Tuesday, March 31, 2026

Dalam Jalan Panjang

 



Sore itu cerah. Matahari memancarkan sinar hangat menjelang terbenam. Di lapangan, anak-anak bermain dengan riang. Di tengah suasana itu, seorang kakek melintas dengan motor tuanya.

“Paimen!” sapa seseorang.
“Eh, Thahirin,” jawab kakek.
“Wah, sudah tua masih sehat saja,” ujar Thahirin.
Kakek tersenyum. “Ah, tidak juga. Sekarang sudah tidak sekuat dulu.”
“Iya juga, sekarang tinggal menikmati waktu saja, sambil melihat anak-anak,” balas Thahirin.

Setelah berbincang sebentar, kakek pun melanjutkan perjalanannya.

Belakangan ini, ia memang sering berkeliling kampung setiap sore dengan motor tuanya yang setia menemaninya. Meski begitu, terkadang ia membuat keluarganya khawatir. Sebab ia kerap menyinggung soal kematian dalam ucapannya. Hanya satu orang yang tidak merasa demikian. Ziyad, anak kecil berusia lima tahun yang justru sangat senang mendengar cerita-ceritanya. Entah kisah nyata atau sekadar karangan yang tokoh utamanya diganti kakek, cerita-cerita itu selalu menarik bagi Ziyad.

Sesampainya di rumah, kakek memarkir motornya di depan rumah kayu.

“Kakek!” teriak Ziyad sambil berlari menghampiri. Ia langsung menarik tangan kakek. “Kakek, Ziyad mau jalan-jalan.”

“Sabar, Kakek baru sampai. Memangnya tidak capek?”
“Tidak. Tadi Ziyad sudah tidur,” jawabnya polos.
“Baiklah, Kakek ganti baju dulu supaya tidak kotor.”
“Memangnya kalau kotor kenapa, Kek?”
“Kalau bajunya kotor, nanti Kakek tidak bisa main sama Ziyad,” jawab kakek sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka pun berjalan-jalan menikmati sore. Angin berhembus pelan, menggerakkan janggut putih kakek.

Di tengah perjalanan, kakek bertanya, “Ziyad, kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Ziyad mau jadi pengusaha, Kek,” jawabnya mantap.
“Wah, cita-cita yang bagus. Dulu Kakek hanya ingin jadi petani.”
“Memangnya tidak capek, Kek?”
“Capek, tapi itulah cara Kakek menjalani hidup.”

Ziyad berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa tidak jadi pengusaha saja? Kan uangnya banyak.”

Kakek tersenyum, lalu berkata pelan, “Bekerja itu bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang tanggung jawab. Kita harus yakin dengan pilihan kita, bukan semata karena hasilnya, tetapi juga manfaatnya bagi orang lain. Petani misalnya, tanpa petani, tidak akan ada padi. Sopir juga, tanpa mereka barang tidak akan sampai. Kakek tahu menjadi petani itu tidak mudah, tetapi Kakek senang melihat orang-orang bisa makan dari hasil panen Kakek.”

Lalu kakek pun melanjutkan, “Begitu juga ayahmu. Ia menjadi dosen agar bisa membagikan ilmu yang dimilikinya.”

“Kalau pengusaha bisa apa, Kek?” tanya Ziyad lagi.
“Pengusaha adalah orang yang terus berusaha. Ia membangun dan mengembangkan usahanya, sedikit demi sedikit, sambil bersaing dengan yang lain. Kakek berharap kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses. Tapi ingat, perjalananmu masih panjang. Banyak hal yang belum kamu ketahui, jadi kamu harus terus belajar.”

Ziyad mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang cita-cita, tetapi juga tentang proses panjang untuk mencapainya.

Sore itu, langkah kecilnya terasa lebih mantap. Ia tahu, di perjalanan yang panjang nanti, ia akan belajar banyak hal hingga akhirnya mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Oleh: Azami




Latest
Next Post

0 comments: