Monday, June 3, 2019

SOLUSI IDUL FITRI

SOLUSI IDUL FITRI

ABUYA MENJAWAB




1.       Sail      :
“ngapunten Abuya,   زوجة عام / زوجةخال(Isteri dari kakak atau adik baik dari jalur ayah atau ibu) niku  mahrom?”
Abuya                        :
“Mboten”
Sail                 :
“ngapunten, upami riyadin salaman pripun?”
Abuya    :
“Yo, iku….
Opo kurange gus Dur, guru Sekumpul…
Hasil gambar untuk menyentuh bukan mahramWong lanang karo wong wedok kabeh disalami senajan mboten  mahrom, niku  intiqol nganut madzhab hanafi, sa’ qodliyah mulai wudhu ngantos  batale, Bedane, kaleh syafi’i namung wudhune,  pas mengusap sirah kudu  ربع (seperempet kepala ; kurang lebih satu telapak tangan, untuk berhati-hati disarankan untuk mengusap seluruh kepala).
Tapi intiqol niki  kangge dhorurot mawon, kangge ngilangke fitnah mawon, ora mung kabeh wong iso disalami.”

Tanggapan Ummi terhadap masalah tersebut,
Tapi kalau bisa tetep madzhab syafi’I, malah tambah dimulyakke angger matur kaleh budhe-bulek, “ngapunten” kaleh ampun ngetungke tangane, opo maneh lingkungane madzhab Syafi’I ne kuat.

2.      Sail       :
محل الزكاة (masalahpemberian zakat kepada orang yang tidak bertempat di sekitar rumah Muzakki) niku pripun?”
Abuya            :
Gambar terkait “niku khilaf, tapi nek teng daerah kota ingkang  berhak berzakat khususe zakat mal iku wes akeh, mula diaratani tekan daerah desa sing jarang wong zakat, seringe wonge kerjo pabrik. Mbah turaikhan ae sing masalah hukum banget kentele, diaturi zakat pari teko wong deso liyao tetep kerso, tapi mbah choirozad diperintah kudu neng deso iku  kanggo nompo zakat rupa pari garing, durung dadi gabah, nuli di selep dewe. Mbah arwani yo podo ae kerso tapi kudu diterima neng nggone kono.”

Saturday, May 25, 2019

Sekelumit Karomah Mbah Arwani Kudus #2



1.  KETIKA KIAI ARWANI AMIN DIPEREBUTKAN PARA BIDADARI SURGA

Kiai Arwani Amin, Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, istri beliau tidak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit, keadaan berbalik begitu drastis.

Karena kebingungan, kedua putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Luthfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk.

Ini bagaimana, Habib ?,” keluh mereka.

Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini, Habib Luthfi tidak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum.

Nggak apa-apa,” kata beliau

Kemudian beliau melanjutkan, “Ibu kalian itu uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.

Cemburu bagaimana, Habib ?,” mereka tak memahami.

Allah SWT memberi Kasyaf (tersingkapnya tabir gaib) kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, yaitu abah kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Lutfi.

Ketika kedua putra Kiai Arwani pulang kembali ke rumah, mereka menanyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “Bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat Abahmu dipeluk perempuan cantik-cantik !.

Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal dunia ? .

(Cerita ini dikisahkan oleh KH. Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016)

Sumber: Situs PBNU

2.   KERENDAHAN HATI KIAI ARWANI

Suatu hari, KH. Ma’ruf Irsyad bersama Ibu Nyai Hj. Munijah sowan ke rumah KH. Arwani Amin (Mbah Arwani). Di rumah Mbah Arwani, Kiai Ma’ruf dan Nyai Hj. Munijah dipersilakan duduk di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Kiai Ma’ruf kaget, karena Mbah Arwani justru duduk lebih rendah dari tempat yang disediakan itu.

Melihat pemandangan tidak wajar itu, Kiai Ma’ruf bertanya, “Mbah Yai, njenengan (Anda) kok duduk di bawah?.

Mbah Arwani menjawab tegas, “Yang datang ke rumah saya ini, istrinya teman guru saya.

Tentu Kiai Ma’ruf tak bisa berbuat apa-apa lagi mendapatkan perlakukan istimewa dari sang guru, KH. Arwani Amin, yang selain Alim-Allamah, juga pernah disebut oleh Mbah Hamid Pasuruan sebagai sosok waliyullah Kudus yang sangat dikenal akhlak mulianya.
Tidak hanya di ruang tamu, ketika pulang pun, Kiai Ma’ruf tambah dibuat heran dan kagum. Jalan menuju pulang penuh dengan kerikil batu yang mengganggu. Tanpa diduga, Mbah Arwani menyingkirkan kerikil tersebut dengan tangannya sendiri, tidak memerintah kang santri agar perjalanan pulang istri teman gurunya lancar.

Mbah Yai, ampun, sudah-sudah, tidak usah Mbah Yai,” kata Kiai Ma’ruf.

Sudah, diam saja,” sahut Mbah Arwani dengan tetap menyingkirkan kerikil yang sebetulnya tidak perlu.

Cerita di atas dituturkan sendiri oleh KH. Ma’ruf Irsyad di sela-sela mulang ngaji santri di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM), Jagalan Kudus.

Apa yang dilakukan oleh Mbah Arwani tersebut bukan sesuatu yang berlebihan dan sia-sia. Itu adalah teladan berharga atas akhlak mulia dan hormatnya seorang alim kepada istri teman gurunya. Bayangkan, bukan gurunya, tapi istri teman dari gurunya.

Nyai Hj. Munijah, ibu Kiai Ma’ruf Irsyad, adalah istri KH. Irsyad yang berteman akrab dengan guru KH. Arwani Amin yang bernama Mbah Manshur, Popongan, Klaten. Kepada Mbah Manshur yang asli Mranggen inilah Kiai Arwani belajar thariqah

Sumber: santrimenara.com

3.   KEMULIAAN AKHLAK KH.M. ARWANI AMIN

KH. Muhammad Arwani Amin, sosok ulama kharismatik yang lahir di Kudus, Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, bertepatan dengan 5 September 1905 M. Selain masyhur sebagai seorang ulama yang sangat mencintai Al-Qur’an, pendiri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an tersebut juga dikenal karena memiliki akhlak dan etiket yang sangat patut untuk dijadikan teladan.

Dalam keseharian KH. Muhammad Arwani Amin, atau masyarakat sekitar biasa memanggil dengan sebutan Mbah Arwani, sangat memuliakan tetangga, para tamu, bahkan seorang pedagang yang menawarkan barang dagangan ke rumahnya. Semua kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, pengusaha, hingga masyarakat biasa mendapat penghormatan yang sama. Mbah Arwani memuliakan mereka tanpa memandang status sosialnya.

Pernah suatu ketika ada pedagang sarung yang datang ke rumah beliau dan menawarkan sebuah sarung biasa (murah) tetapi pedagang tersebut mematok harga yang sangat tinggi. Khadim beliau, yaitu KH. Muhammad Manshur yang mengetahui hal tersebut lantas matur (bilang) kepada Mbah Arwani, “Sebenarnya harga sarung itu murah, Mbah. Jenengan sudah ditipu oleh pedagang itu.
Lantas Mbah Arwani menjawab, “Biarkan saja, harusnya kita tetap bersyukur. Syukurlah bukan kita yang dijadikan Allah sebagai penipu.

Mbah Arwani juga sering melakukan hal-hal yang semestinya “tidak perlu” beliau lakukan.

Dikisahkan dari pengalaman seorang yang pernah bertamu di rumah Mbah Arwani. Setiap lebaran saya sowan (silaturrahim) ke rumah Mbah Yai. Tamu-tamu yang datang tentu bukan hanya saya, banyak sekali. Ketika rombongan kami masuk ke ruang tamu, langsung disambut beliau dengan keramahan. Setelah kami duduk, beliau mohon pamit sebentar, lalu menuju pintu dari mana tadi kami masuk. 
"Apa yang dilakukan beliau ?," batin saya. Saya terkejut ternyata beliau menata dan merapikan sandal-sandal kami.
Menurut KH. Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU) yang juga merupakan salah satu santri Mbah Arwani berpendapat, setidak-tidaknya ada tiga hal yang sangat menonjol pada diri KH. Muhammad Arwani Amin. Pertama, kedalaman ilmu pengetahuan agama (Islam), terutama pengetahuan terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Kedua, ketawadhu’annya. Sebagai seorang Ulama besar yang sudah dikenal masyarakat luas, Mbah Arwani tetap rendah hati dan selalu hormat kepada setiap orang dengan tanpa melihat apakah ia orang terpandang atau hanya orang biasa. Ketika KH. Raden Asnawi masih hidup, beliau pernah menganjurkan kepada KH. Muhammad Arwani Amin agar mendirikan pondok, tapi beliau menolak dengan alasan di Kudus sudah banyak pondok. Beliau hanya akan urun mengajar saja. Hal ini sebenarnya menunjukkan ketawadukan dan kehalusan perasaannya.

Ketiga, salah satu prinsip hidup beliau adalah “Idkhalus Surur” artinya, beliau selalu berusaha untuk menyenangkan dan menggembirakan orang. Itulah sebabnya, dalam pergaulan beliau senantiasa berperilaku yang membuat orang senang karenanya. Sebaliknya, beliau paling tidak suka merepotkan orang lain.

Di samping kealiman Mbah Arwani sebagai seorang ulama, beliau senantiasa menjunjung tinggi sikap rendah hati dan memuliakan orang lain. Ihwal akhlak dan etiket beliau yang telah dipaparkan di atas, sudah semestinya kita jadikan teladan dalam berperilaku bermasyarakat. Al-Fatihah.

Sumber : Situs PBNU
Wallahu A’lam

Dari Agus H. Aniq Muhammad Makki, Lc

Saturday, May 18, 2019

Sekelumit Karomah Mbah Arwani Kudus #1



1.   AIR PUTIH PEMBERIAN MBAH ARWANI BERFUNGSI SEBAGAI BAHAN BAKAR

Suatu hari, Mbah Arwani pergi ke luar Kota untuk menghadiri suatu acara bersama beberapa Kiai dengan menggunakan mobil. Selepas menghadiri acara, rombongan Mbah Arwani pun pulang menuju Kudus. Baru sampai di daerah Rembang tiba-tiba mobilnya mogok. Setelah diperiksa oleh sang sopir, ternyata bahan bakar mobilnya habis. Sang sopir dan beberapa anggota rombongan bingung, karena pada waktu itu sangat jarang keberadaan SPBU atau yang menjual BBM eceran di pinggir jalan.

Di saat sopir dan para Kiai kebingungan, tiba-tiba Mbah Arwani memberi air putih kemasan dan dawuh (berkata), “Coba tuangkan pakai air putih ini.

Tanpa ragu, sang sopir pun mengiyakan dawuh Mbah Arwani tersebut. Subhanallah… mobil pun kembali bisa berjalan.

2.   MBAH ARWANI PERGI KE MADINAH DALAM SEKEJAP

KH. Manshur Popongan adalah guru Thariqahnya Mbah Arwani. Saat Mbah Manshur dirawat di sebuah Rumah Sakit di Kota Solo, Mbah Arwani menjenguk gurunya itu. Di sela-sela obrolan guru dan muridnya tersebut, tiba-tiba Mbah Manshur minta sesuatu kepada Mbah Arwani, “Mbah Arwani, saya ingin sekali makan kurma hijau, apa sampeyan bisa mencarikan untukku ?.

Dengan bergegas Mbah Arwani pun menyanggupi permintaan gurunya itu. Dalam sekejap, setelah Mbah Arwani keluar dari kamar tempat gurunya dirawat, Mbah Arwani langsung tiba di Kota Madinah Al-Munawwarah.

Setelah sampai di Madinah, Mbah Arwani pun langsung mencari kurma hijau di sebuah pasar Kota Madinah. Sehabis membeli kurma hijau, Mbah Arwani tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW dan shalat di Masjid Nabawi. Namun, baru beberapa raka’at shalat selesai didirikan, Mbah Arwani melihat gurunya sudah berada di belakangnya. Betapa kaget Mbah Arwani karena sudah disusul oleh gurunya itu. Gurunya pun dawuh (berkata), “Selesai shalat langsung pulang, ya ?.

Mbah Arwani pun menjawab, “Nggeh, Mbah Yai.

3.   ROKOK PEMBERIAN MBAH ARWANI TAK PERNAH HABIS

Suatu waktu, ada seorang tamu yang sowan kepada Mbah Arwani. Tidak berselang lama, si tamu diberi jamuan dan sebungkus rokok. Setelah mendengar nasihat-nasihat dari Mbah Arwani, si tamu pun mohon pamit untuk pulang. Tetapi sebelum pulang, Mbah Arwani dawuh (berkata), “Bawa saja rokoknya, tapi jangan dihitung berapa isinya ?.
Si tamu pun mengangguk, “Nggeh, Mbah Yai.

Tak terasa, si tamu merasa heran, kenapa sudah satu minggu rokok yang dikasih Mbah Arwani itu tidak habis-habis, padahal dalam sehari ia bisa menghabiskan kurang lebih 6 batang rokok. Karena penasaran, ia pun membuka bungkus rokok yang dikasih Mbah Arwani tersebut, ternyata isinya tinggal 1 batang. Ia pun merasa bersalah karena tidak mematuhi pesan Mbah Arwani agar tidak menghitung jumlah rokoknya. Ia pun berpikir jika dalam sehari ia bisa menghabiskan 6 batang rokok berarti isi rokok yang ada di bungkus itu kurang lebih 42 batang, padahal pada waktu itu, umumnya satu bungkus rokok berisi 12 batang.
Subhanallah…

4.   MBAH ARWANI TERHINDAR DARI KECELAKAAN BUS

Kiai Manshur Maskan adalah santri kinasih sekaligus anak angkatnya Mbah Arwani. Setiap kali Mbah Arwani mendapat undangan sema’an Al Qur’an, Kiai Manshur sering diajak untuk menyimaknya.

Suatu hari, Kiai Manshur diajak gurunya untuk menghadiri undangan sema’an Al Qur’an di luar Kota. Karena jaraknya jauh, Mbah Arwani pun memutuskan untuk naik bus. Lama sekali Kiai Manshur dan gurunya menunggu datangnya bus. Tak berselang lama, ada bus yang kondisinya baik dan mulus lewat di depan mereka, saat Kiai Manshur akan menghentikan bus tersebut, tiba-tiba Mbah Arwani melarangnya, “Jangan bus ini, tapi bus berikutnya saja.

Kiai Manshur pun hanya mengiyakan dawuh gurunya itu. Kemudian datanglah bus yang kondisinya tidak baik dan kurang mulus di depan mereka. Kiai Manshur pun menghentikan bus tersebut atas perintah gurunya itu.

Dalam perjalanan, Kiai Manshur melihat sebuah peristiwa kecelakaan, ternyata yang kecelakaan adalah bus yang tadi hampir dinaiki dirinya dan gurunya itu. Dalam hati, Kiai Manshur berujar, “Ternyata Mbah Yai Arwani melihat kejadian sebelum kejadian itu terjadi.
Subhanallah…  

Oleh: Saifur Ashaqi (Alumni PTYQ Pusat)
Sumber: KH. Manshur Maskan dan KH. Sa’dullah Royani

5.   KETIKA ULAMA MESIR MEMUJI KEALIMAN MBAH ARWANI

Suatu ketika, KH. Sya'roni Ahmadi (Mustasyar PBNU) umroh dan membawa kitab “Faidlul Barokat” karya KH. M. Arwani Amin (Mbah Arwani).

Kitab tersebut diperlihatkan kepada Ulama Qiroat Makkah dan Madinah yang dikenal oleh Mbah Sya'roni, lantas para ulama tersebut berkomentar, “Tidak sembarang orang bisa menulis kitab ini kecuali seorang Muqri’ Al-Kabir (Ahli ilmu qiroah yang handal).

Setelah itu, giliran seorang ulama Mesir Syeikh Ahmad Yasin Muhammad Abdul Mutholib juga mendapatkan kitab “Faidlul Barokat.

Spontan beliau bersya’ir memuji kealiman Mbah Arwani :

Betapa bahagianya para pencari ilmu dari Kudus, beruntung bisa dekat Sang Rahman dengan Mbah Arwani.
"Siapa saja yang berada se-zaman didekatnya meski hanya sehari, akan pulang ke keluarganya dengan hati berseri-seri."

"Hidup bersama mereka adalah anugerah dan kemuliaan dari Sang Pemilik Keagungan yang telah memberiku anugerah tiada terperi (sebab jumpa dengan Mbah Arwani)."

Sampai sekarang, kitab “Faidlul Barokat” sudah diajarkan di berbagai Pesantren Tahfidz di Indonesia, bahkan sudah sampai diajarkan di kawasan Arab terutama Arab Saudi dan Mesir.

Sejarah Penulisan Kitab “Faidlul Barokat

Menurut riwayat santri dekatnya, pada masa belajar ilmu Qiroat di Krapyak, Yogyakarta, beliau selalu datang dua jam sebelum setoran ngaji dimulai. Yakni jam 11 malam beliau sudah ada di majlis, padahal setoran dimulai jam 01.00 dini hari.

Selain itu, beliau selalu menyimak dengan seksama, menulis semua yang diucapkan oleh gurunya, sebab proses belajarnya dengan metode Talaqi Qiro’ah. Catatan tulisan tersebutlah yang menjadi kitab “Faidlul Barokat” tiga puluh juz lengkap.

Tidak heran diantara murid-murid Mbah Munawir (Pendiri Ponpes Al-Munawir, Krapyak) hanya Mbah Arwani yang diberi Ijazah Qiroah Sab’ah, bahkan di depan muridnya beliau dawuh (menyampaikan) untuk belajar kepada Mbah Arwani saja kalau beliau sudah wafat.

6.   KELEMBUTAN AKHLAK MBAH ARWANI KETIKA DIHINA

Dalam pengajian Tafsir Jalalain belum lama ini, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menceritakan salah satu kisah kehidupan KH. Arwani Amin Kudus.

Ia menerangkan, seusai menghadiri pembukaan thoriqoh yang baru saja didirikan oleh KH. Arwani Amin, KH. Manshur Maskan, murid kesayangan Kiai Arwani melihat tulisan yang mengusik hatinya.

"Arwani Edan". Ya, begitulah tulisan yang tertera melekat di dinding pinggiran jalan.

Melihat tulisan yang masih basah itu, Kiai Mansur Maskan lantas bergegas matur kepada Kiai Arwani untuk meminta izin menghapus tulisan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Namun, apa yang justru dikatakan Kiai Arwani ?.

"Ojo dibusak disik, ben aku weruh disik. ben wong sing nulis iku puas. Onone wong kui nulis, mergo nduwe tujuan ben tak woco. wes jarke disik. ngko nak aku wes weruh, hapusen." (Jangan dihapus dulu, agar orang yang menulis puas. Adanya orang itu nulis karena memiliki tujuan agar saya membaca. Sudah biarkan saja dulu. Nanti kalau saya sudah melihat, hapuslah).

Diriwayatkan oleh Kiai Manshur Maskan, beliau wafat pada 31 Maret 2004 M/10 Safar 1426 H dalam usia 59 tahun.

Sumber: Situs PBNU

Wednesday, April 24, 2019

DEWAN PIMPINAN



Dewan Pimpinan Pondok Pesantren Putra Al Fattah terdiri dari keluarga Ndalem, Yaitu Abuya H. Ahmadi Abdul Fattah selaku dewan pimpinan I ( Pengasuh), Istri Beliau Hj. Muthi' Imaroh selaku Dewan Pimpinan II, putra beliau Agus H. Aniq Muhammad Makki selaku Dewan Pimpinan III, dan Ning Ma'unah selaku Dewan Pimpinan IV (Istri Agus H. Aniq Muhammad Makki).


Alih-alih beberapa pondok pesantren di Indonesia mulai membuka diri terhadap kurikulum non Pesantren (Salaf atau Tradisional) dan bahkan meninggalkan ciri-ciri kesalafan sistemnya, beliau -dibantu oleh putranya- berusaha mempertahankan kesalafan (ketradisionalan) Pondok Pesantren Al Fattah Kudus tercinta. Sebuah langkah yang berani di tengah-tengah "perubahan" mindset masyarakat millenial.

Jabatan
Nama
Pendidikan Terakhir
Dewan Pimpinan
 I
KH. Ahmadi Abdul Fattah, Lc. MA.
Ma’had ‘Aly Darul Hadist Makkah
Dewan Pimpinan
II
Bu Nyai Hj. Muthi’ Imaroh
Pondok Pesantren
Dewan Pimpinan III
KH. Aniq Muhammad Makki, Lc
Jami’ah Islam Madinah
Dewan Pimpinan IV
Mbak Nyai Ma’unah
Universitas Muria Kudus

Monday, April 15, 2019

JANGAN ASAL CEPLAS CEPLOS, INI ULAMA !

Sebagai santri, bagaimana sikap kita tentang video tersebut? Di satu sisi, kita menilai bahwa beliau 'plin plan' dengan fatwa beliau sendiri, tapi disisi lain beliau adalah ulama yang harus kita hormati. Ulama sekaliber beliau, cucu dari As Syekh Nawawi Bantani -Rahimahullah- KH. Ma'ruf Amin.
Perlu diketahui, bahwa fatwa  yang pertama beliau lontarkan pada tahun 2012, sedangkan tahun 2018 (saat beliau menjadi cawapres) beliau mengucapkan selamat natal pada publik. 
Lantas, bagaimana tanggapan kita ?
        Sebagai jalan tengah, mungkin saja pada tahun 2012 beliau berpegang pada dalil yang mengharamkan mengucapkan selamat natal, sedangkan pada tahun 2018 beliau menemukan dalil lain yang membolehkan. Hal tersebut sudah biasa terjadi pada kalangan ulama, mengingat ada kaidah fiqhiyyah :
  الإجتهاد لا ينقض بالإجتهاد
"Ijtihad tidak bisa digugurkan dengan ijtihad"

Imam syafi'i juga mempunyai 2 qoul yang berbeda, qoul qodim (saat beliau masih di Irak) dan qoul jadid (sesudah kepindahan beliau ke Mesir). Toh qoul qodim beliau masih bisa dipakai walaupun sudah ada qoul jadid karena adanya kaidah diatas.
Lagipula, rasanya sangat tidak mungkin bagi ulama sekaliber Beliau melakukan sesuatu yang ditampilkan ke publik tanpa dasar. Cukuplah kita berhusnudzon dengan kebodohan kita yang terlampau jauh dengan kealiman Beliau.

Jangan sampai kita berprasangka buruk pada ulama ulama kita, sebagaimana do'a Imam Nawawi Ad Dimasqy
 اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي 
“Ya Allah, tutupilah aib guruku dariku, dan jangan Engkau hilangkan berkah ilmunya dariku.”


Satu hal lagi, pembelaan KH. Ma'ruf Amin bukan suatu dukungan suara kami pada paslon beliau, tapi kami membela beliau atas nama santri, yang geram atas tuduhan dan isu isu yang mencoreng nama baik beliau. 
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ Ulama adalah warisan para Nabi, siapa yang menghina ulama, maka dia sama saja menghina para Nabi sebagai pengibar panji agama Allah.

'Ala kulli hal, pilihan ada di tangan Anda !

Wallahu a'lam




                                                                                     MyM Arch

Sunday, April 14, 2019

MERDEKA DALAM MEMILIH !!


                 
           Setelah amandemen ke-4 UUD 45 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden yang semula dipilih oleh MPR, desipakati untuk mengusung rakyat secara langsung dalam pemilihannya sehingga pemilihan presiden ini masuk dalam PEMILU ( yang asalnya hanya diperuntukkan untuk pemilihan DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaken / Kota). Buah dari amandemen ini mengakibatkan polemic tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Perbedaan pandangan terhadap calon yang tersedia tidak bisa dihindarkan yang ujung ujung dapat menyebabkan perseteruan antar keluarga, masyarakat dengan tokoh panutannya, guru dan murid, hingga masuk ranah pesantren antara santri dan kiai nya. 
            Bagai makan buah simalakama, mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sulit antara memilih pilihan mereka sendiri atau taat pada orang tua atau guru. Orang tua memaksa anaknya mengikuti pilihannya, atau kiai yang menginstruksikan santrinya agar memilih calon tertentu sudah lumrah terjadi dilingkungan kita. Padahal sudah kita ketahui bahwa asas PEMILU Indonesia menganut asas LUBERJURDIL ( Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, Adil). Langsung yang berarti pemilih memilih calon secara langsung tidak bisa diwakilkan pada orang lain. Umum yang berarti yang berarti pemilihan dapat diikuti oleh semua warga yang sudah memenuhi syarat. Bebas yang berarti pemilih dapat memilih pilihannya secara bebas, tanpa paksaan dari pihak manapun. Rahasia berarti hanya pemilih yang tahu pilihan calonnya. Jujur yang bebarti memilih calon sesuai peraturan yang ada untuk memastikan warga yang mempunyai hak memilih dapat memilih sesuai kehendaknya dan setiap surat suara mempunyai nilai yang sama dan asas adil yang berarti perlakuan yang sama antara peserta pemilu (calon) dan pemilih, tidak ada diskriminasi dan pengistimewaan pada keduanya.
                  Berdasarkan asas asas tersebut, diharapkan pencoblos dapat mengituti pesta demokrasi ini secara sehat, sejuk, dan damai berdasarkan sila ke-4 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan'
            Lalu bagaimana sikap kita menjadi pihak  yang dipaksa ?
 Memilih pemimpin adalah ladang ijtihad bagi kita, mana pemimpin yang paling membawa maslahat bagi ummat dengan kebijakannya nanti, itulah pilihan yang harus kita ijtihadi.

وبهذا يعلم انه لا يلزم الولد امتثال امر والده بالتزام مذهبه,لأن ذاك حيث لا غرض فيه صحيح مجرد حمق, ...
 Bilamana seorang anak atau santri memiliki pandangan berbeda terhadap orangtuanya atau kiainya, dan mungkin sang anak atau santri tadi lebih tahu bahwa pilihannya adalah yang paling membawa maslahat, maka tidak masalah untuk mereka tidak mengikuti perintah. Karena lagi lagi esensi dalam hak pemilihan adalah yang paling membawa mashlahat.[2]

Untuk yang terakhir, marilah kita memilih pemimpin dengan pilihan 'merdeka', bukannya di'jajah' oleh doktrin atau faktor faktor external yang melemahkan pendirian kita.

Wallahu a'lam

                                                                                                                           MyM Arch



[1] http://www.nu.or.id/post/read/85341/      
[2] Lihat Fatawa Al Fiqhiyyah Al kubro Vol II Hal. 104-105