Tuesday, August 25, 2026

Rahmat Rasulullah ﷺ dan Bukti Cinta kepada Beliau

Ketika membicarakan Nabi Muhammad
, banyak hal yang bisa kita teladani dari kehidupan beliau. Rasulullah bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga sosok yang dikenal lembut, penyayang, sabar, dan sangat peduli kepada umatnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Beliau mengajarkan manusia untuk mengenal Allah Ta’ala sekaligus mengajarkan bagaimana memperlakukan sesama dengan akhlak yang baik.

Rasulullah menyayangi anak-anak, menghormati orang yang lebih tua, membantu orang yang membutuhkan, dan mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama. Beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kami.” 

(HR. At-Tirmidzi)

Kasih sayang Rasulullah kepada umatnya juga sangat besar. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan kebaikan bagimu, dan dia penyantun serta penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Ungkapan حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ menunjukkan bahwa Rasulullah sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya. Bahkan ketika dihina, ditolak, dan disakiti, beliau tidak membalasnya dengan keburukan. Beliau memilih bersabar dan memaafkan.

Rasulullah juga bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ 

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” 

 (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa kasih sayang harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mencintai Rasulullah , maka kelembutan, kesabaran, dan sikap pemaaf beliau juga perlu ada dalam diri kita.

Ada sebuah hadis yang menunjukkan betapa rindunya Rasulullah kepada umatnya. Beliau bersabda:

وَدِدْتُ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي

“Aku sangat ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.”

Para sahabat bertanya:

أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللهِ

“Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَإِخْوَانِي قَوْمٌ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِي، يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي

“Kalian adalah sahabat-sahabatku. Sedangkan saudara-saudaraku adalah orang-orang yang datang setelahku, mereka beriman kepadaku meskipun tidak pernah melihatku.”

Kita tidak pernah melihat Rasulullah dan tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Namun, beliau tetap menyebut orang-orang yang datang setelahnya dan beriman kepadanya sebagai saudara.

Hal ini seharusnya membuat kita semakin ingin mengenal Rasulullah , bukan hanya mengenal namanya, tetapi juga mengenal akhlak dan ajaran beliau.

Mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan ucapan. Shalawat dan peringatan Maulid merupakan bentuk kecintaan kepada beliau, tetapi kecintaan itu juga perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Rasulullah mengajarkan kelembutan, kita belajar berbicara dengan lembut. Jika beliau mengajarkan kasih sayang, kita belajar menyayangi. Jika beliau mengajarkan memaafkan, kita belajar untuk tidak mudah menyimpan dendam.

Maulid Nabi seharusnya tidak hanya menjadi sebuah acara. Setelah mengenal kehidupan Rasulullah , ada sesuatu yang perlu diubah dalam diri kita. Yang mudah marah belajar menjadi lebih sabar, yang suka berkata kasar belajar menjaga ucapan, dan yang sulit memaafkan belajar mengikhlaskan.

Rasulullah memang telah wafat, tetapi ajaran dan akhlak beliau tidak boleh ikut hilang. Rahmat beliau akan terus terasa, selama umatnya mau mengikuti sunnah dan meneladani akhlaknya.

Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut nama beliau, tetapi juga tentang seberapa sungguh-sungguh kita berusaha mengikuti ajaran dan akhlaknya.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah , mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, mendapatkan syafaatnya, dan dikumpulkan bersama beliau kelak.

Oleh: Anthony

 

Friday, August 21, 2026

Rasulullah ﷺ sebagai Teladan Sepanjang Zaman


 Di antara miliaran manusia yang pernah hidup dari zaman ke zaman, ada satu sosok yang namanya selalu dikenang dan dicintai oleh umat Islam di seluruh dunia. Beliau adalah Nabi Muhammad , nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah Ta’ala untuk membawa ajaran Islam. Nama beliau selalu kita sebut dalam shalawat dan doa, dan kisah kehidupan beliau terus kita pelajari sebagai teladan dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah hidup lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Kita tidak pernah bertemu beliau, tidak pernah melihat wajah beliau secara langsung, dan tidak pernah mendengar suara beliau. Namun, sampai sekarang beliau tetap menjadi sosok yang sangat kita cintai dan kita jadikan panutan.

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah teladan bagi kita. Bukan hanya bagi orang-orang yang hidup pada zaman beliau, tetapi juga bagi kita yang hidup di zaman sekarang.

Mencintai Rasulullah Bukan Hanya dengan Shalawat

Kita pasti sering mengatakan, “Saya cinta Rasulullah .”

Kita bershalawat, mengikuti kegiatan Maulid Nabi, mendengarkan kisah-kisah beliau, dan merasa senang ketika nama Rasulullah disebut.

Itu semua memang baik. Tetapi menurut saya, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah , kita juga harus berusaha mengikuti beliau.

Jangan sampai kita sering bershalawat, tetapi masih suka berkata kasar kepada orang lain. Jangan sampai kita hafal banyak kisah Rasulullah , tetapi tidak ada satu pun akhlak beliau yang kita coba lakukan.

Cinta itu bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan.

Semakin besar rasa cinta kita kepada Rasulullah , seharusnya semakin besar pula keinginan kita untuk mengikuti beliau.

Belajar Sabar dari Rasulullah ﷺ.

Salah satu akhlak Rasulullah yang sangat penting untuk kita contoh adalah kesabaran beliau.

Kita bisa melihatnya dari peristiwa ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif.

Beliau datang ke Thaif dengan tujuan menyampaikan ajaran Islam. Tetapi masyarakat di sana tidak menerima dakwah beliau. Rasulullah bahkan mendapatkan cacian dan lemparan batu sampai tubuh beliau terluka.

Kalau kita berada di posisi tersebut, mungkin kita akan merasa sangat marah dan ingin membalas.

Tetapi Rasulullah tidak seperti itu. Beliau tidak memilih untuk membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan ketika ada tawaran untuk membinasakan mereka, Rasulullah justru berharap agar suatu hari nanti dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.

Dari sini kita bisa belajar bahwa Rasulullah memiliki kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa.

Sekarang coba kita bandingkan dengan diri kita.

Kadang hanya karena teman mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai, kita langsung marah. Kadang hanya karena komentar seseorang di media sosial, kita langsung membalas dengan kata-kata yang lebih kasar.

Padahal Rasulullah yang mendapatkan perlakuan jauh lebih menyakitkan saja tetap menjaga akhlaknya.

Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Kalau saya mengaku sebagai umat 

Rasulullah , apakah akhlak beliau sudah terlihat dalam diri saya?”

Abdullah bin Umar dan Kecintaannya kepada Rasulullah

Ada sebuah kisah tentang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Abdullah bin Umar dikenal sebagai sahabat yang sangat mencintai Rasulullah . Beliau berusaha mengikuti Rasulullah dalam berbagai hal.

Dikisahkan, ketika Abdullah bin Umar sedang melakukan perjalanan, beliau pernah berhenti di suatu tempat. Orang-orang yang bersamanya merasa heran dan kemudian bertanya mengapa beliau berhenti di sana.

Abdullah bin Umar menjelaskan bahwa dahulu Rasulullah pernah berhenti di tempat tersebut.

Bagi kita mungkin hal itu terlihat sepele. Hanya berhenti di sebuah tempat. Tetapi bagi Abdullah bin Umar, hal itu memiliki arti karena Rasulullah pernah melakukannya.

Dari kisah tersebut kita bisa melihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah . Mereka tidak hanya ingin mengetahui apa yang dikatakan Rasulullah , tetapi juga berusaha mengetahui bagaimana beliau menjalani kehidupannya.

Mereka ingin mengikuti Rasulullah karena mereka benar-benar mencintai 

beliau.Meneladani Rasulullah di Zaman Sekarang

Sekarang kita hidup di zaman yang jauh berbeda.

Kita punya handphone, internet, media sosial, dan berbagai macam teknologi. Informasi bisa menyebar dalam hitungan detik.

Lalu, apakah karena zaman sudah berubah kita tidak bisa lagi meneladani Rasulullah ?

Tentu saja bisa.

Meneladani Rasulullah bukan berarti kita harus hidup persis seperti orang-orang pada zaman beliau. Kita tidak harus meninggalkan teknologi atau kembali hidup seperti zaman dahulu.

Yang perlu kita contoh adalah akhlak dan ajaran Rasulullah .

Misalnya, Rasulullah mengajarkan kejujuran. Maka kita harus belajar untuk jujur.

Rasulullah mengajarkan amanah. Maka kita harus menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.

Rasulullah mengajarkan kita untuk menghormati orang lain. Maka kita harus menghormati orang tua, guru, dan orang-orang di sekitar kita.

Rasulullah juga mengajarkan untuk menjaga lisan. Maka kita harus berhati-hati ketika berbicara, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan sampai karena merasa berada di balik layar handphone, kita merasa bebas menulis apa saja.

Mulai dari Hal yang Sederhana

Untuk mengikuti Rasulullah , kita tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.

Mulai dari menjaga shalat.

Menghormati orang tua.

Menghormati guru.

Berkata jujur.

Tidak mudah marah.

Tidak menyakiti teman.

Menjaga perkataan.

Memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak shalawat.

Dan berusaha memperbaiki akhlak sedikit demi sedikit.

Mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau dilakukan terus-menerus, insyaAllah akan menjadi kebiasaan yang baik.

Kita juga tidak perlu merasa bahwa kita harus langsung sempurna. Kita adalah manusia biasa yang masih banyak kekurangan. Yang penting adalah kita mau belajar dan terus berusaha menjadi lebih baik.

Rasulullah Harus Ada dalam Kehidupan Kita

Menurut saya, mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa banyak kita menyebut nama beliau.

Rasulullah seharusnya juga terlihat dalam kehidupan kita.

Ketika berbicara, kita ingat akhlak Rasulullah .

Ketika belajar, kita berusaha bersungguh-sungguh.

Ketika bersama orang tua, kita menjaga sikap.

Ketika bertemu guru, kita menghormatinya.

Ketika bersama teman, kita tidak mudah menyakiti.

Ketika menggunakan media sosial, kita berpikir sebelum menulis sesuatu.

Dengan begitu, kecintaan kita kepada Rasulullah tidak hanya berada di dalam hati dan ucapan, tetapi juga terlihat dalam perilaku kita.

Penutup

Dunia akan terus berubah. Teknologi akan semakin maju dan generasi akan terus berganti. Tetapi akhlak yang baik akan selalu dibutuhkan.

Karena itu, jangan sampai perkembangan zaman membuat kita semakin jauh dari Rasulullah . Justru di zaman yang semakin maju seperti sekarang, kita semakin membutuhkan beliau sebagai teladan.

Kita mungkin belum bisa menjadi seperti Rasulullah , kita masih banyak salah dan masih banyak kekurangan. Tetapi kita bisa terus belajar untuk mengikuti beliau, sedikit demi sedikit.

Jangan hanya mengatakan, “Saya cinta Rasulullah .”

Mari kita buktikan cinta itu dengan mengikuti sunnah beliau.

Jangan hanya membaca kisah perjuangan Rasulullah , tetapi ambil pelajaran dari perjuangan tersebut.

Dan jangan hanya memperbanyak shalawat dengan lisan, tetapi jadikan shalawat sebagai pengingat agar hati dan akhlak kita semakin dekat dengan Rasulullah .

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita umat Nabi Muhammad yang benar-benar mencintai beliau, mengikuti sunnah beliau, memiliki akhlak yang baik, dan mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat.

Aamiin.

Oleh: Rizqi


Tuesday, August 4, 2026

"Jujur Janggal": Emangnya Wajib Bilang "'Jujur'' Supaya Nggak Bohong?

 


Yaa kembali lagi di part bedah istilah Gen Z. Kalau kemarin kita sudah bahas tentang "when yh", sekarang kita bahas yang "jujur janggal", dan ini pure perspektif saya sendiri yaa.

Kenapa sih ada kata "jujur"? Apakah kalau tidak pakai kata tersebut berarti bohong? Ngga yaa. Kata jujur itu adalah kata penguat dalam menyatakan suatu hal. Sedangkan kata janggal adalah kata imbuhan saja yang tujuannya menarik perhatian para pendengarnya.


Anyway, ini hanya sekadar kreativitas Gen Z membuat istilah di medsos. Kalau kita amati lebih dalam, fenomena lahirnya kosakata baru seperti ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Setiap generasi selalu punya cara uniknya sendiri untuk menciptakan bahasa kelompok yang membuat mereka merasa memiliki ikatan khusus, sekaligus sebagai bentuk kebebasan berekspresi di ruang digital. Dulu mungkin kita mengenal istilah-istilah gaul era 90-an atau 2000-an awal, dan sekarang giliran Gen Z yang memegang kendali dengan racikan kata yang sering kali terdengar kontradiktif namun jenaka.


Kombinasi kata "jujur" dan "janggal" ini sendiri sebenarnya mencerminkan bagaimana anak muda sekarang suka mendramatisasi situasi secara komedik. Kata "jujur" dipakai untuk memberikan seolah-olah apa yang mereka katakan adalah sebuah kabar yang sangat valid. Lalu dipadukan dengan kata "janggal" yang justru memberi kesan kontras, seolah menyiratkan bahwa situasi atau perasaan yang sedang dibahas itu begitu luar biasa, unik, atau bahkan di luar nalar sampai-sampai bikin relate tapi juga mengernyitkan dahi.


Nah, kalau kita lihat dari sudut pandang anak-anak pesantren, fenomena bahasa gaul seperti ini sering kali jadi warna tersendiri di balik tembok asrama. Santri zaman now tidak melulu kaku; mereka juga paham tren medsos yang lagi seliweran. Bedanya, di lingkungan pondok, kreativitas bahasa ini biasanya bergeser menjadi pelipur lara yang khas. Misalnya: Jujur janggal, rasanya baru kemarin masuk pondok, eh sekarang sudah mau sembilan tahun aja mondoknya.


Meski begitu, dibalik keisengan memakai istilah-istilah gaul tersebut, para santri harus tetap punya rem tangan bernama adab. Mereka tahu kapan harus melemparkan candaan santai dengan frasa gaul saat bercengkrama dengan sesama teman, dan kapan harus kembali menggunakan bahasa yang santun saat menghadap guru atau Kiai.


Jadi, kalau ditarik benang merahnya, bahasa gaul ala Gen Z ini sebenarnya nggak perlu ditelan secara mentah-mentah atau sampai bikin pusing kepala. Mereka cuma sedang meracik bumbu komunikasi agar obrolan di media sosial terasa lebih santai, hidup, dan punya vibe yang asyik buat disimak bareng-bareng. Pada akhirnya, bahasa adalah makhluk yang hidup; ia akan terus bertumbuh seiring dengan cara kita beradaptasi dengan zaman.

Gimana menurut kalian? Apakah istilah "jujur janggal" ini sukses bikin obrolan makin seru, atau malah bikin kita geleng-geleng kepala tiap kali mendengarnya?


Finally, sampai jumpa di karya bedah istilah gen Z yang akan datang.

Oleh: Abid

Friday, July 24, 2026

Novel "Tentang Kamu" Karya Tere Liye

    Novel ini menceritakan tentang seorang pemuda pengacara dari London yang mencari ahli waris Sri Ningsih, seorang perempuan yang meninggalkan banyak sekali harta setelah kematiannya. Pemuda tersebut bernama Zaman Zulkarnain.

Zaman Zulkarnain ditugaskan untuk mencari ahli waris Sri Ningsih yang berasal dari Indonesia. Di dalam ceritanya, Zaman berkeliling dari desa ke desa, kota ke kota, pulau ke pulau, hingga negara ke negara. Ia menelusuri riwayat hidup Sri Ningsih dari tempat kelahirannya sampai tempat dimakamkannya.

Di pertengahan cerita, Zaman bertemu dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan Sri Ningsih. Dari tokoh-tokoh tersebut, Zaman belajar bahwa di balik sebuah kesuksesan ada sesuatu yang harus dikorbankan.

Pada akhir cerita novel ini, Zaman telah mengetahui seluruh sejarah kehidupan Sri Ningsih. Ia juga berhasil mendapatkan harta warisan tersebut. Cerita ditutup dengan Zaman yang telah menemukan pasangan hidupnya di sebuah panti di Kota Paris, dan kehidupannya pun terus berlanjut.

Novel ini memiliki penggambaran cerita yang mudah dipahami. Perpaduan antara sejarah, ilmu pengetahuan, dan alur cerita utama membuat kisah ini lebih menegangkan, menyenangkan, sekaligus menambah wawasan pembaca.

Dari novel ini, kita mengetahui bahwa pelajaran yang biasanya dianggap membosankan dapat menjadi menyenangkan jika ditulis dengan brilian.

Oleh: Fathurrahman

Friday, July 17, 2026

Sekelumit Berkah Dari Proses Tholabul Ilmi “Teach You a Lesson"


 Sebuah K-Drama viral akhir-akhir ini, menduduki peringkat pertama untuk kategori serial TV non-Bahasa Inggris di Netflix. K-Drama yang mengadaptasi dari sebuah manhwa berjudul “The Real Lesson” yang sedikit diganti judulnya menjadi “Teach You Lesson”. 

Teach You Lesson menceritakan tentang keadaan Pendidikan Korea yang mulai kehilangan otoritasnya. Disebabkan Undang-Undang perlindungan Hak Anak yang tidak memperbolehkan seorang guru memberikan hukuman kekerasan dalam bentuk apapun kepada muridnya. Akhirnya, kenakalan murid yang ada semakin drastis. Tidak mau tragedi parah ini berlanjut, Menteri Pendidikan akhirnya menciptakan Biro Badan Perlindungan Hak Pendidik (BPHP) yang berwenang untuk melakukan pendisiplinan dalam bentuk apapun. 


Walaupun menempati posisi satu sebagai drama paling diminati nomer satu selama bulan Juni, Teach You a Lesson sempat mendapatkan kecaman. Sama seperti ketika manhwanya dirilis di webtoon, isu yang diangkat dalam cerita terlalu sensitif. Kekerasan yang dianggap sebagai jalan keluar untuk masalah Pendidikan yang semakin runyam dianggap tidak layak.

 

Di Indonesia sendiri, Tindakan kekerasan terhadap anak juga tidak diperbolehkan. Termaktub dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 76C UU No. 35 Tahun 2014, bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Ada pula Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 46 Tahun 2023 yang secara khusus melarang kekerasan fisik, verbal, perundungan, dan bentuk kekerasan lainnya di lingkungan Pendidikan. 


Meskipun begitu, dalam Islam tidak mutlak tidak diperbolehkan melakukan hukuman pukulan demi tujuan Pendidikan. Dalam kitab Fathul Muin karya Syekh Zainuddin Al-Malibari, diperbolehkan untuk memberikan pukulan yang tidak menyakitkan dalam rangka mendidik anak berusia sepuluh tahun yang sulit diingatkan untuk melaksanakan sholat. 


Dalam kitab lainnya, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, sebuah kitab ensiklopedia fikih Islam terlengkap yang diterbitkan oleh Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, dijelaskan pada jilid 13 bab memukul untuk mendidik. Seperti dalam kitab Fathul Muin, pukulan tersebut haruslah pukulan yang aman. Selain itu, guru haruslah mendapatkan izin terlebih dahulu dari wali murid untuk melaksanakan pukulan atau sedikit kekerasan untuk Pendidikan tersebut. 


Maka, apabila diruntutkan dari UU dan hukum-hukum yang termaktub dalam kitab-kitab Salafunas Shalih, pukulan atau sedikit tindak kekerasan tetap diperbolehkan selama mendapatkan izin dari wali murid. Meskipun ada larangan yang terlihat ‘mutlak’ dari UU, namun apabila orang tua memperbolehkan, maka permasalahan tersebut tidak akan sampai ke meja persidangan. 


Sayangnya, Pendidikan yang diberikan oleh mayoritas orang tua zaman sekarang berbeda dengan orang tua zaman dulu. Meskipun Undang-Undang Perlindungan Anak telah ditetapkan sejak lama, namun orang tua zaman dulu tidak mempermasalahkan anaknya yang mendapatkan hukuman dari gurunya. Bahkan, apabila terbukti sang anak salah, orang tua justru menambahkan hukuman untuk anaknya. Sangat berbeda dengan orang tua zaman sekarang. 


Dalam kasus tersebut, bisa dikatakan bahwa orang tua tidak beradab pada pembelajaran yang dilakukan oleh anaknya. Karena sejatinya, bukan murid saja yang perlu menjaga adab, tetapi juga orang tuanya.  


Dalam salah satu kisah masyhur, ada seorang murid yang berguru kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Namun, suatu ketika sang ibu mendapatkan kabar miring yang memfitnah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Termakan oleh hasutan tersebut, sang ibu datang mengambil anaknya karena meragukan dan tidak menghormati cara sang guru mendidik. Akhirnya, pintu “futuh” sang anak tertutup untuk menerima ilmu. Di momen tersebut, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani kemudian menyampaikan, bahwa hilangnya keberkahan seorang murid bisa juga disebabkan oleh tidak beradabnya orang tua kepada guru anaknya. 


Maka dari itu, bisa diartikan bahwa proses belajar tidak hanya antara guru dan murid saja. Orang tua juga merupakan poin penting yang harus diperhatikan. Selain itu, pemerintah juga harus menjamin Pendidikan seluruh warga negaranya, fasilitas yang ada, dan banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan. Maka, pemerintah pun termasuk dalam variabel penting tholabul ilmi seluruh warga negaranya.


Oleh: K-San 


Friday, July 10, 2026

Menjauhkan Diri dari Sifat Hasad: Kunci Hati yang Tenang dalam Islam

 


Hasad atau dengki adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Hasad merupakan perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sifat ini dapat merusak hati, menghilangkan ketenangan, dan merusak hubungan antarsesama.

Dalam Islam, Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan hati. Salah satu doa perlindungan dari kejahatan orang yang dengki terdapat dalam Surah Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)

Rasulullah saw. juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah kita lakukan. Oleh karena itu, seorang muslim harus berusaha membersihkan hati dari rasa iri dan dengki.

Ada beberapa cara untuk menjauhkan diri dari sifat hasad. Pertama, memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Kedua, meyakini bahwa setiap rezeki telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan hikmah-Nya. Ketiga, mendoakan kebaikan bagi orang lain ketika melihat mereka mendapatkan keberhasilan. Keempat, memperbanyak ibadah dan berdzikir agar hati selalu dekat dengan Allah.

Sebaliknya, Islam mengajarkan ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sikap ini mendorong seseorang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan.

Marilah kita senantiasa menjaga hati agar terhindar dari sifat hasad. Hati yang bersih akan melahirkan ketenangan, mempererat persaudaraan, serta mengantarkan kita kepada ridha Allah Swt. Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit dengki dan menggantinya dengan rasa syukur, ikhlas, serta kasih sayang kepada sesama.

Oleh: Zacky


Tuesday, May 5, 2026

Malu yang Salah Tempat


 Pernah nggak sih kamu ingin mencoba sesuatu yang baik atau hal baru, tapi akhirnya batal? Bukan karena nggak bisa, tapi karena takut dilihat orang, takut dihina, atau takut dibilang sok baik. Padahal, yang kamu lakukan itu hal baik dan nggak merugikan siapapun.

Kalau kamu pernah merasakan itu, tulisan ini cocok buat kamu yang ingin mulai lagi pelan-pelan jadi lebih baik.

Sekarang kita pahami dulu: apa itu rasa malu?

Malu itu sebenarnya perasaan nggak nyaman atau segan karena melakukan sesuatu yang dianggap kurang baik. Nah, perhatikan kata “dianggap kurang baik”. Artinya, kalau yang kamu lakukan itu baik, sebenarnya nggak ada alasan untuk malu. Justru itu hal yang seharusnya dilakukan.

Jadi, nggak semua rasa malu itu buruk. Ada malu yang memang harus dijaga, yaitu malu saat melakukan hal yang salah atau maksiat. Tapi ada juga malu yang justru menghambat kita untuk berkembang. Nah, yang seperti ini yang perlu dilawan.

Contohnya apa saja?

Malu bertanya padahal nggak paham.
Malu belajar dari nol karena takut dibilang bodoh.
Malu mencoba hal baru karena takut gagal.

Kedengarannya biasa saja, ya? Tapi justru karena terlalu biasa, banyak orang terjebak di situ tanpa sadar.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya itu bukan sekadar malu. Lebih tepatnya, kita takut sama penilaian orang lain. Kita sibuk mikir, “Nanti orang ngomong apa ya?” Padahal, hidup ini kita yang jalani, bukan mereka.

Lucunya lagi, orang yang kita takuti penilaiannya itu… belum tentu juga mikirin kita. Kita saja yang kebanyakan mikir.

Masalahnya, rasa malu yang seperti ini bisa pelan-pelan menahan langkah kita. Bikin kita ragu, nggak berkembang, dan akhirnya tetap di tempat. Bukan karena kita nggak mampu, tapi karena kita nggak berani mulai.

Coba deh kamu pikirkan:
Berapa banyak kesempatan yang kamu lewatkan karena malu?
Berapa banyak hal yang sebenarnya bisa kamu pelajari, tapi berhenti di awal karena takut terlihat bodoh?

Pada akhirnya, yang paling menyakitkan itu bukan kegagalan, tapi kesempatan yang nggak pernah dicoba.

Lalu, harus mulai dari mana?

Mulai saja dari hal kecil. Nggak perlu langsung besar. Cukup berani bertanya sekali, mencoba satu hal baru, atau keluar sedikit dari zona nyaman. Itu sudah langkah maju.

Lalu, biasakan diri untuk “terlihat bodoh” di awal. Semua orang hebat juga pernah nggak tahu apa-apa. Nggak ada yang langsung pintar tanpa proses.

Terus, ubah cara berpikirmu. Dari yang tadinya “apa kata orang”, jadi “apa manfaatnya buat aku”. Selama itu hal baik, kenapa harus malu?

Dan ingat ini: orang lain nggak sesibuk itu memperhatikan hidupmu. Kamu saja yang terlalu banyak mikir.

Akhirnya, kamu punya dua pilihan: tetap diam karena malu, atau mulai bergerak walaupun belum sempurna.

Karena faktanya, hidup nggak nunggu kamu siap. Hidup berjalan bareng orang-orang yang berani mencoba.

Kadang, yang perlu kita lawan itu bukan rasa takut… tapi rasa malu yang salah tempat.

Oleh: Naim