Sunday, August 22, 2021

Orang jahat

   


 
Pahlawan adalah sosok yang selalu menolong, membantu, dan sebagainya. Tetapi, tidak semua pahlawan dari awal cerita memiliki sifat protagonis. Sedangkan, penjahat adalah kebalikan dari pahlawan, kadang juga, penjahat tidak sepenuhnya jahat, karena di hati mereka tidak terpeuhi kegelapan. Mungkin ada penjahat yang perannya hanya sebagai antagonis, tapi juga ada penjahat yang menjadi pahlawan di akhir cerita. Salah satunya adalah Loki.

            Loki adalah sosok penjahat dalm serial film Thor. Tapi, di dalam film Thor : Ragnarok. Loki membantu Thor mencari aliansi untuk mengalahkan Hela, Anak tertua Odin. Peran Loki cukup penting, ia juga yang mencarikan pesawat besar untuk menapung seluruh penduduk Asgard ketika Asgard dihancurkan oleh Surtur.

            Penjahat sepenuhnya tidak mengawali karirnya sebagai penjahat dengan nafsu dan keinginan diri sendiri, karena ada juga penjahat yang menjadi jahat karena balas dendam.

            Apakah kalian ucapan Joker, “Orang jahat berawal dari orang baik yang tersakiti.”? Karena itulah, kita sudah jarang menemukan orang baik, karena adanya pembulyyan, dan sebagainya.

 Oleh : Rakes

Tuesday, July 27, 2021

Andhap Asor

        Mungkin kalian sudah paham dan familiar dengan kata kata itu, apalagi jika kalian orang jawa , yaa sudah pasti. Tapi, adakah yang sudah berusaha mengamalkan kata kata itu di kehidupan sehari hari? Mungkin di kehidupan islam, banyak yang mengamalkan sifat andhap asor itu, atau bahasa islamnya tawadhu’.  khususnya para ulama kita, banyak sekali contohnya kita ambil saja contoh kisah habib Ali Al-Jufri dan Syekh Al Buthi.

        


   
Suatu saat di dalam majlis Habib ali Al Jufri ,saat Habib Ali sedang menyampaikan pembelajarnya, tiba tiba  Habib Ali kaget karena beliau melihat ada Syekh Al Buthi sedang duduk di belakang bersama parajamaah. Seketika, Habib Ali turun dari kursi dan mempersilahkan Syekh Al Buthi untuk menggantikan posisi beliau di kursi, karena merasa Syekh Al Buthi lebih pantas. Namun, Syekh Al Buthi awalnya menolak, hingga akhirnya mau dan habib Ali duduk di antara para jamaah. Lalu, Syekh Al Buthi berkata “saya kesini sebenarnya mau mendengarkan pelajaran,apalagi temanya adalah membersihkan hati, karena akhir akhir  ini saya merasa hati saya keras karena dosa dosa saya,”

Dari cerita ini kita tau indahnya sebuah akhlak andhap asor kesiapapun.Seperti yang telah di contohkan para ulama ulama kita, dengan itu bumi kita akan damai tanpa pertikaian dan hati kita pun tenang

Oleh : Muhammad Ataya Akbarun Naja


Sunday, July 18, 2021

Tips Untuk Santri baru Menghadapi Santri Senior

            “HALAH, AKUUUU WAEE…”

            “HALAH, LIYANE GENEEE?”

            Jujur saja! Kata kata itu sering terucap dari mulut para santri baru. Pasalnya, santri besar besar seringkali menyuruh santri baru ini itu. Namun, santri baru yang mendapat perlakuan buruk akan semakin sering mengatakan kata kata di atas, atau mungin lebih parah.


            Lalu, apa jalan keluarnya?

            Sebuah kalimt yang saya ingat betul dari seorang senior di pondok, “Senajan cah gedi gedi ngangkonan, ngenyek, ngono iku, husnudzon wae. Insya Allah ngono iku niate apik. Cah gedi gedi iku do ngelatih kwe.”

            Yah, walaupun sulit diterima, namun ucapannya benar. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam hati mereka, mulut dan hati bisa saja berbeda. Kita husnudzan saja, siapa tahu mereka berniat melatih, supaya menjadi orang yang kuat, tahan banting, dan bergerak cepat sebelum diperintah.

 

Oleh : K-San

Tuesday, July 13, 2021

Tips Untuk Santri Senior Menghadapi Santri baru

     BOCAH, KANDANANE ANGEL!”

            Kata kata itu sering terucapkan untuk para generasi baru. Baik di masyarakat (tetua pada anak anak), di sekolah (guru pada murid), bahkan di pondok (Santri senior pada santri baru).

            Jujur saja! Benar bukan?

            Kenapa begitu?

            Mohon maaf, tulisan ini hanya saya tujukan pada bagian akhir, yaitu jamaáh pondok. Namun, bagi rakyat sekolah dan penduduk masyarakat yang ingin membaca, silahkan!

            Satu kata, dua suku, lima huruf untuk kalian. Ngoco.

            Bila yang biasanya keluar dari mulut kalian untuk menghina, membohongi, nggarap mereka. Tentu saja bila kalian meminta hal baik pasti sulit dituruti – Kecuali bila dia orang yang sangat baik.Lihat saja! Rata rata senior yang baik pasti lebih banyak santri junior yang manut padanya.

            Contoh mudah, seperti saat Jarjit Singh berbohong dalam Drama ¨pengembala biri biri dan serigala.¨Ia terus berbohong. Suatu hari, saat domba dombanya dimakan serigala, ia minta tolong. Namun, karena ia sudah tercap sebagai pembohong, akhirnya tidak ada yang percaya. Ingatlah kata kata Upin, "Sekali kita berbohong, orang dah tak nak percaya."

Oleh : K-San

 

Thursday, July 1, 2021

Urip Kuwi Kepenak

  

               Bagaimana rasanya menjalani hidup saat ini? Susah, meyedihkan, bosan, atau ekspresi lainnya yang tidak menyenangkan.

               Kenapa seperti itu? Apakah karena kemiskinan, karena pembullian, atau nasib-nasib lain yang menyakitkan.

               Tapi, tahukah? sebenarnya, hidup itu mudah, simple. Buktinya saja tertulis dalam ayat  Al–Qur’an:

لا يكلف الله نفساً إلا وسعها

               Artinya:

               Allah tak membebani hamba kecuali menurut kemampuannya. [QS Al-Baqarah: 286]

               Salah satu santri pernah membuat quotes. “Urip iku koyo dalan pantura. Sing asli lurus wae, tapi karek wonge.” Artinya: Hidup itu seperti jalan pantura. Sebenarnya hanya lurus, tapi tergantung orangnya.”


               Ya seperti itulah hidup. Seperti jalan pantura, mudah, tinggal lurus saja, tinggal menuruti Tuhan Yang Maha Esa. Namun, karena orangnya. Akhirnya ada yang belok ke mana, mampir dulu, atau yang lainnya. kemudian ia malah tersesat.        

Oleh : K-San

Friday, June 25, 2021

Cara Bisa Baca Kitab?

 

Gak sengaja


S: gimana si cara agar bisa baca kitab?

J: idih mana gue tahu, ujuk-ujuk bisa aja gitu pokoknya- mungkin kita pernah disalah satu posisi itu

 

                Setelah saya pernah membuat sebuah tulisan yang bertema sama, saya kira, saya harus menambahinya.

                Dalam tulisan saya itu, saya memakai teori Belibrate Practice. Sebuah teori dimana seorang yang ahli dihasilkan dari seringnya dan keterbiasan yang dia lakukan. Begitu juga dengan beberapa santri senior yang ujuk-ujuk bisa tadi. Karena saking sering dan keterbiasaan mereka sorogan, dan dilakukan selama ya mungkin dua atau tiga tahun, mereka pun mencapai keahlian. Katakan bisa baca kitab.

                Namun entah sebab IQ yang dimiliki atau emang kurang belajar saja, masih ada beberapa santri lawas yang masih kurang dalam baca kitab. Mereka kebanyakan belum menyebutkan makna tarkib yang penting sekali. Baiklah, ini masalahnya. Santri baru maupun yang belum bisa, kita samakan saja.

                Sering sekali kita mendengar masyayikh dawuh Iso Jalaran Soko Kulino. Ini sangat menarik sekali dan maknanya tak jauh dari teori Delibrate Practice, sungguh-sungguh belajar, bersabar dalam pembelajaran, dll. Santri yang mau belajar dan sorogan secara konsisten harusnya bisa dan dapat menuai hasil yang diharapkan. Tetapi dalam masalah tadi, nyatanya masih banyak juga santri lawas yang masih belum bisa.

Lalu, mari kita singgung tentang Dhabit. Dhabit adalah orang yang kuat hafalannya tentang apa yang telah didengarnya dan mampu menyampaikan hafalannya kapan saja ia menghendakinya.

                Ya, seorang santri normal menemukan satu kalimat berulang kali, harusnya ingat dan benar dalam mengartikan dikemudian hari. Dan adapun jika mereka masih belum benar, berarti kesalahan terletak pada kali pertama mereka menemukan arti kata tersebut. Sering kali kita menjumpai beberapa santri yang memang langsung lepas membaca kitab terjemah. Mereka tak perlu melihatnya dan dengan sombong langsung sorogan dengan modal makna asli kata tersebut.

                Padahal saat kita membaca terjemah makna gandul, tanpa sadar dan tidak sengaja, kita telah melakukan suatu kebenaran makna yang tak kita pikirkan terlebih dahulu.

Andai saja mereka dari awal selalu baca secara benar- berikut dengan tarkibnya, pasti mereka akan melakukan kebiasaan benar yang tak mereka sadari dan akhirnya mereka terbiasa dengan makna benar tersebut.

                Akhirnya, saya pun melakukan percobaan kecil. Saya memberi arahan pada dua teman sorogan yang masih MTs untuk teliti dan saya wajibkan membaca terjemah (makna gandul). Dua bulan berlalu, bacaan makna gandul mereka selalu benar (katakan lengkap) dan mereka pun akhirnya bisa mudah mengurai i’rob, alamat i’rob, nama tarkib, jenis kalimah, dst sebab lengkapnya mereka memaknai.

                Mungkin inilah salah satu jawaban, gimana cara belajar baca kitab yang benar dan kita cari-cari. Untuk santri MI dan MTs alangkah baiknya mereka selalu membaca terjemah terlebih dahulu agar mengenal makna kata yang sesuai kaidah nahwu dan shorof. Adapun ketika MA mungkin boleh mencoba langsung praktek.

                Hingga akhirnya hasil akhir masih kita harapkan, semoga sedikit simpulan ini bermanfaat. Aminn...

 

 

Oleh : Ikul Nasi

 

 

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5597897/apa-pengertian-dhabit-simak-di-sini-penjelasannya .

https://saltfarmer.github.io/blog/youtube/Ulasan-channel-Kok-Bisa/

https://www.google.com/search?q=gak+sengaja+ganteng&tbm=isch&ved=2ahUKEwja1NWX9bHxAhVEVisKHQHgC4AQ2-cCegQIABAA&oq=gak+sengaja+ganteng&gs_lcp=CgNpbWcQA1D8mQJYraYCYJOpAmgAcAB4AIABYYgBpgWSAQE4mAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWfAAQE&sclient=img&ei=RlfVYNqZFsSsrQGBwK-ACA&bih=694&biw=1499&safe=strict&hl=id#imgrc=BQk5E7BZannnOM

Kabar Baikmu- Kekuatan Sugesti

 

Kasih yang sangat dibutuhkan saudara kita.. !!

 

Hari ini kita mungkin sedang flu karena baru musim panca robah, atau ada yang batuk karena kebanyakan minum es, bahkan ada yang lemas kerena gak sarapan pagi.

Sesimpel itulah masalah kita hari ini. Sudah maklum seharusnya, saat kita tiba-tiba flu dan keluar ingus dipagi hari. Sangat sering juga terjadi, saat kebanyakan minum es, kita batuk berdahak maupun tidak. Namun mindset kita tanpa sadar telah berubah gegara Corona yang mewabah. Aduh pilek-pilek, corona nih eh batuk juga. gimana, nih? Panik sekali.

National Geographic dalam lamannya menjelaskan bahwa kekuatan pikiran (sugesti) memang dapat menyembuhkan penyakit, namun tidak semuanya. Ya, percaya nggak percaya, sugesti tanpa sadar telah memberi kekuatan. Bahkan sugesti ini juga berupa pemberian obat kosong (obat netral yang tidak memiliki kandungan apa pun) terhadap pasien. Tujuannya agar pasien merasakan bahwa ia akan sembuh karena telah minum obat.

Hemat penulis sendiri, suatu hari pernah juga berobat ke klinik setempat. Lalu setelah baru saja tahu akan pentingnya sugesti tersebut, saya langsung mencoba melihat gerak-gerik si dokter saat bertanya keluhan, memberi arahan, juga menulis resep. Dewi fortuna, kali ini sang dokter tak seperti biasanya yang begitu yakin bertanya dan bertutur kata. Waktu itu beliaunya malu dan rada takut gimana gitu- mamang. Dan simpulnya adalah nyata, setelah 3 hari saya pun nggak sembuh-sembuh karena dari awal sudah tidak yakin pada si dokter.

Mungkin inilah yang sangat penting kita perhatikan dari pada banyak mengumbar berita-berita yang ujungnya menakuti diri kita sendiri. Mindset untuk tenang dan yakin bisa sehat dari pilek, batuk entah itu corona atau tidak, harusnya tetap tertanam pada diri kita seperti dulu kala. Kasih kesehatan untuk mental kita. Jangan takut corona dan alangkah baiknya kita lakukan cara ampuh yang pernah kita pakai untuk bebas dari pilek, batuk, dan saling share pada saudara-saudara agar mereka bisa mencoba cara kita atau sebaliknya.

Tidak dipungkiri, kita juga harus berdo'a pada Allah SWT.

Semoga kita semua sehat dari corona. Aminn...

 

 

Opini ini mulai diketik saat kudus dan sekitarnya mengalami klaster besar-besaran.

Oleh : Ikul nasi

 

https://www.bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg

https://www.google.com/search?q=kabar+ge%2Cbira&tbm=isch&ved=2ahUKEwjbybm_8IvxAhXZf30KHUDcDAQQ2-cCegQIABAA&oq=kabar+ge%2Cbira&gs_lcp=CgNpbWcQAzoECCMQJzoFCAAQsQM6CAgAELEDEIMBOgIIAFDJRlj5XGDNX2gAcAB4AIABZogBmQiSAQQxMi4xmAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWfAAQE&sclient=img&ei=FWbBYJvrIdn_9QPAuLMg&bih=568&biw=1242&safe=strict#imgrc=W4x9c04uosTLFM

https://www.idntimes.com/health/medical/dahli-anggara/sugesti-menyembuhkan-penyakit-c1c2/2