik figur-nya kita jadikan panutan, bukan lagi Nabi ﷺ, para sahabat, dan Ulama. Gaya hidupnya menjadi kebanggaan, sementara gaya hidup Islam dianggap kuno dan tidak toleran. Bahkan pemeluknya dicitrakan sebagai ancaman (teroris).
Dan kita, sesama muslim, sering kali hanya diam. Tak berani membela, karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Namun, Islam tidak pernah mundur.
Mungkin yang mundur adalah jarak kita dengannya.
Al-Qur’an masih utuh, ayat-ayatnya masih sama.
Yang berubah hanyalah tangan yang tak lagi menggenggamnya,
dan hati yang tak lagi rindu kepadanya.
Jika dahulu satu ayat mampu menggerakkan dunia,
hari ini dunia menggerakkan kita menjauh dari ayat.
Lalu, sebelum kita menuntut Islam kembali berjaya,
sudahkah kita kembali menjadi hamba yang taat?
Atau jangan-jangan,
kita sedang menunggu cahaya menyinari hidup kita,
malah justru kita sendiri yang menjauhinya.
Oleh: Falah

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
