Friday, June 5, 2026

Mbakung dan Kita: Hantu yang Pensiun karena Gadget


Malam itu rumah sedang sepi, orang tuaku sedang mengambil barang dagangan ke luar kota. Pas lagi bengong, tiba-tiba teringat omongan orang-orang tua di desa soal hantu Mbakung. Katanya, hantu ini sering keluar habis Isya dan hobi banget gangguin anak-anak.

Karena penasaran, saya niat buat ngebuktiin sendiri itu beneran ada atau cuma mitos. Pas banget malam itu kakak sepupu saya mampir buat nginep. Langsung deh saya ajak dia ekspedisi kecil-kecilan.

“Kak, ikut jalan-jalan yuk?” ajak saya antusias.

“Jalan-jalan kemana malem begini?” sahutnya bingung.

“Udah ikut aja! Ada deh. Pokoknya tenang aja, aman,” saya meyakinkan dia sambil nyengir. Akhirnya dia mau juga, asal nggak jauh-jauh.

Pas jam menunjukkan pukul 20.32 WIB, kita jalan santai. Sekitar 90 meter dari rumah, ada abang bakso yang mangkal di bawah pohon beringin gede. Kebetulan perut udah keroncongan dari sore, akhirnya kita mutusin buat mampir makan dulu di sana.

Di lapak itu udah ada dua orang pelanggan lain. Saya pesan bakso tanpa mie, sementara kakak pesan yang paket komplit. Sambil nunggu bakso, saya pun mulai buka topik yang bikin merinding.

“Kak, tahu nggak? Warga sini tuh lagi heboh cerita soal hantu Mbakung,” kata saya mulai memancingnya.

Kakak sepupu saya langsung nanya, “Hah, hantu apaan lagi tuh? Baru denger.”

“Itu lho, sosok kakek-kakek yang jalannya agak bungkuk,” jawab saya.

“Terus kenapa emangnya sama tuh hantu?”

“Ya… katanya dia sering muncul habis Isya dan hobi gangguin anak-anak. Makanya aku ajak kakak ke sini. Aku penasaran ini beneran ada atau cuma karangan orang-orang tua sini aja sih.”

Kakak sepupu saya cuma ketawa kecil sambil menyendok baksonya dengan santai. Dia nggak kelihatan takut sedikitpun, malah kayak lagi dengerin dongeng sebelum tidur.

“Kamu ini ada-ada saja, Dek. Namanya juga cerita orang tua dulu, ya pasti dibikin serem biar anak-anaknya nggak keluyuran malam-malam,” jawabnya enteng.

Saya masih bersikeras, “Tapi Kak, bukannya ada beberapa warga yang ngaku pernah lihat?”

Kakak saya meletakkan sendoknya, lalu menatap saya dengan tatapan sok bijak. “Dengar ya, tempat kita makan sekarang ini kan di bawah pohon beringin, gelap lagi. Kalau mau ada hantu, harusnya dari tadi kita sudah diganggu, kan? Tapi buktinya, kita malah enak-enakan makan bakso. Penjualnya juga santai saja tuh.”

Baru saja dia ngomong gitu, tiba-tiba ada suara krek dari atas pohon beringin. Saya langsung merinding, jantung rasanya mau copot. Tapi pas kita berdua nengok ke atas, ternyata cuma dahan kering yang jatuh karena tertiup angin malam. Penjual bakso pun cuma terkekeh melihat wajah panik kami.

“Tuh kan,” ujar kakak saya sambil lanjut makan. “Hantu Mbakung itu sebenarnya cuma hantu buatan orang tua sini supaya kita nggak main jauh-jauh setelah Isya. Biar kita aman di rumah, istirahat, nggak keluyuran. Jadi ya itu cuma fiktif belaka, alias akal-akalan aja biar anak-anaknya nurut.”

Mendengar penjelasannya, rasa penasaran saya pelan-pelan menguap. Ternyata ketakutan saya selama ini cuma hasil imajinasi yang dipicu oleh cerita takut-takuti khas desa. Kami pun menghabiskan sisa bakso dengan tenang, bahkan sempat bercanda sampai puas.

Selesai makan, Kakak membayar ke penjual bakso sambil melambaikan tangan. “Duluan ya, Pak. Jangan takut, Mbakungnya lagi cuti kok!” serunya iseng, yang langsung dibalas tawa renyah si bapak penjual.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih santai. Angin malam yang tadinya terasa mencekam, sekarang cuma terasa dingin menyegarkan di kulit. Sepanjang jalan kami terus-terusan mengoceh, menertawakan betapa lugunya saya yang bisa-bisanya takut sama cerita karangan orang tua.

“Bayangin ya, kalau beneran ada Mbakung, mungkin dia sekarang lagi galau karena nggak ada anak kecil yang dia takut-takutin lagi,” celetuk Kakak sambil tertawa lebar, sampai-sampai motor yang kami naiki sedikit oleng. Saya refleks memukul pundaknya sambil ikut tertawa.

Sesampainya di depan rumah, suasana desa sudah sangat sepi. Lampu teras rumah kami yang temaram menyambut dengan hangat. Saat saya turun dari motor dan melepas helm, Kakak menepuk bahu saya pelan.

“Tuh, sudah sampai rumah dengan selamat, kan? Nggak ada yang ngikutin, nggak ada yang narik kaki. Jadi mulai besok, kalau dengar cerita serem lagi, ingat saja bakso beringin malam ini,” katanya dengan nada jahil sebelum mematikan mesin motor.

Saya sampai di rumah dengan perasaan lega yang luar biasa. Malam itu, Hantu Mbakung resmi pensiun dari daftar ketakutan saya. Ternyata benar, terkadang hal paling seram di dunia ini cuma cara orang dewasa memastikan kita tidur nyenyak di kasur sendiri.

Setelah kejadian makan bakso tadi, saya dan Kakak duduk sebentar di teras rumah. Angin malam yang berhembus pelan bikin suasana jadi makin syahdu. Saya memperhatikan Kakak yang kini nggak lagi sibuk mengotak-atik ponselnya, melainkan asyik menyesap teh hangat yang baru saya buat sambil menatap bintang.

Tiba-tiba dia membuka obrolan, “Tadi pas kita makan, aku perhatiin sekeliling. Nggak ada satupun yang sibuk sama gadget. Ternyata tanpa HP, dunia terasa lebih luas ya, Dek? Kita bisa benar-benar ngobrol, ngetawain hal konyol, sampai ngerasin angin malam tanpa harus kedistreksi sama notifikasi.”

Saya manggut-manggut. Memang benar, biasanya kalau nongkrong, perhatian kami pasti terbagi antara lawan bicara dan layar ponsel. Malam ini rasanya berbeda, lebih real dan lebih hangat.

Kakak melanjutkan, “Mungkin itu juga alasan kenapa anak zaman dulu lebih mudah diatur dan nurut. Dulu hiburan kita ya cuma alam, tetangga, atau cerita-cerita orang tua seperti Mbakung itu. Karena nggak ada distraksi dunia digital, fokus kita ya ke lingkungan sekitar. Kita lebih menghargai apa yang ada di depan mata, termasuk nasihat orang tua.”

Dia tersenyum tipis. “Zaman sekarang, anak-anak lebih sibuk sama dunianya sendiri di balik layar. Jadi pas dibilangin buat nggak keluyuran, mungkin mereka ngerasa itu menghambat kesenangan mereka. Padahal orang tua dulu bikin aturan begitu ya supaya kita tetap punya waktu istirahat yang berkualitas dan tetap aman.”

Mendengarnya, saya baru sadar. Ternyata kepatuhan anak zaman dulu bukan sekadar takut karena ancaman hantu, tapi karena mereka punya koneksi yang lebih dalam dengan dunianya secara langsung. Mereka lebih “hadir” di tempat mereka berada.

“Mungkin kita perlu sesekali puasa gadget ya, Kak?” celetuk saya.

Kakak tertawa lepas. “Ide bagus! Besok-besok kalau keluar, HP kita simpan di tas. Kita nikmati dunia yang asli aja biar hidup nggak cuma sebatas scroll layar.”

Malam itu saya belajar satu hal: terkadang untuk benar-benar merasakan hidup dan lebih mudah terhubung dengan sekitar. Kita memang perlu berani meletakkan ponsel sejenak dan mulai mendengarkan cerita-cerita nyata di depan mata.

Oleh: Nasirin

Tuesday, June 2, 2026

Part 4 | Maid (End)

 


Tidak terasa waktu berlalu, melewati jalan yang naik turun dan pepohonan yang rimbun, akhirnya mereka sampai di villa pantai Heha. Biasanya saat sore menjelang malam, disana ada pertunjukkan dan atraksi dari berbagai daerah. Sayang mereka datang di jam 17.38 jadi pertunjukan itu telah selesai.

“Ayo kita masuk ke villa, biar besok subuh bisa liat sunrise.


“Iya buk.”

Mereka pun memasuki villa itu dan memesan kamar. Setelah menerima kunci kamar, mereka segera menuju kamar yang telah disiapkan. Dari balkon kamar, hamparan laut terlihat begitu luas. Langit yang mulai gelap dihiasi semburat jingga sisa-sisa matahari yang baru saja tenggelam.

“Wah, indah sekali ya, Pak,” ujar Pramono sambil memandang ke arah laut.

“Iya. Besok pagi lebih bagus lagi,” jawab Pak Sigit. “Kalau cuacanya cerah, matahari terbitnya kelihatan jelas dari sini.”

Mereka lalu membereskan barang bawaan masing-masing. Setelah itu, mereka turun untuk makan malam di warung yang berada tidak jauh dari villa. Suara ombak terdengar samar-samar, berpadu dengan angin laut yang sejuk.

Selesai makan, mereka berjalan sebentar di sekitar pantai. Lampu-lampu mulai menyala dan membuat suasana terlihat hangat.

“Sayang ya, kita datangnya terlambat,” kata Bu Ajeng. “Kalau lebih awal mungkin bisa lihat pertunjukan tadi.”

“Tidak apa-apa, Buk. Yang penting besok masih bisa jalan-jalan,” jawab Pramono.

Tidak lama kemudian mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Perjalanan yang cukup jauh membuat tubuh mereka lelah. Satu per satu akhirnya tertidur.

Keesokan harinya, sekitar pukul lima pagi, Pak Sigit sudah bangun terlebih dahulu. Ia segera membangunkan yang lain.

“Ayo bangun. Katanya mau lihat sunrise.”

Pramono membuka matanya perlahan.

“Masih ngantuk, Pak.”

“Kalau tidur terus nanti mataharinya keburu tinggi.”

Mendengar itu, Pramono langsung bangkit dari tempat tidur. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di area pandang dekat pantai.

Langit yang semula gelap perlahan berubah warna. Semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Tidak lama kemudian matahari perlahan naik dari balik lautan.

Masya Allah...” ucap Pramono pelan.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam menikmati pemandangan itu. Ombak berkejaran di tepi pantai, sementara sinar matahari pagi memantul di permukaan laut.

“Pemandangan seperti ini yang bikin orang betah datang ke sini,” kata Pak Sigit.

Mereka mengangguk setuju.

Setelah puas menikmati matahari terbit, mereka kembali ke penginapan untuk sarapan. Hari itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan, berfoto, menikmati berbagai makanan, dan bermain di sekitar pantai.

Pramono tampak sangat senang. Hampir setiap sudut yang menurutnya menarik selalu ia jadikan tempat berfoto.

Menjelang sore mereka duduk bersama menghadap laut.

“Terima kasih ya, Pak, Buk, sudah mengajak Mbok kesini,” kata Mbok Tun.

“Tidak usah berterima kasih, Mbok,” jawab Bu Ajeng. “Kita memang pergi bersama-sama.”

Mbok Tun tersenyum. Hatinya terasa hangat. Sudah lama ia tidak merasakan suasana seperti itu.

Keesokan paginya mereka bersiap untuk pulang. Barang-barang dimasukkan kembali ke dalam mobil. Setelah semuanya siap, mereka meninggalkan penginapan.

Perjalanan pulang berlangsung dengan lancar. Di sepanjang jalan mereka saling bercerita dan bercanda.

Beberapa jam kemudian mereka akhirnya sampai di rumah.

Alhamdulillah, sampai juga,” kata Bu Ajeng.

Mereka menurunkan barang bawaan lalu masuk ke rumah. Meski liburan itu hanya berlangsung dua hari, kenangan yang mereka dapatkan terasa sangat berharga.

Bagi Pramono, perjalanan itu bukan hanya tentang pantai yang indah atau penginapan yang nyaman. Perjalanan itu membuatnya semakin menyadari bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah. Kadang, keluarga adalah orang-orang yang selalu ada, saling peduli, dan saling menguatkan.

Dengan perasaan senang, mereka kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Namun kenangan tentang liburan di Pantai Heha akan selalu mereka ingat sebagai salah satu perjalanan yang paling Berkesan.

Oleh: Nizar


Friday, May 22, 2026

Part 3 | Maid


 Satu jam perjalanan telah berlalu. Mereka sudah menempuh setengah dari jarak yang harus ditempuh. Mobil yang mereka gunakan memang sederhana, tetapi cukup nyaman untuk beberapa orang. Di dalam mobil itu ada empat orang: Pak Sigit dan Bu Ajeng duduk di depan, sedangkan Mbok Tun dan Pramono duduk di kursi tengah.

“Pak, sebenarnya kita mau pergi ke mana sih?” tanya Pramono.

“Kita mau ke Pantai Heha, Nak. Pemandangannya bagus, terus di sana juga ada villa. Jadi, kita bisa menginap dua hari disana,” jawab Pak Sigit.

“Oh iya, masih jauh, Pak?” tanya Pramono lagi.

“Ya, masih lumayan jauh. Kira-kira sampai sana sekitar jam lima sore. Kita sekalian mandi di sana, terus ketemu teman bapak yang biasanya juga ke sana,” ujar Pak Sigit.

“Oh iya, Pak,” balas Pramono pelan.

Pramono lalu menatap ponselnya yang sejak tadi lemot karena tidak ada sinyal. Ia pun mulai protes.

“Pak, kenapa di sini nggak ada sinyal sih?” keluhnya.

“Nah, berarti kita sudah mau sampai tujuan,” jawab Pak Sigit santai.

“Bapak yakin? Jalannya benar ke sini?” tanya Pramono ragu.

“Ya, santai aja. Memang jalannya berbelok-belok dan banyak pepohonan,” jelas Pak Sigit sambil tetap fokus menyetir.

“Tapi bapak janji, nanti tempatnya bakal bagus kayak di kota-kota,” lanjutnya.

“Iya, Nang. Dulu Mbok sering ke sini bareng suami sama anak-anak Mbok. Tapi semenjak suami Mbok meninggal dan anak-anak Mbok sudah besar, mereka jadi sibuk sama keluarga masing-masing,” ujar Mbok Tun pelan.

“Emm, gitu ya, Mbok? Maaf ya, aku jadi bikin Mbok ingat keluarga lagi,” ucap Pramono.

“Enggak apa-apa, Nang. Sekarang Mbok juga sudah punya keluarga,” jawab Mbok Tun sambil tersenyum kecil.

“Siapa, Mbok?” tanya Pramono penasaran.

“Ya, kamu, Pak Sigit, sama Bu Ajeng. Mbok sudah menganggap kalian seperti keluarga sendiri. Bukan cuma bos dan karyawan, tapi saudara,” jelas Mbok Tun.

“Santai aja, Mbok. Kami juga menganggap Mbok bagian dari keluarga kami kok,” ujar Pak Sigit dan Bu Ajeng bersamaan.

“Matursuwun, Pak, Buk,” ucap Mbok Tun haru.

Pak Sigit dan Bu Ajeng mengisyaratkan dengan senyuman yang bermaksud sama-sama.


Ditunggu part 4 nya yakk 👌


Oleh: Nizar


Wednesday, May 20, 2026

Part 2 | Maid


 Keluarga itu memiliki satu peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh seluruh anggota keluarga, termasuk pembantu. Yaitu larangan memasuki basement rumah. Yang boleh memasuki basement itu hanyalah kepala keluarga dan istrinya.

Pagi itu, pukul sembilan pagi, keluarga Sigit sedang bersiap-siap. Mereka mempunyai rutinitas satu bulan sekali, yaitu pergi refreshing ke tempat-tempat yang tenang untuk menjernihkan pikiran dari kesibukan bekerja. Saat itu, mereka sedang merapikan pakaian sambil menunggu Pramono pulang sekolah.

“Mbok, kamu masak dulu ya. Nanti kita makan siang dulu sebelum berangkat ke sana,” ucap Pak Sigit.

“Inggih, Pak. Sebentar ya saya masakkan,” jawab Mbok Tun.

Mbok Tun sudah bekerja di rumah itu sejak Pramono masih berusia lima tahun. Kira-kira sudah dua belas tahun lamanya ia bekerja di rumah keluarga Sigit. Jadi, ia sangat tahu sifat-sifat seluruh anggota keluarga di rumah itu. Bahkan, makanan kesukaan mereka pun ia hafal.

Hari itu, Mbok Tun berinisiatif memasakkan makanan favorit Pramono, yaitu sop iga dan cumi bumbu hitam.

Menjelang pukul setengah dua belas, masakan akhirnya selesai. Aroma sop iga yang gurih memenuhi dapur, bercampur harum khas cumi bumbu hitam yang baru matang. Karena Pramono masih belum pulang, Mbok Tun menyimpan masakan itu di alat penghangat supaya nanti tetap enak saat dimakan.

Saat itu, Pak Sigit sedang menatap layar komputernya. Ia sedang menyelesaikan tugas kantornya atau apalah itu sambil sesekali mendesah kesal. Setelah beberapa saat, pekerjaannya pun selesai. Ia segera bersiap-siap untuk menjemput Pramono yang sebentar lagi pulang sekolah.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil mereka masuk ke halaman rumah.

“Buk, aku pulang!” seru Pramono sambil melepas sepatunya.

“Oh iya, Nak. Sini makan dulu. Habis ini kita pergi refreshing kayak biasanya,” balas Bu Ajeng, ibu Pramono.

“Oh iya, Bu,” jawab Pramono.

Pramono pun menuju kamar untuk mengganti baju dengan pakaian yang lebih santai. Sementara itu, Mbok Tun menata piring dan lauk-pauk di atas meja makan.

“Pak, Buk, kemari. Makanannya sudah siap,” panggil Mbok Tun.

Seluruh anggota keluarga pun berkumpul di meja makan.

“Wah, Mbok masak makanan kesukaanku!” ucap Pramono dengan wajah senang.

“Iya, Nang. Spesial untuk hari ini, Mbok masak sop iga kesukaanmu sama cumi bumbu hitam kesukaanmu, Nang,” jawab Mbok Tun sambil tersenyum.

“Makasih ya, Mbok,” ucap Pramono dengan wajah sumringah.

“Bagaimana sekolahmu, Nak?” tanya Bu Ajeng sembari mengambilkan nasi.

“Bagus, Bu. Tadi aku ulangan kimia dapat nilai sembilan puluh lima.”

“Oh ya? Kemarin kamu baru saja dapat rangking satu di kelas. Ibu bangga banget punya anak kayak kamu,” ucap Bu Ajeng dengan nada penuh kebanggaan.

“Iya, Bapak juga,” sahut Pak Sigit.

Pramono tersenyum kecil. “Makasih ya, Pak, Buk.”

“BTW, gak ada hadiahnya nih?” rayunya.

Pak Sigit dan Bu Ajeng langsung tertawa.

“Hahaha, santai saja. Nanti Ibu beliin drone yang jaraknya bisa sampai tiga kilometer.”

Wajah Pramono langsung berubah cerah.

“Wah, makasih banyak, Buk!”

“Iya, Nak. Biar kamu lebih semangat belajarnya,” kata Bu Ajeng.

“Hmm, iya, Buk.”

“Udah itu cepat dihabisin makanannya. Habis ini kita mau berangkat,” ujar Bu Ajeng.

Setelah selesai makan, Mbok Tun membereskan meja dan mencuci piring bekas makan tadi. Suara air dari dapur terdengar pelan memenuhi rumah. 

“Mbok, ayo Mbok! Udah pada siap semua nih, tinggal kamu!” seru Bu Ajeng dari depan rumah.

“Oh, inggeh, Buk,” jawab Mbok Tun.

Mbok Tun pun segera mengambil tasnya dan bergegas masuk ke dalam mobil bersama keluarga Sigit.

Lanjut Part 3 yakk.. 🙌


Oleh: Nizar


Friday, May 15, 2026

Part 1 | Maid



 “PYARR!!…”

Terdengar suara benda pecah di lantai dua rumah Sigit. Sang pembantu yang baru terbangun pun bergegas naik ke atas untuk mengecek asal-usul suara tersebut. Jarang sekali ada penghuni rumah yang masih terjaga pada pukul dua malam seperti ini.

TOK.. TOK.. TOK..

Nang, ada apa di dalam sana?”

Hening, tak ada jawaban. Si Mbok pun berinisiatif untuk mengetuk sekali lagi.

TOK.. TOK.. TOK…

Tetap saja hening. Tidak ada yang menjawab. Karena khawatir. Akhirnya Mbok Tun memutuskan masuk ke dalam kamar Pramono.

Nang, Mbok ijin masuk ya…”

Cklek..

Terdengar suara pintu yang dibuka. Mbok pun masuk ke kamar Pramono. Sepi, tidak ada suara, hanya menyisakan pigura keluarga Sigit yang terjatuh dan jendela yang terbuka, mempersilahkan dinginnya angin malam untuk masuk ke kamar Pramono.

“Astaga!? Mengapa benda ini bisa ada di sini? Ini juga, pasti Pramono lupa menutup jendela.”

Sambil melihat Pramono yang tertidur di kasur, Mbok Tun pun merapikan pecahan kaca pigura yang berserakan di dekat kasur Pramono dan tak lupa menutup jendela yang sedari tadi terbuka.

“Haduhh… Anak-anak jaman sekarang, nutup jendela aja malasnya ga karuan,” gerutu Mbok Tun sembari menutup jendela.

Mbok Tun pun keluar dari kamar Pramono. Belum genap delapan langkah Mbok Tun berjalan—

Cklek..

Suara jendela yang kembali terbuka.

“Nang, kamu sudah bangun?” seru Mbok Tun.

Senyap, tak ada jawaban. Mbok Tun berbalik arah kembali ke kamar Pramono, melihat ke arah jendela yang tadi tertutup dan sekarang terbuka kembali.

“Lho? Kok jendelanya kebuka lagi?!”

Tanpa berpikiran negatif, Mbok Tun pun segera menutupnya kembali. Lantas keluar dari kamar Pramono. Belum sampai Mbok Tun menutup pintu, tiba-tiba—

BLARR!!

Jendela itu tiba-tiba terbanting sangat keras, hingga membuat kacanya pecah dan membangunkan Pramono.

“Ya Tuhan! Apa itu!? Mbok, apa itu Mbok? Suara apa tadi, Mbok?!”

Seru Pramono yang terbangun karena saking kerasnya suara tadi.

“Entahlah Nang. Mungkin sebentar lagi akan datang badai besar.”

“Besok Mbok panggilin tukang buat benerin jendelamu yang pecah. Sekarang kamu tidur aja dulu. Ini Mbok bersihin dulu pecahan kacanya biar nggak kena kamu.”

“Oh iya Mbok. Makasih ya Mbok,” balas Pramono sambil tersenyum kecil.

Lanjut part 2 ygy :)

Oleh: Nizar


Tuesday, May 12, 2026

Kejarlah Mimpimu Sampai Orang Bilang: “When yh?”



Gen Z mana yang nggak tahu istilah “when yh”?
Kalimat yang hampir selalu “nangkring” di kolom komentar postingan tentang prestasi, kesuksesan, pencapaian, atau momen-momen dreamy di media sosial.

“Masuk kampus impian, when yh?”

“Bisa lancar baca kitab kuning, when yh?”

“Khatam 30 Juz bil Ghoib, when yh?”


Kelihatannya sederhana dan lucu, tapi sebenarnya kata “when yh” punya makna yang dalam. Bukan cuma berarti “kapan ya giliranku?”, tapi juga bentuk kagum sekaligus doa untuk orang lain. Dalam istilah Arab, ini mirip dengan ghibṭah: rasa ingin memiliki nikmat seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang darinya.


Saat seseorang berkata “when yh” kepada kita, itu berarti:

  1. Perjuangan kita terlihat.

  2. Proses kita menginspirasi.

  3. Keberadaan kita menjadi standar semangat bagi orang lain.


Sebagai pelajar, apalagi santri, bukankah kita juga ingin punya pencapaian yang membuat orang lain berkata:

MasyaAllah… when yh bisa kayak dia?”

Bukan untuk pamer, tapi sebagai bukti bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil.


Ayo, Jemput Giliranmu!


Untuk kamu yang sekarang masih berkutat dengan tumpukan kitab, hafalan yang sering susah, atau tugas yang nggak habis-habis,  bertahanlah.


Jangan mudah menyerah hanya karena prosesnya panjang. Orang hebat yang kalian lihat hari ini juga pernah lelah, pernah gagal, bahkan pernah diremehkan. Bedanya, mereka memilih tetap berjalan.


Mungkin hari ini kita masih biasa saja.

Masih tertidur saat yang lain bangun malam untuk murojaah.

Masih mengeluh saat yang lain diam-diam memperbaiki diri.

Masih jadi penonton kesuksesan orang lain sambil mengetik: “when yh?”


Tapi selama kita mau berubah dan terus berusaha, bukan tidak mungkin suatu hari nanti justru giliran kita yang dipandang kagum oleh orang lain.

Belajarlah sampai kualitas dirimu  baik ilmu, adab, maupun skill membuat orang lain berhenti scrolling dan berkata dalam hati:

“Keren banget… kapan ya aku bisa sehebat dia?”


Jadikan rasa lelahmu hari ini sebagai investasi.


Biarkan hari ini kamu sibuk mutholaah kitab, sibuk menghafal di sudut pesantren, atau diam-diam memperbaiki diri saat orang lain tidur. Karena bisa jadi, semua proses itu sedang menyiapkan masa depan yang besar untukmu.


Tetap semangat para pelajar dan santri.

Belajar yang rajin, niatkan ibadah, perbaiki akhlak, dan jangan takut bermimpi besar. Karena mimpi yang diperjuangkan dengan doa, usaha, dan kesabaran InsyaAllah akan menemukan jalannya sendiri.


Dan saat waktunya tiba, biarkan dunia yang mengetik:

“Syeikh… when yh?” 


Oleh: Abid

 

Friday, May 8, 2026

Portal Sunyi Peradaban Perpustakaan Al-Qarawiyyin

Di kota tua Fez, ada satu tempat di mana waktu terasa seperti malas bergerak.

Mahasiswa datang dan pergi, turis memotret lengkungan-lengkungan kuno, dan para peneliti tenggelam dalam halaman-halaman yang ditulis ratusan tahun lalu. Tapi bagi Zaid, tempat itu lebih dari sekadar perpustakaan. Ia seperti portal sunyi—tempat di mana pikiran dari berbagai abad berkumpul tanpa perlu saling memperkenalkan diri.


Pagi itu, Zaid masuk ke dalam Perpustakaan Al-Qarawiyyin dengan secangkir kopi yang hampir dingin dan rasa penasaran yang terlalu besar untuk diabaikan.


“Cuma lihat-lihat sebentar,” gumamnya pada diri sendiri.


Ia sudah tahu itu bohong.


Rak-rak kayu tua berdiri tinggi seperti barisan penjaga rahasia. Aroma kertas tua, tinta, dan kayu bercampur menjadi satu. Cahaya matahari jatuh dari jendela tinggi, membelah ruangan menjadi potongan-potongan waktu.


Zaid selalu punya teori kecil tentang perpustakaan tua: buku-buku di sana sebenarnya tidak diam. Mereka hanya menunggu seseorang yang cukup penasaran untuk membuka percakapan.


Dan pagi itu, tanpa ia sadari, percakapan itu sedang menunggunya.



---


Ia berjalan melewati rak manuskrip Andalusia. Tangannya menyusuri punggung-punggung buku yang sebagian besar bahkan tidak lagi dicetak di zaman modern.


Lalu ia melihat sesuatu yang aneh.


Sebuah kotak kayu kecil terselip di antara dua manuskrip tua.


Kotak itu tidak memiliki label. Tidak ada nomor katalog. Bahkan tidak tampak seperti bagian dari koleksi resmi perpustakaan.


“Ini apa?”


Zaid membuka tutupnya.


Di dalamnya hanya ada satu benda.


Sebuah cincin tembaga tua dengan ukiran kaligrafi yang hampir pudar.


Ia memutarnya pelan di antara jari-jarinya.


“Antik banget…”


Dan tepat ketika cincin itu menyentuh kulitnya—


lantai seperti bergeser.


Udara berubah.


Suara yang tadi hanya bisikan pengunjung perpustakaan tiba-tiba digantikan oleh riuh pasar.


Zaid mengerjap.


Sekali.


Dua kali.


Rak buku menghilang.


Sebagai gantinya, jalan batu terbentang di depannya. Orang-orang berjalan dengan jubah panjang. Pedagang berteriak menawarkan kertas, tinta, dan buku. Bau kulit dan tinta memenuhi udara.


Zaid memutar tubuhnya perlahan.


“Sebentar…” gumamnya.


Di kejauhan berdiri megah bangunan yang tidak mungkin ia salah kenali—lengkungan merah-putih yang ikonik dari Masjid Agung Cordoba.


Jantungnya berhenti sepersekian detik.


“Cordoba…?”


Bukan Cordoba yang ia lihat di buku sejarah.


Cordoba yang hidup.



---


Hari terasa seperti mimpi yang terlalu nyata.


Zaid berjalan di antara para penyalin manuskrip, dokter, pelajar, dan pedagang buku. Kota itu terasa seperti festival ilmu yang tidak pernah selesai.


Di sebuah taman kecil dekat madrasah, ia akhirnya duduk untuk menenangkan pikirannya.


Di sana, seorang lelaki tua memperhatikannya sejak tadi.


Jubahnya sederhana. Matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa menimbang pikiran sebelum kata-kata keluar.


“Engkau terlihat seperti orang yang tersesat,” katanya akhirnya.


Zaid tertawa gugup.


“Mungkin memang begitu.”


Lelaki itu tersenyum tipis.


“Aku sering melihat pelajar dari berbagai negeri. Tapi cara engkau memandang kota ini… seperti seseorang yang sedang melihat masa lalu.”


Zaid menatapnya.


“Bagaimana kalau saya benar-benar dari masa depan?”


Lelaki itu tidak tampak terkejut.


Sebaliknya, ia justru terlihat terhibur.


“Kalau begitu,” katanya sambil menunjuk kota Cordoba yang ramai, “engkau sedang menyaksikan sesuatu yang penting.”


“Peradaban.”


Zaid menelan ludah. “Anda siapa sebenarnya?”


Orang-orang di taman lewat sambil menundukkan kepala hormat kepadanya.


Nama itu akhirnya disebut oleh seorang murid yang lewat:


Ibnu Rushd.



---


Mereka berbicara lama.


Tentang filsafat. Tentang ilmu. Tentang bagaimana buku dari Yunani diterjemahkan di Timur, lalu dipelajari kembali di Barat.


“Peradaban,” kata Ibnu Rushd, “bukan tentang siapa yang paling besar. Ia tentang siapa yang mau mendengar.”


Ia menunjuk ke arah kota.


“Di Cordoba, pikiran dari berbagai dunia bertemu.”


Zaid mengingat sesuatu yang pernah ia baca.


“Seperti konsep umran?”


Ibnu Rushd mengangguk pelan.


“Suatu hari nanti,” katanya, “akan lahir seorang pemikir besar bernama Ibnu Khaldun. Ia akan menjelaskan bahwa peradaban hidup dari hubungan manusia—ilmu, solidaritas, dan dialog.”


Ia berhenti sejenak.


“Jika dialog berhenti… peradaban ikut membeku.”


Kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang ditujukan langsung pada Zaid.



---


Cincin di jarinya tiba-tiba bergetar lagi.


Taman Cordoba mulai kabur.


Suara pena, pasar, dan diskusi filsafat perlahan menghilang.


Ketika Zaid membuka mata—


ia kembali berdiri di antara rak manuskrip Perpustakaan Al-Qarawiyyin.


Laptop mahasiswa kembali terdengar.


Langkah turis kembali menggema.


Semuanya normal.


Kecuali pikirannya.


Zaid memandang buku catatannya.


Tangannya menulis satu kalimat:


“Peradaban bukan warisan batu. Ia warisan percakapan.”


Ia memandang cincin di jarinya.


Dan saat itulah ia sadar sesuatu yang membuatnya merinding.


Artefak itu tidak membawanya ke masa lalu.


Ia hanya memperlihatkan bahwa percakapan Cordoba belum pernah benar-benar selesai.


Ia hanya berpindah tempat.


Ke perpustakaan.


Ke kampus.


Ke ruang-ruang diskusi kecil.


Ke generasi baru.


Zaid menutup buku catatannya perlahan.


Dan untuk pertama kalinya ia mengerti—


masa depan peradaban bukan tersembunyi di artefak kuno.


Ia ada di tangan yang berani berpikir.


Dan hari ini,


tangan itu adalah tangannya. ✨


Oleh: Falah