Dalam komunitas pesantren, nama Kyai Kholil Bangkalan Madura sudah sangat familiar. Beliau dikenal sebagai seorang Kyai dengan tingkat spiritualitas yang tinggi, sekaligus sebagai waliyullah.
Dikisahkan bahwa pada suatu waktu terdapat beberapa pejuang dari Jawa yang bersembunyi di kompleks Pesantren Kademangan. Sayangnya, informasi ini tercium oleh tentara penjajah. Dengan mengerahkan pasukan yang cukup besar, mereka menggeledah seluruh area pesantren. Mereka sangat yakin bahwa para pejuang bersembunyi di sana. Oleh karena itu, mereka merasa sangat marah ketika tidak menemukan apa pun di tempat tersebut.
Karena jengkel, mereka akhirnya menahan Kyai Kholil yang sudah sepuh. Mereka berharap, dengan ditahannya beliau, para pejuang akan menyerahkan diri.
Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan. Bukan para pejuang yang menyerahkan diri, melainkan pihak penjajah yang dibuat kebingungan oleh berbagai kejadian yang tidak mereka pahami. Mula-mula, semua pintu tahanan tidak dapat ditutup ketika Kyai Kholil dimasukkan ke dalam sel. Hal ini membuat mereka harus berjaga siang dan malam, jika tidak ingin para tahanan lain melarikan diri.
Pada hari-hari berikutnya, ribuan orang dari berbagai penjuru Pulau Madura, bahkan dari Jawa, berdatangan untuk menjenguk dan mengirimkan makanan kepada Kyai Kholil. Tentu saja, hal ini semakin memusingkan pihak penjajah. Akhirnya, mereka mengeluarkan keputusan yang melarang masyarakat untuk mengunjungi beliau.
Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak juga menyelesaikan masalah. Masyarakat yang berbondong-bondong tetap datang, berkerumun, dan berdesakan di sekitar rumah tahanan. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta untuk ikut ditahan bersama Kyai Kholil.
Daripada terus dipusingkan oleh hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti, pihak penjajah akhirnya melepaskan Kyai Kholil dari penjara begitu saja.
Oleh: Arsakha

.jpg)