ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…
Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.
“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.
Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.
Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.
Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.
“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.
Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.
Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.
“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”
“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.
Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.
“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.
“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.
Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.
Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.
Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.
“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.
“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.
Teman-temannya langsung tertawa.
“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.
Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.
Selesai sholat, Dika keluar lagi.
“Ayo main lagi!” katanya.
Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.
Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.
Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.
Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.
“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”
“Sebentar Bu!” jawab Dika.
“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.
Teman-temannya langsung tertawa.
“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.
Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.
Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.
Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.
Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.
Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.
“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.
Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.
Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.
Oleh: Arsakha

0 comments: