Tuesday, July 14, 2026

Dari Sebuah Kantin

 


Tersebutlah, hiduplah sebuah keluarga yang kaya raya. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Bisma. Bisma dikenal sebagai anak yang sangat berprestasi di sekolahnya. Hampir semua mata pelajaran berhasil ia kuasai. Berbagai penghargaan berhasil ia raih, sehingga membuat teman-teman dan guru-gurunya kagum kepadanya.

Sayangnya, di balik kepintarannya, Bisma memiliki sifat yang kurang baik. Ia sombong, suka iri kepada orang lain, dan gemar memamerkan prestasinya. Ia sering merendahkan teman-temannya, bahkan merasa kesal jika ada yang lebih pintar darinya. Sedikit demi sedikit, sifat buruk itu menjadi tembok yang menjauhkannya dari teman-teman. Hanya beberapa orang saja yang masih mau berteman dengannya.

Suatu hari, Bisma mengikuti sebuah lomba bersama teman sekelasnya yang bernama Rayyan. Di luar dugaan, Rayyan berhasil menjadi juara dan mengalahkan Bisma. Kekalahan itu membuat hati Bisma dipenuhi rasa iri. Api kesombongan dalam dirinya pun semakin berkobar. Ia bertekad menunjukkan kepada Rayyan bahwa dirinya jauh lebih hebat.

Keesokan harinya, saat jam istirahat, Bisma melihat Rayyan sedang berada di kantin. Ia pun menghampiri Rayyan sambil membawa rasa angkuh di dalam hatinya.

"Aku punya banyak prestasi sekolah, jadi kamu jangan sok pintar, ya," ucap Bisma dengan nada kesal.

Rayyan hanya tersenyum. Senyum itu justru membuat hati Bisma semakin panas. Ia kembali membanggakan semua prestasi yang pernah diraihnya.

"Eh, kok cuma senyum sih? Asal kamu tahu, semua prestasiku adalah hasil kerja kerasku sendiri," kata Bisma dengan nada tinggi.

"Sok iye lu," jawab Rayyan sambil tetap tersenyum.

"Iyalah," balas Bisma dengan wajah penuh kesombongan.

Rayyan lalu bertanya dengan santai, "Emang orang tuamu enggak bantuin kamu, ya?"

Bisma langsung menjawab dengan angkuh, "Asal kamu tahu, aku pintar karena usahaku sendiri. Aku enggak butuh bantuan orang tuaku."

Rayyan tidak membalas lagi. Ia hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan Bisma.

Dua minggu kemudian, keadaan berubah. Prestasi Bisma mulai menurun. Nilai-nilainya banyak yang merah, bahkan ia kesulitan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Ia merasa cemas dan panik. Teman-temannya pun semakin menjauh darinya. Saat itu, Bisma baru merasakan betapa sepinya hidup tanpa teman.

Pada waktu istirahat, Bisma melihat Rayyan sedang duduk sendirian sambil memainkan gitar. Alunan gitar itu terdengar lembut, seolah menenangkan hati yang sedang gelisah. Merasa bersalah atas sikapnya selama ini, Bisma memberanikan diri menghampiri Rayyan untuk meminta maaf.

"Kamu tahu, kan, sekarang?" ucap Rayyan dengan tenang.

"Iya... aku tahu," jawab Bisma sambil menundukkan kepala.

Rayyan tersenyum, lalu berkata, "Makanya, jangan sombong. Walaupun kamu pintar, kamu harus tetap rendah hati. Ilmu itu seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk. Dan yang paling penting, jangan pernah melupakan jasa orang tuamu. Tanpa doa, kasih sayang, dan pengorbanan mereka, kamu enggak akan bisa sampai di titik ini."

"Bermimpilah setinggi langit. Jika kamu sudah berhasil, jangan lupakan jasa orang tuamu. Hanya doa orang tuamu yang bisa mengantarkanmu menuju tempat yang tinggi," pesan Rayyan.

Sejak saat itu, Bisma benar-benar berubah. Ia tidak lagi sombong, tidak iri kepada orang lain, dan mulai menghargai teman-temannya. Ia juga semakin menghormati kedua orang tuanya.

Dari kisah Bisma, kita belajar bahwa kesombongan hanya akan membuat seseorang kehilangan teman dan kebahagiaan. Sebaliknya, kerendahan hati akan membuat kita semakin dihargai. Dan setinggi apa pun kita melangkah, jangan pernah melupakan jasa serta doa orang tua, karena merekalah yang menjadi cahaya di setiap langkah menuju kesuksesan.

Oleh: Azami


Latest
Next Post

0 comments: