Friday, June 12, 2026

Bayangan Sepuluh Hitam

 


Namanya Ru. Sejak kecil ia dirawat oleh Paman Xion dan Bibi Rah. Mereka menemukannya saat sedang berlatih bertarung melawan Beruang Alpha di Pegunungan Gedomazo.

Saat itu, mereka menemukan sebuah keranjang rotan yang tergeletak di tengah hutan. Di dalamnya terdapat seorang bayi laki-laki dan secarik kertas yang bertuliskan:

"Tolong rawat anak ini. Saya orang miskin yang terpaksa melakukan hubungan gelap untuk mencari sesuap nasi. Saya sangat menyesal."

"Hah? Anak siapa ini?" tanya Paman Xion saat menemukan bayi tersebut.

"Malang sekali nasib anak ini. Kita rawat saja dia, ya, Sayang," ujar Bibi Rah.

"Iya, kasihan sekali anak ini," balas Paman Xion.

Sejak hari itu, Ru tumbuh sebagai anak mereka sendiri.

Hari ini, Ru sedang berlatih Teknik Bayangan Sepuluh Hitam. Selama dua minggu penuh ia mengasingkan diri di hutan untuk mengasah kemampuannya.

Namun, saat kembali ke rumah, pemandangan mengerikan menyambutnya.

Tubuh Paman Xion dan Bibi Rah telah terpotong menjadi sembilan bagian.

"TIDAAAKK...!! SIAPA... SIAPA YANG TEGA MELAKUKAN HAL INI?! AKU TAK AKAN MEMAAFKANNYA!!"

Ru menjerit histeris. Air mata mengalir deras di pipinya.

Setelah menangis dua setengah jam, ia lalu membakar potongan tubuh paman Xion dan bibi Rah menjadi abu.


Abu tersebut kemudian dimasukkannya ke dalam sebuah guci yang selalu ia bawa saat berpetualang.

Ketika selesai, pandangannya tertuju pada seorang pria berjubah putih dengan topeng emas di kejauhan. Pria itu sedang mengangkat tumpukan kayu bakar menggunakan Teknik Hout Spot.

Tubuhnya dipenuhi lumuran darah yang masih segar.

Ru langsung menaruh curiga.

Ia yakin pria itulah yang telah membunuh Paman Xion dan Bibi Rah.

Sosok misterius itu terlihat berjalan menuju Gunung Muria, tepatnya ke Puncak 29.

Pada masa itu, sebagian besar gunung telah menjadi gundul akibat penebangan besar-besaran oleh berbagai kerajaan untuk membangun kastil dan istana. Ru merasa jika markas orang tersebut berada di situ karena ia pernah lewat dan menemukan istana besar nan megah berwarna putih cerah.

"Sepertinya aku tahu ke mana dia pergi. Aku harus mengejarnya sampai titik darah penghabisan."

Wajah Ru dipenuhi amarah.

Perjalanan menuju Gunung Muria bukanlah perjalanan yang mudah.

Tempat itu dipenuhi berbagai jebakan mematikan. Salah satunya adalah bunga mawar raksasa setinggi dua meter yang dapat meledak jika tersentuh oleh apa pun.

Namun, yang paling mengerikan adalah Macan Muria.

Seekor harimau putih raksasa tanpa satu pun belang hitam di tubuhnya. Konon, kecepatan larinya mampu mencapai 360 kilometer per jam.

Ru menggenggam guci abu paman dan bibinya erat-erat. Angin gunung yang dingin berhembus, tetapi kemarahan di dalam hatinya jauh lebih membara.

Dengan langkah cepat, ia berlari menuju Gunung Muria. Teknik Bayangan Sepuluh Hitam membuat tubuhnya seperti kabut hitam yang melesat di antara pepohonan.

Namun, perjalanan itu tidak mudah.

Saat memasuki lereng pertama, Ru hampir menyentuh bunga mawar raksasa setinggi dua meter. Kelopaknya berwarna merah menyala dan mengeluarkan suara mendesis.

"Hampir saja..."

Ru segera membuat bayangan kecil berbentuk tikus dan menyuruhnya menyentuh bunga tersebut.

BOOOOMM!!

Ledakan besar mengguncang tanah. Batu-batu beterbangan ke segala arah.

"Jadi benar, bunga ini meledak."

Ia pun melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati.

Beberapa jam kemudian, ia tiba di dataran gersang dekat Puncak 29. Tiba-tiba tanah bergetar.

GRRRRAAAUUUGHHH!!

Seekor macan putih raksasa muncul dari balik bebatuan. Tubuhnya hampir sebesar rumah. Matanya berwarna biru terang.

"Macan Muria..."

Ru langsung melompat ke belakang.

Dalam sekejap, macan itu menghilang.

"CEPAT SEKALI!"

BRAKK!!

Ru terpental puluhan meter setelah terkena hantaman ekor macan tersebut. Darah menetes dari sudut bibirnya.

Macan itu kembali menghilang.

Ru menutup matanya.

"Paman dan Bibi... pinjamkan keberanian kalian."

Ia mengaktifkan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam tingkat ketiga.

Sepuluh bayangan hitam muncul dari tubuhnya.

Bayangan pertama berubah menjadi serigala.

Bayangan kedua menjadi elang.

Bayangan ketiga menjadi ular raksasa.

Dan tujuh lainnya berubah menjadi prajurit bayangan.

"Serang!"

Pertarungan sengit terjadi.

Elang bayangan mengalihkan perhatian macan. Serigala bayangan menggigit kaki belakangnya. Sementara para prajurit bayangan menyerang dari segala arah.

Meski begitu, Macan Muria terlalu kuat.

Satu demi satu bayangan Ru dihancurkan.

Namun saat macan itu melompat untuk menerkamnya, Ru menemukan celah.

"Bayangan Kesepuluh: Tombak Kegelapan!"

Seluruh sisa energi bayangan berkumpul menjadi tombak hitam sepanjang lima meter.

"MATI KAU!!"

SRAAAKK!!

Tombak itu menembus dada Macan Muria.

Makhluk buas tersebut mengaum keras sebelum akhirnya roboh.

DUUUMMM!!

Tanah bergetar saat tubuh raksasanya jatuh.

Ru terengah-engah. Seluruh tenaganya hampir habis.

Namun dari puncak gunung, terdengar suara tepuk tangan.

"Hebat sekali."

Ru menoleh.

Di atas tebing berdiri seorang pria berjubah putih dengan topeng emas.

Di belakangnya tampak istana putih megah yang pernah dilihat Ru.

Dan yang membuat darah Ru mendidih adalah...

Di pinggang pria itu tergantung pedang yang sangat dikenalnya.

Pedang milik Paman Xion.

"Kau...!!"

Pria bertopeng itu tertawa kecil.

"Jadi kau anak yang mereka rawat selama ini."

"Apa maksudmu?!"

"Aku tidak membunuh mereka karena kebetulan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Lalu kenapa?!"

Pria itu perlahan melepas topengnya.

Wajahnya membuat Ru membeku.

Karena wajah pria itu...

Sangat mirip dengan wajahnya sendiri.

"Bersiaplah, Ru."

Pria itu tersenyum tipis.

"Saatnya kau mengetahui siapa orang tua kandungmu sebenarnya."

Ru membeku melihat wajah pria itu.

Wajah mereka hampir sama.

Hanya saja pria itu terlihat lebih tua sekitar dua puluh tahun.

"Siapa kau?" tanya Ru.

Pria itu tersenyum.

"Namaku Zaru. Aku kakak kandung ayahmu."

Ru terdiam.

"Apa?"

"Ayahmu adalah Raja Kegelapan dari Kerajaan Argen. Ia memiliki kekuatan yang ditakuti seluruh benua."

"Lalu kenapa aku dibuang?"

Zaru menarik napas panjang.

"Karena saat kau lahir, seorang peramal berkata bahwa suatu hari kau akan menjadi orang yang membunuh ayahmu dan menghancurkan kerajaan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Itu alasan yang bodoh."

"Memang. Tapi ayahmu mempercayainya."

Zaru kemudian menjelaskan bahwa ibu Ru menolak membunuh bayinya sendiri. Diam-diam ia melarikan Ru dan menitipkannya kepada seseorang. Dalam pelarian, ia menulis surat yang ditemukan Paman Xion dan Bibi Rah agar identitas Ru tidak diketahui.

"Lalu di mana ibuku sekarang?"

Zaru menunduk.

"Sudah meninggal sepuluh tahun lalu."

Ru terdiam.

Ia tidak sempat mengenal ibu kandungnya.

Ru mengangkat kepalanya.

"Kalau begitu, siapa yang membunuh paman dan bibiku?"

Zaru menjawab pelan.

"Bukan aku."

"Lalu siapa?"

"Orang yang saat ini menjadi Raja Argen."

"Katanya ayahku raja?"

"Sudah bukan."

Ternyata beberapa tahun sebelumnya ayah Ru dibunuh oleh jenderalnya sendiri yang bernama Kharzon.

Kharzon merebut takhta dan membantai siapa pun yang mengetahui keberadaan pewaris asli kerajaan.

Termasuk Paman Xion dan Bibi Rah yang diam-diam melindungi Ru.

Ru merasakan kemarahannya kembali membara.

"Kharzon..."

"Ya. Dia sedang mencarimu."

Tiba-tiba ledakan besar terdengar.

BOOOM!

Istana putih berguncang.

Puluhan prajurit berbaju hitam menyerbu.

Di langit muncul naga terbang raksasa.

Di atas kepalanya berdiri seorang pria berbadan besar dengan mata merah.

Kharzon.

"Akhirnya aku menemukan kalian!" teriaknya.

Pertempuran besar pun terjadi.

Zaru melawan pasukan elit.

Ru menghadapi Kharzon.

Kharzon sangat kuat.

Setiap ayunan pedangnya mampu membelah bukit.

Ru beberapa kali hampir terbunuh.

Namun ia teringat wajah Paman Xion dan Bibi Rah.

Orang-orang yang membesarkannya.

Orang-orang yang mengajarinya berjalan.

Orang-orang yang selalu menunggunya pulang.

"Aku tidak akan kalah."

Ru mengaktifkan seluruh kekuatan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sepuluh bayangan itu menyatu.

Tubuh Ru berubah menjadi sosok berjubah hitam pekat dengan mata berwarna perak.

Kekuatan itu disebut:

Kharzon terkejut.

"Tidak mungkin!"

Ru mengangkat tangannya.

Seluruh bayangan di sekitar gunung bergerak.

Bayangan batu.

Bayangan pohon.

Bayangan manusia.

Bahkan bayangan naga.

Semuanya tunduk kepada Ru.

"Ini untuk Paman Xion."

Satu tombak bayangan menembus bahu Kharzon.

"Ini untuk Bibi Rah."

Tombak kedua menembus kaki Kharzon.

"Dan ini..."

Ru mengumpulkan seluruh kekuatannya.

"...untuk semua yang kau bunuh."

Ribuan tombak bayangan turun dari langit.

Kharzon berusaha melawan.

Namun terlambat.

DUUUAARRR!!

Ledakan raksasa mengguncang seluruh Gunung Muria.

Saat debu menghilang, Kharzon telah lenyap.

Beberapa bulan kemudian.

Kerajaan Argen kembali damai.

Para rakyat meminta Ru menjadi raja.

Namun ia menolak.

"Aku bukan penguasa. Aku hanya seorang petualang."

Ia menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang bijaksana yang dipilih rakyat.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan.

Guci berisi abu Paman Xion dan Bibi Rah masih selalu dibawanya.

Suatu hari ia tiba di puncak bukit yang dipenuhi bunga.

Di sana ia menanam dua pohon.

Satu untuk Paman Xion.

Satu untuk Bibi Rah.

Ru duduk di antara kedua pohon itu sambil tersenyum.

"Aku sudah membalas dendam."

Angin berhembus pelan.

Daun-daun bergoyang seolah menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak kematian mereka, Ru merasa tenang.

Ia berdiri.

Mengambil tasnya.

Lalu berjalan menuju cakrawala.

Karena petualangan baru selalu menunggu.

Oleh: Kamil
Previous Post
Next Post

0 comments: