Wednesday, August 12, 2026

Belajar Dari Senja


 “PRITTT…!”

Suara peluit ditiup. Terlihat sekumpulan anak sedang bermain bola di lapangan. Sore itu, suasana yang indah membuat hati terasa tenang. Setelah melewati siang yang panas, mereka sangat antusias untuk bermain.

“GOLLL…”

Terdengar suara mereka yang bersorak gembira.

“PRITT…”

Suara peluit tanda permainan selesai terdengar. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Kamu hebat banget Janu!” ucap Rayyan.

“Hehe, kamu juga hebat kok,” balas Janu.

“Hebat apanya? Kan aku wasit,” kata Rayyan.

“Ya, berarti kamu wasit yang hebat,” jawab Janu.

Mereka pun tertawa bersama sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Rayyan disambut hangat oleh ibunya.

“Ehh… pangeran kecilku sudah datang,” ucap Ibu sambil memeluk anaknya.

“Tadi gimana main bolanya? Seru?” tanya ibunya.

“Seru, walau aku cuma jadi wasit,” jawab Rayyan.

“Emang kenapa?” tanya ibunya sambil mengelus rambut anaknya.

“Hehe, kan kalau wasit nggak bisa ikut main,” jawab Rayyan sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting kan kamu tetap senang,” jawab Ibu sambil memencet hidung kecil anaknya.

Akhirnya, mereka pun duduk bersama di teras rumah sambil menikmati indahnya mentari senja dan ditemani hembusan angin sepoi-sepoi.

“Rayyan tahu nggak? Kita bisa belajar dari senja, lho,” kata Ibu.

“Belajar dari senja?” tanya Rayyan, tidak paham.

“Iya, kita belajar dari senja,” jawab Ibu.

“Maksudnya?” tanya Rayyan, tidak mengerti.

“Maksudnya, kamu bisa seperti mentari senja. Walaupun saat siang hari diabaikan, bahkan dibenci, ia tetap memberikan cahayanya yang terbaik saat senja. Ia tahu kalau ia sering diabaikan, tetapi ia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik sebelum ia tenggelam. Seperti halnya kamu, walaupun kamu diabaikan, kamu harus tetap menjadi anak yang baik,” jelas Ibu.

Rayyan pun paham apa yang dimaksud ibunya. Ia tersenyum sambil menggenggam peluit merah di tangannya.

Ia pun mendapat pelajaran. Bahwa, walaupun sering diabaikan, kita masih bisa memberikan yang terbaik di akhir. Dengan begitu, suatu saat kita tidak akan terabaikan lagi.

Oleh: Azami


Latest
Next Post

0 comments: