Di sebuah kerajaan yang berdiri di balik Gunung Ciremai, hiduplah seorang raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut memiliki seorang anak bernama Rayyan. Rayyan merupakan putra tunggal sekaligus pewaris Kerajaan Cibandoso. Ia juga dikenal karena kecerdasan dan ketampanannya.
Walaupun begitu, ia merupakan anak yang rendah hati. Ia berteman dengan siapa saja tanpa memandang fisik. Hal itu membuat Rayyan sangat disukai oleh warga kerajaan dan memiliki banyak teman.
Selain itu, ia sangat suka memainkan seruling di tepi sungai. Ia sangat piawai dalam memainkan seruling, sehingga suara yang dihasilkannya terdengar sangat merdu.
Hingga suatu hari, ia secara tidak sengaja melihat seorang anak berkulit hitam yang sedang mengintip dari balik pohon. Namun saat Rayyan mencoba memanggilnya, anak tersebut malah melarikan diri. Hal itu membuat Rayyan merasa penasaran dari mana asal anak tersebut.
Ternyata, anak itu diam-diam selalu memperhatikan Rayyan saat ia memainkan seruling di tepi sungai. Meskipun Rayyan menyadari keberadaannya, ia memilih untuk membiarkannya dan tidak mengusiknya.
Hingga suatu pagi, Rayyan melihat anak tersebut sedang menatapnya dari jarak dekat. Namun saat didekati, anak itu malah lari. Rayyan pun mengejarnya hingga masuk ke dalam hutan. Sayangnya, anak tersebut tersandung batu dan terjatuh. Melihat hal itu, Rayyan segera menolongnya.
Setelah itu, anak tersebut mengaku mengapa ia selalu memantau Rayyan. Ternyata, ia hanya ingin berteman dengan Rayyan. Namun, ia selalu merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk berteman dengan seorang pangeran. Karena itulah, ia hanya memantau Rayyan dari kejauhan.
Mendengar hal itu, Rayyan merasa iba dan mengajak anak tersebut untuk berteman. Rayyan juga berkata bahwa tidak ada masalah yang bisa menghalangi sebuah persahabatan. Ia menjelaskan bahwa ketampanan dan tahta yang dimilikinya hanyalah titipan semata dan suatu saat akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.
Berkat perkataan itu, anak berkulit hitam tersebut pun sadar bahwa tidak ada penghalang untuk berteman dengan orang lain. Tampan atau tidak, semua hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Pencipta.
Sejak saat itu, anak tersebut menjadi sahabat dekat Rayyan. Mereka pun sering bermain, bercanda, dan bergembira bersama. Persahabatan mereka menjadi bukti bahwa ketulusan hati jauh lebih berharga daripada penampilan fisik.
Oleh: Azami


0 comments: