Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Erick tumbuh dewasa dan bekerja di kota sebagai seorang pegawai kantoran. Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan. Ia sering pulang larut malam ke kamar kosnya. Bahkan, ia kerap mendapat teguran dari atasannya karena pekerjaannya sering tidak terselesaikan dengan baik. Semua itu membuat Erick merasa lelah dan stres.
Hingga suatu malam, Erick pergi ke sebuah kafe untuk menenangkan pikirannya. Ia memesan segelas americano sambil duduk sendirian. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Baginya, hidup terasa begitu berat dan penuh dengan masalah.
Tiba-tiba, datanglah Rehan, teman semasa sekolahnya. Rehan kemudian memesan secangkir cappuccino dan seporsi kentang goreng. Melihat kesempatan itu, Erick pun mulai menceritakan semua beban yang selama ini ia pendam. Rehan mendengarkan dengan saksama dan menanggapi setiap cerita Erick.
Setelah beberapa saat, Rehan bertanya, "Kamu sudah pulang ke rumah belum?"
"Belum, memangnya kenapa?" jawab Erick.
"Nah itu, menurutku kamu perlu pulang dan beristirahat sejenak bersama orang tuamu."
"Memangnya sepenting itu?"
“Emang kamu nggak kangen sama mereka? Kamu perlu datang ke orang tuamu untuk melepas semua masalah yang kamu dapat. Terutama Ibumu, cuma pelukan ibu yang bisa membuat masalah di pikiranmu hilang. Mumpung mereka masih ada, kalo mereka sudah nggak ada, kamu bakal menyesal seumur hidup!” jelas Rehan.
Tak terasa Erick pun meneteskan air mata. Lalu Erick sadar kalau ia harus kembali menemui ibunya dan meminta maaf atas semua yang ia lakukan pada ibunya.
Oleh: Azami


0 comments: