Friday, May 8, 2026

Portal Sunyi Peradaban Perpustakaan Al-Qarawiyyin

Di kota tua Fez, ada satu tempat di mana waktu terasa seperti malas bergerak.

Mahasiswa datang dan pergi, turis memotret lengkungan-lengkungan kuno, dan para peneliti tenggelam dalam halaman-halaman yang ditulis ratusan tahun lalu. Tapi bagi Zaid, tempat itu lebih dari sekadar perpustakaan. Ia seperti portal sunyi—tempat di mana pikiran dari berbagai abad berkumpul tanpa perlu saling memperkenalkan diri.


Pagi itu, Zaid masuk ke dalam Perpustakaan Al-Qarawiyyin dengan secangkir kopi yang hampir dingin dan rasa penasaran yang terlalu besar untuk diabaikan.


“Cuma lihat-lihat sebentar,” gumamnya pada diri sendiri.


Ia sudah tahu itu bohong.


Rak-rak kayu tua berdiri tinggi seperti barisan penjaga rahasia. Aroma kertas tua, tinta, dan kayu bercampur menjadi satu. Cahaya matahari jatuh dari jendela tinggi, membelah ruangan menjadi potongan-potongan waktu.


Zaid selalu punya teori kecil tentang perpustakaan tua: buku-buku di sana sebenarnya tidak diam. Mereka hanya menunggu seseorang yang cukup penasaran untuk membuka percakapan.


Dan pagi itu, tanpa ia sadari, percakapan itu sedang menunggunya.



---


Ia berjalan melewati rak manuskrip Andalusia. Tangannya menyusuri punggung-punggung buku yang sebagian besar bahkan tidak lagi dicetak di zaman modern.


Lalu ia melihat sesuatu yang aneh.


Sebuah kotak kayu kecil terselip di antara dua manuskrip tua.


Kotak itu tidak memiliki label. Tidak ada nomor katalog. Bahkan tidak tampak seperti bagian dari koleksi resmi perpustakaan.


“Ini apa?”


Zaid membuka tutupnya.


Di dalamnya hanya ada satu benda.


Sebuah cincin tembaga tua dengan ukiran kaligrafi yang hampir pudar.


Ia memutarnya pelan di antara jari-jarinya.


“Antik banget…”


Dan tepat ketika cincin itu menyentuh kulitnya—


lantai seperti bergeser.


Udara berubah.


Suara yang tadi hanya bisikan pengunjung perpustakaan tiba-tiba digantikan oleh riuh pasar.


Zaid mengerjap.


Sekali.


Dua kali.


Rak buku menghilang.


Sebagai gantinya, jalan batu terbentang di depannya. Orang-orang berjalan dengan jubah panjang. Pedagang berteriak menawarkan kertas, tinta, dan buku. Bau kulit dan tinta memenuhi udara.


Zaid memutar tubuhnya perlahan.


“Sebentar…” gumamnya.


Di kejauhan berdiri megah bangunan yang tidak mungkin ia salah kenali—lengkungan merah-putih yang ikonik dari Masjid Agung Cordoba.


Jantungnya berhenti sepersekian detik.


“Cordoba…?”


Bukan Cordoba yang ia lihat di buku sejarah.


Cordoba yang hidup.



---


Hari terasa seperti mimpi yang terlalu nyata.


Zaid berjalan di antara para penyalin manuskrip, dokter, pelajar, dan pedagang buku. Kota itu terasa seperti festival ilmu yang tidak pernah selesai.


Di sebuah taman kecil dekat madrasah, ia akhirnya duduk untuk menenangkan pikirannya.


Di sana, seorang lelaki tua memperhatikannya sejak tadi.


Jubahnya sederhana. Matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa menimbang pikiran sebelum kata-kata keluar.


“Engkau terlihat seperti orang yang tersesat,” katanya akhirnya.


Zaid tertawa gugup.


“Mungkin memang begitu.”


Lelaki itu tersenyum tipis.


“Aku sering melihat pelajar dari berbagai negeri. Tapi cara engkau memandang kota ini… seperti seseorang yang sedang melihat masa lalu.”


Zaid menatapnya.


“Bagaimana kalau saya benar-benar dari masa depan?”


Lelaki itu tidak tampak terkejut.


Sebaliknya, ia justru terlihat terhibur.


“Kalau begitu,” katanya sambil menunjuk kota Cordoba yang ramai, “engkau sedang menyaksikan sesuatu yang penting.”


“Peradaban.”


Zaid menelan ludah. “Anda siapa sebenarnya?”


Orang-orang di taman lewat sambil menundukkan kepala hormat kepadanya.


Nama itu akhirnya disebut oleh seorang murid yang lewat:


Ibnu Rushd.



---


Mereka berbicara lama.


Tentang filsafat. Tentang ilmu. Tentang bagaimana buku dari Yunani diterjemahkan di Timur, lalu dipelajari kembali di Barat.


“Peradaban,” kata Ibnu Rushd, “bukan tentang siapa yang paling besar. Ia tentang siapa yang mau mendengar.”


Ia menunjuk ke arah kota.


“Di Cordoba, pikiran dari berbagai dunia bertemu.”


Zaid mengingat sesuatu yang pernah ia baca.


“Seperti konsep umran?”


Ibnu Rushd mengangguk pelan.


“Suatu hari nanti,” katanya, “akan lahir seorang pemikir besar bernama Ibnu Khaldun. Ia akan menjelaskan bahwa peradaban hidup dari hubungan manusia—ilmu, solidaritas, dan dialog.”


Ia berhenti sejenak.


“Jika dialog berhenti… peradaban ikut membeku.”


Kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang ditujukan langsung pada Zaid.



---


Cincin di jarinya tiba-tiba bergetar lagi.


Taman Cordoba mulai kabur.


Suara pena, pasar, dan diskusi filsafat perlahan menghilang.


Ketika Zaid membuka mata—


ia kembali berdiri di antara rak manuskrip Perpustakaan Al-Qarawiyyin.


Laptop mahasiswa kembali terdengar.


Langkah turis kembali menggema.


Semuanya normal.


Kecuali pikirannya.


Zaid memandang buku catatannya.


Tangannya menulis satu kalimat:


“Peradaban bukan warisan batu. Ia warisan percakapan.”


Ia memandang cincin di jarinya.


Dan saat itulah ia sadar sesuatu yang membuatnya merinding.


Artefak itu tidak membawanya ke masa lalu.


Ia hanya memperlihatkan bahwa percakapan Cordoba belum pernah benar-benar selesai.


Ia hanya berpindah tempat.


Ke perpustakaan.


Ke kampus.


Ke ruang-ruang diskusi kecil.


Ke generasi baru.


Zaid menutup buku catatannya perlahan.


Dan untuk pertama kalinya ia mengerti—


masa depan peradaban bukan tersembunyi di artefak kuno.


Ia ada di tangan yang berani berpikir.


Dan hari ini,


tangan itu adalah tangannya. ✨


Oleh: Falah


Tuesday, April 21, 2026

Walau Habis Terang


 Matahari baru saja muncul, mengusir sisa dingin semalam di sebuah kompleks perumahan yang masih sepi. Di bawah langit pagi yang cerah itu, Peter tampak santai mengayuh sepedanya. Sebagai mahasiswa, sepedaan pagi memang sudah jadi rutinitas wajibnya biar badan tetap segar sebelum berkutat dengan buku.

“Peter!” panggil seseorang.

Peter menarik remnya pelan. “Eh, Pak Mastur,” sahutnya.

“Pagi-pagi banget udah keluar aja, Pet,” sapa Pak Mastur ramah.

“Iya, Pak, cari keringat biar sehat,” jawab Peter sambil nyengir.

“Oh iya, hari ini mulai kuliah lagi ya?” tanya Pak Mastur.

“Iya Pak, hari pertama masuk.”

“Wah, ya sudah kalau gitu. Semangat ya! Bapak mau berangkat kerja dulu.”

“Hati-hati di jalan, Pak!” jawab Peter.

Keduanya pun berpisah melanjutkan urusan masing-masing.

Peter segera bersiap-siap. Setelah libur panjang yang rasanya nggak habis-habis, akhirnya dia harus kembali ke kampus. Setelah rapi, dia memanaskan motor Vario yang kemarin dia pakai mudik. Jarak kosan ke kampusnya tergolong dekat, cuma butuh waktu 15 menit kalau jalanan lancar.

Sesampainya di kampus, suasana langsung ramai. Peter disambut hangat sama teman-temannya sebelum bergegas masuk kelas. Hari pertama ini rasanya beda, semangatnya masih penuh. Apalagi dosen yang masuk sangat ramah dan cara mengajarnya asyik, bikin satu kelas antusias menyimak materi.

Nggak terasa, jam istirahat tiba. Peter langsung melipir ke kantin buat mengisi perut. Di sana, dia malah ketemu Alex, teman lamanya yang baru banget balik dari London.

“Eh, Lex! Wih, udah di sini aja lu,” sapa Peter sambil menepuk bahu temannya itu.

“Hehe, iya. Baru sampai kemarin sore,” jawab Alex.

Tapi Peter sadar ada yang aneh. “Tapi kok muka lu ditekuk gitu? Murung banget kayaknya.”

Alex menghela nafas panjang. “Huft, biasalah, kepikiran tugas. Lu tahu sendiri kan, dosen gua nggak asyik, ditambah lagi teman-teman di kelas suka ngomongin di belakang,” keluhnya.

“Ya, gua juga ngerasa gitu kok,” kata Peter mencoba menenangkan.

“Tapi dosen lu Pak Irwan, kan? Dia mah seru. Lah, gua?” Alex protes.

“Ya sama aja Lex, tugas kami juga numpuk,” jelas Peter.

“Lu mah enak, kalau salah cuma diingetin dikit. Lah gua? Salah dikit langsung kena semprot, ceramahnya panjang banget lagi,” gerutu Alex.

“Emangnya lu dapet dosen siapa?” tanya Peter penasaran.

“Itu lho, Bu Afiyah,” jawab Alex lesu.

Peter menyeruput kopi susunya pelan, lalu berkata, “Inget Lex, mau gimana pun beliau itu tetap guru kita.”

Dia melanjutkan, “Kita ini mahasiswa, jadi wajar kalau banyak tugas. Di mana-mana juga begitu. Siapa pun dosennya, nggak usahlah kita ngeluh. Justru tekanan kayak gitu yang bikin kita mentalnya jadi. Soal omongan orang? Udah makanan sehari-hari itu. Inget kata-kata ini: Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya tuk terangi jalanmu. Di antara beribu lainnya, kau tetap benderang.”

Alex melongo. “Wih, sejak kapan lu bisa ngomong puitis gitu? Dapet dari mana?”

“Dari lagu, lah!” jawab Peter sambil tertawa.

“Terus, maksudnya apaan?” tanya Alex lagi.

“Maksudnya, kita harus tetap semangat walau masa-masa seneng kayak liburan kemarin udah habis. Apapun kondisinya, kita harus terus maju. Jangan lupa bawa “cahayamu,” maksudnya restu dan doa orang tua, karena itu yang bakal nuntun jalan lu. Jangan gampang baper atau patah semangat. Di antara ribuan orang, kalau lu ngerasa di jalan yang bener, ya tetep pede aja,” jelas Peter.

Alex akhirnya manggut-manggut. Dia sadar kalau memang harus tetap semangat dan nggak boleh gampang menyerah. Kalau memang jalannya sudah benar, ya tinggal lanjut jalan terus.

Oleh: Azami


Tuesday, March 31, 2026

Dalam Jalan Panjang

 



Sore itu cerah. Matahari memancarkan sinar hangat menjelang terbenam. Di lapangan, anak-anak bermain dengan riang. Di tengah suasana itu, seorang kakek melintas dengan motor tuanya.

“Paimen!” sapa seseorang.
“Eh, Thahirin,” jawab kakek.
“Wah, sudah tua masih sehat saja,” ujar Thahirin.
Kakek tersenyum. “Ah, tidak juga. Sekarang sudah tidak sekuat dulu.”
“Iya juga, sekarang tinggal menikmati waktu saja, sambil melihat anak-anak,” balas Thahirin.

Setelah berbincang sebentar, kakek pun melanjutkan perjalanannya.

Belakangan ini, ia memang sering berkeliling kampung setiap sore dengan motor tuanya yang setia menemaninya. Meski begitu, terkadang ia membuat keluarganya khawatir. Sebab ia kerap menyinggung soal kematian dalam ucapannya. Hanya satu orang yang tidak merasa demikian. Ziyad, anak kecil berusia lima tahun yang justru sangat senang mendengar cerita-ceritanya. Entah kisah nyata atau sekadar karangan yang tokoh utamanya diganti kakek, cerita-cerita itu selalu menarik bagi Ziyad.

Sesampainya di rumah, kakek memarkir motornya di depan rumah kayu.

“Kakek!” teriak Ziyad sambil berlari menghampiri. Ia langsung menarik tangan kakek. “Kakek, Ziyad mau jalan-jalan.”

“Sabar, Kakek baru sampai. Memangnya tidak capek?”
“Tidak. Tadi Ziyad sudah tidur,” jawabnya polos.
“Baiklah, Kakek ganti baju dulu supaya tidak kotor.”
“Memangnya kalau kotor kenapa, Kek?”
“Kalau bajunya kotor, nanti Kakek tidak bisa main sama Ziyad,” jawab kakek sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka pun berjalan-jalan menikmati sore. Angin berhembus pelan, menggerakkan janggut putih kakek.

Di tengah perjalanan, kakek bertanya, “Ziyad, kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Ziyad mau jadi pengusaha, Kek,” jawabnya mantap.
“Wah, cita-cita yang bagus. Dulu Kakek hanya ingin jadi petani.”
“Memangnya tidak capek, Kek?”
“Capek, tapi itulah cara Kakek menjalani hidup.”

Ziyad berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa tidak jadi pengusaha saja? Kan uangnya banyak.”

Kakek tersenyum, lalu berkata pelan, “Bekerja itu bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang tanggung jawab. Kita harus yakin dengan pilihan kita, bukan semata karena hasilnya, tetapi juga manfaatnya bagi orang lain. Petani misalnya, tanpa petani, tidak akan ada padi. Sopir juga, tanpa mereka barang tidak akan sampai. Kakek tahu menjadi petani itu tidak mudah, tetapi Kakek senang melihat orang-orang bisa makan dari hasil panen Kakek.”

Lalu kakek pun melanjutkan, “Begitu juga ayahmu. Ia menjadi dosen agar bisa membagikan ilmu yang dimilikinya.”

“Kalau pengusaha bisa apa, Kek?” tanya Ziyad lagi.
“Pengusaha adalah orang yang terus berusaha. Ia membangun dan mengembangkan usahanya, sedikit demi sedikit, sambil bersaing dengan yang lain. Kakek berharap kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses. Tapi ingat, perjalananmu masih panjang. Banyak hal yang belum kamu ketahui, jadi kamu harus terus belajar.”

Ziyad mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang cita-cita, tetapi juga tentang proses panjang untuk mencapainya.

Sore itu, langkah kecilnya terasa lebih mantap. Ia tahu, di perjalanan yang panjang nanti, ia akan belajar banyak hal hingga akhirnya mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Oleh: Azami




Wednesday, March 11, 2026

Dulu, Di Hari Minggu



ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.

“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.

Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.

Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.

“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.

Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.

Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.

“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”

“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.

Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.

“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.

“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.

Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.

Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.

Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.

“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.

“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.

Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.

Selesai sholat, Dika keluar lagi.

“Ayo main lagi!” katanya.

Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.

Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.

Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.

“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”

“Sebentar Bu!” jawab Dika.

“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.

Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.

Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.

Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.

Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.

Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.

“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.

Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.

Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.

Oleh: Arsakha

ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.

“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.

Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.

Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.

“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.

Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.

Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.

“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”

“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.

Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.

“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.

“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.

Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.

Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.

Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.

“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.

“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.

Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.

Selesai sholat, Dika keluar lagi.

“Ayo main lagi!” katanya.

Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.

Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.

Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.

“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”

“Sebentar Bu!” jawab Dika.

“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.

Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.

Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.

Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.

Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.

Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.

“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.

Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.

Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.

Oleh: Arsakha



Friday, February 27, 2026

Menjadi pemimpin yang baik


 Ketika mendengar kata pemimpin, kebanyakan orang langsung teringat pada presiden, pejabat, wali kota, atau tokoh besar lainnya. Padahal, makna pemimpin tidak terbatas pada jabatan tinggi. Pemimpin adalah seseorang yang memimpin, membimbing, dan bertanggung jawab atas suatu kelompok dalam menjalani kehidupan. Dalam Islam, pemimpin tidak hanya bertugas mengatur, tetapi juga menjaga amanah dan menjalankan tanggung jawab sesuai dengan ajaran agama.

Lalu, bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik? Jawabannya adalah dengan meneladani Nabi Muhammad ﷺ. Beliau merupakan pemimpin terbaik bagi umat Islam. Dalam memimpin, Nabi Muhammad ﷺ selalu bersikap adil dan bijaksana, tanpa membedakan antara yang kaya dan yang miskin, yang dekat maupun yang jauh. Semua diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sayang.

Sikap ini menjadi prinsip penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, yaitu tidak membeda-bedakan manusia karena harta atau kedudukannya. Selain itu, kita juga dapat meneladani para Khulafaur Rasyidin, yaitu para sahabat Nabi yang melanjutkan kepemimpinan umat Islam setelah beliau wafat. Mereka memimpin dengan berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu contoh yang terkenal adalah Khalifah Umar bin Khattab. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan tidak hidup bermewah-mewahan. Umar bin Khattab lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya. Beliau juga sangat dekat dengan kaum fakir miskin dan selalu memastikan bahwa mereka mendapatkan haknya. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang adil dan peduli terhadap rakyatnya.

Para pemimpin tersebut tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Mereka memimpin dengan keikhlasan, menjaga amanah, dan berpegang teguh pada sunnah Nabi. Karena itulah, masyarakat yang mereka pimpin dapat hidup dengan aman, adil, dan sejahtera.

Dari semua itu, kita dapat memahami bahwa seorang pemimpin tidak harus kaya harta, tetapi harus kaya akhlak. Akhlak yang baik, keadilan, dan rasa tanggung jawab adalah kunci utama dalam kepemimpinan. Sebab, ketika seorang pemimpin berlaku buruk, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Sebaliknya, jika pemimpin berlaku adil dan amanah, maka kebaikan akan dirasakan oleh semuanya.

Menjadi pemimpin yang baik bukanlah hal yang mustahil. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Dengan meneladani Nabi Muhammad ﷺ, menjaga amanah, dan berpegang pada ajaran Islam, kita dapat menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, dan membawa kebaikan bagi orang lain.

Oleh: Azami