Monday, January 19, 2026

Tausiyah Isra' Mi'raj Al Fattah Kudus 1447 H

Ahad, 18 Januari 2026 M. Lebih tepatnya 29 Rajab 1447 H. Pesantren kami ikut memperingati peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ. Disela hujan deras dan bencana banjir di beberapa titik Kota Kudus, selaku panitia dan pihak pondok awalnya kebingungan terhadap cara merawuhkan Kyai Shomadi ke pesantren Al Fattah yang mana lokasi ndalem beliau ada di Kecamata Mejobo, Kudus. Disana sangat rawan akan banjir. Akan tetapi atas karunia dari Allah ternyata banjir disana sudah banyak yang surut sehingga ada akses transportasi yang bisa dilewati.


Di awal acara, guru kita semua yaitu Abah Aniq memberi washiat dan Ijazah Musalsal Talqin Bidz Dzikir kepada para santri. Dari jalur Abuya Ahmadi sambung kepada Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah yang mendapat musalsal tersebut dari Rasulullah ﷺ. Ijazah tersebut melaui bebepa cara yaitu mengucapkan kalimah ikhlas atau Lailahaillallah sebanyak 3x dengan suara nyaring seraya memejamkan mata lalu diikuti para santri yang mempraktekkan hal tersebut juga.


Rangkuman Tausiyah dari Kiyai Shomadi

Beliau ngebahas vibe perjuangan awal Islam sampai ke puncak kemuliaan Nabi ﷺ di malam Isra Mi'raj.


🛡️ Era Door-to-Door & Power Para Jagoan


Dulu, dakwah Nabi ﷺ itu ber gerilya dari pintu ke pintu. Nabi ﷺ sampai berdoa minta back-up orang kuat:

 (اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَدِ الْعُمَرَيْنِ)—


"Ya Allah, kuatkan Islam lewat salah satu dari dua Umar (Umar bin Khattab atau Abu Jahal)." Doa itu answered! Ditambah lagi moment heroic Sayyidina Hamzah. Pas tahu Nabi dihina Abu Jahal, beliau nggak pakai lama langsung samperin dan pukul kepala Abu Jahal pakai busur panah sampai bocor! Beliau bilang: "Lo berani hina dia? Aku sekarang di agamanya!" Sejak itu, mental umat Islam langsung up dan kaum haters mulai mikir seribu kali kalau mau bully Nabi.



Kalau kamu cinta orang sholeh, itu tanda ada good vibe di hatimu. Tapi kalau orang sholeh yang cinta sama kamu, itu tandanya ada "secret file" atau nur spesial di jiwamu. Jadi santri itu harusnya fans garis kerasnya ya Kyainya sendiri!


🚀 Isra Mi'raj: The Ultimate Space Trip


Percaya sama Isra Mi'raj itu wajib fardu ain, karena ini part dari Al-Qur'an:

 (سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا). 


Sebelum berangkat, hati Nabi ﷺ dicuci dulu pakai air terbaik, air zam-zam.

Nabi ﷺ naik Buraq yang speed-nya logic error—sekali melangkah sejauh mata memandang. Fisik Nabi ﷺ itu super strong (setara 40 laki-laki), makanya beliau nggak ada cindera apapun meski melaju secepat itu, kalau kita yang manusia biasa.... pasti organ tubuhnya akan tercerai berai. Di jalan, beliau ketemu spoiler dunia:

 * Nenek tua: Simbol kalau dunia ini sudah expired alias tua banget.


Panggilan Iblis: Nabi ﷺ ignore semua distraksi itu.


Stop-over Ibadah: Beliau sholat di Thaybah (calon tempat hijrah), Turisina (tempat Nabi Musa private talk sama Allah), dan Betlehem (tempat lahir Nabi Isa).


🥛 "Pilihan Fisabilillah: Milk Over Wine


Sebelum sampai di Masjidil Aqsha, Malaikat Jibril nawarin 3 bucket minuman: Susu, Khamr, dan Air. Nabi ﷺ fix pilih Susu. Malaikat Jibril langsung bilang: (اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ)— "Kamu milih Fitrah!" Susu itu pure, healthy, dan nggak bikin hangover. Itu simbol kalau ajaran Islam itu straight, clean, dan menenangkan. Kalau pilih khamr, umatnya bakal chaos kena fitnah terus dan banyak minum khamr. Kalau beliau pilih air, maka ummat nya banyak yang kebanjiran 


❤️Sholat itu Moment Me-Time bareng Allah



Yai Shomadi ngingetin kita kalau Sholat itu adalah hadiah biar kita bisa ngerasain nikmat-nya ketemu Allah, sama kayak nikmat-nya Nabi pas Mi'raj.


 * Level 1 (Mukasyafah): Sholatnya para Wali yang sudah "melihat" kebesaran Allah.



 * Level 2 (Muraqabah): Merasa selalu di-monitoring Allah.


 * Level 3 (Wujub): Yang penting gugur kewajiban (ini minimal banget).

Oleh : Ust. M. Faizunnas

Wednesday, November 12, 2025

Catatan Ngaos Tafsir A'la Jinan : Kenapa Yahudi Enggak Srek Sama Malaikat Jibril?



 قُلۡ مَن كَانَ عَدُوࣰّا لِّجِبۡرِیلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلۡبِكَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ وَهُدࣰى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِینَ 


Katakanlah (Muhammad), "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur`ān) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” 


Ayat 97 Surat Al-Baqarah ini muncul karena Allah mau menjawab semua alasan ngeles yang diutarakan Yahudi kenapa mereka enggak mau iman ke Nabi Muhammad ﷺ. Sebelumnya, mereka sudah ngeles dengan klaim merasa cukup dengan Taurat dan klaim auto-Surga karena merasa diri mereka umat pilihan. Nah, alasan ketiga yang paling absurd adalah tuduhan bahwa Malaikat Jibril itu musuh mereka. Padahal, Malaikat Jibril cuma menjalankan tugas! Ayat ini turun untuk menunjukkan betapa konyol dan enggak logis-nya alasan mereka, karena musuhin official messenger berarti musuhin yang ngutus (Allah).


Alasan Benci Jibril: Bad News dan Cepu


Kebencian Yahudi ke Malaikat Jibril itu dasarnya karena dangkal banget mikirnya. Ada dua alasan utama mereka enggak srek. Pertama, Jibril dianggap gak asik (versi ulama mereka, Abdullah bin Ṣūriyā) karena track record-nya selalu bawa warning kehancuran Baitul Maqdis yang beneran kejadian. Kedua, mereka nuduh Jibril itu "Cepu" karena ngaduin semua keburukan dan rahasia mereka ke Nabi ﷺ. Mereka ngotot hanya suka Mikail a.s. (Malaikat Rahmat yang bawa rezeki dan all good vibes), sementara Jibril dituduh Malaikat Adzab dan Bad News. Mereka bilang, kalau saja partner Nabi ﷺ itu Mikail, mereka pasti gampang iman.


Dua Kisah Asbābun Nuzūl: Uji Coba dan Poin Krítis


Ada dua kisah utama yang bikin Ayat 97 ini di-spill Allah. Kisah pertama melibatkan 'Abdullāh bin Salām (ulama Yahudi). Kisah ini berawal ketika Abdullāh bin Salām, seorang kyainya (ulama) Yahudi di Madinah, buru-buru nemuin Nabi Muhammad ﷺ yang baru datang, lalu langsung bilang, "Ya Rasulullah, aku mau ngetes kamu dengan tiga pertanyaan yang cuma Nabi yang tahu: Apa tanda pertama kiamat? Apa makanan pertama Surga? Dan, apa yang bikin anak mirip Bapak/Ibunya?" Nabi ﷺ menjawab dengan spill tegas, "Tiga hal ini baru aja Jibril kasih tahu aku!" yang langsung direspons Abdullah Bin Salām dengan auto-kaget, "Jibril?! Dia itu musuh Yahudi!" Namun, setelah Nabi ﷺ menjelaskan semua jawaban yang valid (untuk jawaban dari Rasulullah, silahkan tonton selengkapnya di YouTube Al Fattah Kudus), Abdullah Bin Salām langsung berseru, "Aku bersaksi kamu memang Rasulullah!", sambil bilang, Yahudi itu tukang bohong, plin-plan, dan susah banget balik ke kebenaran. Tak lama kemudian, rombongan Yahudi datang, dan Abdullāh bin Salām ngumpet di rumah; Nabi ﷺ ngetes mereka dengan bertanya, "Menurut kalian, Abdullāh bin Salām itu orangnya gimana?" Mereka kompak memuji, "Dia yang paling alim dan paling baik di antara kita!" Tapi ketika Nabi ﷺ bertanya, "Gimana kalau Abdullāh masuk Islam?", mereka auto-sewot dan bilang, "Semoga Allah menjauhkannya dari itu!" Saat itu juga, Abdullah Bin Salām keluar dan mengumumkan, "Aku bersaksi Lā ilāha illallāh dan Muhammad Rasūlullāh!", yang langsung membuat Yahudi tadi berubah 180 derajat dan menghinanya sebagai orang terburuk — yang kemudian dijawab Abdullah Bin Salām, "Inilah yang tadi aku khawatirkan!" — dan akhirnya drama ini disimpulkan oleh Nabi ﷺ dengan membacakan Ayat 97 Surat Al-Baqarah, yang menegaskan bahwa musuhin Jibril sama dengan musuhin Allah.


ada lagi satu kisah lainnya, silahkan tonton selengkapnya di YouTube Al Fattah Kudus, hehehe 


Sayyidina Umar : Jibril dan Mikail itu Bestie!


Sayyidina Umar pernah heran karena isi Taurat sama persis dengan Al-Qur'an. Ketika Yahudi kekeuh benci Jibril, Sayyidina Umar ngasih ceramah keras sambil bilang: "Jibril dan Mikail itu enggak mungkin musuhan! nggak mungkin bagi Jibril memusuhi Mikail, dan nggak mungkin juga Mikail mendamaikan musuh Jibril apalagi malah jadi besti nya orang yang musuhin malaikat Jibril!" Intinya, keduanya itu Bestie dan satu tim nya Allah! Sayyidina Umar menutupnya dengan kesimpulan tegas: "Aku bersaksi, keduanya, dan Rabb keduanya, berdamai dengan orang yang damai dengan mereka, dan memerangi orang yang memerangi mereka!" Ketika sayyidina Umar mau ngasih tahu Nabi ﷺ soal diss ini, Nabi ﷺ langsung mendahului dengan membacakan Ayat 97, membuktikan bahwa Wahyu Allah sudah auto-turun karena perdebatan tersebut.


Karya : Muhammad Faizunnas


Friday, October 17, 2025

Part 2 | Menjadi Teman Sama Allah



Siapa yang mengira kita bisa menjadi teman ngobrol Allah? Padahal jelas-jelas Allah adalah Tuhan, Pencipta Alam Semesta. Namun ternyata kita bisa. Di Sebuah kitab Najatul Ahya’ ringkasan Ihya’ Ulumiddin dalam bab Kitabul Adzkar Wad Da’awaat


قال بعض العلماء : إنّ الله عزّ و جلّ يقول : ايّما عبدٍ اطّلعتُ على قلبه فرأيتُ الغالب عليه التمسّك بذكري. تولّيتُ سياستَه وكنتُ جليسَه ومحادثه وأنيسَه


Allah dawuh : “Setiap hambaKu pasti aku intip hatinya. Jika hatinya selalu mengingat dan berdzikir pada Ku, Aku jamin segala urusannya akan Ku Handle (kan Ku selesaikan semua). Dan Aku (Allah) akan menjadi teman ngobrol orang itu serta menjadi penghiburnya.”


Seyogyanya kita menjadi orang yang selalu mengingat Allah. Kita seakan-akan seperti orang yang sedang berbicara dengan Allah. Meskipun ia tidak mendengar jawaban secara langsung, namun hatinya terasa tenang dan nyaman. 

Ibarat di suatu majelis, aku dan kamu sama-sama  menyukai kyai itu. Meskipun kyai itu tidak tidak berbicara apa-apa denganmu dan kita cuma memandang beliau, hati kita langsung tenang. Apalagi jika kita diajak bicara bahkan diberi solusi dalam segala permasalah kita. 

Begitu juga Allah, kamu berdzikir selalu ingat kepada Allah maka Allah akan menjamin semua urusanmu beres. Jika ingin mendapat solusi dari permasalahan maka Allah akan memberimu solusi. Jika ingin mendapat hiburan maka Allah sendirilah yang akan menghiburmu. 

Oleh karena itu, mari kita mengingat dan berdzikir pada Allah agar kita bisa jadi teman ngobrol Allah yang setia.


Oleh : Zacky.


Wednesday, October 15, 2025

Cara Di Notice sama Allah

 Siapa sih yang tidak ingin hidup bahagia?

Pastinya semua orang ingin hidup bahagia. Tapi, tahukah kamu bahwa ada cara yang mudah untuk meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat? Caranya yaitu dengan berzikir kepada Allah.


Zikir termasuk salah satu ibadah kepada Allah yang memiliki banyak fadhilah (keutamaan) dan faedah. Bahkan, dalam Al-Qur’an, Allah telah menyebutkan secara jelas dalam firman-Nya:


فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)


Pada ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mengingat-Nya. Jika kita telah mengingat-Nya, maka Dia pun akan mengingat kita. Siapa yang tidak bahagia ketika dirinya diingat oleh Sang Pencipta?


Menurut Sayyidina Ibnu Abbas, kita harus berdzikir kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apapun (kecuali di tempat-tempat yang memang tidak diperbolehkan). Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:


ذاكر الله في الغافلين كالشجرة الخضراء في وسط الهشيم

"Orang yang berdzikir kepada Allah di tengah orang-orang yang lalai, seperti pohon hijau di tengah pepohonan yang kering."


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


ذاكر الله في الغافلين كالمقاتل بين الفارين

"Orang yang berdzikir kepada Allah di tengah orang-orang yang lalai, seperti seorang pejuang di antara para pelarian."


Dari hadis ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa orang yang tetap istiqomah (konsisten) berdzikir, meskipun berada di tengah lingkungan yang lalai, memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah. Contohnya, saat kita sedang belajar, lalu ada teman yang mengajak nongkrong, jangan sampai kita terbawa arus. Tetaplah fokus belajar.


Itulah sebabnya zikir sangat mulia. Zikir juga merupakan salah satu amalan yang bisa menyelamatkan dari siksa Allah. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku jika zikir tersebut dilakukan dengan tulus dari hati, bukan hanya sebagai pencitraan. Yang justru paling sulit adalah ketika kita sedang sendirian. Karena tidak ada yang melihat, terkadang kita merasa malas. Namun saat di hadapan orang lain, kita justru berpura-pura khusyuk. Sikap seperti ini tentu harus dihindari.


Maka dari itu, marilah kita selalu berzikir kepada Allah, karena zikir bisa menjadi penyelamat di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْتَعَ فِي رِيَاضِ الْجَنَّةِ فَلْيُكْثِرْ ذِكْرَ اللَّهِ

"Barang siapa yang ingin menikmati taman-taman surga, maka perbanyaklah dzikir kepada Allah."


Kesimpulannya, Ayo perbanyak dzikir agar bahagia dunia dan akhirat.



Oleh : Nasywa


Friday, October 3, 2025

𝗗𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵 𝗣𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗔𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻

Langit sore hari nampak cerah. Sayangnya, jalan raya tidak bersahabat. Dalam perjalanan saya menuju Kudus, demi menghadiri Harlah Pondok Pesantren Al-Fattah di Kudus pada Rabu (24/09) ba’da Isya’, truk-truk besar memenuhi jalanan. Kepul asap menghantam muka dari knalpot-knalpot tak tahu tata krama. 

Untungnya, saya akhirnya  bisa hadir tepat waktu. Sebelum Isya’. Mandi terlebih dahulu, membersihkan diri dari gumpalan debu perjalanan dari Semarang, membersihkan diri dari gumpalan dosa karena jauh dari taat selama masa kuliah. Menyiapkan diri untuk acara maulid, untuk menyambut Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. 

Lantunan bacaan Simthud Durror menggetarkan langit-langit, mengetuk hati yang sudah lama rindu kepada Baginda Nabi. Tabuhan Rebana yang kencang menggedor-gedor pintu hati yang selama ini tertutup untuk kebaikan-kebaikan. Suasana yang luar biasa, menenangkan relung jiwa, mengistirahatkan hati dari kemelut masalah dunia. 


Acara Harlah ini dihadiri oleh Habib Muhammad bin Husein bin Anis Al Habsyi dari Solo. Beliau memberikan mauidhoh kepada hadirin tentang sesuatu yang kita miliki, yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh para sahabat yang hidup di zaman Nabi. Yakni menghidupkan sunnah di zaman fitnah. 




إحياء السنة في زمان الفتنة

Dan tentu saja, pahala memperjuangkan sunnah di zaman ini lebih besar daripada di zaman Nabi. 


Habib Muhammad mencontohkannya dengan memakai Imamah, sorban yang biasa dikenakan diatas peci. Pernah beliau melihat ada anak yang dikira mau karnaval dan berperan sebagai Pangeran Diponegoro karena memakai Imamah. 


Habib Muhammad juga mencontohkan dengan memakaikan pakaian putih. Sekarang, orang yang pergi ke Masjid memakai pakaian putih itu jarang. Padahal itu sunnah Nabi. 


"Jangan takut dirasani (digunjingkan) tetangga," ucap beliau. 


Beliau juga menekankan 

rasa atau cinta kepada Baginda Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. 


"Semua keutamaan yang kita miliki, itu semua adalah partikel dari Baginda Nabi," ungkap beliau. 


Jadi, jangan sampai ada orang yang berani mengatakan memiliki keutamaan, dan ngomong kalau keutamaan itu bukan dari Baginda Nabi Muhammad. 


"Dan dakwah yang paling aslam, paling selamat di akhir zaman ini, adalah mengajarkan mahabbah kepada Baginda Nabi."


Habib Muhammad menunjukkan kepada hadirin bagaimana Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi mengajarkan kita lewat dzauq (rasa) cinta kepada Nabi berkali-kali dalam kita maulidnya, Simthud Durror.

Pada akhir kunjungan di Kudus, beliau tak melupakan ziaroh Maqbaroh Abuya Ahmadi Abdul Fattah. Yang mana harlah ini adalah harlah pertama tanpa sosok Abuya di atas kursi. 


Oleh : K-San.

Friday, September 26, 2025

Maulidan Bukan Hanya Sekedar Perayaan



Nabi Muhammad
adalah pemimpin para Anbiya dan pemimpin para sholihin, dan kekasih Allah yang paling mulia. Jika dikatakan,  ‘عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة’ (ketika disebut nama orang sholih, turunlah rahmat Allah.) ‘فكيف بسيدهم؟’ (bagaimana jika yang disebut adalah nama pemimpinnya?)


Suatu saat, nabi Muhammad menghadiri majelis yang menceritakan kisah orang sholih. Di situ, nabi kemudian bersabda :

لِأَنَّ أَجْلِسُ فِي هَذَا الْمَجْلِسِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَ رُقُبٍ

“karena bahwasanya menghadiri majelis seperti ini, lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak”.

 

Jika cerita orang sholih saja dapat menumbuhkan semangat diri kita untuk mengikuti akhlak para sholihin, maka cerita Nabi Muhammad ﷺ seharusnya juga akan menumbuhkan semangat dalam diri kita agar berakhlak seperti beliau.


Maka sebenarnya, perayaan Maulid seperti ini bukan hanya untuk bernyanyi qasidah atau bermain rebana saja, tetapi sejatinya tujuan Maulid seperti ini adalah seperti yang dikatakan Habib Ali ibn Muhammad Al-Habsyi :

تَشْوِيقًا لِلسَّامِعِينَ مِنْ خَوَاصِّ الْمُؤْمِنِينَ، وَتَرْوِيحًا لِلْمُتَعَلِّقِينَ بِهَذَا النُّورِ الْمُبِينِ

“membuat rindu para pendengar (pecinta nabi Muhammad ), dari golongan khusus orang-orang mukmin, dan menjadikan tenangnya hati semua orang yang memiliki ta’alluq dengan Nur (Cahaya) nabi”.

Hikmah Maulid di bulan mulia seperti ini adalah, bagi yang mungkin awalnya belum mengenal Nabi, dengan pembacaan Maulid akan tumbuh semangat dalam dirinya untuk mengenal Nabi dengan membaca sirah (kisah hidup), dan mengikuti akhlak mulia beliau.

Bagi yang sudah mengenal Nabi, pembacaan Maulid akan menjadikan hatinya tenang dengan disebutkannya nama Nabi dalam Maulid. Karena ketika seseorang sedang mencintai sesuatu, satu-satunya obat untuk menyembuhkan rasa rindunya adalah dengan diceritakan orang yang dia cintai.

Itulah sejatinya Maulid, yang dibacakannya akan membuat kita ingat, membuat kita bertambah cinta, dan menjadikan hati kita tenang dengan diceritakannya kekasih kita, Nabi Muhammad ﷺ.



Sampit, 24 Agustus 2025.


Oleh : Wafiq.











































 

Friday, August 15, 2025

Kunjungan Al Habib Hasyim bin Abdrurrahman Alaydrus (Pengasuh Ma’had Al Budur Fii ‘Uluumil Qur’an Tarim, Yaman)

    Selasa, 12 Agustus 2025, Al Habib Hasyim bin Abdrurrahman Alaydrus (pengasuh Ma’had Al Budur Fii ‘Uluumil Qur’an Tarim, Yaman) dengan anugerah Allah dapat mengunjungi Pondok Pesantren Putra Al Fattah Kudus.

    Habib Dr. Hasyim bin Abdurrahman Al-Idrus adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut. Beliau menempuh pendidikan di berbagai tempat, dimulai dari berguru kepada Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar di Baidha’, yang juga merupakan guru dari Habib Umar bin Hafidz, menjadikan beliau berdua berada dalam satu perguruan. Setelah itu, beliau melanjutkan pendalaman ilmunya di Darul Mustofa yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz.

    Beliau melanjutkan pendidikan ke Mesir, di mana beliau meraih gelar sarjana dan magister di Universitas Al-Azhar Asy-Syarif dengan fokus pada tafsir dan ilmu Al-Qur’an. Di sana, beliau juga mendapatkan sanad qira’ah ‘asyrah sughra dan kubra serta berbagai ijazah kitab. Studi doktoral beliau selesaikan di Universitas Az-Zaitunah, Tunisia, di bidang ilmu Al-Qur’an, dengan mengulang program magister di jurusan yang sama, dan beliau lulus dengan predikat mumtaz ma’a martabah syaraf (sempurna dengan sangat mulia). Beliau juga pewaris sanad Al-Qur’an urutan ke-29 dari Rasulullah ﷺ.

Jabatan:

1. Pendiri dan pengasuh Ma’had Al Budur Fii ‘Uluumil Qur’an Tarim, Yaman.

2. Pendiri dan pemimpin Qismut Tahfidz Qur’an di Ma’had Darul Musthofa Tarim, Yaman.

3. Ketua dan pembina Halaqah Qira’ah Sab’ah, ‘Asyrah Sughra Kubra di Ribath Ilmi Asy-Syarif Seiwun, Yaman. (1435 H).

4. Ketua Qismut Tafsir wa ‘Ulumil Qur’an di Universitas Al-Wasathiyyah Asy-Syar’iyyah Hadramaut, Yaman.

5. Anggota Majlis Ifta’ di Ribath Ilmi Asy-Syarif Seiwun dan Darul Faqih Tarim, Yaman.

Dalam tausiyahnya, Al Habib Hasyim menjelaskan beberapa poin utama:

1. Fath dan Al-Qur’an

    Beliau menjelaskan bahwa nama pondok kita – Al Fattah – berasal dari shigat mubalaghah (lafal yang menunjukkan makna hiperbola). Demikian juga merujuk pada asma Allah Al-Fattah yang berarti “Maha Pembuka,” yang banyak membukakan pintu-pintu kebaikan. Beliau menekankan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan futuh atau pembukaan dari Allah adalah melalui Al-Qur’an.

    Fath ini bisa terwujud dalam bentuk pemahaman ilmu yang mudah, kelancaran dalam menghafal Al-Qur’an, dan ketenangan hati. Beliau memberikan contoh dari Al-Qur’an surah ke-48, yaitu surah Al-Fath yang bermakna kemenangan. Surah ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah yang menjadi jalan bagi Allah untuk menganugerahkan kemenangan bagi umat Islam.

    Intinya, dibalik semua kejadian Perjanjian Hudaibiyah, hikmah yang dapat kita ambil adalah bahwa fath atau kemenangan akan turun ketika kita bersabar, karena pertolongan Allah berada bukan pada masa-masa senang dan santai kita, melainkan di masa-masa sulit.

    Sehingga, kalau kalian saat ini belajar dalam masa yang sulit, jauh dari orang tua, makannya sedikit, atau bahkan tidak ada makan, ya sabar. Karena orang yang sabar menghadapi kesulitan seperti itu dalam masa belajarnya, Allah akan memberikan dia futuh, Allah akan memberikan pembukaan terhadap ilmu-ilmunya. Tetapi kalau pekerjaannya tidur–makan, tidur–makan, ya dari mana mau di-futuh?

    Jadi, futuh juga dimulai dari diri sendiri. Di sini beliau juga mengajarkan bahwa ketika engkau berada dalam kesulitanmu, barangkali itu jalan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan kepadamu futuh tersebut.

    Dan jika Allah sudah membukakan seseorang lewat Al-Qur’an, maka ia akan diberi pemahaman yang tiada batasnya, seperti halnya lautan yang tak bertepi. Adapun ilmu-ilmu yang lain diibaratkan sungai-sungainya.

    Setiap kita banyak membaca Al-Qur’an, Allah akan memberikan pemahaman yang baru, dan semakin banyak serta semakin sering mengulang Al-Qur’an, maka semakin besar pula pemberian Allah. Seperti yang dikatakan Al-Imam Asy-Syatibi:

وَإِنَّ كِتَابَ اللهِ أَوْثَقُ شَافِعٍ … وَأَغْنَى غَنَاءٍ وَاهِباً مُتَفَضِّلَا

“Dan sesungguhnya Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah pemberi syafaat (penolong) yang paling kuat, dan merupakan harta karun pemberian yang tak akan ada habisnya dalam memberi kekayaan dan karunia.”

    Bagaimana ciri-ciri kita -orang Indonesia- memperoleh futuh yang kesehariannya tidak berbahasa Arab? Yaitu, pertama, kita mendapat ketenangan hati dan kenyamanan ketika membaca serta mengulang-ulangnya tanpa ada rasa bosan. Kemudian, tingkat kedua adalah memperoleh pemahaman maknanya.


2. Keutamaan Ahlul Qur’an

    Habib Hasyim menyebutkan bahwa orang yang menjadi Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia, bahkan disebut sebagai keluarga Allah. Kedudukan ini lebih agung daripada garis keturunan mana pun.

    Al-Qur’an, menurut beliau, adalah warisan dari Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Warisan Allah ini berbeda dari yang lain, karena semakin banyak seseorang membaca atau menghafal, semakin banyak pula warisan spiritual yang didapatnya. Maka ambillah warisan ini dengan sebaik-baiknya.

    Dan nasihat beliau kepada kita semua adalah:

عَظِّمُوا الْقُرْآنَ وَعَظِّمُوا أَهْلَ الْقُرْآنِ

“Agungkanlah (dengan penuh penghormatan) Al-Qur’an, begitu juga kepada guru-guru kita.”


3. Adab kepada Guru

    Poin terakhir yang ditekankan adalah adab atau etika kepada guru. Beliau menyampaikan bahwa guru lebih mulia dari ayah kandung karena guru membimbing ruh menuju Allah, sementara ayah hanya memelihara jasad.

    Berbakti kepada guru dianggap sebagai bagian dari berbakti kepada orang tua. Bentuk penghormatan utama adalah dengan menuruti perintah, mendoakan, dan menjaga adab.

    Habib Hasyim juga menyampaikan bahwa beradab kepada guru akan membuahkan hasil di mana murid-murid kita di masa depan juga akan beradab baik kepada kita. Sebagaimana jika kita berbakti kepada kedua orang tua, kelak anak-anak kita juga akan berbakti kepada kita.


Oleh : Tim Litbang.

Friday, July 25, 2025

Ringkasan Mauidhoh Abah KH. Aniq Muhammad Makki, B. Sc., MA. Pada Acara Haul Mbah Panggung

Allah itu menyebarkan dan barakahnya kepada orang-orang mulia, khususnya para wali. Rahmat dan barakah yang Allah titipkan kepada para wali itu bukan hanya ketika para wali itu masih hidup, bahkan ba‘da al-wafat pun itu masih bisa diambil barakahnya. Dijelaskan di dalam kitabnya Syaikh Ihsan Jampes yaitu kitab 'سِرَاجُ ٱلطَّالِبِينَ عَلَىٰ مِنْهَاجِ ٱلْعَابِدِينَ', beliau menukil kalam Syaikh Ahmad Zaini Dahlan:

.قَدْ صَرَّحَ كَثِيرٌ مِنَ الْعَارِفِينَ أَنَّ الْوَلِيَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ تَتَعَلَّقُ رُوحُهُ بِمُرِيدِيهِ، فَيَحْصُلُ لَهُم بِبَرَكَتِهِ أَنْوَارٌ وَفُيُوضَاتٌ

"Orang-orang yang sudah mencapai maqām ma‘rifat terhadap Allah itu berkata: para wali itu ketika sudah wafat justru ikatan batinnya terhadap murid-muridnya itu lebih kuat daripada ketika beliau-beliau masih hidup."

Maka tidak aneh, sering terjadi seorang kiai, seorang wali yang sudah wafat, kemudian nurnya atau berkah bisa dirasakan oleh murid-murid beliau. Di dalam kalamnya Al-Imam ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Ḥaddad, beliau dengan jelas berkata demikian:

.ٱلْوَلِيُّ يَكُونُ إعْتِنَاؤُهُ بِقَرَابَتِهِ وَاللَّائِذِينَ بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ أَكْثَرَ مِنِ ٱعْتِنَائِهِ بِهِمْ فِي حَيَاتِهِ

Artinya: para wali itu ketika sudah meninggal, justru perhatian mereka atau didikan mereka dari alam barzakh lebih kuat daripada ketika beliau-beliau masih hidup di dunia. Kenapa? Karena:

.لِأَنَّهُ كَانَ فِي حَيَاتِهِ مَشْغُولًا بِٱلتَّكْلِيفِ، وَبَعْدَ مَوْتِهِ طُرِحَ عَنْهُ ٱلْأَعْبَاءُ وَتَجَرَّدَ

Para wali-wali itu ketika masih hidup, kesibukan dunia mereka banyak, apalagi ruhnya masih nyambung dengan jasad, maka jarang sekali ada cerita wali itu bisa berada di beberapa tempat dalam satu waktu tidak semua orang.

Maka justru perhatian beliau-beliau kepada kita, ketika masih hidup tidak terlalu banyak. Namun setelah wafat, seperti yang dijelaskan Al-Imam ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Ḥaddad, justru mereka terlepas dari basyariyahnya, terlepas dari sifat dunianya, akhirnya perhatian dari alam barzakh itu malah lebih kuat. Maka tidak aneh karena kita golongan Ahlussunnah wal Jama‘ah, terkhusus golongan Nahdlatul ‘Ulama’, itu sangat ditekankan untuk berziarah kubur. Karena kita semua ber‘itiqad, yakin bahwasanya para wali itu belum wafat, hanya jasadnya saja yang meninggal, namun ruhaniyahnya selalu membersamai kita, ruhaniyahnya masih mendidik kita semua.

Pada akhirnya banyak sekali orang-orang setelah melaksanakan ziarah kubur merasa hajat-hajatnya terkabul dan urusan-urusannya dipermudah. Namun apakah kita tega menempatkan para wali dan para ulama yang sudah wafat hanya sebatas di maqam (baca : kedudukan) sebagai perantara pengabul doa kita (yang kita tawassuli) saja? 

Jika kita mengingat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

.كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا

Hadis Nabi melalui riwayat Muslim, beliau berkata: "Dulu aku pernah melarang kalian semua untuk ziarah kubur, namun sekarang berziarahlah."

Terusan hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmizi:

.فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ ٱلْآخِرَةَ

Kenapa Nabi memerintahkan untuk ziarah kubur? Karena ziarah kubur itu mengingatkan kita terhadap akhirat. Kemudian, ziarah yang seperti apa yang bisa mengingatkan kita terhadap akhirat? Di dalam kitab أَفْصَحُ الِّسَان dijawab:

Ziarah yang bisa mengingatkan kita ke akhirat itu tergantung kondisi sahib al-maqbarah (kondisi orang yang diziarahi), karena orang yang diziarahi ini ada kemungkinan tiga macam golongan.

1. Yang pertama: ziarah kepada orang-orang yang terkenal kejelekannya, orang-orang ahli maksiat, tidak shalih sama sekali. Lalu mengapa diziarahi? Karena:

.فَالْحَوْلِيَّةُ أَوْ فَالزِّيَارَةُ لِهَذِهِ الْأَشْخَاصِ تَتَضَمَّنُ مَعْنَى التَّرْهِيبِ

Ziarah ke orang-orang jelek itu ada maknanya, yaitu kita harus hati-hati, jangan sampai mati kita dalam keadaan jelek seperti sahib al-maqbarah, atau bermakna hati-hati jangan sampai suul khatimah seperti orang itu.

2. Kemudian yang kedua: adalah orang-orang yang shalih. Jika ziarah kepada orang-orang shalih, para wali, ini maknanya bukan الترهيب (at-tarhīb) tapi الترغيب (at-targhīb), yaitu kita berziarah namun di situ harus ada makna: kita terdorong untuk melakukan amal-amal shalih. Setelah kita berziarah, “gimana ya caranya bisa sholeh seperti ṣāḥib al-maqbarah, gimana caranya kita bisa ‘ālim seperti ṣāḥib al-maqbarah?” Sehingga ketika kita ziarah ke para wali, keluar-keluar kita bisa tambah kebaikan, iman, dan takwanya.

3. Yang terakhir: ketika yang diziarahi yaitu orang-orang yang bukan hanya sekadar shalih namun maqamnya sudah maqam para nabi, para rasul, dan para sahabat. Orang-orang seperti ini, ketika kita ziarahi, harus kita ingat terhadap manaqib atau sejarahnya. karena rata-rata para wali, kepada kematian itu justru merindukan. Seperti yang dikatakan Al-Imam ‘Ali bin Muḥammad bin Husein al-Habsyi di dalam salah satu qasidahnya:

إِذَا عَلِمَ الْعُشَّاقُ دَاءِي فَقُلْ لَهُمْ

فَإِنَّ لِقَائِِ أَحْبَابِ قَلْبِ دَوَاؤُهُ

“Ketika kamu dan orang-orang yang rindu itu tahu penyakitku itu apa hanya satu, yaitu bertemu dengan kekasih hatiku, yaitu Nabi Muḥammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang dimaksud di sini adalah bukan hanya bertemu Nabi di Madinah saja, namun bisa bersama beliau di satu alam, yaitu alam barzakh.

Cerita seperti ini banyak sekali. Salah satunya adalah kisah Sayyiduna Bilal ketika mendekati ajalnya. Didalam kitab 'Siyar A‘lam an-Nubala’ Juz 1 halaman hal 359 Al-Imam Syamsuddin az-Zahabi menjelaskan:

قَالَ سَعِيْدُ بنُ عَبْدِ العَزِيْزِ: لَمَّا احْتُضِرَ بِلاَلٌ قَالَ: غَداً نَلْقَى الأَحِبَّهْ ... مُحَمَّداً وَحِزْبَهْ قَالَ: تَقُوْلُ امْرَأَتُهُ: وَاوَيْلاَهُ. فَقَالَ: وَافَرَحَاهُ.

Menjelang ajal beliau sayyiduna Bilal terbaring di atas tempat tidur dan berkata : “Besok aku akan bertemu dengan para kekasihku... Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat beliau.”

Sementara istri Sayyiduna bilal duduk disamping beliau seraya menjawab : "Wahai musibah besar ini!" atau "Aduh celaka, suamiku akan pergi!"

Namun Sayyiduna Bilal tidak ikut dalam kesedihan itu. Justru beliau membalas dengan penuh kebahagiaan : "Wahai, betapa bahagianya ini!"

Ketika ziarah kepada orang seperti ini, maka mati bukan menjadi sebuah momok besar atau hal yang menakutkan, akan tetapi kematian menjadi awal dari perjumpaan yang sudah lama dirindukan. Yang berada dibenak bukanlah beratnya siksa dan hisab yang akan diperhitungkan, namun betapa besar nikmat dan karunia yang akan diterima di alam barzakh.

Closing statement dari pembahasan di atas: sekarang tinggal diri kita masing-masing. Apakah kematian kita nanti itu berujung baik atau buruk wallāhu a‘lam itu semua tergantung amal kita masing-masing. Apakah kita termasuk golongan orang yang pertama ataukah orang yang kedua?

Maka kita harus bisa meniru untuk meraih tingkat ketakwaan dan tingkat keshalihan para orang-orang yang diziarahi para wali Allah sehingga kita tidak di tingkat orang-orang yang jelek, tapi di tingkat orang-orang yang shalih, sehingga berkumpul bersama dengan para nabi, siddiqin, syuhada, dan salihin. Aamiin. Wallahu A'lamu Bishowab.

Kudus, 27 Muharrom 1447 H. 


Oleh: Tim Litbang

Thursday, July 24, 2025

Gas atau Nggak? Pilih yang Worth It!

.من لم يذق ضيق الهم لم يذق عيش الّذة

“Barangsiapa yang tidak pernah merasakan sempitnya kegelisahan, maka ia tidak akan merasakan manisnya hidup yang penuh kenikmatan”.

.‎من لازم طرق الباب يوشك أن يفتح له 

‏“Barangsiapa yang terus mengetuk pintu, niscaya akan dibukakan untuknya”. 

(Syeikh Said Al Kamali).

    Orang orang yang sukses adalah orang orang yang merelakan hal yang tepat diwaktu yang tepat, mereka tidak takut untuk menentukan suatu keputusan dengan pemikiran jangka panjang bahkan jika itu terdapat resiko, namun resiko terukur dapat membuka peluang kesuksesan lebih besar. So, jangan takut untuk mengambil keputusan atau resiko dari suatu apapun dalam hidupmu.

    Perjuangkan apa yang worth it untukmu, yang menjadi pemicu semangat ketika engkau menjalaninya. Jangan banyak berandai-andai, berfikirlah realistis. Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang tidak benar-benar diinginkan, walaupun menurut sebagian orang itu impian. Sehingga, meskipun sulit untuk dijalani, karena hal ini tepat, maka mudah & worth it untukku.

    Jadi apa yang kita lakukan kita gabisa hanya main aman, kita harus memberanikan diri kita untuk menyerah. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk berhenti melakukan hal-hal yang menurut kita tidak efektif untuk mencapi goal-goal kita tadi, supaya menjadi yang terbaik di bidang yang kita pilih.

    Ada konsep ‘opportunity cost’ (biaya peluang) namanya, yaitu kamu harus membayar sesuatu yang kamu pilih dengan merelakan suatu lain yang engkau tinggalkan, dan rela melakukan itu karena kamu yakin telah mengambil jalan yang berpotensi untukmu.

    Dalam hidup, kita tidak bisa terus bermain aman. Kesuksesan tidak datang dari zona nyaman, melainkan dari keberanian untuk memilih, merelakan, dan mengambil risiko yang terukur. Keputusan besar memang menuntut pengorbanan, namun justru di situlah kita belajar menjadi pribadi yang lebih fokus, tajam, dan berani menghadapi kenyataan.

Ketika kita berani melepaskan sesuatu yang tidak lagi efektif demi sesuatu yang lebih sejalan dengan tujuan kita, itulah bentuk kedewasaan dan kemajuan. Maka jangan takut membuat keputusan, selama itu diambil dengan kesadaran, perhitungan, dan keyakinan.

Hidup bukan tentang melakukan segalanya, tapi tentang melakukan yang paling tepat. Dan untuk itu, kita harus rela meninggalkan sesuatu agar bisa sungguh-sungguh menjemput yang lebih berharga.

"Don’t think to do the best, but think to do the best wherever you live get success in the world."

 "Jangan hanya berpikir untuk menjadi yang terbaik, tapi berpikirlah untuk melakukan yang terbaik di mana pun kamu berada agar meraih kesuksesan di dunia."

(Abah Aniq Muhammad Makki, dalam buku majalah IKSAB 2007 / 2008 M.)


Oleh : Yusrul Falah.