Tuesday, January 27, 2026

Menyiapkan Hati di Bulan Sya‘ban


Bulan Sya‘ban merupakan bulan yang sering kali terlewatkan oleh banyak orang. Padahal, bagi para salafus shalih, Sya‘ban merupakan bulan persiapan hati sebelum memasuki bulan suci bulan Ramadhan. Jika Ramadhan adalah musim panen, maka Sya‘ban adalah waktu kita untuk mengolah tanah dan membersihkannya dari rerumputan.

Hati adalah pusat segala amal. Rasulullah ﷺ bersabda,


أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم


“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).


 Maka membersihkan hati di bulan Sya‘ban menjadi perkara yang sangat penting, agar ketika Ramadhan datang, hati sudah siap menerima cahaya ibadah, bukan justru sibuk dengan penyakit-penyakit batin.

Penyakit hati seperti hasad, dengki, riya’, ujub, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan sering kali tidak terasa, namun dampaknya sangat besar. Ia mengeraskan hati, melemahkan keikhlasan, dan mengurangi manisnya ibadah. Betapa banyak orang yang secara lahiriah berpuasa, namun hatinya masih dipenuhi kebencian dan iri terhadap sesama. Maka Sya‘ban adalah momentum untuk muhasabah, menundukkan ego, dan memohon kepada Allah agar disucikan batin kita.


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada bulan Sya‘ban, amal-amal diangkat kepada Allah. 


يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَىٰ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


Artinya: Allah ‘azza wa jalla melihat (amalan) hamba-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Ia mengampuni semua makhluknya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan (HR At-Thabrani).  


Para ulama memahami bahwa inilah salah satu hikmah memperbanyak amal dan taubat di bulan ini, agar ketika catatan amal diangkat, hati kita berada dalam keadaan bersih dan penuh penyesalan atas dosa. Membersihkan hati bukan hanya dengan banyak istighfar di lisan, tetapi juga dengan memaafkan sesama, meluruskan niat, dan menjauhkan diri dari permusuhan.


Bagi seorang santri, bulan Sya‘ban adalah waktu untuk memperbaiki hubungan: hubungan dengan Allah melalui taubat dan doa, serta hubungan dengan manusia melalui akhlak dan adab. Santri diajarkan bahwa ilmu dan ibadah tidak akan bercahaya jika hati masih gelap. Maka sebelum Ramadhan tiba, hati perlu disapu, dibasuh, dan ditata agar layak menjadi tempat turunnya rahmat.


Jangan sampai bulan Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi bulan perubahan. Puasa terasa mudah tidak ada paksaan, Al-Qur’an terasa dekat, dan doa mengalir dengan penuh harap. Semoga Allah memberi kita taufik untuk memanfaatkan bulan Sya‘ban dengan sebaik-baiknya, membersihkan hati dengan sungguh-sungguh, agar ketika Ramadhan datang, kita termasuk hamba-hamba yang siap menyambutnya dengan hati yang hidup dan penuh cahaya.


Oleh: Naim


Latest
Next Post

0 comments: