Wednesday, August 12, 2026

Belajar Dari Senja


 “PRITTT…!”

Suara peluit ditiup. Terlihat sekumpulan anak sedang bermain bola di lapangan. Sore itu, suasana yang indah membuat hati terasa tenang. Setelah melewati siang yang panas, mereka sangat antusias untuk bermain.

“GOLLL…”

Terdengar suara mereka yang bersorak gembira.

“PRITT…”

Suara peluit tanda permainan selesai terdengar. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Kamu hebat banget Janu!” ucap Rayyan.

“Hehe, kamu juga hebat kok,” balas Janu.

“Hebat apanya? Kan aku wasit,” kata Rayyan.

“Ya, berarti kamu wasit yang hebat,” jawab Janu.

Mereka pun tertawa bersama sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Rayyan disambut hangat oleh ibunya.

“Ehh… pangeran kecilku sudah datang,” ucap Ibu sambil memeluk anaknya.

“Tadi gimana main bolanya? Seru?” tanya ibunya.

“Seru, walau aku cuma jadi wasit,” jawab Rayyan.

“Emang kenapa?” tanya ibunya sambil mengelus rambut anaknya.

“Hehe, kan kalau wasit nggak bisa ikut main,” jawab Rayyan sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting kan kamu tetap senang,” jawab Ibu sambil memencet hidung kecil anaknya.

Akhirnya, mereka pun duduk bersama di teras rumah sambil menikmati indahnya mentari senja dan ditemani hembusan angin sepoi-sepoi.

“Rayyan tahu nggak? Kita bisa belajar dari senja, lho,” kata Ibu.

“Belajar dari senja?” tanya Rayyan, tidak paham.

“Iya, kita belajar dari senja,” jawab Ibu.

“Maksudnya?” tanya Rayyan, tidak mengerti.

“Maksudnya, kamu bisa seperti mentari senja. Walaupun saat siang hari diabaikan, bahkan dibenci, ia tetap memberikan cahayanya yang terbaik saat senja. Ia tahu kalau ia sering diabaikan, tetapi ia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik sebelum ia tenggelam. Seperti halnya kamu, walaupun kamu diabaikan, kamu harus tetap menjadi anak yang baik,” jelas Ibu.

Rayyan pun paham apa yang dimaksud ibunya. Ia tersenyum sambil menggenggam peluit merah di tangannya.

Ia pun mendapat pelajaran. Bahwa, walaupun sering diabaikan, kita masih bisa memberikan yang terbaik di akhir. Dengan begitu, suatu saat kita tidak akan terabaikan lagi.

Oleh: Azami


Tuesday, July 21, 2026

Jejak di Ujung Sandal Kiai

 


Hujan baru saja berhenti ketika bel pesantren berbunyi. Santri-santri berlarian menuju masjid sambil mengangkat ujung sarung agar tidak terkena lumpur. Di antara mereka ada seorang santri bernama Zain. Ia dikenal cerdas, hafal banyak matan, dan selalu menjadi juara kelas. Namun, ada satu hal yang sering luput darinya: adab.


Baginya, ilmu adalah hasil kecerdasan dan kerja keras. Selama rajin belajar, menurutnya seseorang pasti akan berhasil.


Suatu pagi, Zain melihat sandal kiai terletak di serambi masjid. Beberapa santri dengan penuh hormat merapikannya agar tidak terkena air hujan. Zain hanya melirik sekilas.


“Kenapa harus repot mengurus sandal?” gumamnya pelan. “Yang penting kan belajar.”


Ucapan itu terdengar oleh Hasan, sahabatnya.


Hasan tersenyum.


“Belajar memang penting. Tapi adab kepada guru lebih dulu membuka pintu ilmu.”


Zain hanya tertawa kecil. Baginya, itu hanyalah kebiasaan orang-orang terdahulu yang terlalu berlebihan.


Hari demi hari berlalu.


Anehnya, semakin giat belajar, Zain justru semakin sulit memahami pelajaran. Hafalan yang dahulu mudah kini terasa berat. Kitab yang biasa ia baca berulang kali seakan kehilangan maknanya. Ia mulai mudah marah, sulit berkonsentrasi, bahkan sering lupa ketika diminta menjelaskan pelajaran di depan kelas.


Sementara itu, Hasan yang kecerdasannya biasa saja justru semakin berkembang. Penjelasannya mudah dipahami, hafalannya kuat, dan wajahnya selalu tampak tenang.


Zain mulai bertanya-tanya.


Suatu malam setelah mengaji, ia memberanikan diri menemui seorang kiai sepuh yang terkenal bijaksana.


“Yai,” katanya lirih, “saya belajar lebih lama daripada teman-teman saya. Saya membaca lebih banyak kitab. Tetapi mengapa ilmu terasa semakin jauh?”


Kiai itu tidak langsung menjawab.


Beliau justru bertanya,


“Ketika engkau mengambil air wudhu, dari mana engkau memulainya?”


“Dari tangan, Yai.”


“Lalu mengapa tidak langsung membasuh kepala?”


“Karena itulah urutannya.”


Kiai tersenyum.


“Begitu pula mencari ilmu. Ada urutannya. Sebelum ilmu masuk ke kepala, adab harus masuk ke dalam hati.”


Kalimat itu menancap kuat di dada Zain.


Namun ia masih belum benar-benar memahami maksudnya.


Keesokan paginya, sebelum adzan Subuh berkumandang, Zain melihat sesuatu yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.


Seorang santri tua sedang menyapu halaman ndalem kiai dengan penuh ketulusan. Setelah itu ia membersihkan sandal-sandal para tamu, lalu diam-diam mengisi kembali kendi air di serambi rumah sang kiai.


Tak ada yang menyuruhnya.


Tak ada yang memujinya.


Semua dilakukan dengan senyum.


Beberapa hari kemudian diumumkan hasil ujian besar pesantren.


Santri yang memperoleh nilai tertinggi ternyata bukan Zain.


Bukan pula Hasan.


Melainkan santri tua yang setiap pagi menyapu halaman.


Semua orang terkejut.


Padahal ia hampir tidak pernah terlihat membawa banyak kitab.


Seorang ustaz berkata,


“Jangan hanya lihat berapa lama seseorang membuka kitab. Lihat pula bagaimana ia memuliakan orang yang mengajarkan kitab itu.”


Sejak hari itu, hati Zain mulai berubah.


Ia mulai membiasakan diri berdiri ketika kiai datang. Ia mendengarkan setiap nasihat dengan sungguh-sungguh. Ia tidak lagi memotong pembicaraan guru. Ia membantu menyiapkan majelis sebelum pengajian dimulai dan membereskannya setelah selesai.


Ia juga mulai menyadari bahwa menghormati kiai bukan sekadar mencium tangan atau merapikan sandal. Hormat berarti menjaga nama baik guru, melaksanakan nasihatnya, mendoakannya, tidak membantah dengan kesombongan, serta mengamalkan ilmu yang diajarkan.


Perubahan itu berlangsung perlahan.


Tanpa disadari, hatinya menjadi lebih tenang.


Pelajaran yang dahulu terasa rumit kini lebih mudah dipahami. Hafalannya kembali kuat. Bahkan ia tidak lagi belajar hanya demi menjadi juara, tetapi agar ilmunya membawa manfaat.


Suatu sore, Zain dipanggil menghadap sang kiai.


Beliau berkata lembut,


“Zain, tahukah engkau mengapa para ulama terdahulu begitu menjaga adab kepada guru?”


Zain menggeleng.


Kiai mengambil sebuah kitab tua dari rak kayu.


“Kitab ini telah berpindah tangan selama ratusan tahun. Isinya sama, tintanya sama, kertasnya hampir sama. Namun mengapa ada orang yang membaca kitab ini lalu menjadi ulama besar, sementara ada pula yang membacanya tetapi tidak memperoleh keberkahan?”


Beliau menatap Zain dengan penuh kasih.


“Karena ilmu bukan hanya kumpulan huruf. Ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan menetap di hati yang dipenuhi kesombongan.”


Air mata Zain menetes.


Ia teringat saat menertawakan santri yang merapikan sandal kiai.


Ia teringat ucapan Hasan tentang adab.


Ia teringat semua sikap angkuhnya.


Dengan suara bergetar ia berkata,


“Yai… mohon maafkan saya.”


Kiai tersenyum hangat.


“Anakku, seorang santri tidak diukur dari seberapa tinggi nilai ujiannya. Ia diukur dari seberapa dalam hormatnya kepada guru, karena dari situlah keberkahan ilmu tumbuh.”


Bertahun-tahun kemudian, Zain menjadi seorang dai yang dikenal luas. Ceramahnya didengar ribuan orang. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah.


Namun setiap kali ditanya tentang rahasia keberhasilannya, ia tidak pernah menyebut kecerdasannya.


Ia selalu berkata,


“Dulu aku mengira ilmu hanya bisa diraih dengan membaca. Ternyata aku keliru. Ilmu juga tumbuh dari adab, dari ketundukan hati, dan dari hormat kepada orang yang mengajarkannya.”


Lalu ia menambahkan sebuah kalimat yang selalu membuat majelis hening.


“Jika engkau ingin ilmu yang hanya memenuhi kepalamu, belajarlah dengan tekun. Tetapi jika engkau menginginkan ilmu yang menerangi hidupmu, maka muliakanlah kiainya. Sebab keberkahan sering kali datang bukan dari banyaknya pelajaran, melainkan dari hormat yang tulus kepada guru.”


Sejak saat itu, setiap santri yang melewati serambi masjid tidak lagi menganggap sandal kiai sebagai benda biasa.


Mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kemuliaan tidak dimulai dari langkah kaki sendiri, melainkan dari kerendahan hati dalam memuliakan orang yang telah menunjukkan jalan menuju ilmu dan menuju Allah.


Oleh: Falah

Tuesday, July 14, 2026

Dari Sebuah Kantin

 


Tersebutlah, hiduplah sebuah keluarga yang kaya raya. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Bisma. Bisma dikenal sebagai anak yang sangat berprestasi di sekolahnya. Hampir semua mata pelajaran berhasil ia kuasai. Berbagai penghargaan berhasil ia raih, sehingga membuat teman-teman dan guru-gurunya kagum kepadanya.

Sayangnya, di balik kepintarannya, Bisma memiliki sifat yang kurang baik. Ia sombong, suka iri kepada orang lain, dan gemar memamerkan prestasinya. Ia sering merendahkan teman-temannya, bahkan merasa kesal jika ada yang lebih pintar darinya. Sedikit demi sedikit, sifat buruk itu menjadi tembok yang menjauhkannya dari teman-teman. Hanya beberapa orang saja yang masih mau berteman dengannya.

Suatu hari, Bisma mengikuti sebuah lomba bersama teman sekelasnya yang bernama Rayyan. Di luar dugaan, Rayyan berhasil menjadi juara dan mengalahkan Bisma. Kekalahan itu membuat hati Bisma dipenuhi rasa iri. Api kesombongan dalam dirinya pun semakin berkobar. Ia bertekad menunjukkan kepada Rayyan bahwa dirinya jauh lebih hebat.

Keesokan harinya, saat jam istirahat, Bisma melihat Rayyan sedang berada di kantin. Ia pun menghampiri Rayyan sambil membawa rasa angkuh di dalam hatinya.

"Aku punya banyak prestasi sekolah, jadi kamu jangan sok pintar, ya," ucap Bisma dengan nada kesal.

Rayyan hanya tersenyum. Senyum itu justru membuat hati Bisma semakin panas. Ia kembali membanggakan semua prestasi yang pernah diraihnya.

"Eh, kok cuma senyum sih? Asal kamu tahu, semua prestasiku adalah hasil kerja kerasku sendiri," kata Bisma dengan nada tinggi.

"Sok iye lu," jawab Rayyan sambil tetap tersenyum.

"Iyalah," balas Bisma dengan wajah penuh kesombongan.

Rayyan lalu bertanya dengan santai, "Emang orang tuamu enggak bantuin kamu, ya?"

Bisma langsung menjawab dengan angkuh, "Asal kamu tahu, aku pintar karena usahaku sendiri. Aku enggak butuh bantuan orang tuaku."

Rayyan tidak membalas lagi. Ia hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan Bisma.

Dua minggu kemudian, keadaan berubah. Prestasi Bisma mulai menurun. Nilai-nilainya banyak yang merah, bahkan ia kesulitan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Ia merasa cemas dan panik. Teman-temannya pun semakin menjauh darinya. Saat itu, Bisma baru merasakan betapa sepinya hidup tanpa teman.

Pada waktu istirahat, Bisma melihat Rayyan sedang duduk sendirian sambil memainkan gitar. Alunan gitar itu terdengar lembut, seolah menenangkan hati yang sedang gelisah. Merasa bersalah atas sikapnya selama ini, Bisma memberanikan diri menghampiri Rayyan untuk meminta maaf.

"Kamu tahu, kan, sekarang?" ucap Rayyan dengan tenang.

"Iya... aku tahu," jawab Bisma sambil menundukkan kepala.

Rayyan tersenyum, lalu berkata, "Makanya, jangan sombong. Walaupun kamu pintar, kamu harus tetap rendah hati. Ilmu itu seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk. Dan yang paling penting, jangan pernah melupakan jasa orang tuamu. Tanpa doa, kasih sayang, dan pengorbanan mereka, kamu enggak akan bisa sampai di titik ini."

"Bermimpilah setinggi langit. Jika kamu sudah berhasil, jangan lupakan jasa orang tuamu. Hanya doa orang tuamu yang bisa mengantarkanmu menuju tempat yang tinggi," pesan Rayyan.

Sejak saat itu, Bisma benar-benar berubah. Ia tidak lagi sombong, tidak iri kepada orang lain, dan mulai menghargai teman-temannya. Ia juga semakin menghormati kedua orang tuanya.

Dari kisah Bisma, kita belajar bahwa kesombongan hanya akan membuat seseorang kehilangan teman dan kebahagiaan. Sebaliknya, kerendahan hati akan membuat kita semakin dihargai. Dan setinggi apa pun kita melangkah, jangan pernah melupakan jasa serta doa orang tua, karena merekalah yang menjadi cahaya di setiap langkah menuju kesuksesan.

Oleh: Azami


Wednesday, July 8, 2026

Pulang Dengan Penyesalan


 Di sebuah desa yang terletak di balik gunung, hiduplah sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut memiliki seorang anak tunggal bernama Erick. Erick berasal dari keluarga petani. Ia tinggal hanya bersama ibunya karena ayahnya sudah tiada. Walau begitu, Erick seringkali mengabaikan ibunya dan tidak pernah membantu pekerjaannya.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Erick tumbuh dewasa dan bekerja di kota sebagai seorang pegawai kantoran. Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan. Ia sering pulang larut malam ke kamar kosnya. Bahkan, ia kerap mendapat teguran dari atasannya karena pekerjaannya sering tidak terselesaikan dengan baik. Semua itu membuat Erick merasa lelah dan stres.

Hingga suatu malam, Erick pergi ke sebuah kafe untuk menenangkan pikirannya. Ia memesan segelas americano sambil duduk sendirian. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Baginya, hidup terasa begitu berat dan penuh dengan masalah.

Tiba-tiba, datanglah Rehan, teman semasa sekolahnya. Rehan kemudian memesan secangkir cappuccino dan seporsi kentang goreng. Melihat kesempatan itu, Erick pun mulai menceritakan semua beban yang selama ini ia pendam. Rehan mendengarkan dengan saksama dan menanggapi setiap cerita Erick.

Setelah beberapa saat, Rehan bertanya, "Kamu sudah pulang ke rumah belum?"

"Belum, memangnya kenapa?" jawab Erick.

"Nah itu, menurutku kamu perlu pulang dan beristirahat sejenak bersama orang tuamu."

"Memangnya sepenting itu?"

“Emang kamu nggak kangen sama mereka? Kamu perlu datang ke orang tuamu untuk melepas semua masalah yang kamu dapat. Terutama Ibumu, cuma pelukan ibu yang bisa membuat masalah di pikiranmu hilang. Mumpung mereka masih ada, kalo mereka sudah nggak ada, kamu bakal menyesal seumur hidup!” jelas Rehan.


Tak terasa Erick pun meneteskan air mata. Lalu Erick sadar kalau ia harus kembali menemui ibunya dan meminta maaf atas semua yang ia lakukan pada ibunya.


Oleh: Azami


Friday, June 19, 2026

Persahabatan Antara Pangeran Dan Anak dari Hutan

 


Di sebuah kerajaan yang berdiri di balik Gunung Ciremai, hiduplah seorang raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut memiliki seorang anak bernama Rayyan. Rayyan merupakan putra tunggal sekaligus pewaris Kerajaan Cibandoso. Ia juga dikenal karena kecerdasan dan ketampanannya.

Walaupun begitu, ia merupakan anak yang rendah hati. Ia berteman dengan siapa saja tanpa memandang fisik. Hal itu membuat Rayyan sangat disukai oleh warga kerajaan dan memiliki banyak teman.

Selain itu, ia sangat suka memainkan seruling di tepi sungai. Ia sangat piawai dalam memainkan seruling, sehingga suara yang dihasilkannya terdengar sangat merdu.

Hingga suatu hari, ia secara tidak sengaja melihat seorang anak berkulit hitam yang sedang mengintip dari balik pohon. Namun saat Rayyan mencoba memanggilnya, anak tersebut malah melarikan diri. Hal itu membuat Rayyan merasa penasaran dari mana asal anak tersebut.

Ternyata, anak itu diam-diam selalu memperhatikan Rayyan saat ia memainkan seruling di tepi sungai. Meskipun Rayyan menyadari keberadaannya, ia memilih untuk membiarkannya dan tidak mengusiknya.

Hingga suatu pagi, Rayyan melihat anak tersebut sedang menatapnya dari jarak dekat. Namun saat didekati, anak itu malah lari. Rayyan pun mengejarnya hingga masuk ke dalam hutan. Sayangnya, anak tersebut tersandung batu dan terjatuh. Melihat hal itu, Rayyan segera menolongnya.

Setelah itu, anak tersebut mengaku mengapa ia selalu memantau Rayyan. Ternyata, ia hanya ingin berteman dengan Rayyan. Namun, ia selalu merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk berteman dengan seorang pangeran. Karena itulah, ia hanya memantau Rayyan dari kejauhan.

Mendengar hal itu, Rayyan merasa iba dan mengajak anak tersebut untuk berteman. Rayyan juga berkata bahwa tidak ada masalah yang bisa menghalangi sebuah persahabatan. Ia menjelaskan bahwa ketampanan dan tahta yang dimilikinya hanyalah titipan semata dan suatu saat akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.

Berkat perkataan itu, anak berkulit hitam tersebut pun sadar bahwa tidak ada penghalang untuk berteman dengan orang lain. Tampan atau tidak, semua hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Pencipta.

Sejak saat itu, anak tersebut menjadi sahabat dekat Rayyan. Mereka pun sering bermain, bercanda, dan bergembira bersama. Persahabatan mereka menjadi bukti bahwa ketulusan hati jauh lebih berharga daripada penampilan fisik.

Oleh: Azami


Tuesday, June 16, 2026

Saat Kebaikan Menyembuhkan Luka

Di sebuah kota besar, hiduplah seorang pemuda kaya raya bernama Arif. Ia mewarisi sebuah grup perusahaan besar dari kakeknya. Meskipun memiliki harta yang melimpah, Arif dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan dermawan.

Setiap hari, Arif selalu menyapa dan bergaul dengan para tetangganya tanpa memandang status sosial maupun latar belakang mereka. Ia juga sering menggunakan sebagian hartanya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Karena sifat baiknya itu, Arif sangat disukai oleh banyak orang.

Hingga suatu hari, karena urusan pekerjaan, Arif harus pindah ke kota lain. Keesokan harinya, ia berangkat menuju tempat tinggal barunya dengan mengendarai mobil.

Sesampainya di sana, Arif segera menata rumah dan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Seperti biasanya, ia berusaha mengenal para tetangga dengan menyapa dan bergaul dengan mereka. Hampir semua warga menyambutnya dengan ramah, kecuali seorang wanita tua yang tinggal tepat di samping rumahnya.

Rumah wanita tua itu tampak kumuh dan kurang terawat. Ia juga dikenal sebagai seseorang yang jarang keluar rumah dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan warga sekitar.

Suatu pagi, Arif melihat wanita tua tersebut sedang berjemur di depan rumah. Dengan ramah ia menyapa, namun wanita itu tidak membalas sapaannya. Sebaliknya, ia hanya menatap Arif dengan wajah sinis. Sikap itu membuat Arif merasa heran.

Karena penasaran, Arif kemudian bertanya kepada salah seorang tetangganya mengenai wanita tua tersebut. Dari situlah ia mengetahui kisah yang sebenarnya.

Dahulu, wanita tua itu adalah seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya seorang diri. Setelah suaminya meninggal dunia, ia bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Namun, setelah mereka dewasa, kedua anaknya justru meninggalkannya begitu saja. Sejak saat itu, hatinya dipenuhi rasa kecewa dan kesedihan sehingga ia menjadi tertutup terhadap orang lain.

Mendengar kisah tersebut, Arif merasa iba. Ia pun berinisiatif untuk membantu wanita tua itu. Sesekali ia mengantarkan makanan dan menanyakan kabarnya. Pada awalnya, wanita itu tidak terlalu menanggapi perhatian Arif. Namun, Arif tidak menyerah. Ia terus menunjukkan kepedulian dan kebaikannya dengan tulus.

Lambat laun, hati wanita tua itu mulai luluh. Ia mulai menerima kehadiran Arif dan menyadari bahwa masih ada orang yang peduli kepadanya. Seiring berjalannya waktu, sifatnya yang dulu tertutup perlahan berubah menjadi lebih ramah.

Berkat dukungan dan perhatian Arif, wanita tua tersebut mulai kembali bergaul dengan warga sekitar. Ia kembali menyapa para tetangganya dengan senyum yang hangat dan menjalin hubungan baik dengan mereka.

Melihat perubahan itu, Arif menyadari bahwa kebaikan dan kemurahan hati tidak hanya dapat membantu seseorang secara materi, tetapi juga mampu menyembuhkan luka hati serta mempererat tali persaudaraan. Sejak saat itu, lingkungan mereka menjadi lebih harmonis, tanpa rasa iri, dengki, maupun kebencian di antara sesama.

Oleh: Azami

Friday, June 12, 2026

Bayangan Sepuluh Hitam

 


Namanya Ru. Sejak kecil ia dirawat oleh Paman Xion dan Bibi Rah. Mereka menemukannya saat sedang berlatih bertarung melawan Beruang Alpha di Pegunungan Gedomazo.

Saat itu, mereka menemukan sebuah keranjang rotan yang tergeletak di tengah hutan. Di dalamnya terdapat seorang bayi laki-laki dan secarik kertas yang bertuliskan:

"Tolong rawat anak ini. Saya orang miskin yang terpaksa melakukan hubungan gelap untuk mencari sesuap nasi. Saya sangat menyesal."

"Hah? Anak siapa ini?" tanya Paman Xion saat menemukan bayi tersebut.

"Malang sekali nasib anak ini. Kita rawat saja dia, ya, Sayang," ujar Bibi Rah.

"Iya, kasihan sekali anak ini," balas Paman Xion.

Sejak hari itu, Ru tumbuh sebagai anak mereka sendiri.

Hari ini, Ru sedang berlatih Teknik Bayangan Sepuluh Hitam. Selama dua minggu penuh ia mengasingkan diri di hutan untuk mengasah kemampuannya.

Namun, saat kembali ke rumah, pemandangan mengerikan menyambutnya.

Tubuh Paman Xion dan Bibi Rah telah terpotong menjadi sembilan bagian.

"TIDAAAKK...!! SIAPA... SIAPA YANG TEGA MELAKUKAN HAL INI?! AKU TAK AKAN MEMAAFKANNYA!!"

Ru menjerit histeris. Air mata mengalir deras di pipinya.

Setelah menangis dua setengah jam, ia lalu membakar potongan tubuh paman Xion dan bibi Rah menjadi abu.


Abu tersebut kemudian dimasukkannya ke dalam sebuah guci yang selalu ia bawa saat berpetualang.

Ketika selesai, pandangannya tertuju pada seorang pria berjubah putih dengan topeng emas di kejauhan. Pria itu sedang mengangkat tumpukan kayu bakar menggunakan Teknik Hout Spot.

Tubuhnya dipenuhi lumuran darah yang masih segar.

Ru langsung menaruh curiga.

Ia yakin pria itulah yang telah membunuh Paman Xion dan Bibi Rah.

Sosok misterius itu terlihat berjalan menuju Gunung Muria, tepatnya ke Puncak 29.

Pada masa itu, sebagian besar gunung telah menjadi gundul akibat penebangan besar-besaran oleh berbagai kerajaan untuk membangun kastil dan istana. Ru merasa jika markas orang tersebut berada di situ karena ia pernah lewat dan menemukan istana besar nan megah berwarna putih cerah.

"Sepertinya aku tahu ke mana dia pergi. Aku harus mengejarnya sampai titik darah penghabisan."

Wajah Ru dipenuhi amarah.

Perjalanan menuju Gunung Muria bukanlah perjalanan yang mudah.

Tempat itu dipenuhi berbagai jebakan mematikan. Salah satunya adalah bunga mawar raksasa setinggi dua meter yang dapat meledak jika tersentuh oleh apa pun.

Namun, yang paling mengerikan adalah Macan Muria.

Seekor harimau putih raksasa tanpa satu pun belang hitam di tubuhnya. Konon, kecepatan larinya mampu mencapai 360 kilometer per jam.

Ru menggenggam guci abu paman dan bibinya erat-erat. Angin gunung yang dingin berhembus, tetapi kemarahan di dalam hatinya jauh lebih membara.

Dengan langkah cepat, ia berlari menuju Gunung Muria. Teknik Bayangan Sepuluh Hitam membuat tubuhnya seperti kabut hitam yang melesat di antara pepohonan.

Namun, perjalanan itu tidak mudah.

Saat memasuki lereng pertama, Ru hampir menyentuh bunga mawar raksasa setinggi dua meter. Kelopaknya berwarna merah menyala dan mengeluarkan suara mendesis.

"Hampir saja..."

Ru segera membuat bayangan kecil berbentuk tikus dan menyuruhnya menyentuh bunga tersebut.

BOOOOMM!!

Ledakan besar mengguncang tanah. Batu-batu beterbangan ke segala arah.

"Jadi benar, bunga ini meledak."

Ia pun melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati.

Beberapa jam kemudian, ia tiba di dataran gersang dekat Puncak 29. Tiba-tiba tanah bergetar.

GRRRRAAAUUUGHHH!!

Seekor macan putih raksasa muncul dari balik bebatuan. Tubuhnya hampir sebesar rumah. Matanya berwarna biru terang.

"Macan Muria..."

Ru langsung melompat ke belakang.

Dalam sekejap, macan itu menghilang.

"CEPAT SEKALI!"

BRAKK!!

Ru terpental puluhan meter setelah terkena hantaman ekor macan tersebut. Darah menetes dari sudut bibirnya.

Macan itu kembali menghilang.

Ru menutup matanya.

"Paman dan Bibi... pinjamkan keberanian kalian."

Ia mengaktifkan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam tingkat ketiga.

Sepuluh bayangan hitam muncul dari tubuhnya.

Bayangan pertama berubah menjadi serigala.

Bayangan kedua menjadi elang.

Bayangan ketiga menjadi ular raksasa.

Dan tujuh lainnya berubah menjadi prajurit bayangan.

"Serang!"

Pertarungan sengit terjadi.

Elang bayangan mengalihkan perhatian macan. Serigala bayangan menggigit kaki belakangnya. Sementara para prajurit bayangan menyerang dari segala arah.

Meski begitu, Macan Muria terlalu kuat.

Satu demi satu bayangan Ru dihancurkan.

Namun saat macan itu melompat untuk menerkamnya, Ru menemukan celah.

"Bayangan Kesepuluh: Tombak Kegelapan!"

Seluruh sisa energi bayangan berkumpul menjadi tombak hitam sepanjang lima meter.

"MATI KAU!!"

SRAAAKK!!

Tombak itu menembus dada Macan Muria.

Makhluk buas tersebut mengaum keras sebelum akhirnya roboh.

DUUUMMM!!

Tanah bergetar saat tubuh raksasanya jatuh.

Ru terengah-engah. Seluruh tenaganya hampir habis.

Namun dari puncak gunung, terdengar suara tepuk tangan.

"Hebat sekali."

Ru menoleh.

Di atas tebing berdiri seorang pria berjubah putih dengan topeng emas.

Di belakangnya tampak istana putih megah yang pernah dilihat Ru.

Dan yang membuat darah Ru mendidih adalah...

Di pinggang pria itu tergantung pedang yang sangat dikenalnya.

Pedang milik Paman Xion.

"Kau...!!"

Pria bertopeng itu tertawa kecil.

"Jadi kau anak yang mereka rawat selama ini."

"Apa maksudmu?!"

"Aku tidak membunuh mereka karena kebetulan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Lalu kenapa?!"

Pria itu perlahan melepas topengnya.

Wajahnya membuat Ru membeku.

Karena wajah pria itu...

Sangat mirip dengan wajahnya sendiri.

"Bersiaplah, Ru."

Pria itu tersenyum tipis.

"Saatnya kau mengetahui siapa orang tua kandungmu sebenarnya."

Ru membeku melihat wajah pria itu.

Wajah mereka hampir sama.

Hanya saja pria itu terlihat lebih tua sekitar dua puluh tahun.

"Siapa kau?" tanya Ru.

Pria itu tersenyum.

"Namaku Zaru. Aku kakak kandung ayahmu."

Ru terdiam.

"Apa?"

"Ayahmu adalah Raja Kegelapan dari Kerajaan Argen. Ia memiliki kekuatan yang ditakuti seluruh benua."

"Lalu kenapa aku dibuang?"

Zaru menarik napas panjang.

"Karena saat kau lahir, seorang peramal berkata bahwa suatu hari kau akan menjadi orang yang membunuh ayahmu dan menghancurkan kerajaan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Itu alasan yang bodoh."

"Memang. Tapi ayahmu mempercayainya."

Zaru kemudian menjelaskan bahwa ibu Ru menolak membunuh bayinya sendiri. Diam-diam ia melarikan Ru dan menitipkannya kepada seseorang. Dalam pelarian, ia menulis surat yang ditemukan Paman Xion dan Bibi Rah agar identitas Ru tidak diketahui.

"Lalu di mana ibuku sekarang?"

Zaru menunduk.

"Sudah meninggal sepuluh tahun lalu."

Ru terdiam.

Ia tidak sempat mengenal ibu kandungnya.

Ru mengangkat kepalanya.

"Kalau begitu, siapa yang membunuh paman dan bibiku?"

Zaru menjawab pelan.

"Bukan aku."

"Lalu siapa?"

"Orang yang saat ini menjadi Raja Argen."

"Katanya ayahku raja?"

"Sudah bukan."

Ternyata beberapa tahun sebelumnya ayah Ru dibunuh oleh jenderalnya sendiri yang bernama Kharzon.

Kharzon merebut takhta dan membantai siapa pun yang mengetahui keberadaan pewaris asli kerajaan.

Termasuk Paman Xion dan Bibi Rah yang diam-diam melindungi Ru.

Ru merasakan kemarahannya kembali membara.

"Kharzon..."

"Ya. Dia sedang mencarimu."

Tiba-tiba ledakan besar terdengar.

BOOOM!

Istana putih berguncang.

Puluhan prajurit berbaju hitam menyerbu.

Di langit muncul naga terbang raksasa.

Di atas kepalanya berdiri seorang pria berbadan besar dengan mata merah.

Kharzon.

"Akhirnya aku menemukan kalian!" teriaknya.

Pertempuran besar pun terjadi.

Zaru melawan pasukan elit.

Ru menghadapi Kharzon.

Kharzon sangat kuat.

Setiap ayunan pedangnya mampu membelah bukit.

Ru beberapa kali hampir terbunuh.

Namun ia teringat wajah Paman Xion dan Bibi Rah.

Orang-orang yang membesarkannya.

Orang-orang yang mengajarinya berjalan.

Orang-orang yang selalu menunggunya pulang.

"Aku tidak akan kalah."

Ru mengaktifkan seluruh kekuatan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sepuluh bayangan itu menyatu.

Tubuh Ru berubah menjadi sosok berjubah hitam pekat dengan mata berwarna perak.

Kekuatan itu disebut:

Kharzon terkejut.

"Tidak mungkin!"

Ru mengangkat tangannya.

Seluruh bayangan di sekitar gunung bergerak.

Bayangan batu.

Bayangan pohon.

Bayangan manusia.

Bahkan bayangan naga.

Semuanya tunduk kepada Ru.

"Ini untuk Paman Xion."

Satu tombak bayangan menembus bahu Kharzon.

"Ini untuk Bibi Rah."

Tombak kedua menembus kaki Kharzon.

"Dan ini..."

Ru mengumpulkan seluruh kekuatannya.

"...untuk semua yang kau bunuh."

Ribuan tombak bayangan turun dari langit.

Kharzon berusaha melawan.

Namun terlambat.

DUUUAARRR!!

Ledakan raksasa mengguncang seluruh Gunung Muria.

Saat debu menghilang, Kharzon telah lenyap.

Beberapa bulan kemudian.

Kerajaan Argen kembali damai.

Para rakyat meminta Ru menjadi raja.

Namun ia menolak.

"Aku bukan penguasa. Aku hanya seorang petualang."

Ia menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang bijaksana yang dipilih rakyat.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan.

Guci berisi abu Paman Xion dan Bibi Rah masih selalu dibawanya.

Suatu hari ia tiba di puncak bukit yang dipenuhi bunga.

Di sana ia menanam dua pohon.

Satu untuk Paman Xion.

Satu untuk Bibi Rah.

Ru duduk di antara kedua pohon itu sambil tersenyum.

"Aku sudah membalas dendam."

Angin berhembus pelan.

Daun-daun bergoyang seolah menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak kematian mereka, Ru merasa tenang.

Ia berdiri.

Mengambil tasnya.

Lalu berjalan menuju cakrawala.

Karena petualangan baru selalu menunggu.

Oleh: Kamil