Saturday, May 25, 2019

Sekelumit Karomah Mbah Arwani Kudus #2



1.  KETIKA KIAI ARWANI AMIN DIPEREBUTKAN PARA BIDADARI SURGA

Kiai Arwani Amin, Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, istri beliau tidak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit, keadaan berbalik begitu drastis.

Karena kebingungan, kedua putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Luthfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk.

Ini bagaimana, Habib ?,” keluh mereka.

Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini, Habib Luthfi tidak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum.

Nggak apa-apa,” kata beliau

Kemudian beliau melanjutkan, “Ibu kalian itu uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.

Cemburu bagaimana, Habib ?,” mereka tak memahami.

Allah SWT memberi Kasyaf (tersingkapnya tabir gaib) kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, yaitu abah kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Lutfi.

Ketika kedua putra Kiai Arwani pulang kembali ke rumah, mereka menanyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “Bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat Abahmu dipeluk perempuan cantik-cantik !.

Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal dunia ? .

(Cerita ini dikisahkan oleh KH. Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016)

Sumber: Situs PBNU

2.   KERENDAHAN HATI KIAI ARWANI

Suatu hari, KH. Ma’ruf Irsyad bersama Ibu Nyai Hj. Munijah sowan ke rumah KH. Arwani Amin (Mbah Arwani). Di rumah Mbah Arwani, Kiai Ma’ruf dan Nyai Hj. Munijah dipersilakan duduk di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Kiai Ma’ruf kaget, karena Mbah Arwani justru duduk lebih rendah dari tempat yang disediakan itu.

Melihat pemandangan tidak wajar itu, Kiai Ma’ruf bertanya, “Mbah Yai, njenengan (Anda) kok duduk di bawah?.

Mbah Arwani menjawab tegas, “Yang datang ke rumah saya ini, istrinya teman guru saya.

Tentu Kiai Ma’ruf tak bisa berbuat apa-apa lagi mendapatkan perlakukan istimewa dari sang guru, KH. Arwani Amin, yang selain Alim-Allamah, juga pernah disebut oleh Mbah Hamid Pasuruan sebagai sosok waliyullah Kudus yang sangat dikenal akhlak mulianya.
Tidak hanya di ruang tamu, ketika pulang pun, Kiai Ma’ruf tambah dibuat heran dan kagum. Jalan menuju pulang penuh dengan kerikil batu yang mengganggu. Tanpa diduga, Mbah Arwani menyingkirkan kerikil tersebut dengan tangannya sendiri, tidak memerintah kang santri agar perjalanan pulang istri teman gurunya lancar.

Mbah Yai, ampun, sudah-sudah, tidak usah Mbah Yai,” kata Kiai Ma’ruf.

Sudah, diam saja,” sahut Mbah Arwani dengan tetap menyingkirkan kerikil yang sebetulnya tidak perlu.

Cerita di atas dituturkan sendiri oleh KH. Ma’ruf Irsyad di sela-sela mulang ngaji santri di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM), Jagalan Kudus.

Apa yang dilakukan oleh Mbah Arwani tersebut bukan sesuatu yang berlebihan dan sia-sia. Itu adalah teladan berharga atas akhlak mulia dan hormatnya seorang alim kepada istri teman gurunya. Bayangkan, bukan gurunya, tapi istri teman dari gurunya.

Nyai Hj. Munijah, ibu Kiai Ma’ruf Irsyad, adalah istri KH. Irsyad yang berteman akrab dengan guru KH. Arwani Amin yang bernama Mbah Manshur, Popongan, Klaten. Kepada Mbah Manshur yang asli Mranggen inilah Kiai Arwani belajar thariqah

Sumber: santrimenara.com

3.   KEMULIAAN AKHLAK KH.M. ARWANI AMIN

KH. Muhammad Arwani Amin, sosok ulama kharismatik yang lahir di Kudus, Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, bertepatan dengan 5 September 1905 M. Selain masyhur sebagai seorang ulama yang sangat mencintai Al-Qur’an, pendiri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an tersebut juga dikenal karena memiliki akhlak dan etiket yang sangat patut untuk dijadikan teladan.

Dalam keseharian KH. Muhammad Arwani Amin, atau masyarakat sekitar biasa memanggil dengan sebutan Mbah Arwani, sangat memuliakan tetangga, para tamu, bahkan seorang pedagang yang menawarkan barang dagangan ke rumahnya. Semua kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, pengusaha, hingga masyarakat biasa mendapat penghormatan yang sama. Mbah Arwani memuliakan mereka tanpa memandang status sosialnya.

Pernah suatu ketika ada pedagang sarung yang datang ke rumah beliau dan menawarkan sebuah sarung biasa (murah) tetapi pedagang tersebut mematok harga yang sangat tinggi. Khadim beliau, yaitu KH. Muhammad Manshur yang mengetahui hal tersebut lantas matur (bilang) kepada Mbah Arwani, “Sebenarnya harga sarung itu murah, Mbah. Jenengan sudah ditipu oleh pedagang itu.
Lantas Mbah Arwani menjawab, “Biarkan saja, harusnya kita tetap bersyukur. Syukurlah bukan kita yang dijadikan Allah sebagai penipu.

Mbah Arwani juga sering melakukan hal-hal yang semestinya “tidak perlu” beliau lakukan.

Dikisahkan dari pengalaman seorang yang pernah bertamu di rumah Mbah Arwani. Setiap lebaran saya sowan (silaturrahim) ke rumah Mbah Yai. Tamu-tamu yang datang tentu bukan hanya saya, banyak sekali. Ketika rombongan kami masuk ke ruang tamu, langsung disambut beliau dengan keramahan. Setelah kami duduk, beliau mohon pamit sebentar, lalu menuju pintu dari mana tadi kami masuk. 
"Apa yang dilakukan beliau ?," batin saya. Saya terkejut ternyata beliau menata dan merapikan sandal-sandal kami.
Menurut KH. Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU) yang juga merupakan salah satu santri Mbah Arwani berpendapat, setidak-tidaknya ada tiga hal yang sangat menonjol pada diri KH. Muhammad Arwani Amin. Pertama, kedalaman ilmu pengetahuan agama (Islam), terutama pengetahuan terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Kedua, ketawadhu’annya. Sebagai seorang Ulama besar yang sudah dikenal masyarakat luas, Mbah Arwani tetap rendah hati dan selalu hormat kepada setiap orang dengan tanpa melihat apakah ia orang terpandang atau hanya orang biasa. Ketika KH. Raden Asnawi masih hidup, beliau pernah menganjurkan kepada KH. Muhammad Arwani Amin agar mendirikan pondok, tapi beliau menolak dengan alasan di Kudus sudah banyak pondok. Beliau hanya akan urun mengajar saja. Hal ini sebenarnya menunjukkan ketawadukan dan kehalusan perasaannya.

Ketiga, salah satu prinsip hidup beliau adalah “Idkhalus Surur” artinya, beliau selalu berusaha untuk menyenangkan dan menggembirakan orang. Itulah sebabnya, dalam pergaulan beliau senantiasa berperilaku yang membuat orang senang karenanya. Sebaliknya, beliau paling tidak suka merepotkan orang lain.

Di samping kealiman Mbah Arwani sebagai seorang ulama, beliau senantiasa menjunjung tinggi sikap rendah hati dan memuliakan orang lain. Ihwal akhlak dan etiket beliau yang telah dipaparkan di atas, sudah semestinya kita jadikan teladan dalam berperilaku bermasyarakat. Al-Fatihah.

Sumber : Situs PBNU
Wallahu A’lam

Dari Agus H. Aniq Muhammad Makki, Lc

Saturday, May 18, 2019

Sekelumit Karomah Mbah Arwani Kudus #1



1.   AIR PUTIH PEMBERIAN MBAH ARWANI BERFUNGSI SEBAGAI BAHAN BAKAR

Suatu hari, Mbah Arwani pergi ke luar Kota untuk menghadiri suatu acara bersama beberapa Kiai dengan menggunakan mobil. Selepas menghadiri acara, rombongan Mbah Arwani pun pulang menuju Kudus. Baru sampai di daerah Rembang tiba-tiba mobilnya mogok. Setelah diperiksa oleh sang sopir, ternyata bahan bakar mobilnya habis. Sang sopir dan beberapa anggota rombongan bingung, karena pada waktu itu sangat jarang keberadaan SPBU atau yang menjual BBM eceran di pinggir jalan.

Di saat sopir dan para Kiai kebingungan, tiba-tiba Mbah Arwani memberi air putih kemasan dan dawuh (berkata), “Coba tuangkan pakai air putih ini.

Tanpa ragu, sang sopir pun mengiyakan dawuh Mbah Arwani tersebut. Subhanallah… mobil pun kembali bisa berjalan.

2.   MBAH ARWANI PERGI KE MADINAH DALAM SEKEJAP

KH. Manshur Popongan adalah guru Thariqahnya Mbah Arwani. Saat Mbah Manshur dirawat di sebuah Rumah Sakit di Kota Solo, Mbah Arwani menjenguk gurunya itu. Di sela-sela obrolan guru dan muridnya tersebut, tiba-tiba Mbah Manshur minta sesuatu kepada Mbah Arwani, “Mbah Arwani, saya ingin sekali makan kurma hijau, apa sampeyan bisa mencarikan untukku ?.

Dengan bergegas Mbah Arwani pun menyanggupi permintaan gurunya itu. Dalam sekejap, setelah Mbah Arwani keluar dari kamar tempat gurunya dirawat, Mbah Arwani langsung tiba di Kota Madinah Al-Munawwarah.

Setelah sampai di Madinah, Mbah Arwani pun langsung mencari kurma hijau di sebuah pasar Kota Madinah. Sehabis membeli kurma hijau, Mbah Arwani tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW dan shalat di Masjid Nabawi. Namun, baru beberapa raka’at shalat selesai didirikan, Mbah Arwani melihat gurunya sudah berada di belakangnya. Betapa kaget Mbah Arwani karena sudah disusul oleh gurunya itu. Gurunya pun dawuh (berkata), “Selesai shalat langsung pulang, ya ?.

Mbah Arwani pun menjawab, “Nggeh, Mbah Yai.

3.   ROKOK PEMBERIAN MBAH ARWANI TAK PERNAH HABIS

Suatu waktu, ada seorang tamu yang sowan kepada Mbah Arwani. Tidak berselang lama, si tamu diberi jamuan dan sebungkus rokok. Setelah mendengar nasihat-nasihat dari Mbah Arwani, si tamu pun mohon pamit untuk pulang. Tetapi sebelum pulang, Mbah Arwani dawuh (berkata), “Bawa saja rokoknya, tapi jangan dihitung berapa isinya ?.
Si tamu pun mengangguk, “Nggeh, Mbah Yai.

Tak terasa, si tamu merasa heran, kenapa sudah satu minggu rokok yang dikasih Mbah Arwani itu tidak habis-habis, padahal dalam sehari ia bisa menghabiskan kurang lebih 6 batang rokok. Karena penasaran, ia pun membuka bungkus rokok yang dikasih Mbah Arwani tersebut, ternyata isinya tinggal 1 batang. Ia pun merasa bersalah karena tidak mematuhi pesan Mbah Arwani agar tidak menghitung jumlah rokoknya. Ia pun berpikir jika dalam sehari ia bisa menghabiskan 6 batang rokok berarti isi rokok yang ada di bungkus itu kurang lebih 42 batang, padahal pada waktu itu, umumnya satu bungkus rokok berisi 12 batang.
Subhanallah…

4.   MBAH ARWANI TERHINDAR DARI KECELAKAAN BUS

Kiai Manshur Maskan adalah santri kinasih sekaligus anak angkatnya Mbah Arwani. Setiap kali Mbah Arwani mendapat undangan sema’an Al Qur’an, Kiai Manshur sering diajak untuk menyimaknya.

Suatu hari, Kiai Manshur diajak gurunya untuk menghadiri undangan sema’an Al Qur’an di luar Kota. Karena jaraknya jauh, Mbah Arwani pun memutuskan untuk naik bus. Lama sekali Kiai Manshur dan gurunya menunggu datangnya bus. Tak berselang lama, ada bus yang kondisinya baik dan mulus lewat di depan mereka, saat Kiai Manshur akan menghentikan bus tersebut, tiba-tiba Mbah Arwani melarangnya, “Jangan bus ini, tapi bus berikutnya saja.

Kiai Manshur pun hanya mengiyakan dawuh gurunya itu. Kemudian datanglah bus yang kondisinya tidak baik dan kurang mulus di depan mereka. Kiai Manshur pun menghentikan bus tersebut atas perintah gurunya itu.

Dalam perjalanan, Kiai Manshur melihat sebuah peristiwa kecelakaan, ternyata yang kecelakaan adalah bus yang tadi hampir dinaiki dirinya dan gurunya itu. Dalam hati, Kiai Manshur berujar, “Ternyata Mbah Yai Arwani melihat kejadian sebelum kejadian itu terjadi.
Subhanallah…  

Oleh: Saifur Ashaqi (Alumni PTYQ Pusat)
Sumber: KH. Manshur Maskan dan KH. Sa’dullah Royani

5.   KETIKA ULAMA MESIR MEMUJI KEALIMAN MBAH ARWANI

Suatu ketika, KH. Sya'roni Ahmadi (Mustasyar PBNU) umroh dan membawa kitab “Faidlul Barokat” karya KH. M. Arwani Amin (Mbah Arwani).

Kitab tersebut diperlihatkan kepada Ulama Qiroat Makkah dan Madinah yang dikenal oleh Mbah Sya'roni, lantas para ulama tersebut berkomentar, “Tidak sembarang orang bisa menulis kitab ini kecuali seorang Muqri’ Al-Kabir (Ahli ilmu qiroah yang handal).

Setelah itu, giliran seorang ulama Mesir Syeikh Ahmad Yasin Muhammad Abdul Mutholib juga mendapatkan kitab “Faidlul Barokat.

Spontan beliau bersya’ir memuji kealiman Mbah Arwani :

Betapa bahagianya para pencari ilmu dari Kudus, beruntung bisa dekat Sang Rahman dengan Mbah Arwani.
"Siapa saja yang berada se-zaman didekatnya meski hanya sehari, akan pulang ke keluarganya dengan hati berseri-seri."

"Hidup bersama mereka adalah anugerah dan kemuliaan dari Sang Pemilik Keagungan yang telah memberiku anugerah tiada terperi (sebab jumpa dengan Mbah Arwani)."

Sampai sekarang, kitab “Faidlul Barokat” sudah diajarkan di berbagai Pesantren Tahfidz di Indonesia, bahkan sudah sampai diajarkan di kawasan Arab terutama Arab Saudi dan Mesir.

Sejarah Penulisan Kitab “Faidlul Barokat

Menurut riwayat santri dekatnya, pada masa belajar ilmu Qiroat di Krapyak, Yogyakarta, beliau selalu datang dua jam sebelum setoran ngaji dimulai. Yakni jam 11 malam beliau sudah ada di majlis, padahal setoran dimulai jam 01.00 dini hari.

Selain itu, beliau selalu menyimak dengan seksama, menulis semua yang diucapkan oleh gurunya, sebab proses belajarnya dengan metode Talaqi Qiro’ah. Catatan tulisan tersebutlah yang menjadi kitab “Faidlul Barokat” tiga puluh juz lengkap.

Tidak heran diantara murid-murid Mbah Munawir (Pendiri Ponpes Al-Munawir, Krapyak) hanya Mbah Arwani yang diberi Ijazah Qiroah Sab’ah, bahkan di depan muridnya beliau dawuh (menyampaikan) untuk belajar kepada Mbah Arwani saja kalau beliau sudah wafat.

6.   KELEMBUTAN AKHLAK MBAH ARWANI KETIKA DIHINA

Dalam pengajian Tafsir Jalalain belum lama ini, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menceritakan salah satu kisah kehidupan KH. Arwani Amin Kudus.

Ia menerangkan, seusai menghadiri pembukaan thoriqoh yang baru saja didirikan oleh KH. Arwani Amin, KH. Manshur Maskan, murid kesayangan Kiai Arwani melihat tulisan yang mengusik hatinya.

"Arwani Edan". Ya, begitulah tulisan yang tertera melekat di dinding pinggiran jalan.

Melihat tulisan yang masih basah itu, Kiai Mansur Maskan lantas bergegas matur kepada Kiai Arwani untuk meminta izin menghapus tulisan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Namun, apa yang justru dikatakan Kiai Arwani ?.

"Ojo dibusak disik, ben aku weruh disik. ben wong sing nulis iku puas. Onone wong kui nulis, mergo nduwe tujuan ben tak woco. wes jarke disik. ngko nak aku wes weruh, hapusen." (Jangan dihapus dulu, agar orang yang menulis puas. Adanya orang itu nulis karena memiliki tujuan agar saya membaca. Sudah biarkan saja dulu. Nanti kalau saya sudah melihat, hapuslah).

Diriwayatkan oleh Kiai Manshur Maskan, beliau wafat pada 31 Maret 2004 M/10 Safar 1426 H dalam usia 59 tahun.

Sumber: Situs PBNU

Wednesday, April 24, 2019

DEWAN PIMPINAN



Dewan Pimpinan Pondok Pesantren Putra Al Fattah terdiri dari keluarga Ndalem, Yaitu Abuya H. Ahmadi Abdul Fattah selaku dewan pimpinan I ( Pengasuh), Istri Beliau Hj. Muthi' Imaroh selaku Dewan Pimpinan II, putra beliau Agus H. Aniq Muhammad Makki selaku Dewan Pimpinan III, dan Ning Ma'unah selaku Dewan Pimpinan IV (Istri Agus H. Aniq Muhammad Makki).


Alih-alih beberapa pondok pesantren di Indonesia mulai membuka diri terhadap kurikulum non Pesantren (Salaf atau Tradisional) dan bahkan meninggalkan ciri-ciri kesalafan sistemnya, beliau -dibantu oleh putranya- berusaha mempertahankan kesalafan (ketradisionalan) Pondok Pesantren Al Fattah Kudus tercinta. Sebuah langkah yang berani di tengah-tengah "perubahan" mindset masyarakat millenial.

Jabatan
Nama
Pendidikan Terakhir
Dewan Pimpinan
 I
KH. Ahmadi Abdul Fattah, Lc. MA.
Ma’had ‘Aly Darul Hadist Makkah
Dewan Pimpinan
II
Bu Nyai Hj. Muthi’ Imaroh
Pondok Pesantren
Dewan Pimpinan III
KH. Aniq Muhammad Makki, Lc
Jami’ah Islam Madinah
Dewan Pimpinan IV
Mbak Nyai Ma’unah
Universitas Muria Kudus

Monday, April 15, 2019

JANGAN ASAL CEPLAS CEPLOS, INI ULAMA !

Sebagai santri, bagaimana sikap kita tentang video tersebut? Di satu sisi, kita menilai bahwa beliau 'plin plan' dengan fatwa beliau sendiri, tapi disisi lain beliau adalah ulama yang harus kita hormati. Ulama sekaliber beliau, cucu dari As Syekh Nawawi Bantani -Rahimahullah- KH. Ma'ruf Amin.
Perlu diketahui, bahwa fatwa  yang pertama beliau lontarkan pada tahun 2012, sedangkan tahun 2018 (saat beliau menjadi cawapres) beliau mengucapkan selamat natal pada publik. 
Lantas, bagaimana tanggapan kita ?
        Sebagai jalan tengah, mungkin saja pada tahun 2012 beliau berpegang pada dalil yang mengharamkan mengucapkan selamat natal, sedangkan pada tahun 2018 beliau menemukan dalil lain yang membolehkan. Hal tersebut sudah biasa terjadi pada kalangan ulama, mengingat ada kaidah fiqhiyyah :
  الإجتهاد لا ينقض بالإجتهاد
"Ijtihad tidak bisa digugurkan dengan ijtihad"

Imam syafi'i juga mempunyai 2 qoul yang berbeda, qoul qodim (saat beliau masih di Irak) dan qoul jadid (sesudah kepindahan beliau ke Mesir). Toh qoul qodim beliau masih bisa dipakai walaupun sudah ada qoul jadid karena adanya kaidah diatas.
Lagipula, rasanya sangat tidak mungkin bagi ulama sekaliber Beliau melakukan sesuatu yang ditampilkan ke publik tanpa dasar. Cukuplah kita berhusnudzon dengan kebodohan kita yang terlampau jauh dengan kealiman Beliau.

Jangan sampai kita berprasangka buruk pada ulama ulama kita, sebagaimana do'a Imam Nawawi Ad Dimasqy
 اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي 
“Ya Allah, tutupilah aib guruku dariku, dan jangan Engkau hilangkan berkah ilmunya dariku.”


Satu hal lagi, pembelaan KH. Ma'ruf Amin bukan suatu dukungan suara kami pada paslon beliau, tapi kami membela beliau atas nama santri, yang geram atas tuduhan dan isu isu yang mencoreng nama baik beliau. 
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ Ulama adalah warisan para Nabi, siapa yang menghina ulama, maka dia sama saja menghina para Nabi sebagai pengibar panji agama Allah.

'Ala kulli hal, pilihan ada di tangan Anda !

Wallahu a'lam




                                                                                     MyM Arch

Sunday, April 14, 2019

MERDEKA DALAM MEMILIH !!


                 
           Setelah amandemen ke-4 UUD 45 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden yang semula dipilih oleh MPR, desipakati untuk mengusung rakyat secara langsung dalam pemilihannya sehingga pemilihan presiden ini masuk dalam PEMILU ( yang asalnya hanya diperuntukkan untuk pemilihan DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaken / Kota). Buah dari amandemen ini mengakibatkan polemic tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Perbedaan pandangan terhadap calon yang tersedia tidak bisa dihindarkan yang ujung ujung dapat menyebabkan perseteruan antar keluarga, masyarakat dengan tokoh panutannya, guru dan murid, hingga masuk ranah pesantren antara santri dan kiai nya. 
            Bagai makan buah simalakama, mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sulit antara memilih pilihan mereka sendiri atau taat pada orang tua atau guru. Orang tua memaksa anaknya mengikuti pilihannya, atau kiai yang menginstruksikan santrinya agar memilih calon tertentu sudah lumrah terjadi dilingkungan kita. Padahal sudah kita ketahui bahwa asas PEMILU Indonesia menganut asas LUBERJURDIL ( Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, Adil). Langsung yang berarti pemilih memilih calon secara langsung tidak bisa diwakilkan pada orang lain. Umum yang berarti yang berarti pemilihan dapat diikuti oleh semua warga yang sudah memenuhi syarat. Bebas yang berarti pemilih dapat memilih pilihannya secara bebas, tanpa paksaan dari pihak manapun. Rahasia berarti hanya pemilih yang tahu pilihan calonnya. Jujur yang bebarti memilih calon sesuai peraturan yang ada untuk memastikan warga yang mempunyai hak memilih dapat memilih sesuai kehendaknya dan setiap surat suara mempunyai nilai yang sama dan asas adil yang berarti perlakuan yang sama antara peserta pemilu (calon) dan pemilih, tidak ada diskriminasi dan pengistimewaan pada keduanya.
                  Berdasarkan asas asas tersebut, diharapkan pencoblos dapat mengituti pesta demokrasi ini secara sehat, sejuk, dan damai berdasarkan sila ke-4 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan'
            Lalu bagaimana sikap kita menjadi pihak  yang dipaksa ?
 Memilih pemimpin adalah ladang ijtihad bagi kita, mana pemimpin yang paling membawa maslahat bagi ummat dengan kebijakannya nanti, itulah pilihan yang harus kita ijtihadi.

وبهذا يعلم انه لا يلزم الولد امتثال امر والده بالتزام مذهبه,لأن ذاك حيث لا غرض فيه صحيح مجرد حمق, ...
 Bilamana seorang anak atau santri memiliki pandangan berbeda terhadap orangtuanya atau kiainya, dan mungkin sang anak atau santri tadi lebih tahu bahwa pilihannya adalah yang paling membawa maslahat, maka tidak masalah untuk mereka tidak mengikuti perintah. Karena lagi lagi esensi dalam hak pemilihan adalah yang paling membawa mashlahat.[2]

Untuk yang terakhir, marilah kita memilih pemimpin dengan pilihan 'merdeka', bukannya di'jajah' oleh doktrin atau faktor faktor external yang melemahkan pendirian kita.

Wallahu a'lam

                                                                                                                           MyM Arch



[1] http://www.nu.or.id/post/read/85341/      
[2] Lihat Fatawa Al Fiqhiyyah Al kubro Vol II Hal. 104-105

Saturday, April 13, 2019

Menjadi Khoiru Ummah


MAKNA TERSIRAT HADIST

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلْقُرْأَنَ وَعَلَّمَهُ 
  
            Beliau Rasulullah SAW. Telah memberitahukan kepada kita tentang sifat-sifat manusia terbaik yang diantaranya adalah ahlul Qur’an. Beliau menyifati manusia terbaik dengan orang yang selalu berinteraksi terhadap Al Qur’an melalui sabdanya yang berbunyi :


  عن عثمان رضي الله عنه, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : خيركم من تعلم القرأن وعلمه

“Dari Ustman bin Affan RA, ia berkata : Rasulullah pernah bersabda, orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkanya” (Hadist shohih, riwayat Al Bukhori, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad Darimi).

            Begitulah hadist dan arti umumnya . namun pada hadist tersebut ada makna tersirat yang mendalam, yang menjadi pedoman dan petunjuk bagi kita untuk berinteraksi dengan Al Qur’an sehingga bisa meraihpredikat ahlul qur’an. Namun jarang ada yang menjabarkan ma’na tersebut. dan disini insya Allah kami akan menjabarkanya, Billahittaufiq.

            Dimulailah dengan kata خَيْرُ yang berarti baik. Di bahasa arab, kata yang berarti baik hanya ada lima yaitu معروف, خير, طيب, إحسان, صالح meskipun memilik arti yang sama secara umum, tetapi masing-masing kata tersebut memiliki perbedaan yaitu :
                    إحسان     =  Baik yang silakukan karena Allah.
                    طيب        =  Baik dalam keadaan fisik.
                    خير         =  Baik dalam sifat
                    معروف    = Baik dalam berperilaku
                    صالح       =  Sehubungan dari 4 kata diatas

            Beliau SAW. Dalam hadist diatas memilih menggunakan kata خَيْرُ bukan sal-asalan, tetapi ada maksud tersendiri, seakan-akan beliau berkata, “Hei kamu! Siapapun, mau laki-laki, perempuan, tua, muda, buta / tidak, jika mau menjadi orang yang terbaik sifatnya, maka lakukanlah apa yang akan kuberitahu setelah ini.

            Kemudian kata تَعَلَّمَ yang secara umum berarti belajar. Dalam bahasa arab setidaknya ada dua kata yang memiliki arti belajar, yang masing-masing kata tersebut memiliki perbedaan, yaitu
تَعَلَّمَ dan دَرَسَ.

            Kata دَرَسَ secara khusus memiliki arti proses belajar yang cepat., sederhana dan mudah. Sedangkan تَعَلَّمَ memiliki arti proses belajar yang memerlukan waktu yamg tidak sebentar dan harus secara perlahan-lahan serta harus serius dalam proses pembelajaran.

            Lalu apa yang harus dpelajari agar kita menjadi insane yang memiliki akhlaq terbaik? Al Qur’an! Kitab petunjuk ummat Nabi Muhammad SAW. Yang terjamin keauntetikanya dan yang bernilai 10 pahala setiap hurufnya ketika dibaca.

            Sampai disini, Rasulullah SAW. Seakan mengatakan, “Hei kamu! Jika mau menjadi orang yang terbaik sifatnya, maka lakukanlah interaksi dengan Al Qur’an! Dekati Al Qur’an dengan cara membaca, menghafal, ataupun mentadabburinya (mempelajarinya), namun dalam berineraksi dengan Al Qur’an, kamu harus melakukanya secara bertahap dan berproses. Tidak dapat dilakukan dengan sekejap mata, dan juga dalam proses berinteraksi tersebut kamu harus bersungguh-sungguh karena kamu akan menghadapi hal-hal yang sulit seperti rasa bosan dan malas, sehingga kamu harus mempunyai motivasi yang double”.


            Selanjutnya pada kata وَعَلَّمَهُ yang berarti, “dan mengajarkanya (Al Qur’an)” seakan juga beliau pada kata ini mengisyaratkan kepada kita bahwa jika kita sudah berhasil mendekati Al Qur’an dan sudah akrab dengannya. Maka, kiat jangan lupa untuk mengajarkan apa yang telah kita [eroleh dari berinteraksi dengan Al Qur’an kepada saudara islam lainya, supaya mereka juga menjadi orang yang mempunyai akhalaq yang terbaik. Dan pada akhirnya akan menjadi khoiru Ummah (ummat yang terbaik).

            Pada intinya, hadist diatas selain mengabarkan tentang insan yang dikategorikan sebagai manusia terbaik sifatnya, juga memberi isyarat bagaimana cara supaya kita dapat mencapai insane yang terbaik sifatnya, yaitu dengan cara mendekati Al Qur’an baik dengan cara membaca, menghafal ataupun mentadabburinya, yang mana dari sini akan bertransformasi menjadi perilaku yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga pada akhirnya akan memunculkan sifat-sifat terbaik. 


والله اعلم
Ish_

Wednesday, April 3, 2019

Asal Usul Majelis Anwarul Mustofa


SEJARAH MAJELIS ANWARUL MUSTOFA

          Latar belakang berdirinya majelis ”Anwarul Mustofa” adalah ketika Agus H. Aniq Muhammad Makki, Lc. (Pimpinan Majelis Anwarul Mustofa), yang berada di Madinah untuk meneruskan studynya terbesit untuk membuat majelis pembacaan maulid Simthud Duror kecil-kecilan dirumah beliau. Tapi, ketika Gus Aniq pulang ke Kudus pada tahun 2015, rencana tersebut beliau urungkan karena  merasa Pekewuh dengan para ulama dan warga Kudus, mengingat umur juga masih belia. Sampai  suatu saat beliau duduk satu majelis dengan Al habib Muhammad bin Husain bin Anis bin Alwy bin Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi (cicit Shohib kitab maulid Simthud Duror).

  
Agus H. Aniq Muhammad Makki, Lc. Pimpinan Majelis
 Pembacaan Maulid Shimthud Duror Anwarul Mustofa Kudus.
        Ceritanya Agus Aniq sampai dikenalkan  dengan Habib Muhammad adalah ketika itu ada  calon santri Ponpes Al Fattah, namanya Mas Ruky yang abahnya merupakan orang yang dekat dengan Habib Muhammad, nama abahnya adalah bapak H. Asrori. Ketika Habib Muhammad tindak-an ke Kudus biasanya beliau menginap dan beristirahat dirumah Pak Asrori. Dan saat Habib Muhammad beristirahat dirumah beliau, beliau meminta kepada Habib Muhammad untuk mendoakan putranya yang ingin mondok. Habib Muhammad lalu bertanya mondoknya dimana, jawab Pak Asrori di Ponpes Al Fattah yang diasuh oleh KH. Ahmadi Abdul Fattah, Lc. MA. Habib Muhammad bertanya lagi tentang pesantrenya Mas Ruky karena beliau belum mengenal KH. Ahmadi Abdul Fattah. Abahnya mas ruky menjawab lagi tapi dengan memakai nama Agus Aniq yang merupakan putra dari KH. Ahmadi Abdul Fattah, Habib Muhammad berkata lagi sama abahnya Mas Ruky tadi “mana toh fotonya?” Pak Asrori pun memperlihatkan fotonya dengan memberitahu nama facebooknya Agus aniq . setelah Habib Muhammad melihat facebooknya dan fotonya Agus Aniq beliaupun langsung mengerti, karena dulu waktu masih di Madinah Agus Aniq sering mengkomen postingan Habib Muhammad difacebook. Habib Muhammad pun langsung berkata kepada abahnya mas ruky “saya ingin bertemu dengan Gus Aniq!”. Setelah itu abahnya mas Ruky langsung memberitahu kepada Agus Aniq bahwa Habib Muhammad ingin bertemu dengan beliau.

Suasana Pembacaan Maulid Simthud Duror
Dimajelis Anwarul Mustofa.
       Lalu kemudian, hingga  datanglah saat  pertemuan antara  Agus Aniq dengan Habib Muhammad  di rumah Haji Asrori. Perbincangan sangat panjang  membahas tentang Kitab Simthud Duror dan Sang Muallifnya, Imam Ali Al Habsyi. Di tengah perbincangan itu, Habib Muhammad berkata “Gus, sampeyan iku lazim buat majelis”dan Agus Aniq diberi Ijazah kitab Simthud Duror bil munawalah yaitu dengan cara  memberikan kitabnya.

     Sesampai dirumah, Agus Aniq memberitahu dan menanyakan kepada ibunda beliau Ummi HJ. Muthi’ Imaroh akan amanah mendirikan majelis Simthud Duror maulid yang diberikan kepada beliau dari Habib Muhammad. Ternyata Ummi beliau pun dari dulu juga sudah terbesit membuat majelis kecil kecilan tetapi tidak disampaikan ke Agus Aniq, dan al hasil Ummi beliau pun menyetujuinya.

 
Suasana Pelaksanaan Majelis Anwarul Mustofa.
      Jumu’ah, 16 November 2018 M / 8 Robi’ul Akhir 1440 H, lahirlah majelis yang bernama ANWARUL MUSTOFA yang dipimpin Oleh Agus H. Aniq Muhammad Makki, Lc. Nama Anwarul Mustofa adalah nama yang dipilih Oleh Habib Muhammad langsung. Pada tanggal lahirnya juga merupakan tanggal pelaksanaan majelis pertama, pelaksanaan majelis ini dimulai ba’da shubuh dengan menggunakan sistem selapanan / satu bulan sekali yaitu setiap hari Jumu’ah Kliwon yang  bertempat di rumah Agus Aniq sendiri, alamatnya adalah Jln. K.H. Turaichan Adjhuri, No 36, Rt 002 Rw 003, Bejen, Kajeksan, Kudus yang juga merupakan lokasi Pondok Pesantren Putra Al-Fattah.

     Tentang Majelis Anwarul Mustofa Agus Aniq pernah berkata bahwa majelis ini bukan majelis saya, tetapi majelis Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain al Habsyi yang merupakan Muallif dari kitab Simthud Duror sendiri. Dan mengenai kenapa kitab maulid yang dipilih Agus Aniq adalah kitab Simthud Duror dari sekian banyak kitab maulid karena beliau sudah menmpunyai ‘alaqoh (hubungan) dengan kitab Simthud Duror. Dan pembacaan kitab maulid Simthud Duror ini dibaca secara full / lengkap, yang disertai pelantunan qosidah sholawat yang sudah ditentukan.

Suasana Pembacaan Maulid Simthud Duror
Dimajelis Anwarul Mustofa.
     Agus Aniq juga berkata, bahwa majelis ini adalah majelis yang boleh dihadiri siapapun orang yang ingin menghadirinya, dan juga salah satu amanah dari Habib Muhammad untuk majelis ini adalah jangan ada kata atau sikap pemaksaan untuk menghadiri majelis ini. Tetapi bagi santri Ponpes Putra Al-Fattah hukumnya Wajib untuk menghadiri majelis tersebut.

    Harapan Agus Aniq kedepan untuk Majelis Anwarul Mustofa bukan supaya majelis ini cepat menjadi majelis yang besar, tetapi, harapanya adalah  siapapun yang pernah mengikuti majelis ini semoga rasa mahabbah kepada Rasulullah SAW.  semakin kuat dan medapatkan syafa’at dari beliau dunia hingga akhirat. Yang diutamakan dalam majelis ini bukan connect hubungan dhohiriyahnya melainkan hubungan bathiniahnya. Dan Agus Aniq diakhir wawancara biografi ini berkata, “Majelis Anwarul Mustofa ini akan berlanjut sampai kapanpun.!”
 Majelis Anwarul Mustofa Tampak
 Dari Depan.

Sumber : 
Hasil Wawancara INSAFEDIA Kepada Pimpinan Majelis Anwarul Mustofa, Agus H. Aniq Muhammad Makki, Lc. Sesaat Setelah terlaksananya majelis ke-4.