Friday, August 21, 2026

Rasulullah ﷺ sebagai Teladan Sepanjang Zaman


 Di antara miliaran manusia yang pernah hidup dari zaman ke zaman, ada satu sosok yang namanya selalu dikenang dan dicintai oleh umat Islam di seluruh dunia. Beliau adalah Nabi Muhammad , nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah Ta’ala untuk membawa ajaran Islam. Nama beliau selalu kita sebut dalam shalawat dan doa, dan kisah kehidupan beliau terus kita pelajari sebagai teladan dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah hidup lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Kita tidak pernah bertemu beliau, tidak pernah melihat wajah beliau secara langsung, dan tidak pernah mendengar suara beliau. Namun, sampai sekarang beliau tetap menjadi sosok yang sangat kita cintai dan kita jadikan panutan.

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah teladan bagi kita. Bukan hanya bagi orang-orang yang hidup pada zaman beliau, tetapi juga bagi kita yang hidup di zaman sekarang.

Mencintai Rasulullah Bukan Hanya dengan Shalawat

Kita pasti sering mengatakan, “Saya cinta Rasulullah .”

Kita bershalawat, mengikuti kegiatan Maulid Nabi, mendengarkan kisah-kisah beliau, dan merasa senang ketika nama Rasulullah disebut.

Itu semua memang baik. Tetapi menurut saya, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah , kita juga harus berusaha mengikuti beliau.

Jangan sampai kita sering bershalawat, tetapi masih suka berkata kasar kepada orang lain. Jangan sampai kita hafal banyak kisah Rasulullah , tetapi tidak ada satu pun akhlak beliau yang kita coba lakukan.

Cinta itu bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan.

Semakin besar rasa cinta kita kepada Rasulullah , seharusnya semakin besar pula keinginan kita untuk mengikuti beliau.

Belajar Sabar dari Rasulullah ﷺ.

Salah satu akhlak Rasulullah yang sangat penting untuk kita contoh adalah kesabaran beliau.

Kita bisa melihatnya dari peristiwa ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif.

Beliau datang ke Thaif dengan tujuan menyampaikan ajaran Islam. Tetapi masyarakat di sana tidak menerima dakwah beliau. Rasulullah bahkan mendapatkan cacian dan lemparan batu sampai tubuh beliau terluka.

Kalau kita berada di posisi tersebut, mungkin kita akan merasa sangat marah dan ingin membalas.

Tetapi Rasulullah tidak seperti itu. Beliau tidak memilih untuk membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan ketika ada tawaran untuk membinasakan mereka, Rasulullah justru berharap agar suatu hari nanti dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.

Dari sini kita bisa belajar bahwa Rasulullah memiliki kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa.

Sekarang coba kita bandingkan dengan diri kita.

Kadang hanya karena teman mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai, kita langsung marah. Kadang hanya karena komentar seseorang di media sosial, kita langsung membalas dengan kata-kata yang lebih kasar.

Padahal Rasulullah yang mendapatkan perlakuan jauh lebih menyakitkan saja tetap menjaga akhlaknya.

Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Kalau saya mengaku sebagai umat 

Rasulullah , apakah akhlak beliau sudah terlihat dalam diri saya?”

Abdullah bin Umar dan Kecintaannya kepada Rasulullah

Ada sebuah kisah tentang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Abdullah bin Umar dikenal sebagai sahabat yang sangat mencintai Rasulullah . Beliau berusaha mengikuti Rasulullah dalam berbagai hal.

Dikisahkan, ketika Abdullah bin Umar sedang melakukan perjalanan, beliau pernah berhenti di suatu tempat. Orang-orang yang bersamanya merasa heran dan kemudian bertanya mengapa beliau berhenti di sana.

Abdullah bin Umar menjelaskan bahwa dahulu Rasulullah pernah berhenti di tempat tersebut.

Bagi kita mungkin hal itu terlihat sepele. Hanya berhenti di sebuah tempat. Tetapi bagi Abdullah bin Umar, hal itu memiliki arti karena Rasulullah pernah melakukannya.

Dari kisah tersebut kita bisa melihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah . Mereka tidak hanya ingin mengetahui apa yang dikatakan Rasulullah , tetapi juga berusaha mengetahui bagaimana beliau menjalani kehidupannya.

Mereka ingin mengikuti Rasulullah karena mereka benar-benar mencintai 

beliau.Meneladani Rasulullah di Zaman Sekarang

Sekarang kita hidup di zaman yang jauh berbeda.

Kita punya handphone, internet, media sosial, dan berbagai macam teknologi. Informasi bisa menyebar dalam hitungan detik.

Lalu, apakah karena zaman sudah berubah kita tidak bisa lagi meneladani Rasulullah ?

Tentu saja bisa.

Meneladani Rasulullah bukan berarti kita harus hidup persis seperti orang-orang pada zaman beliau. Kita tidak harus meninggalkan teknologi atau kembali hidup seperti zaman dahulu.

Yang perlu kita contoh adalah akhlak dan ajaran Rasulullah .

Misalnya, Rasulullah mengajarkan kejujuran. Maka kita harus belajar untuk jujur.

Rasulullah mengajarkan amanah. Maka kita harus menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.

Rasulullah mengajarkan kita untuk menghormati orang lain. Maka kita harus menghormati orang tua, guru, dan orang-orang di sekitar kita.

Rasulullah juga mengajarkan untuk menjaga lisan. Maka kita harus berhati-hati ketika berbicara, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan sampai karena merasa berada di balik layar handphone, kita merasa bebas menulis apa saja.

Mulai dari Hal yang Sederhana

Untuk mengikuti Rasulullah , kita tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.

Mulai dari menjaga shalat.

Menghormati orang tua.

Menghormati guru.

Berkata jujur.

Tidak mudah marah.

Tidak menyakiti teman.

Menjaga perkataan.

Memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak shalawat.

Dan berusaha memperbaiki akhlak sedikit demi sedikit.

Mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau dilakukan terus-menerus, insyaAllah akan menjadi kebiasaan yang baik.

Kita juga tidak perlu merasa bahwa kita harus langsung sempurna. Kita adalah manusia biasa yang masih banyak kekurangan. Yang penting adalah kita mau belajar dan terus berusaha menjadi lebih baik.

Rasulullah Harus Ada dalam Kehidupan Kita

Menurut saya, mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa banyak kita menyebut nama beliau.

Rasulullah seharusnya juga terlihat dalam kehidupan kita.

Ketika berbicara, kita ingat akhlak Rasulullah .

Ketika belajar, kita berusaha bersungguh-sungguh.

Ketika bersama orang tua, kita menjaga sikap.

Ketika bertemu guru, kita menghormatinya.

Ketika bersama teman, kita tidak mudah menyakiti.

Ketika menggunakan media sosial, kita berpikir sebelum menulis sesuatu.

Dengan begitu, kecintaan kita kepada Rasulullah tidak hanya berada di dalam hati dan ucapan, tetapi juga terlihat dalam perilaku kita.

Penutup

Dunia akan terus berubah. Teknologi akan semakin maju dan generasi akan terus berganti. Tetapi akhlak yang baik akan selalu dibutuhkan.

Karena itu, jangan sampai perkembangan zaman membuat kita semakin jauh dari Rasulullah . Justru di zaman yang semakin maju seperti sekarang, kita semakin membutuhkan beliau sebagai teladan.

Kita mungkin belum bisa menjadi seperti Rasulullah , kita masih banyak salah dan masih banyak kekurangan. Tetapi kita bisa terus belajar untuk mengikuti beliau, sedikit demi sedikit.

Jangan hanya mengatakan, “Saya cinta Rasulullah .”

Mari kita buktikan cinta itu dengan mengikuti sunnah beliau.

Jangan hanya membaca kisah perjuangan Rasulullah , tetapi ambil pelajaran dari perjuangan tersebut.

Dan jangan hanya memperbanyak shalawat dengan lisan, tetapi jadikan shalawat sebagai pengingat agar hati dan akhlak kita semakin dekat dengan Rasulullah .

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita umat Nabi Muhammad yang benar-benar mencintai beliau, mengikuti sunnah beliau, memiliki akhlak yang baik, dan mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat.

Aamiin.

Oleh: Rizqi


Tuesday, August 18, 2026

Manfaat Air Putih Bagi Otak



Tahukah kalian? dalam sehari, tubuh kita membutuhkan sekitar 2–3 liter cairan untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh dengan baik. Namun, kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung pada usia, aktivitas, cuaca, dan kondisi tubuh.

Salah satu organ yang sangat bergantung pada kecukupan cairan adalah otak. Air memiliki peran penting dalam membantu otak menjalankan berbagai fungsinya. Ketika tubuh kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, kemampuan otak dalam berkonsentrasi, mengingat, dan memproses informasi dapat ikut terganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan cairan sekitar 2% dari berat badan sudah dapat memberikan dampak pada beberapa fungsi kognitif, terutama perhatian dan kemampuan berpikir. Hal ini juga terlihat dalam beberapa penelitian pada anak-anak. Anak yang mendapatkan asupan air yang cukup menunjukkan hasil yang lebih baik dalam beberapa tugas yang berkaitan dengan perhatian dan memori.

Dengan kata lain, memenuhi kebutuhan cairan bukan hanya penting untuk menghilangkan rasa haus, tetapi juga membantu menjaga tubuh dan otak agar tetap bekerja secara optimal. Saat tubuh terhidrasi dengan baik, kita akan lebih siap untuk belajar, berpikir, berkonsentrasi, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, bukan berarti semakin banyak minum air maka kemampuan otak akan semakin meningkat. Tubuh memiliki kebutuhan cairan yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air yang cukup dan teratur sepanjang hari, terutama ketika sedang beraktivitas atau berada di cuaca yang panas.

Jadi, ketika ingin menjaga konsentrasi dan membantu otak bekerja secara optimal, jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari. Sederhana, tetapi sangat penting untuk mendukung kesehatan tubuh sekaligus menjaga pikiran tetap fokus dan siap beraktivitas.

 Oleh: Arsakha

Friday, August 14, 2026

Cahaya di Bulan Rabiul Awal 1448 H

 


Tidak terasa, waktu terus berjalan, dan kini kita sudah memasuki bulan Rabiul Awal 1448 H. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam hati.

Kata "Rabiul Awal" sendiri memiliki arti musim semi. Mengapa disebut musim semi? Hal itu karena pada bulan inilah lahir manusia paling mulia, pembawa pencerahan bagi seluruh alam, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad . Kehadiran beliau bagaikan musim semi yang membuat bumi kembali hidup, hijau, dan penuh harapan setelah lama tertutup kegelapan.

  • Mengenal Sosok Teladan Kita: Kanjeng Nabi Muhammad

Ketika berbicara tentang Kanjeng Nabi Muhammad , kita sedang membahas sosok manusia yang paling lembut hatinya, jujur, dan penuh kasih sayang. Jauh sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah dikenal sebagai orang yang sangat terpercaya hingga mendapat julukan Al-Amin.

Saat beliau lahir, dunia yang tadinya kacau dan penuh keburukan perlahan-lahan berubah. Beliau mengajarkan cara menyembah Allah yang benar, memanusiakan manusia, dan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang memusuhi beliau sekalipun.

Bahkan, Allah memuji akhlak beliau dalam Al-Qur'an:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung."        (QS. Al-Qalam: 4)

  • Menghidupkan Semangat Rabiul Awal 1448 H dalam Kehidupan Nyata

Menyambut Rabiul Awal 1448 H dengan penuh khidmat menuntut kita untuk menerjemahkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad ke dalam tindakan nyata sehari-hari. Beberapa langkah penting yang bisa kita lakukan meliputi:

  1. Menghidupkan Sunnah dalam Keseharian. Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak cukup hanya diikrarkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti jejak langkahnya. Hal ini bisa dimulai dari adab berpakaian, cara berbicara, kepedulian terhadap tetangga, hingga kejujuran dalam bermuamalah.

  2. Memperbanyak Shalawat sebagai Bentuk Rindu. Penyelenggaraan majelis shalawat yang semarak di bulan ini merupakan wujud kerinduan kolektif umat. Mengumandangkan shalawat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah  sekaligus membuka pintu syafaat Baginda Nabi di hari kiamat kelak.                                                       

  3. Mengkaji Ulang Sirah Nabawiyah. Membaca kembali kisah hidup dan perjuangan Rasulullah akan memberikan keteguhan mental serta spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di era modern 1448 H ini.

  • Puisi Penutup: Permata Hati di Bulan Rabiul Awal

Di ufuk malam angin berbisik syahdu,

Membawa sejuk ke dalam ruang rindu.

Tanda musim semi tiba di beranda dunia,

Membawa damai yang menyapa jiwa.

Selamat datang, Rabiul Awal yang suci,

Bulan tersenyum menyambut sang matahari.

Bulan di mana bumi bergetar penuh bahagia,

Kala lahirnya Nabi pembawa pelita cahaya.

Duhai Kanjeng Nabi Muhammad, permata semesta,

Wajahmu bak rembulan yang menyejukkan mata.

Engkau hadir membawa cinta kasih nan abadi,

Mengusir gulita, menuntun hati kembali suci.

Tutur katamu adalah embun penawar lara,

Langkah kakimu adalah teladan sepanjang masa.

Akhlakmu adalah ayat-ayat suci yang nyata,

Menghidupkan asa di setiap relung dada.

Ya Rasulullah, meski raga tak pernah bersua,

Cinta ini mengalir deras di dalam dada.

Izinkan kami berjalan di bawah panji sunnahmu,

Hingga kelak berlabuh dalam damai syafaatmu.

  • Penutup

Semoga kehadiran bulan Rabiul Awal 1448 H menjadi titik balik bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta, serta meneladani akhlak mulia Baginda Kanjeng Nabi Muhammad secara menyeluruh.

Oleh: Nabil

Wednesday, August 12, 2026

Belajar Dari Senja


 “PRITTT…!”

Suara peluit ditiup. Terlihat sekumpulan anak sedang bermain bola di lapangan. Sore itu, suasana yang indah membuat hati terasa tenang. Setelah melewati siang yang panas, mereka sangat antusias untuk bermain.

“GOLLL…”

Terdengar suara mereka yang bersorak gembira.

“PRITT…”

Suara peluit tanda permainan selesai terdengar. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Kamu hebat banget Janu!” ucap Rayyan.

“Hehe, kamu juga hebat kok,” balas Janu.

“Hebat apanya? Kan aku wasit,” kata Rayyan.

“Ya, berarti kamu wasit yang hebat,” jawab Janu.

Mereka pun tertawa bersama sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Rayyan disambut hangat oleh ibunya.

“Ehh… pangeran kecilku sudah datang,” ucap Ibu sambil memeluk anaknya.

“Tadi gimana main bolanya? Seru?” tanya ibunya.

“Seru, walau aku cuma jadi wasit,” jawab Rayyan.

“Emang kenapa?” tanya ibunya sambil mengelus rambut anaknya.

“Hehe, kan kalau wasit nggak bisa ikut main,” jawab Rayyan sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting kan kamu tetap senang,” jawab Ibu sambil memencet hidung kecil anaknya.

Akhirnya, mereka pun duduk bersama di teras rumah sambil menikmati indahnya mentari senja dan ditemani hembusan angin sepoi-sepoi.

“Rayyan tahu nggak? Kita bisa belajar dari senja, lho,” kata Ibu.

“Belajar dari senja?” tanya Rayyan, tidak paham.

“Iya, kita belajar dari senja,” jawab Ibu.

“Maksudnya?” tanya Rayyan, tidak mengerti.

“Maksudnya, kamu bisa seperti mentari senja. Walaupun saat siang hari diabaikan, bahkan dibenci, ia tetap memberikan cahayanya yang terbaik saat senja. Ia tahu kalau ia sering diabaikan, tetapi ia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik sebelum ia tenggelam. Seperti halnya kamu, walaupun kamu diabaikan, kamu harus tetap menjadi anak yang baik,” jelas Ibu.

Rayyan pun paham apa yang dimaksud ibunya. Ia tersenyum sambil menggenggam peluit merah di tangannya.

Ia pun mendapat pelajaran. Bahwa, walaupun sering diabaikan, kita masih bisa memberikan yang terbaik di akhir. Dengan begitu, suatu saat kita tidak akan terabaikan lagi.

Oleh: Azami


Friday, August 7, 2026

Memahami Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Apa perbedaannya?

 


Setiap muslim hampir tidak pernah lepas dari ucapan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Kalimat ini dibaca sebelum memulai berbagai aktivitas, mulai dari membaca Al-Qur'an, belajar, bekerja, hingga melakukan berbagai amal kebaikan. Di dalamnya terdapat dua nama Allah yang agung, yaitu Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm. Keduanya sama-sama berasal dari akar kata رَحِمَ (raḥima) yang berarti kasih sayang atau rahmat. Meskipun memiliki akar kata yang sama, keduanya mengandung makna yang berbeda dan saling melengkapi.

  1. Makna Ar-Raḥmān


Ar-Raḥmān (الرَّحْمٰن) berarti Yang Maha Pengasih. Nama ini menunjukkan keluasan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali. Semua makhluk merasakan kasih sayang-Nya, baik orang yang beriman maupun yang tidak beriman, manusia, hewan, maupun seluruh alam semesta.


Bentuk kasih sayang tersebut tampak dalam berbagai nikmat yang Allah berikan, seperti kehidupan, kesehatan, udara yang dapat dihirup, sinar matahari, hujan, rezeki, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Ar-Raḥmān menggambarkan rahmat Allah yang bersifat umum dan mencakup seluruh ciptaan-Nya.


  1. Makna Ar-Raḥīm


Ar-Raḥīm (الرَّحِيم) berarti Yang Maha Penyayang. Nama ini menunjukkan rahmat Allah yang bersifat khusus, terus-menerus, dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.


Rahmat ini berupa hidayah, taufik, kemudahan dalam beribadah, ketenangan hati, ampunan dosa, serta kenikmatan surga di akhirat. Allah berfirman:


وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا»


"Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab: 43)»


Ayat ini menunjukkan bahwa sifat Ar-Raḥīm memiliki kaitan yang sangat erat dengan kasih sayang Allah kepada orang-orang yang beriman.


  1. Persamaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Kedua nama tersebut sama-sama menunjukkan kesempurnaan sifat rahmat Allah. Tidak ada kasih sayang yang lebih sempurna daripada kasih sayang-Nya. Semua nikmat yang diterima makhluk merupakan bukti dari rahmat Allah, baik rahmat yang bersifat umum maupun rahmat yang bersifat khusus.


  1. Perbedaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Para ulama menjelaskan beberapa perbedaan pokok antara kedua nama tersebut:


- Ar-Raḥmān menunjukkan rahmat Allah yang sangat luas dan meliputi seluruh makhluk, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan rahmat yang khusus bagi orang-orang beriman.

- Ar-Raḥmān lebih menggambarkan keluasan sifat kasih sayang Allah, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan kasih sayang yang terus diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

- Rahmat Ar-Raḥmān tampak pada berbagai nikmat kehidupan di dunia, sedangkan rahmat Ar-Raḥīm mencapai kesempurnaannya di akhirat berupa ampunan, keridaan, dan surga.


  1. Hikmah Penyebutan Keduanya dalam Basmalah


Allah menyebut kedua nama ini secara berdampingan dalam basmalah agar hamba-Nya memahami bahwa rahmat Allah sangat luas sekaligus memiliki bentuk rahmat yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Hal ini juga mengajarkan agar seorang muslim selalu berharap kepada kasih sayang Allah dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat.


Memahami perbedaan antara Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm akan semakin menumbuhkan rasa syukur, harapan, dan cinta kepada Allah. Rahmat-Nya yang luas membuat setiap hamba tidak pernah berputus asa, sedangkan rahmat khusus-Nya mendorong setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan agar termasuk golongan yang memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Dengan demikian, setiap kali mengucapkan basmalah, kita tidak sekadar melafalkan dua nama Allah, tetapi juga menghayati keluasan kasih sayang-Nya serta berharap memperoleh rahmat-Nya yang khusus. Oleh: Shofil


Tuesday, August 4, 2026

"Jujur Janggal": Emangnya Wajib Bilang "'Jujur'' Supaya Nggak Bohong?

 


Yaa kembali lagi di part bedah istilah Gen Z. Kalau kemarin kita sudah bahas tentang "when yh", sekarang kita bahas yang "jujur janggal", dan ini pure perspektif saya sendiri yaa.

Kenapa sih ada kata "jujur"? Apakah kalau tidak pakai kata tersebut berarti bohong? Ngga yaa. Kata jujur itu adalah kata penguat dalam menyatakan suatu hal. Sedangkan kata janggal adalah kata imbuhan saja yang tujuannya menarik perhatian para pendengarnya.


Anyway, ini hanya sekadar kreativitas Gen Z membuat istilah di medsos. Kalau kita amati lebih dalam, fenomena lahirnya kosakata baru seperti ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Setiap generasi selalu punya cara uniknya sendiri untuk menciptakan bahasa kelompok yang membuat mereka merasa memiliki ikatan khusus, sekaligus sebagai bentuk kebebasan berekspresi di ruang digital. Dulu mungkin kita mengenal istilah-istilah gaul era 90-an atau 2000-an awal, dan sekarang giliran Gen Z yang memegang kendali dengan racikan kata yang sering kali terdengar kontradiktif namun jenaka.


Kombinasi kata "jujur" dan "janggal" ini sendiri sebenarnya mencerminkan bagaimana anak muda sekarang suka mendramatisasi situasi secara komedik. Kata "jujur" dipakai untuk memberikan seolah-olah apa yang mereka katakan adalah sebuah kabar yang sangat valid. Lalu dipadukan dengan kata "janggal" yang justru memberi kesan kontras, seolah menyiratkan bahwa situasi atau perasaan yang sedang dibahas itu begitu luar biasa, unik, atau bahkan di luar nalar sampai-sampai bikin relate tapi juga mengernyitkan dahi.


Nah, kalau kita lihat dari sudut pandang anak-anak pesantren, fenomena bahasa gaul seperti ini sering kali jadi warna tersendiri di balik tembok asrama. Santri zaman now tidak melulu kaku; mereka juga paham tren medsos yang lagi seliweran. Bedanya, di lingkungan pondok, kreativitas bahasa ini biasanya bergeser menjadi pelipur lara yang khas. Misalnya: Jujur janggal, rasanya baru kemarin masuk pondok, eh sekarang sudah mau sembilan tahun aja mondoknya.


Meski begitu, dibalik keisengan memakai istilah-istilah gaul tersebut, para santri harus tetap punya rem tangan bernama adab. Mereka tahu kapan harus melemparkan candaan santai dengan frasa gaul saat bercengkrama dengan sesama teman, dan kapan harus kembali menggunakan bahasa yang santun saat menghadap guru atau Kiai.


Jadi, kalau ditarik benang merahnya, bahasa gaul ala Gen Z ini sebenarnya nggak perlu ditelan secara mentah-mentah atau sampai bikin pusing kepala. Mereka cuma sedang meracik bumbu komunikasi agar obrolan di media sosial terasa lebih santai, hidup, dan punya vibe yang asyik buat disimak bareng-bareng. Pada akhirnya, bahasa adalah makhluk yang hidup; ia akan terus bertumbuh seiring dengan cara kita beradaptasi dengan zaman.

Gimana menurut kalian? Apakah istilah "jujur janggal" ini sukses bikin obrolan makin seru, atau malah bikin kita geleng-geleng kepala tiap kali mendengarnya?


Finally, sampai jumpa di karya bedah istilah gen Z yang akan datang.

Oleh: Abid