Friday, February 13, 2026

Benarkah Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Hadits Populer: Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Tidak terasa waktu ini berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu, hingga tanpa kita sadari sebentar lagi kita akan kembali dipertemukan dengan bulan yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman: bulan suci Ramadhan.


Di momen seperti ini biasanya mulai beredar sebuah hadis yang berbunyi:


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.”


Secara kajian literatur hadis, para ulama ahli hadis menegaskan bahwa redaksi ini tidak memiliki sanad yang kuat. Sebagian menilainya dhaif, bahkan ada yang menganggapnya maudhu’ (tidak sah berasal dari Nabi ﷺ). Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menyandarkan suatu ucapan kepada Rasulullah ﷺ. Jadi, kalau mau menyampaikan hadis ini harus dikasih catatan: hadis ini secara sanad tidak sahih, bisa dhaif bahkan maudhu’.


Namun demikian, meskipun redaksinya tidak sahih sebagai hadis, makna kegembiraan menyambut Ramadhan bukanlah sesuatu yang tercela. Justru rasa bahagia adalah ekspresi iman. Allah ﷻ sendiri berfirman dalam Al-Qur’an agar manusia bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Dan Ramadhan jelas merupakan karunia besar, bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.


​Ramadhan: Tamu yang Tak Menuntut, Tapi Memberi


​Bayangkan Ramadhan adalah seorang tamu agung yang datang membawa koper penuh hadiah. Selayaknya tuan rumah yang baik, persiapan kita tidak boleh setengah-setengah:


  1. ​Persiapan Sarana (Dhahiriyah): 

Persiapan lahiriah bukan hal remeh. Membersihkan sajadah, mencuci mukena atau sarung, merapikan mushaf, hingga memastikan masjid nyaman bagi jamaah, semua itu adalah bagian dari adab menyambut bulan suci. Lingkungan yang bersih dan tertata akan membantu hati lebih mudah khusyu’.

Selain itu, menjaga kesehatan juga termasuk persiapan fisik. Mengatur pola makan sebelum Ramadhan, membiasakan diri bangun lebih awal, dan mengurangi begadang akan membantu tubuh lebih siap menjalani ibadah puasa dan qiyam.

  1. ​Persiapan Hati (Bathiniyah): 

Inilah yang paling penting. Hati adalah wadah. Jika wadahnya kotor oleh iri, dendam, riya’, dan prasangka buruk, maka limpahan rahmat Ramadhan sulit menetap di dalamnya.

Menyambut Ramadhan berarti memulai proses pembersihan diri: meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan memperbanyak istighfar. Jangan sampai kita memasuki tanggal 1 Ramadhan dengan hati yang masih penuh beban.

Kegembiraan yang benar bukan sekadar ucapan “Marhaban ya Ramadhan” di media sosial, tetapi kesiapan ruhani untuk berubah.

  1. ​Persiapan Aksi (Rencana): 

Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah tahunan—tempat kita “naik kelas” dalam iman dan takwa. Tanpa rencana, Ramadhan akan berlalu seperti bulan-bulan lainnya.

Cobalah membuat target yang terukur:

  • Berapa kali khatam Al-Qur’an?

  • Bagaimana jadwal tilawah harian?

  • Apakah akan mengikuti kajian rutin?

  • Berapa persen dari rezeki yang akan disedekahkan?

  • Bagaimana menjaga lisan dan media sosial dari hal sia-sia?

Dengan rencana yang jelas, Ramadhan tidak lagi sekedar rutinitas, tetapi proyek transformasi diri.


​Menutup Celah "Sekedar Haus dan Lapar"


​Banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Mengapa? Karena mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas seremonial.

​Kegembiraan yang sesungguhnya harus dibuktikan dengan aksi. Jika kita senang akan datangnya Ramadhan, maka kita akan mempersiapkan jadwal tilawah, mengatur waktu istirahat agar kuat bangun sahur, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang kekurangan.


​"Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini bukan sekadar pergantian bulan di kalender, tapi momen transformasi besar dalam hidup kita.”


Oleh: Abid


Latest
Next Post

0 comments: