Sejak Shalahuddin memimpin Mesir, pengaruh dan kewibawaannya semakin besar. Hal ini menimbulkan rasa iri di kalangan tertentu. Mereka kemudian menyampaikan laporan kepada Nuruddin Zanki bahwa Shalahuddin berniat merebut Mesir dari kekuasaannya. Mendengar kabar tersebut, Nuruddin merasa tidak terima. Ia pun menyiapkan pasukan bersenjata untuk menyerang Mesir dan menurunkan Shalahuddin dari tahtanya.
Rencana penyerangan itu segera diketahui oleh Shalahuddin. Ia bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dengan mengerahkan seluruh kekuatan militernya. Padahal, pada saat yang sama, musuh-musuh Islam sedang menyusun strategi besar untuk menyerbu dan menguasai wilayah-wilayah Islam. Namun, sebelum Nuruddin sempat melancarkan penyerbuan ke Mesir, ia wafat di Damaskus pada tahun 596 H.
Untuk mempertahankan Mesir dari ancaman pengikut Fatimiyah serta menghadapi pasukan Salib di Suriah dan Palestina, Shalahuddin mendirikan sebuah benteng di atas Bukit Muqattam, Kairo. Benteng tersebut dikenal dengan nama Benteng Salah El-Din al-Ayyubi. Selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan, benteng ini juga menjadi kubu pertahanan militer yang kuat dalam menghadapi serangan dari luar. Shalahuddin juga merencanakan penghubungan benteng ini dengan perbentengan Kairo kuno peninggalan Dinasti Fatimiyah, sehingga wilayah pertahanan diperluas hingga memagari Kota Fustat sepanjang Sungai Nil.
Oleh: Arsakha


0 comments: