Friday, January 16, 2026

Di Pinggiran Kota


 Di sebuah desa yang terletak di lereng gunung, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Fatih, anak yang dikenal rajin dan cerdas. Sejak muda, Fatih mengabdikan dirinya dengan mengajar anak-anak mengaji di kampungnya.

Seiring berjalannya waktu, usia Fatih pun bertambah. Ia mulai menyadari bahwa sudah saatnya ia bekerja dan membantu keluarganya. Pada suatu malam, ketika ayahnya sedang duduk di teras rumah, Fatih dipanggil untuk berbincang.

Fatih kemudian duduk di samping ayahnya.
“Nak, usiamu sudah cukup dewasa. Apa kamu tidak ingin bekerja?” tanya ayahnya dengan nada lembut.
“Sebenarnya saya sudah mendaftar di sebuah perusahaan besar, Yah. Hanya saja masih bingung kapan harus berangkat,” jawab Fatih.
“Kalau begitu, besok saja. Tidak ada salahnya bersegera,” kata ayahnya.

Mendengar itu, Fatih segera mengemasi barang-barangnya malam itu juga. Ia berharap keesokan pagi dapat segera berangkat.

Keesokan paginya, ayah Fatih berdiri di depan rumah.
“Nak, cepat! Nanti terlambat!” serunya.
“Iya, Yah!” jawab Fatih dari dalam rumah.

Ayah pun mengantarkan Fatih menuju terminal bus dengan sepeda motor tuanya. Suasana pagi yang sejuk dan indah seolah menjadi salam perpisahan bagi Fatih. Deru mesin motor ayahnya menemani perjalanan mereka hingga sampai di terminal.

Tak terasa, saat perpisahan pun tiba. Ayah Fatih berpesan,
“Semangat, Nak. Semoga berhasil. Jangan tinggalkan sholat. Tetaplah berbuat baik meskipun kamu disakiti. Semoga Allah melindungimu.”

Bus mulai berjalan, membawa Fatih menuju kota besar dan lingkungan baru. Desa kelahirannya perlahan menghilang dari pandangan. Sepanjang perjalanan, Fatih hanya memegang erat Al-Qur’an kecil kesayangannya, yang setia menemani langkahnya merantau.

Setelah perjalanan panjang, Fatih akhirnya tiba di ibu kota yang megah dan ramai. Hujan menyambut kedatangannya. Ia melihat suasana dan gaya hidup yang sangat berbeda.
“Ternyata di kota banyak kendaraan mewah,” batinnya.

Setelah turun dari bus, ia melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju kos.
“Di kota semewah ini ternyata angkot masih ada,” pikirnya sambil tersenyum. Perjalanan ia lalui dengan mengobrol bersama sopir angkot. Tak lama kemudian, ia pun sampai di kos, mengemasi barang-barangnya, lalu beristirahat untuk menghadapi hari esok.

Tak terasa, sekitar lima tahun berlalu. Hidup Fatih berubah drastis. Ia telah memiliki rumah dan mobil, serta kehidupan yang berkecukupan. Kemewahan kota menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, ada hal yang mengusik hatinya. Fatih mulai jarang mendengar suara azan. Kegiatan keagamaan seperti pengajian dan majelis ilmu hampir tak pernah ia temui. Yang ia rasakan justru kemacetan, polusi, dan gaya hidup bebas yang perlahan menjauhkannya dari agama.

Suatu hari, Fatih mencoba mengungkapkan kegelisahannya kepada teman kantor.
“Ah, ini kota besar, bukan desa. Wajar kalau agama jarang kelihatan. Kalau mau yang religius, mending jadi orang desa saja,” jawab temannya.

Fatih hanya bisa beristighfar dan terus berdoa kepada Allah agar diberikan jalan keluar.

Sore itu, saat hendak pulang, Fatih dihampiri rekan kerjanya bernama Qodir.
“Tih, mau pulang?” tanya Qodir.
“Iya,” jawab Fatih.
“Kok belakangan kamu kelihatan bingung?”

Fatih pun menceritakan semuanya. Qodir mengangguk memahami.
“Memang kemewahan kota sering membuat orang jauh dari agama. Tapi kalau kamu mau, di pinggiran kota ada pengajian. Nih, aku share lock.”

Dengan penuh semangat, Fatih segera bersiap dan berangkat. Sesampainya di sana, ia mengikuti pengajian dengan khidmat. Hatinya terasa tenang dan bahagia karena dapat kembali mendekat kepada agamanya.

Dari pengalaman itu, Fatih menyadari bahwa kemewahan dapat menjadi ujian. Jika tidak disikapi dengan iman, kemewahan bisa menjauhkan seseorang dari agama, bahkan perlahan menghilangkannya dari dalam diri.



Previous Post
Next Post

0 comments: