Wednesday, March 11, 2026

Dulu, Di Hari Minggu



ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.

“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.

Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.

Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.

“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.

Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.

Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.

“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”

“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.

Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.

“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.

“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.

Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.

Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.

Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.

“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.

“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.

Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.

Selesai sholat, Dika keluar lagi.

“Ayo main lagi!” katanya.

Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.

Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.

Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.

“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”

“Sebentar Bu!” jawab Dika.

“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.

Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.

Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.

Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.

Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.

Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.

“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.

Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.

Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.

Oleh: Arsakha


Friday, March 6, 2026

Sebuah Roti Terakhir

 


Suatu sore, saat hujan turun sangat deras, Hakam dan Ghifar sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Karena hujan semakin lebat, Hakam pun menyuruh Ghifar untuk berhenti.

“Far, sebaiknya kita berhenti dulu. Kebetulan ada rumah di depan,” kata Hakam.

“Iya, kita berhenti di rumah itu saja,” jawab Ghifar.

Akhirnya mereka menepi di rumah tersebut. Hakam lalu mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah seorang nenek bersama dua orang cucunya. Yang satu kira-kira berusia enam tahun, dan yang satunya lagi sekitar empat tahun.

“Maaf, Nek. Kami boleh berteduh sebentar di sini?” kata Hakam.

“Oh iya, silakan masuk, Nak,” jawab nenek itu dengan ramah.

Mereka pun masuk dan dipersilakan duduk.

“Silakan duduk dulu, Nak,” kata nenek.

“Iya, Nek,” jawab Ghifar.

Beberapa saat kemudian, nenek itu datang kembali sambil membawa beberapa potong roti dan menyuguhkannya kepada mereka.

“Silakan dimakan, Nak,” kata nenek.

“Terima kasih, Nek,” jawab Ghifar.

Hakam dan Ghifar pun mencoba roti itu. Namun, rasanya sangat manis, bahkan seperti memakan gula merah dalam jumlah banyak. Rasanya membuat mereka kurang selera untuk menghabiskannya.

Tiba-tiba anak yang berusia empat tahun tadi menangis, lalu neneknya menenangkannya. Saat itulah Hakam diam-diam melempar roti yang ia pegang ke teras rumah. Kakak dari anak kecil itu hanya melihat Hakam, tetapi tetap diam.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya hujan pun reda dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.

“Nek, kami pamit dulu,” kata Hakam.

“Oh iya, Nak. Hati-hati di jalan,” jawab nenek.

Mereka pun menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan. Namun, setelah agak jauh dari rumah itu, Hakam baru sadar bahwa ponselnya tertinggal.

“Far, putar balik dulu. HP-ku ketinggalan,” kata Hakam.

Mereka pun kembali ke rumah tadi. Saat Hakam mengambil ponselnya, tanpa sengaja ia melihat anak kecil yang tadi mengambil roti yang ia buang ke teras, lalu memakannya.

Melihat hal itu, Hakam merasa sangat kasihan. Ia pun memberikan sedikit uang kepada anak tersebut sambil berkata, “Ini untuk beli makanan, ya.”

Saat itu Hakam baru menyadari bahwa sesuatu yang menurut kita tidak terlalu berharga, ternyata bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain. Mungkin hanya itu yang mereka miliki, bahkan mereka rela memberikannya demi menghormati tamu.

Oleh: Azami

Tuesday, March 3, 2026

Amal Dengan Ikhlas


 Kalau sudah memulai satu amal ibadah, usahakan untuk menjaganya tetap berjalan. Tidak harus besar, tidak perlu terlihat hebat. Yang penting konsisten. Karena amal yang paling Allah cintai adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّوَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ

الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ (رواه مسلم)

Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit. Dan Aisyah jika melakukan suatu amalan, beliau menetapinya.

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Allah tidak “bosan” sampai kalian bosan. Para ulama, di antaranya Imam Nawawi, menjelaskan bahwa maksudnya bukan Allah benar-benar bosan, tetapi Allah tidak akan memutus rahmat dan pahala-Nya selama hamba itu tidak berhenti beramal.

Namun ada satu hal yang lebih penting dari sekadar banyak atau sedikitnya amal: keikhlasan. Amal tanpa ikhlas ibarat angka nol. Shalat nol, sedekah nol, membaca Al-Qur’an nol. Dikumpulkan sebanyak apa pun tetap nol. Tapi ketika ada ikhlas, ia seperti angka satu di depan deretan nol itu. Nilainya langsung berubah, berlipat-lipat.

Jadi, jangan terlalu sibuk mengejar banyaknya amal sampai lupa menjaganya tetap hidup. Lebih baik sedikit tapi istiqomah, sederhana tapi tulus. Karena yang Allah nilai bukan hanya gerakannya, tapi juga hatinya.

Oleh: Nashirin


Friday, February 27, 2026

Menjadi pemimpin yang baik


 Ketika mendengar kata pemimpin, kebanyakan orang langsung teringat pada presiden, pejabat, wali kota, atau tokoh besar lainnya. Padahal, makna pemimpin tidak terbatas pada jabatan tinggi. Pemimpin adalah seseorang yang memimpin, membimbing, dan bertanggung jawab atas suatu kelompok dalam menjalani kehidupan. Dalam Islam, pemimpin tidak hanya bertugas mengatur, tetapi juga menjaga amanah dan menjalankan tanggung jawab sesuai dengan ajaran agama.

Lalu, bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik? Jawabannya adalah dengan meneladani Nabi Muhammad ﷺ. Beliau merupakan pemimpin terbaik bagi umat Islam. Dalam memimpin, Nabi Muhammad ﷺ selalu bersikap adil dan bijaksana, tanpa membedakan antara yang kaya dan yang miskin, yang dekat maupun yang jauh. Semua diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sayang.

Sikap ini menjadi prinsip penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, yaitu tidak membeda-bedakan manusia karena harta atau kedudukannya. Selain itu, kita juga dapat meneladani para Khulafaur Rasyidin, yaitu para sahabat Nabi yang melanjutkan kepemimpinan umat Islam setelah beliau wafat. Mereka memimpin dengan berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu contoh yang terkenal adalah Khalifah Umar bin Khattab. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan tidak hidup bermewah-mewahan. Umar bin Khattab lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya. Beliau juga sangat dekat dengan kaum fakir miskin dan selalu memastikan bahwa mereka mendapatkan haknya. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang adil dan peduli terhadap rakyatnya.

Para pemimpin tersebut tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Mereka memimpin dengan keikhlasan, menjaga amanah, dan berpegang teguh pada sunnah Nabi. Karena itulah, masyarakat yang mereka pimpin dapat hidup dengan aman, adil, dan sejahtera.

Dari semua itu, kita dapat memahami bahwa seorang pemimpin tidak harus kaya harta, tetapi harus kaya akhlak. Akhlak yang baik, keadilan, dan rasa tanggung jawab adalah kunci utama dalam kepemimpinan. Sebab, ketika seorang pemimpin berlaku buruk, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Sebaliknya, jika pemimpin berlaku adil dan amanah, maka kebaikan akan dirasakan oleh semuanya.

Menjadi pemimpin yang baik bukanlah hal yang mustahil. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Dengan meneladani Nabi Muhammad ﷺ, menjaga amanah, dan berpegang pada ajaran Islam, kita dapat menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, dan membawa kebaikan bagi orang lain.

Oleh: Azami


Monday, February 23, 2026

Ramadhan, Waktu untuk Kembali ke Diri Sendiri


 Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut satu bulan yang selalu dinanti: bulan Ramadhan. Bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, Ramadhan adalah momen istimewa yang membawa suasana lebih tenang, lebih hangat, dan terasa lebih dekat dengan nilai-nilai kebaikan.

Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh keberkahan. Bukan tanpa alasan, karena di bulan inilah banyak orang merasa lebih mudah untuk berbuat baik, lebih ringan untuk berbagi, dan lebih terdorong untuk memperbaiki diri. Ada suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi begitu terasa di hati.

Salah satu hal yang membuat Ramadhan istimewa adalah kedekatannya dengan Al-Qur’an. Di bulan ini, banyak orang yang kembali meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan isinya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar hampir setiap malam, dan semangat untuk memperdalam pemahaman agama terasa meningkat.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri secara fisik, tetapi juga tentang menghidupkan hati. Ia mengajak kita untuk lebih reflektif, lebih sadar, dan lebih terhubung dengan nilai-nilai yang mungkin selama ini terlupakan karena kesibukan sehari-hari.

Ramadhan seperti memberi ruang yang luas untuk memperbaiki diri. Banyak orang menjadikannya sebagai titik awal untuk memulai kebiasaan baik seperti lebih sabar, lebih jujur, lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Puasa mengajarkan kita arti pengendalian diri. Saat rasa lapar dan haus datang, kita belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Kita belajar menahan amarah, menjaga ucapan, dan berpikir sebelum bertindak. Latihan sederhana ini ternyata punya dampak besar dalam kehidupan sehari-hari.

Di bulan Ramadhan, rasa empati biasanya tumbuh lebih kuat. Saat kita merasakan lapar sepanjang hari, kita jadi lebih peka terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan. Tidak heran jika semangat berbagi meningkat baik melalui sedekah, bantuan untuk yang membutuhkan, maupun sekedar berbagi makanan untuk berbuka.

Momen berbuka puasa juga menjadi ajang mempererat kebersamaan. Entah itu bersama keluarga di rumah, teman-teman lama, atau komunitas di lingkungan sekitar, suasana hangatnya terasa berbeda. Ramadhan menghadirkan kebersamaan yang lebih tulus dan sederhana.

Di tengah rutinitas yang padat, jarang sekali kita benar-benar berhenti untuk mengevaluasi diri. Ramadhan menghadirkan kesempatan itu. Dengan pola aktivitas yang sedikit berubah seperti bangun lebih awal, mengisi malam dengan hal-hal positif kita seperti diajak keluar dari ritme biasa.

Bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana perjalanan kita? Apa saja yang perlu diperbaiki? Apa yang bisa ditingkatkan ke depannya?

Ramadhan memang datang setiap tahun, tetapi setiap pertemuan dengannya selalu terasa berbeda. Karena itu, ketika bulan ini tiba, sudah sepatutnya kita menyambutnya dengan hati terbuka bukan hanya menjalankan rutinitas, tetapi benar-benar memanfaatkan setiap momennya.

Semoga Ramadhan yang kita jalani menjadi langkah nyata untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih peduli terhadap sesama.

Oleh: Arsakha


Friday, February 13, 2026

Benarkah Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Hadits Populer: Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Tidak terasa waktu ini berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu, hingga tanpa kita sadari sebentar lagi kita akan kembali dipertemukan dengan bulan yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman: bulan suci Ramadhan.


Di momen seperti ini biasanya mulai beredar sebuah hadis yang berbunyi:


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.”


Secara kajian literatur hadis, para ulama ahli hadis menegaskan bahwa redaksi ini tidak memiliki sanad yang kuat. Sebagian menilainya dhaif, bahkan ada yang menganggapnya maudhu’ (tidak sah berasal dari Nabi ﷺ). Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menyandarkan suatu ucapan kepada Rasulullah ﷺ. Jadi, kalau mau menyampaikan hadis ini harus dikasih catatan: hadis ini secara sanad tidak sahih, bisa dhaif bahkan maudhu’.


Namun demikian, meskipun redaksinya tidak sahih sebagai hadis, makna kegembiraan menyambut Ramadhan bukanlah sesuatu yang tercela. Justru rasa bahagia adalah ekspresi iman. Allah ﷻ sendiri berfirman dalam Al-Qur’an agar manusia bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Dan Ramadhan jelas merupakan karunia besar, bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.


​Ramadhan: Tamu yang Tak Menuntut, Tapi Memberi


​Bayangkan Ramadhan adalah seorang tamu agung yang datang membawa koper penuh hadiah. Selayaknya tuan rumah yang baik, persiapan kita tidak boleh setengah-setengah:


  1. ​Persiapan Sarana (Dhahiriyah): 

Persiapan lahiriah bukan hal remeh. Membersihkan sajadah, mencuci mukena atau sarung, merapikan mushaf, hingga memastikan masjid nyaman bagi jamaah, semua itu adalah bagian dari adab menyambut bulan suci. Lingkungan yang bersih dan tertata akan membantu hati lebih mudah khusyu’.

Selain itu, menjaga kesehatan juga termasuk persiapan fisik. Mengatur pola makan sebelum Ramadhan, membiasakan diri bangun lebih awal, dan mengurangi begadang akan membantu tubuh lebih siap menjalani ibadah puasa dan qiyam.

  1. ​Persiapan Hati (Bathiniyah): 

Inilah yang paling penting. Hati adalah wadah. Jika wadahnya kotor oleh iri, dendam, riya’, dan prasangka buruk, maka limpahan rahmat Ramadhan sulit menetap di dalamnya.

Menyambut Ramadhan berarti memulai proses pembersihan diri: meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan memperbanyak istighfar. Jangan sampai kita memasuki tanggal 1 Ramadhan dengan hati yang masih penuh beban.

Kegembiraan yang benar bukan sekadar ucapan “Marhaban ya Ramadhan” di media sosial, tetapi kesiapan ruhani untuk berubah.

  1. ​Persiapan Aksi (Rencana): 

Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah tahunan—tempat kita “naik kelas” dalam iman dan takwa. Tanpa rencana, Ramadhan akan berlalu seperti bulan-bulan lainnya.

Cobalah membuat target yang terukur:

  • Berapa kali khatam Al-Qur’an?

  • Bagaimana jadwal tilawah harian?

  • Apakah akan mengikuti kajian rutin?

  • Berapa persen dari rezeki yang akan disedekahkan?

  • Bagaimana menjaga lisan dan media sosial dari hal sia-sia?

Dengan rencana yang jelas, Ramadhan tidak lagi sekedar rutinitas, tetapi proyek transformasi diri.


​Menutup Celah "Sekedar Haus dan Lapar"


​Banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Mengapa? Karena mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas seremonial.

​Kegembiraan yang sesungguhnya harus dibuktikan dengan aksi. Jika kita senang akan datangnya Ramadhan, maka kita akan mempersiapkan jadwal tilawah, mengatur waktu istirahat agar kuat bangun sahur, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang kekurangan.


​"Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini bukan sekadar pergantian bulan di kalender, tapi momen transformasi besar dalam hidup kita.”


Oleh: Abid


Tuesday, February 10, 2026

Belajar Bersyukur dalam Keadaan Apapun

 


Kehidupan setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang hidup sederhana, ada yang bergelimang harta dan kemewahan, dan ada pula yang berada di posisi di antara keduanya. Semua itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari ketentuan Allah yang sudah diatur sesuai dengan keadaan masing-masing hamba-Nya.

Apapun kondisi hidup yang kita jalani, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bersyukur. Sayangnya, tidak semua orang mampu melakukannya. Ada yang mudah bersyukur saat hidupnya lapang, tetapi lupa ketika diuji dengan kekurangan. Ada juga yang terlalu menikmati nikmat sampai merasa semua itu murni hasil usahanya sendiri.

Kita perlu memahami bahwa Allah tidak selalu memberikan nikmat dalam jumlah besar kepada setiap orang. Bukan karena Allah tidak sayang, justru sebaliknya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Bisa jadi, jika seseorang terlalu banyak diberi kenikmatan, ia akan terlena, sibuk menikmati dunia, dan perlahan lupa kepada Allah yang telah memberinya semua itu.

Karena itulah, sedikit atau banyaknya nikmat bukan ukuran bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Ketika kita mampu bersyukur dalam keadaan apa pun, di situlah letak ketenangan dan keberkahan hidup yang sebenarnya.

Oleh: Nizam