Tuesday, July 21, 2026

Jejak di Ujung Sandal Kiai

 


Hujan baru saja berhenti ketika bel pesantren berbunyi. Santri-santri berlarian menuju masjid sambil mengangkat ujung sarung agar tidak terkena lumpur. Di antara mereka ada seorang santri bernama Zain. Ia dikenal cerdas, hafal banyak matan, dan selalu menjadi juara kelas. Namun, ada satu hal yang sering luput darinya: adab.


Baginya, ilmu adalah hasil kecerdasan dan kerja keras. Selama rajin belajar, menurutnya seseorang pasti akan berhasil.


Suatu pagi, Zain melihat sandal kiai terletak di serambi masjid. Beberapa santri dengan penuh hormat merapikannya agar tidak terkena air hujan. Zain hanya melirik sekilas.


“Kenapa harus repot mengurus sandal?” gumamnya pelan. “Yang penting kan belajar.”


Ucapan itu terdengar oleh Hasan, sahabatnya.


Hasan tersenyum.


“Belajar memang penting. Tapi adab kepada guru lebih dulu membuka pintu ilmu.”


Zain hanya tertawa kecil. Baginya, itu hanyalah kebiasaan orang-orang terdahulu yang terlalu berlebihan.


Hari demi hari berlalu.


Anehnya, semakin giat belajar, Zain justru semakin sulit memahami pelajaran. Hafalan yang dahulu mudah kini terasa berat. Kitab yang biasa ia baca berulang kali seakan kehilangan maknanya. Ia mulai mudah marah, sulit berkonsentrasi, bahkan sering lupa ketika diminta menjelaskan pelajaran di depan kelas.


Sementara itu, Hasan yang kecerdasannya biasa saja justru semakin berkembang. Penjelasannya mudah dipahami, hafalannya kuat, dan wajahnya selalu tampak tenang.


Zain mulai bertanya-tanya.


Suatu malam setelah mengaji, ia memberanikan diri menemui seorang kiai sepuh yang terkenal bijaksana.


“Yai,” katanya lirih, “saya belajar lebih lama daripada teman-teman saya. Saya membaca lebih banyak kitab. Tetapi mengapa ilmu terasa semakin jauh?”


Kiai itu tidak langsung menjawab.


Beliau justru bertanya,


“Ketika engkau mengambil air wudhu, dari mana engkau memulainya?”


“Dari tangan, Yai.”


“Lalu mengapa tidak langsung membasuh kepala?”


“Karena itulah urutannya.”


Kiai tersenyum.


“Begitu pula mencari ilmu. Ada urutannya. Sebelum ilmu masuk ke kepala, adab harus masuk ke dalam hati.”


Kalimat itu menancap kuat di dada Zain.


Namun ia masih belum benar-benar memahami maksudnya.


Keesokan paginya, sebelum adzan Subuh berkumandang, Zain melihat sesuatu yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.


Seorang santri tua sedang menyapu halaman ndalem kiai dengan penuh ketulusan. Setelah itu ia membersihkan sandal-sandal para tamu, lalu diam-diam mengisi kembali kendi air di serambi rumah sang kiai.


Tak ada yang menyuruhnya.


Tak ada yang memujinya.


Semua dilakukan dengan senyum.


Beberapa hari kemudian diumumkan hasil ujian besar pesantren.


Santri yang memperoleh nilai tertinggi ternyata bukan Zain.


Bukan pula Hasan.


Melainkan santri tua yang setiap pagi menyapu halaman.


Semua orang terkejut.


Padahal ia hampir tidak pernah terlihat membawa banyak kitab.


Seorang ustaz berkata,


“Jangan hanya lihat berapa lama seseorang membuka kitab. Lihat pula bagaimana ia memuliakan orang yang mengajarkan kitab itu.”


Sejak hari itu, hati Zain mulai berubah.


Ia mulai membiasakan diri berdiri ketika kiai datang. Ia mendengarkan setiap nasihat dengan sungguh-sungguh. Ia tidak lagi memotong pembicaraan guru. Ia membantu menyiapkan majelis sebelum pengajian dimulai dan membereskannya setelah selesai.


Ia juga mulai menyadari bahwa menghormati kiai bukan sekadar mencium tangan atau merapikan sandal. Hormat berarti menjaga nama baik guru, melaksanakan nasihatnya, mendoakannya, tidak membantah dengan kesombongan, serta mengamalkan ilmu yang diajarkan.


Perubahan itu berlangsung perlahan.


Tanpa disadari, hatinya menjadi lebih tenang.


Pelajaran yang dahulu terasa rumit kini lebih mudah dipahami. Hafalannya kembali kuat. Bahkan ia tidak lagi belajar hanya demi menjadi juara, tetapi agar ilmunya membawa manfaat.


Suatu sore, Zain dipanggil menghadap sang kiai.


Beliau berkata lembut,


“Zain, tahukah engkau mengapa para ulama terdahulu begitu menjaga adab kepada guru?”


Zain menggeleng.


Kiai mengambil sebuah kitab tua dari rak kayu.


“Kitab ini telah berpindah tangan selama ratusan tahun. Isinya sama, tintanya sama, kertasnya hampir sama. Namun mengapa ada orang yang membaca kitab ini lalu menjadi ulama besar, sementara ada pula yang membacanya tetapi tidak memperoleh keberkahan?”


Beliau menatap Zain dengan penuh kasih.


“Karena ilmu bukan hanya kumpulan huruf. Ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan menetap di hati yang dipenuhi kesombongan.”


Air mata Zain menetes.


Ia teringat saat menertawakan santri yang merapikan sandal kiai.


Ia teringat ucapan Hasan tentang adab.


Ia teringat semua sikap angkuhnya.


Dengan suara bergetar ia berkata,


“Yai… mohon maafkan saya.”


Kiai tersenyum hangat.


“Anakku, seorang santri tidak diukur dari seberapa tinggi nilai ujiannya. Ia diukur dari seberapa dalam hormatnya kepada guru, karena dari situlah keberkahan ilmu tumbuh.”


Bertahun-tahun kemudian, Zain menjadi seorang dai yang dikenal luas. Ceramahnya didengar ribuan orang. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah.


Namun setiap kali ditanya tentang rahasia keberhasilannya, ia tidak pernah menyebut kecerdasannya.


Ia selalu berkata,


“Dulu aku mengira ilmu hanya bisa diraih dengan membaca. Ternyata aku keliru. Ilmu juga tumbuh dari adab, dari ketundukan hati, dan dari hormat kepada orang yang mengajarkannya.”


Lalu ia menambahkan sebuah kalimat yang selalu membuat majelis hening.


“Jika engkau ingin ilmu yang hanya memenuhi kepalamu, belajarlah dengan tekun. Tetapi jika engkau menginginkan ilmu yang menerangi hidupmu, maka muliakanlah kiainya. Sebab keberkahan sering kali datang bukan dari banyaknya pelajaran, melainkan dari hormat yang tulus kepada guru.”


Sejak saat itu, setiap santri yang melewati serambi masjid tidak lagi menganggap sandal kiai sebagai benda biasa.


Mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kemuliaan tidak dimulai dari langkah kaki sendiri, melainkan dari kerendahan hati dalam memuliakan orang yang telah menunjukkan jalan menuju ilmu dan menuju Allah.


Oleh: Falah

Friday, July 17, 2026

Sekelumit Berkah Dari Proses Tholabul Ilmi “Teach You a Lesson"


 Sebuah K-Drama viral akhir-akhir ini, menduduki peringkat pertama untuk kategori serial TV non-Bahasa Inggris di Netflix. K-Drama yang mengadaptasi dari sebuah manhwa berjudul “The Real Lesson” yang sedikit diganti judulnya menjadi “Teach You Lesson”. 

Teach You Lesson menceritakan tentang keadaan Pendidikan Korea yang mulai kehilangan otoritasnya. Disebabkan Undang-Undang perlindungan Hak Anak yang tidak memperbolehkan seorang guru memberikan hukuman kekerasan dalam bentuk apapun kepada muridnya. Akhirnya, kenakalan murid yang ada semakin drastis. Tidak mau tragedi parah ini berlanjut, Menteri Pendidikan akhirnya menciptakan Biro Badan Perlindungan Hak Pendidik (BPHP) yang berwenang untuk melakukan pendisiplinan dalam bentuk apapun. 


Walaupun menempati posisi satu sebagai drama paling diminati nomer satu selama bulan Juni, Teach You a Lesson sempat mendapatkan kecaman. Sama seperti ketika manhwanya dirilis di webtoon, isu yang diangkat dalam cerita terlalu sensitif. Kekerasan yang dianggap sebagai jalan keluar untuk masalah Pendidikan yang semakin runyam dianggap tidak layak.

 

Di Indonesia sendiri, Tindakan kekerasan terhadap anak juga tidak diperbolehkan. Termaktub dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 76C UU No. 35 Tahun 2014, bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Ada pula Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 46 Tahun 2023 yang secara khusus melarang kekerasan fisik, verbal, perundungan, dan bentuk kekerasan lainnya di lingkungan Pendidikan. 


Meskipun begitu, dalam Islam tidak mutlak tidak diperbolehkan melakukan hukuman pukulan demi tujuan Pendidikan. Dalam kitab Fathul Muin karya Syekh Zainuddin Al-Malibari, diperbolehkan untuk memberikan pukulan yang tidak menyakitkan dalam rangka mendidik anak berusia sepuluh tahun yang sulit diingatkan untuk melaksanakan sholat. 


Dalam kitab lainnya, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, sebuah kitab ensiklopedia fikih Islam terlengkap yang diterbitkan oleh Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, dijelaskan pada jilid 13 bab memukul untuk mendidik. Seperti dalam kitab Fathul Muin, pukulan tersebut haruslah pukulan yang aman. Selain itu, guru haruslah mendapatkan izin terlebih dahulu dari wali murid untuk melaksanakan pukulan atau sedikit kekerasan untuk Pendidikan tersebut. 


Maka, apabila diruntutkan dari UU dan hukum-hukum yang termaktub dalam kitab-kitab Salafunas Shalih, pukulan atau sedikit tindak kekerasan tetap diperbolehkan selama mendapatkan izin dari wali murid. Meskipun ada larangan yang terlihat ‘mutlak’ dari UU, namun apabila orang tua memperbolehkan, maka permasalahan tersebut tidak akan sampai ke meja persidangan. 


Sayangnya, Pendidikan yang diberikan oleh mayoritas orang tua zaman sekarang berbeda dengan orang tua zaman dulu. Meskipun Undang-Undang Perlindungan Anak telah ditetapkan sejak lama, namun orang tua zaman dulu tidak mempermasalahkan anaknya yang mendapatkan hukuman dari gurunya. Bahkan, apabila terbukti sang anak salah, orang tua justru menambahkan hukuman untuk anaknya. Sangat berbeda dengan orang tua zaman sekarang. 


Dalam kasus tersebut, bisa dikatakan bahwa orang tua tidak beradab pada pembelajaran yang dilakukan oleh anaknya. Karena sejatinya, bukan murid saja yang perlu menjaga adab, tetapi juga orang tuanya.  


Dalam salah satu kisah masyhur, ada seorang murid yang berguru kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Namun, suatu ketika sang ibu mendapatkan kabar miring yang memfitnah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Termakan oleh hasutan tersebut, sang ibu datang mengambil anaknya karena meragukan dan tidak menghormati cara sang guru mendidik. Akhirnya, pintu “futuh” sang anak tertutup untuk menerima ilmu. Di momen tersebut, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani kemudian menyampaikan, bahwa hilangnya keberkahan seorang murid bisa juga disebabkan oleh tidak beradabnya orang tua kepada guru anaknya. 


Maka dari itu, bisa diartikan bahwa proses belajar tidak hanya antara guru dan murid saja. Orang tua juga merupakan poin penting yang harus diperhatikan. Selain itu, pemerintah juga harus menjamin Pendidikan seluruh warga negaranya, fasilitas yang ada, dan banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan. Maka, pemerintah pun termasuk dalam variabel penting tholabul ilmi seluruh warga negaranya.


Oleh: K-San 


Tuesday, July 14, 2026

Dari Sebuah Kantin

 


Tersebutlah, hiduplah sebuah keluarga yang kaya raya. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Bisma. Bisma dikenal sebagai anak yang sangat berprestasi di sekolahnya. Hampir semua mata pelajaran berhasil ia kuasai. Berbagai penghargaan berhasil ia raih, sehingga membuat teman-teman dan guru-gurunya kagum kepadanya.

Sayangnya, di balik kepintarannya, Bisma memiliki sifat yang kurang baik. Ia sombong, suka iri kepada orang lain, dan gemar memamerkan prestasinya. Ia sering merendahkan teman-temannya, bahkan merasa kesal jika ada yang lebih pintar darinya. Sedikit demi sedikit, sifat buruk itu menjadi tembok yang menjauhkannya dari teman-teman. Hanya beberapa orang saja yang masih mau berteman dengannya.

Suatu hari, Bisma mengikuti sebuah lomba bersama teman sekelasnya yang bernama Rayyan. Di luar dugaan, Rayyan berhasil menjadi juara dan mengalahkan Bisma. Kekalahan itu membuat hati Bisma dipenuhi rasa iri. Api kesombongan dalam dirinya pun semakin berkobar. Ia bertekad menunjukkan kepada Rayyan bahwa dirinya jauh lebih hebat.

Keesokan harinya, saat jam istirahat, Bisma melihat Rayyan sedang berada di kantin. Ia pun menghampiri Rayyan sambil membawa rasa angkuh di dalam hatinya.

"Aku punya banyak prestasi sekolah, jadi kamu jangan sok pintar, ya," ucap Bisma dengan nada kesal.

Rayyan hanya tersenyum. Senyum itu justru membuat hati Bisma semakin panas. Ia kembali membanggakan semua prestasi yang pernah diraihnya.

"Eh, kok cuma senyum sih? Asal kamu tahu, semua prestasiku adalah hasil kerja kerasku sendiri," kata Bisma dengan nada tinggi.

"Sok iye lu," jawab Rayyan sambil tetap tersenyum.

"Iyalah," balas Bisma dengan wajah penuh kesombongan.

Rayyan lalu bertanya dengan santai, "Emang orang tuamu enggak bantuin kamu, ya?"

Bisma langsung menjawab dengan angkuh, "Asal kamu tahu, aku pintar karena usahaku sendiri. Aku enggak butuh bantuan orang tuaku."

Rayyan tidak membalas lagi. Ia hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan Bisma.

Dua minggu kemudian, keadaan berubah. Prestasi Bisma mulai menurun. Nilai-nilainya banyak yang merah, bahkan ia kesulitan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Ia merasa cemas dan panik. Teman-temannya pun semakin menjauh darinya. Saat itu, Bisma baru merasakan betapa sepinya hidup tanpa teman.

Pada waktu istirahat, Bisma melihat Rayyan sedang duduk sendirian sambil memainkan gitar. Alunan gitar itu terdengar lembut, seolah menenangkan hati yang sedang gelisah. Merasa bersalah atas sikapnya selama ini, Bisma memberanikan diri menghampiri Rayyan untuk meminta maaf.

"Kamu tahu, kan, sekarang?" ucap Rayyan dengan tenang.

"Iya... aku tahu," jawab Bisma sambil menundukkan kepala.

Rayyan tersenyum, lalu berkata, "Makanya, jangan sombong. Walaupun kamu pintar, kamu harus tetap rendah hati. Ilmu itu seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk. Dan yang paling penting, jangan pernah melupakan jasa orang tuamu. Tanpa doa, kasih sayang, dan pengorbanan mereka, kamu enggak akan bisa sampai di titik ini."

"Bermimpilah setinggi langit. Jika kamu sudah berhasil, jangan lupakan jasa orang tuamu. Hanya doa orang tuamu yang bisa mengantarkanmu menuju tempat yang tinggi," pesan Rayyan.

Sejak saat itu, Bisma benar-benar berubah. Ia tidak lagi sombong, tidak iri kepada orang lain, dan mulai menghargai teman-temannya. Ia juga semakin menghormati kedua orang tuanya.

Dari kisah Bisma, kita belajar bahwa kesombongan hanya akan membuat seseorang kehilangan teman dan kebahagiaan. Sebaliknya, kerendahan hati akan membuat kita semakin dihargai. Dan setinggi apa pun kita melangkah, jangan pernah melupakan jasa serta doa orang tua, karena merekalah yang menjadi cahaya di setiap langkah menuju kesuksesan.

Oleh: Azami


Friday, July 10, 2026

Menjauhkan Diri dari Sifat Hasad: Kunci Hati yang Tenang dalam Islam

 


Hasad atau dengki adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Hasad merupakan perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sifat ini dapat merusak hati, menghilangkan ketenangan, dan merusak hubungan antarsesama.

Dalam Islam, Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan hati. Salah satu doa perlindungan dari kejahatan orang yang dengki terdapat dalam Surah Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)

Rasulullah saw. juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah kita lakukan. Oleh karena itu, seorang muslim harus berusaha membersihkan hati dari rasa iri dan dengki.

Ada beberapa cara untuk menjauhkan diri dari sifat hasad. Pertama, memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Kedua, meyakini bahwa setiap rezeki telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan hikmah-Nya. Ketiga, mendoakan kebaikan bagi orang lain ketika melihat mereka mendapatkan keberhasilan. Keempat, memperbanyak ibadah dan berdzikir agar hati selalu dekat dengan Allah.

Sebaliknya, Islam mengajarkan ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sikap ini mendorong seseorang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan.

Marilah kita senantiasa menjaga hati agar terhindar dari sifat hasad. Hati yang bersih akan melahirkan ketenangan, mempererat persaudaraan, serta mengantarkan kita kepada ridha Allah Swt. Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit dengki dan menggantinya dengan rasa syukur, ikhlas, serta kasih sayang kepada sesama.

Oleh: Zacky


Wednesday, July 8, 2026

Pulang Dengan Penyesalan


 Di sebuah desa yang terletak di balik gunung, hiduplah sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut memiliki seorang anak tunggal bernama Erick. Erick berasal dari keluarga petani. Ia tinggal hanya bersama ibunya karena ayahnya sudah tiada. Walau begitu, Erick seringkali mengabaikan ibunya dan tidak pernah membantu pekerjaannya.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Erick tumbuh dewasa dan bekerja di kota sebagai seorang pegawai kantoran. Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan. Ia sering pulang larut malam ke kamar kosnya. Bahkan, ia kerap mendapat teguran dari atasannya karena pekerjaannya sering tidak terselesaikan dengan baik. Semua itu membuat Erick merasa lelah dan stres.

Hingga suatu malam, Erick pergi ke sebuah kafe untuk menenangkan pikirannya. Ia memesan segelas americano sambil duduk sendirian. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Baginya, hidup terasa begitu berat dan penuh dengan masalah.

Tiba-tiba, datanglah Rehan, teman semasa sekolahnya. Rehan kemudian memesan secangkir cappuccino dan seporsi kentang goreng. Melihat kesempatan itu, Erick pun mulai menceritakan semua beban yang selama ini ia pendam. Rehan mendengarkan dengan saksama dan menanggapi setiap cerita Erick.

Setelah beberapa saat, Rehan bertanya, "Kamu sudah pulang ke rumah belum?"

"Belum, memangnya kenapa?" jawab Erick.

"Nah itu, menurutku kamu perlu pulang dan beristirahat sejenak bersama orang tuamu."

"Memangnya sepenting itu?"

“Emang kamu nggak kangen sama mereka? Kamu perlu datang ke orang tuamu untuk melepas semua masalah yang kamu dapat. Terutama Ibumu, cuma pelukan ibu yang bisa membuat masalah di pikiranmu hilang. Mumpung mereka masih ada, kalo mereka sudah nggak ada, kamu bakal menyesal seumur hidup!” jelas Rehan.


Tak terasa Erick pun meneteskan air mata. Lalu Erick sadar kalau ia harus kembali menemui ibunya dan meminta maaf atas semua yang ia lakukan pada ibunya.


Oleh: Azami


Friday, July 3, 2026

Kyai Kholil Dalam Perdebatan Antara Kepiting Dan Rajungan


Diceritakan bahwa pada suatu hari para ulama di Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk membahas berbagai persoalan fikih. Berbagai masalah dikumpulkan dan dibahas sesuai dengan ketentuan hukum islam. Satu per satu permasalahan hukum diselesaikan dengan mudahnya, meskipun terkadang disertai perdebatan. Hampir tidak ada masalah yang sulit diputuskan.

Namun, ketika pembahasan sampai pada hukum kepiting dan rajungan, para ulama mulai berbeda pendapat. Kesulitan itu muncul karena mereka hanya berpedoman pada kitab-kitab yang ada di hadapan mereka. Selain itu, jika dilihat sekilas, kepiting dan rajungan tampak mirip. Hanya orang yang benar-benar memahami dunia hewan yang dapat membedakan keduanya dengan jelas.

Perdebatan pun berlangsung cukup lama. Setiap ulama mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sebagian berpendapat bahwa kepiting dan rajungan sama-sama halal karena dianggap sejenis. Sementara itu, sebagian yang lain berpendapat bahwa rajungan halal, sedangkan kepiting haram. Karena belum mencapai kesepakatan, pembahasan tentang kepiting dan rajungan pun terus berlanjut. Selama ini, mereka hanya mengenal kedua hewan tersebut melalui gambar dan penjelasan.

Pada saat itu, Kyai Kholil yang sedang menuntut ilmu di Makkah juga hadir dalam majelis tersebut. Beliau duduk dengan tenang, mendengarkan perdebatan para ulama, dan sesekali tersenyum. Ketika melihat pembahasan tidak menemukan jalan keluar, Kyai Kholil pun berdiri dan meminta izin untuk menyampaikan pendapatnya.

“Hadirin yang terhormat, bisakah aku berbicara mengenai persoalan kepiting dan rajungan ini?” Kyai Kholil berdiri di hadapan hadirin.

“Ya, silahkan kemukakan pendapat Anda.”

Setelah berdiri di hadapan para ulama, Kyai Kholil berkata, "Sulitnya menentukan hukum kepiting dan rajungan karena para hadirin belum melihat secara langsung bentuk kedua hewan tersebut."

Para ulama saling memandang dan mengangguk, seolah membenarkan perkataan beliau.

Kemudian Kyai Kholil berkata lagi, "Inilah wujud kepiting."

Beliau memperlihatkan seekor kepiting yang masih basah di tangan kanannya.

Lalu beliau melanjutkan, "Dan inilah wujud rajungan."

Di tangan kirinya tampak seekor rajungan yang juga masih basah, seakan baru saja diambil dari laut.

Melihat kejadian itu, seluruh ulama yang hadir terkejut. Mereka saling berpandangan karena baru pertama kali melihat kepiting dan rajungan secara langsung dalam majelis tersebut. Suasana pun menjadi ramai karena semua orang merasa takjub.

Peristiwa itu membuat banyak ulama membicarakan karomah Kyai Kholil. Sejak saat itu, nama Kyai Kholil semakin dikenal dan dihormati oleh para ulama di Makkah karena keluasan ilmunya serta karomah yang Allah anugerahkan kepada beliau.

Oleh : Arsakha 


Friday, June 19, 2026

Persahabatan Antara Pangeran Dan Anak dari Hutan

 


Di sebuah kerajaan yang berdiri di balik Gunung Ciremai, hiduplah seorang raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut memiliki seorang anak bernama Rayyan. Rayyan merupakan putra tunggal sekaligus pewaris Kerajaan Cibandoso. Ia juga dikenal karena kecerdasan dan ketampanannya.

Walaupun begitu, ia merupakan anak yang rendah hati. Ia berteman dengan siapa saja tanpa memandang fisik. Hal itu membuat Rayyan sangat disukai oleh warga kerajaan dan memiliki banyak teman.

Selain itu, ia sangat suka memainkan seruling di tepi sungai. Ia sangat piawai dalam memainkan seruling, sehingga suara yang dihasilkannya terdengar sangat merdu.

Hingga suatu hari, ia secara tidak sengaja melihat seorang anak berkulit hitam yang sedang mengintip dari balik pohon. Namun saat Rayyan mencoba memanggilnya, anak tersebut malah melarikan diri. Hal itu membuat Rayyan merasa penasaran dari mana asal anak tersebut.

Ternyata, anak itu diam-diam selalu memperhatikan Rayyan saat ia memainkan seruling di tepi sungai. Meskipun Rayyan menyadari keberadaannya, ia memilih untuk membiarkannya dan tidak mengusiknya.

Hingga suatu pagi, Rayyan melihat anak tersebut sedang menatapnya dari jarak dekat. Namun saat didekati, anak itu malah lari. Rayyan pun mengejarnya hingga masuk ke dalam hutan. Sayangnya, anak tersebut tersandung batu dan terjatuh. Melihat hal itu, Rayyan segera menolongnya.

Setelah itu, anak tersebut mengaku mengapa ia selalu memantau Rayyan. Ternyata, ia hanya ingin berteman dengan Rayyan. Namun, ia selalu merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk berteman dengan seorang pangeran. Karena itulah, ia hanya memantau Rayyan dari kejauhan.

Mendengar hal itu, Rayyan merasa iba dan mengajak anak tersebut untuk berteman. Rayyan juga berkata bahwa tidak ada masalah yang bisa menghalangi sebuah persahabatan. Ia menjelaskan bahwa ketampanan dan tahta yang dimilikinya hanyalah titipan semata dan suatu saat akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.

Berkat perkataan itu, anak berkulit hitam tersebut pun sadar bahwa tidak ada penghalang untuk berteman dengan orang lain. Tampan atau tidak, semua hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Pencipta.

Sejak saat itu, anak tersebut menjadi sahabat dekat Rayyan. Mereka pun sering bermain, bercanda, dan bergembira bersama. Persahabatan mereka menjadi bukti bahwa ketulusan hati jauh lebih berharga daripada penampilan fisik.

Oleh: Azami