Malam itu rumah sedang sepi, orang tuaku sedang mengambil barang dagangan ke luar kota. Pas lagi bengong, tiba-tiba teringat omongan orang-orang tua di desa soal hantu Mbakung. Katanya, hantu ini sering keluar habis Isya dan hobi banget gangguin anak-anak.
Karena penasaran, saya niat buat ngebuktiin sendiri itu beneran ada atau cuma mitos. Pas banget malam itu kakak sepupu saya mampir buat nginep. Langsung deh saya ajak dia ekspedisi kecil-kecilan.
“Kak, ikut jalan-jalan yuk?” ajak saya antusias.
“Jalan-jalan kemana malem begini?” sahutnya bingung.
“Udah ikut aja! Ada deh. Pokoknya tenang aja, aman,” saya meyakinkan dia sambil nyengir. Akhirnya dia mau juga, asal nggak jauh-jauh.
Pas jam menunjukkan pukul 20.32 WIB, kita jalan santai. Sekitar 90 meter dari rumah, ada abang bakso yang mangkal di bawah pohon beringin gede. Kebetulan perut udah keroncongan dari sore, akhirnya kita mutusin buat mampir makan dulu di sana.
Di lapak itu udah ada dua orang pelanggan lain. Saya pesan bakso tanpa mie, sementara kakak pesan yang paket komplit. Sambil nunggu bakso, saya pun mulai buka topik yang bikin merinding.
“Kak, tahu nggak? Warga sini tuh lagi heboh cerita soal hantu Mbakung,” kata saya mulai memancingnya.
Kakak sepupu saya langsung nanya, “Hah, hantu apaan lagi tuh? Baru denger.”
“Itu lho, sosok kakek-kakek yang jalannya agak bungkuk,” jawab saya.
“Terus kenapa emangnya sama tuh hantu?”
“Ya… katanya dia sering muncul habis Isya dan hobi gangguin anak-anak. Makanya aku ajak kakak ke sini. Aku penasaran ini beneran ada atau cuma karangan orang-orang tua sini aja sih.”
Kakak sepupu saya cuma ketawa kecil sambil menyendok baksonya dengan santai. Dia nggak kelihatan takut sedikitpun, malah kayak lagi dengerin dongeng sebelum tidur.
“Kamu ini ada-ada saja, Dek. Namanya juga cerita orang tua dulu, ya pasti dibikin serem biar anak-anaknya nggak keluyuran malam-malam,” jawabnya enteng.
Saya masih bersikeras, “Tapi Kak, bukannya ada beberapa warga yang ngaku pernah lihat?”
Kakak saya meletakkan sendoknya, lalu menatap saya dengan tatapan sok bijak. “Dengar ya, tempat kita makan sekarang ini kan di bawah pohon beringin, gelap lagi. Kalau mau ada hantu, harusnya dari tadi kita sudah diganggu, kan? Tapi buktinya, kita malah enak-enakan makan bakso. Penjualnya juga santai saja tuh.”
Baru saja dia ngomong gitu, tiba-tiba ada suara krek dari atas pohon beringin. Saya langsung merinding, jantung rasanya mau copot. Tapi pas kita berdua nengok ke atas, ternyata cuma dahan kering yang jatuh karena tertiup angin malam. Penjual bakso pun cuma terkekeh melihat wajah panik kami.
“Tuh kan,” ujar kakak saya sambil lanjut makan. “Hantu Mbakung itu sebenarnya cuma hantu buatan orang tua sini supaya kita nggak main jauh-jauh setelah Isya. Biar kita aman di rumah, istirahat, nggak keluyuran. Jadi ya itu cuma fiktif belaka, alias akal-akalan aja biar anak-anaknya nurut.”
Mendengar penjelasannya, rasa penasaran saya pelan-pelan menguap. Ternyata ketakutan saya selama ini cuma hasil imajinasi yang dipicu oleh cerita takut-takuti khas desa. Kami pun menghabiskan sisa bakso dengan tenang, bahkan sempat bercanda sampai puas.
Selesai makan, Kakak membayar ke penjual bakso sambil melambaikan tangan. “Duluan ya, Pak. Jangan takut, Mbakungnya lagi cuti kok!” serunya iseng, yang langsung dibalas tawa renyah si bapak penjual.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih santai. Angin malam yang tadinya terasa mencekam, sekarang cuma terasa dingin menyegarkan di kulit. Sepanjang jalan kami terus-terusan mengoceh, menertawakan betapa lugunya saya yang bisa-bisanya takut sama cerita karangan orang tua.
“Bayangin ya, kalau beneran ada Mbakung, mungkin dia sekarang lagi galau karena nggak ada anak kecil yang dia takut-takutin lagi,” celetuk Kakak sambil tertawa lebar, sampai-sampai motor yang kami naiki sedikit oleng. Saya refleks memukul pundaknya sambil ikut tertawa.
Sesampainya di depan rumah, suasana desa sudah sangat sepi. Lampu teras rumah kami yang temaram menyambut dengan hangat. Saat saya turun dari motor dan melepas helm, Kakak menepuk bahu saya pelan.
“Tuh, sudah sampai rumah dengan selamat, kan? Nggak ada yang ngikutin, nggak ada yang narik kaki. Jadi mulai besok, kalau dengar cerita serem lagi, ingat saja bakso beringin malam ini,” katanya dengan nada jahil sebelum mematikan mesin motor.
Saya sampai di rumah dengan perasaan lega yang luar biasa. Malam itu, Hantu Mbakung resmi pensiun dari daftar ketakutan saya. Ternyata benar, terkadang hal paling seram di dunia ini cuma cara orang dewasa memastikan kita tidur nyenyak di kasur sendiri.
Setelah kejadian makan bakso tadi, saya dan Kakak duduk sebentar di teras rumah. Angin malam yang berhembus pelan bikin suasana jadi makin syahdu. Saya memperhatikan Kakak yang kini nggak lagi sibuk mengotak-atik ponselnya, melainkan asyik menyesap teh hangat yang baru saya buat sambil menatap bintang.
Tiba-tiba dia membuka obrolan, “Tadi pas kita makan, aku perhatiin sekeliling. Nggak ada satupun yang sibuk sama gadget. Ternyata tanpa HP, dunia terasa lebih luas ya, Dek? Kita bisa benar-benar ngobrol, ngetawain hal konyol, sampai ngerasin angin malam tanpa harus kedistreksi sama notifikasi.”
Saya manggut-manggut. Memang benar, biasanya kalau nongkrong, perhatian kami pasti terbagi antara lawan bicara dan layar ponsel. Malam ini rasanya berbeda, lebih real dan lebih hangat.
Kakak melanjutkan, “Mungkin itu juga alasan kenapa anak zaman dulu lebih mudah diatur dan nurut. Dulu hiburan kita ya cuma alam, tetangga, atau cerita-cerita orang tua seperti Mbakung itu. Karena nggak ada distraksi dunia digital, fokus kita ya ke lingkungan sekitar. Kita lebih menghargai apa yang ada di depan mata, termasuk nasihat orang tua.”
Dia tersenyum tipis. “Zaman sekarang, anak-anak lebih sibuk sama dunianya sendiri di balik layar. Jadi pas dibilangin buat nggak keluyuran, mungkin mereka ngerasa itu menghambat kesenangan mereka. Padahal orang tua dulu bikin aturan begitu ya supaya kita tetap punya waktu istirahat yang berkualitas dan tetap aman.”
Mendengarnya, saya baru sadar. Ternyata kepatuhan anak zaman dulu bukan sekadar takut karena ancaman hantu, tapi karena mereka punya koneksi yang lebih dalam dengan dunianya secara langsung. Mereka lebih “hadir” di tempat mereka berada.
“Mungkin kita perlu sesekali puasa gadget ya, Kak?” celetuk saya.
Kakak tertawa lepas. “Ide bagus! Besok-besok kalau keluar, HP kita simpan di tas. Kita nikmati dunia yang asli aja biar hidup nggak cuma sebatas scroll layar.”
Malam itu saya belajar satu hal: terkadang untuk benar-benar merasakan hidup dan lebih mudah terhubung dengan sekitar. Kita memang perlu berani meletakkan ponsel sejenak dan mulai mendengarkan cerita-cerita nyata di depan mata.


.jpg)



.jpg)
.jpg)