Suatu sore, saat hujan turun sangat deras, Hakam dan Ghifar sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Karena hujan semakin lebat, Hakam pun menyuruh Ghifar untuk berhenti.
“Far, sebaiknya kita berhenti dulu. Kebetulan ada rumah di depan,” kata Hakam.
“Iya, kita berhenti di rumah itu saja,” jawab Ghifar.
Akhirnya mereka menepi di rumah tersebut. Hakam lalu mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah seorang nenek bersama dua orang cucunya. Yang satu kira-kira berusia enam tahun, dan yang satunya lagi sekitar empat tahun.
“Maaf, Nek. Kami boleh berteduh sebentar di sini?” kata Hakam.
“Oh iya, silakan masuk, Nak,” jawab nenek itu dengan ramah.
Mereka pun masuk dan dipersilakan duduk.
“Silakan duduk dulu, Nak,” kata nenek.
“Iya, Nek,” jawab Ghifar.
Beberapa saat kemudian, nenek itu datang kembali sambil membawa beberapa potong roti dan menyuguhkannya kepada mereka.
“Silakan dimakan, Nak,” kata nenek.
“Terima kasih, Nek,” jawab Ghifar.
Hakam dan Ghifar pun mencoba roti itu. Namun, rasanya sangat manis, bahkan seperti memakan gula merah dalam jumlah banyak. Rasanya membuat mereka kurang selera untuk menghabiskannya.
Tiba-tiba anak yang berusia empat tahun tadi menangis, lalu neneknya menenangkannya. Saat itulah Hakam diam-diam melempar roti yang ia pegang ke teras rumah. Kakak dari anak kecil itu hanya melihat Hakam, tetapi tetap diam.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya hujan pun reda dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.
“Nek, kami pamit dulu,” kata Hakam.
“Oh iya, Nak. Hati-hati di jalan,” jawab nenek.
Mereka pun menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan. Namun, setelah agak jauh dari rumah itu, Hakam baru sadar bahwa ponselnya tertinggal.
“Far, putar balik dulu. HP-ku ketinggalan,” kata Hakam.
Mereka pun kembali ke rumah tadi. Saat Hakam mengambil ponselnya, tanpa sengaja ia melihat anak kecil yang tadi mengambil roti yang ia buang ke teras, lalu memakannya.
Melihat hal itu, Hakam merasa sangat kasihan. Ia pun memberikan sedikit uang kepada anak tersebut sambil berkata, “Ini untuk beli makanan, ya.”
Saat itu Hakam baru menyadari bahwa sesuatu yang menurut kita tidak terlalu berharga, ternyata bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain. Mungkin hanya itu yang mereka miliki, bahkan mereka rela memberikannya demi menghormati tamu.
Oleh: Azami


0 comments: