Friday, February 17, 2023

Rahasia Diperintahkannya Salat



Allah adalah Tuhan yang maha adil dan bijaksana, dengan kedua sifatnya itu pulalah Allah menciptakan manusia dengan dua kondisi, yaitu sedih dan bahagia. Interpretasi dari kedua kondisi ini adalah supaya manusia dapat sadar ketika ia sedang mendapat musibah berupa kesedihan, dan ia akan dapat lebih bersabar dan percaya akan datangnya kebahagiaan.

Erat kaitanya dengan hal tersebut, seperti yang kita ketahui, bahkan kita sendiri telah mengalami yaitu, ketika kesedihan, rasa gelisah, galau, dan lain-lain menimpa kita pasti kita akan termenung dan memohon kepada Allah sang Rohim agar segera menggantinya dengan sebuah keajaiban berupa kebahagiaan.

Nah! Di momen Isra' wal Mi'raj ini marilah kita bertafakur sejenak. Pertama dan utama, yang perlu kita ketahui bahwa peristiwa Isra Wal Mi'raj ini merupakan peristiwa yang wajib dan harus kita imani, mengapa demikian? Sebab banyak sekali dalil-dalil, baik hadis maupun Alquran yang telah menjelaskan terjadinya peristiwa tersebut. Yang paling masyhur adalah firman Allah dalam Quran surah Al isra' ayat pertama yang berbunyi:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ        

Artinya (والله اعلم بمراده): "maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (Muhammad) pada malam hari, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran kami. Sesungguhnya dia Maha mendengar, maha melihat."

Ayat ini sungguh benar-benar sangat jelas, bahwa Allah telah memperjalankan nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk bertemu dzatnya Allah jalla wa 'azza. Maka patutlah kita untuk banyak bersyukur menjadi umat beliau.

Jika ditelisik lebih mendalam, peristiwa Isra' Wal Mi'raj terjadi setelah Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersedih atas meninggalnya dua orang yang sangat beliau cintai, sampai-sampai tahun itu disebut dengan عام الحزن. Dan kemudian Allah mengganti kesedihan beliau tersebut dengan sebuah kebahagiaan tiada tara.

Lalu pernahkah terbersit dalam fikiran kita "Mengapa Allah mengutus nabi untuk Isra Wal Mi'raj? Apa maksud dibalik kejadian luar biasa itu?" (Mungkin pertanyaan itulah yang kian sedikit mengusik pikiran Al faqir akhir-akhir ini). Jika kita renungi, oleh-oleh dari perjalanan Isra Mi'raj Rasulullah adalah diperintahnya salat lima waktu, lalu apa sih keistimewaan salat lima waktu?

Allah menyebut akar kata الصلاة lebih dari 80 kali dalam القرآن, dan 27 kali disandingkan dengan lafal الزكاة*. Dan Allah memerintahkan salat dengan redaksi أقيموا الصلاة (dirikanlah salat). Kenapa bukan أفعلو الصلاة (lakukanlah salat)? Jawabannya ada dalam Quran surah Al-Ma'un di ayatnya yang kelima sampai ketujuh Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ.                                                                        

Artinya (و الله أعلم بمراده): "Maka celakalah orang yang salat. (Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya. (Dan orang-orang) yang berbuat riya'."

Jadi Allah memilih redaksi أقيمو karena banyak orang yang tidak benar-benar mendirikan, dalam artian memperhatikan terhadap salatnya alias mbluboh. Semisal, ada orang yang hanya melaksanakan salat magrib saja, salat dzuhur, ashar, isya', apalagi salat subuh ia tinggalkan. Seperti contoh di atas, orang tersebut memang melaksanakan salat namun belum dianggap mendirikan salat karena masih meninggalkan beberapa salat yang lain. dan merekalah orang-orang yang celaka.

Lalu Allah memakai redaksi dengan huruf jer عن bukan في pada ayat ke-6. Maksudnya, mereka memang sudah melakukan salat, namun mereka tidak benar-benar mendirikan dalam artian, mereka tidak menghargai, serta melalaikan pelaksanaan salat. Bahkan mereka melaksanakannya dengan riya'. Na'udzubillah.

Maka, implementasi kita di dalam memperingati peristiwa Isra Wal Mi'raj ini adalah dengan lebih memperhatikan Salat kita, semoga dengan kita menjaga Salat kita, Allah mempermudah segala urusan kita, dan mengganti kesedihan kita dengan kebahagiaan, seperti halnya Allah membahagiakan Nabi Muhammad dengan perintah salat.

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu''



Sekian, jika ada kesalahan itu murni dari saya dan jika itu benar maka tidak ada kecuali itu dari Allah.

{Tulisan seorang hamba semoga allah merohmatinya}

*https://id.wikipedia.org/wiki/Salat#:~:text=Kata%20salat%20hanya%20disebutkan%2083,Al%2D'Ankabut%20ayat%2045.

Wednesday, February 15, 2023

Inovasi Baru Dalam Dunia Hadist : AL-AWAIL



PADA MULANYA …

Kitab hadist riwayah adalah salah satu cabang ilmu yang mulia. Di dalamnya, terkumpul sabda-sabda mulia Nabi Muhammad
 صلى الله عليه و سلم.
 Jalur periwayatan nya pun bukan sembarang oramg dapat melakukannya, karena harus melalui kriteria kriteria serta syarat syarat yang cukup ketat agar hadist yang diriwayatkan tersebut berstatus 'sehat' dan dapat digunakan untuk menjadi rujukan hukum. Rasulullah mengancam bagi mereka yang berbohong atas nama beliau dengan sabda :
من كذّب علي معتمدا فليتيوّأ مقعده من النار
(رواه البخاري)

Dari ke hati hatian, serta ketelitian itulah, rawi-rawi yang tercantum dalam sebuah hadist adalah orang-orang yang mulia.
Oleh karena itu, kitab-kitab induk hadist, macam Shohih Bukhari, Shohih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Ad-Darimi, dll. menjadi rujukan setelah Al-Qur'an dalam permasalahan hukum, adab, aqidah, dan lain sebagainya.

INOVASI

Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat banyak sekali kitab-kitab mukhtashor yang meringkas kitab kitab induk, baik dari sisi rawi, maupun isi. Para ulama berlomba-lomba membuat ringkasan yang memperpendek isi ataupun membahas beberapa hadist dalam suatu bab (maudhu'i). Hal ini bertujuan untuk memudahkan tholibul ilmi (baca: penuntut ilmu) dalam memahami dan menghapalkan hadist yang dibahas. Namun, kekurangan dari metode ini adalah stuck-Nya tholibul ilmi dalam menelusuri hadist-hadist yang lebih kompleks yang terdapat di kitab induk. 

Setelah abad ke-10 H, para ulama ahli hadist membuat inovasi baru, yaitu menulis sebuah kitab yang mengumpulkan hadist awalan dari tiap kitab induk hadist serta sedikit biografi dari muallifnya (baca: pengarang). Hal ini bertujuan agar para penuntut ilmu mengenal nama-nama kitab induk serta muallifnya yang menjadi penyemangat dan memantapkan hati mereka untuk membaca kitab yang cocok bagi mereka.

Dalam Fihris al faharis, Syaikh Al-Musnid Abdul Hayy Al-Kattani (ulama maroko yang menjadi salah satu guru Syaikh Yasin Al-Fadani) berkata: 
 "Pada zaman akhir-akhir ini, ketika para penuntut ilmu hadits mulai melemah semangatnya, ditambah begitu sulit dan mahalnya mendapatkan kitab-kitab hadits, dan banyaknya para penuntut ilmu yang merasa keberatan jika harus keliling ke berbagai negara untuk mendengarkan hadits, para ulama berinovasi untuk membuat kitab-kitab sejenis ini.

Kitab ini mengumpulkan hadits awal dari setiap kitab-kitab hadits dalam beberapa lembar, agar mereka membacanya ke hadapan para guru, dan ketika ia pulang dari belajarnya, ia akan mengatakan: “saya meriwayatkan kitab (induk) ini dari syekh Fulan dengan mendengar awalnya, dan diijazahkan hadist sisanya”. Ulama pertama yang memulai metode ini adalah Al-Hafidz Ibnud Daiba’ Asy syaibani (944 H)



KOK HARUS HADIST AWALAN ? 

karena hadits awalan mengandung sirr dari sebuah kitab. Para muallif tentu memiliki pertimbangan dan tujuan khusus kenapa memulai dengan hadits tersebut diawal kitabnya.

AWAIL AS-SUNBULIYAH 

kitab ini ditulis oleh Syekh Muhammad Sa’id bin Muhammad Sunbul al-Makki asy-Syafi’i (W. 1175 H). Beliau berkata dalam muqoddimah kitabnya: 

لكني وجدت تأليفا لبعض الإعلام فيه طول عن تحصيل المرام فأحببت أن ألخص مما ذكر فيه أول حديث من كل تأليف سطره تاركا لباقيه روما للاختصار و ليقرأ في مجلس واحد لأهل الاستبصار.

"Namun aku menemukan salah satu karangan dari salah seorang ulama (Al-Mufti Muhammad Tajuddin al-Makki), dalam kitab tersebut terlalu lebar untuk mendapatkan tujuan. Oleh karena itu aku meringkas dari kitab itu menjadi hanya awal hadits dari setiap kitab, dan meninggalkan sisanya. Mengharapkan agar menjadi ringkas, dan dapat dibaca di satu majlis bagi orang yang mengerti."

Jadi, kitab ini adalah ringkasan dari kitab awail yang lebih terdahulu milik Al mufti Syaikh Muhammad Tajuddin Al makki.

SANAD KITAB 

Alhamdulillah, tahaddutsan bin ni'mah, saya mendapat ijazah serta sanad kitab ini (Al-Awail As sunbuliyah) dari guru saya Al-Ustadz Al-Fadlil Agus H. Aniq Muhammad Makki, dari guru beliau Syaikh Ibrahim bin Muhammad Nur Saif yang meriwayatkan dan di ijazahkan langsung oleh muallif kitab tsabat (akan saya tulis penjelasannya di tulisan selanjutnya insyaallah) yang berjudul Al-Iqdul Farid karangan Syaikh Yasin bin Muhammad bin 'Isa Al fadani Al Makkiy. 



Ket : 
Sayyid Utsman bin Yahya (1331 H) Mufti Betawi adalah cicit dari Syaikh Muhammad Said Sunbul, pengarang kitab Al-Awail As-Sunbuliyyah. Urutan nasabnya adalah: Sayyid Utsman bin Abdullah bin Fatimah binti Muhammad Said Sunbul. Rahimahumullah Ta'ala. 

Oleh: Muh. Alawy Mahfudz.


Friday, February 10, 2023

Cinta tak hanya sebatas lisan saja

Cinta tak hanya sebatas lisan saja


  Sejatinya cinta dalam diam itu tidak akan pernah ada, karena Al Imam Hasan Al Bashri berkata:

"Jangan lah kalian tergiur atau terlena dengan hadits yang berbunyi; ''seseorang akan dikumpulkan di akhirat bersama orang-orang yang ia cintai''. Karena mereka orang-orang Yahudi dan Nasrani-pun cinta kepada nabi-nabi mereka, tapi sama sekali mereka tidak akan bersama nabi-nabi nya di akhirat kelak, maka dari itu lakukanlah perkara-perkara yang baik sebagaimana orang yang kalian cinta itu melakukan perkara baik tersebut". Nah! Imam Hasan Al-Bashri mengisyaratkan bahwa yang namanya cinta itu bukan cuma sekedar mengatakan "ya saya cinta beliau". Tapi lebih dari itu, harus ada yang dilakukan sebagai pembuktian cinta. Karena sesungguhnya: (Cinta menuntut perjuangan dan pengorbanan).

  Semua orang muslim didunia ini kalau ditanya "apakah kalian cinta Rasulullah?" Mereka pasti akan mengatakan iya, akan tetapi apakah dengan mengatakan cinta saja tanpa ada usaha, kita benar-benar menjadi orang yang dicintai Rasulullah? Tidak semudah itu moass! Sama saja seperti kita yang mencintai seseorang didunia ini, dengan mengatakan cinta saja belum tentu cinta kita bisa diterima. Mesti harus ada effort yang dilakukan. Begitu juga cinta kepada kanjeng nabi, harus ada perjuangannya dulu. Intinya memang lisan saja tidak cukup, sangat tidak cukup hanya dengan mengatakan cinta, kalau cinta ya musti mempelajari tentang kehidupannya, akhlaq-akhlaq, dan juga musti tahu tentang kepribadiannya. Jadi yang dimaksud dengan dawuh "المرء مع من احب" itu bukan cuma asal cinta. Orang Yahudi dan Nasrani pun cinta Nabi-nabi mereka tapi mereka tak-akan dikumpulkan bersama mereka (yang dicintai). Mereka cinta Nabi Isa, mereka juga cinta Nabi Musa, mereka cinta Nabi Daud, pun mereka cinta Nabi Nuh. Tapi itu cuma dilisan saja. Mereka tidak beriman dihati sesuai imannya nabi-nabi mereka, mereka pun tidak mengerjakan apa yang diperintahkan nabi-nabi mereka, justru mereka malah mendobrak aturan dan syariat nabi-nabi mereka. Jadi, intinya cinta dalam diam itu gak akan pernah ada, sekalipun cinta tersebut udah diungkapkan, akan tetapi tidak ada effort dalam memperjuangkan cinta tersebut, 'Ala kulli haal, semoga bermanfaat.

Oleh: Rafi Ariq

Friday, February 3, 2023

Nriman



 “ان لم تكن علي غضب فلا ا بالى”

“Asal engkau tak marah, Ya Allah..Aku tak peduli”

Mungkin kalimat itulah yang dapat mengungkapkan bahwasanya Allah adalah segalanya, bagaimana tidak? Kalimat yang berarti; “ Asal engkau tak marah, Ya Allah..Aku tak peduli.” engkau tetap cinta kepadaku, tetap sayang kepadaku Ya Allah. Aku tak peduli, mau aku mati, mau aku miskin, mau aku di jauhi semua orang, mau aku disakiti semua orang, Aku tak peduli..!! Dan itulah yang dinamakan Ridho.

Ridho dari Allah adalah karunia terbesar, dan kita tidak akan dapat ridho Allah sebelum kita ridho dengan apa yang Allah takdirkan kepada kita. Jadi tak usah banyak minta Ridho, namun sibukkanlah dirimu untuk meridhoi apa yang Allah takdirkan kepadamu. Hal ini selaras dengan firmanNya

"راضية مرضية"

Rodhiyatan dulu baru Mardhiyah, bukan mardhiyatan dulu. Jadi ridholah atas segala sesuatu yang Allah takdirkan kepadamu, seburuk apapun itu, terima asal Allah tidak marah. Maka Ridho Allah akan turun dengan sendirinya kepadamu. Dan jangan sekali-kali kamu mencari Ridho manusia, karena tak akan pernah tercapai.

Kalimat di atas tadi adalah sabda kanjeng Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sewaktu beliau Kembali berdakwah dari thoif, yang mana waktu itu beliau dilempari batu, diejek, hingga beliau berdarah-darah. Lalu beliau menengadahkan tangan mencegah agar darah beliau tidak menetes ke bumi, karena satu darah jatuh ke bumi, azab Allah akan turun. Kemudian sahabat beliau berkata “Ya Rasulallah, berdo’alah agar Allah Menumpas mereka!!” Lalu di jawab oleh Kanjeng Nabi Muhammad:

“اللهم اهد قومي فانهم لا يعلمون” 

Masya Allah…!! Lalu beliau mengadu kepada tuhannya Rabbil Alamiin dengan bercucuran air mata:

اللهم إليك أشكو ضعف قوتي ، وقلة حيلتي ، وهواني على الناس ، أرحم الراحمين ، أنت أرحم الراحمين ، إلى من تكلني ، إلى عدو يتجهمني ، أو إلى قريب ملكته أمري ، إن لم تكن غضبان علي فلا أبالي ، غير أن عافيتك أوسع لي ، أعوذ بنور وجهك الذي أشرقت له الظلمات ، وصلح عليه أمر الدنيا والآخرة ، أن تنزل بي غضبك ، أو تحل علي سخطك ، لك العتبى حتى ترضى ، ولا حول ولا قوة إلا بك

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta hinanya diriku di hadapan manusia. Ya Arhamar-Rahimin, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Rabbku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku?, kepada orang jauh yang menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh yang menguasai urusanku?. Jika tidak ada kemurkaan-Mu terhadapku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas bagiku (daripada kemurkaan-Mu). Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang engkau hapus segala kegelapan dengan terbitnya (cahaya-Mu), dan Engkau perbaiki urusan dunia dan akhirat dengan baik di atasnya. Hanya untuk-Mu segala kerelaan hingga Engkau ridla. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama-Mu.”

Itulah pengaplikasian ridho sebenarnya yang Rasulullah contohkan kepada kita, jika engkau ridho akan ketetapan Allah kamu pun akan hidup dengan Bahagia, seperti yang dikatakan imam Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad dalam syairnya:

إن ترض بالمقسوم عشت منعما # و ان لم تكن ترض به عشت في حزن

“Jika engkau selalu Ridho atas apa yang sudah menjadi bagianmu sungguh engkau akan hidup dalam kenikmatan, jika engkau tidak Ridho atas bagianmu maka engkau akan hidup dalam kesedihan.”

Walhasil, jadikanlah keridho’an Allah sebagai parameter mu Ketika akan bertindak apapun. Lakukanlah berbuatlah sesukamu, Asalkan Allah tak marah, asalkan Rasulullah tetap mencintaimu. Takun ‘Aghnan Naas. Maka kamu akan jadi orang yang paling berkecukupan. 

اللهم اجعلنا شاكرين لنعمك راضين بقضائك متلذذين بذكرك وطامعين برضاك اللهم إنا نسألك أياما مبشرة وهموما راحلة وقلبا مطمئنا

Oleh: Fiki Ishbahul Haq.

Friday, January 27, 2023

Serial si memet: Jari Jemari & Susu

 


Dipojokan gazebo Memet terlihat melamun sambil tangannya memegang gunting kuku. disampingnya juga terlihat segelas susu yang sudah habis setengah gelasnya. ia terpaksa memotong kukunya, karena tadi ketika rutinitas paginya, yaitu menyalami dan membuatkan susu untuk majikannya pak Bambang, kukunya menyentuh tangan pak Bambang dan membuatnya murka. 

“woy, kuku hitam jelek dan panjang kau mengenai kulit putih mulusku ini. jadi iritasi ini nanti kulitku, jijik kali aku lihatnya. potong dan bersihkan kuku kau sana! hih jijik kali lah kau ni! sana sana kau potong kuku kau tu biar tidak iritasi aku”. gerutu pak Bambang

“iya pak”. Memet beringsut mundur.

“heh bawa juga susu tu! sudah tercemarlah dengan kuku kau tu”

“eh iya pak” 

begitulah yang terjadi pagi tadi, hingga Memet akhirnya terpaksa memotong kukunya. tapi bukan itu yang membuat Memet melamun, ada hal lain yang membuat hatinya janggal. yaitu, apakah ada sesuatu yang ada tanpa permulaan dan akhiran atau adanya tanpa ada yang sebelumnya dan sesudahnya. karena tadi dia tanpa sengaja melihat video di toktok, ada seorang ceramah bahwasanya Allah itu ada tanpa permulaan dan akhiran, tanpa ada yang sebelum-Nya dan sesudah-Nya.

 Udin berjalan santai sambil memegang rokoknya, tak lupa juga berkalung sarung favoritnya, karena hari ini pak Bambang tak ada jadwal keluar, jadi dia bisa menanggalkan pakaian formalnya. ketika melewati gazebo, dilihatnya si Memet, dengan posisi seperti monyet duduk sambil melamun seperti patung hingga terlihat seperti patung monyet.

 “Met Met Met”. dipanggilnya Memet berulangkali sambil tangannya ia kibaskan didepannya. yang dipanggil masih mematung tanpa bergerak sedikitpun. “kesambet apa ni anak”. pikir Udin. tanpa pikir panjang ia ambil susu di samping Memet, ia minum sedikit lalu berkumur sambil membaca sedikit jampi-jampi sebelum akhirnya ia semburkan ke Memet, “CHUHH”. Memet terkaget dan tersadar dari lamunannya.

“akhirnya..”

“woi ngapain kau”. sergah Memet tak terima wajahnya lengket dengan air susu campur ludah sedikit.

“kau yang ngapain, malah ngelamun kayak monyet gitu”

“eh nganu Din, saya itu mikir Din. tadi saya lihat video pendek, ada ustadz yang ceramah kalo Allah itu Ada Wujud, tanpa ada permulaan dan akhiran. Allah itu ada tanpa ada yang sebelum-Nya dan tanpa ada yang sesudah-Nya. lha terus saya bingung Din, masak ada sesuatu yang tanpa ada yang sebelumnya dan sesudahnya”

“wah harusnya jangan terlalu kau pikir masalah itu. pokoknya kita itu disuruh iman, kalo mikir, mikir tentang ciptaan dan makhluknya Allah saja. jangan kau pikir Allah, tidak akan kuat otak kau tu”

“lha terus gimana dong, sudah terlanjur mikir ini”

“ya sudah saya jawab semampu saya, kamu tadi tanya apakah ada sesuatu tanpa ada yang sebelumnya dan sesudahnya? jawabannya, Ada. kau tengok jari yang kau potong kuku tu”.

Memet melihat jarinya, “sudah”. jawab Memet

   “kau lihat jari jempol kau tu”. perintah Udin. 

Memet mengangguk. 

     “apakah ada sesuatu sebelum jempol?”. tanya Udin.   

Memet menggeleng.

     “lalu kau tengok jari kelingking kau tu”. perintah Udin lagi. 

Memet mengangguk lagi.

 “apakah ada sesuatu sesudahnya?”. tanya Udin lagi. 

Memet menggeleng lagi. 

     “lalu apa yang kau pusingkan? di dunia ini saja ada sesuatu yang ada tanpa ada sebelumnya dan sesudahnya, apalagi Allah yang Maha Segalanya”. konklusi dari Udin sambil merentangkan tangannya, seolah dia sedang berorasi di depan masa.

       "Betul juga kau Din. Tapi ada satu hal lagi Din, lalu Allah sekarang dimana?". tanya Memet penasaran.

  "Ya tidak dimana-mana. Pokoknya Allah itu berbeda dengan kita makhluk. Allah tidak terikat dengan waktu dan tempat. Kan sudah kubilang jangan kau pikir tentang Allah, Ndak akan kuat otak kau itu"

     "Ya gimana lagi, namanya juga penasaran"

    "Ya sudah gini, kau tengok gelas susu ini!". perintah Udin menunjuk gelas yang dari tadi dipegangnya sehabis nyembur Memet.

    "Oke, sudah". Memet menurut.

 "Kau percaya susu ini mengandung lemak?"

       "Heem percaya"

     "Lalu, kau tau letak lemak tu dimana? Di tengah, di bawah, atau di atas gelas?"

     "Oh saya paham Din, jadi di dunia ini saja ada sesuatu yang ada tanpa terikat tempat, apalagi Allah yang Maha Kuasa dan Maha Segala-galanya, gitu kan Din?". Konklusi dari Memet menirukan gaya Udin.

     Si Udin pergi meninggalkan Memet yang masih kagum dan terheran-heran dengan ucapannya sendiri.

Oleh: Arif Akbar Wafa.






Sunday, January 22, 2023

Tahu Gak Kamu, Kalau…

 Tahu Gak Kamu, Kalau…


  1. Indonesia mengenal live streaming sudah dari tahun 1937. Ditandai dengan diundangnya Gusti Nurul beserta Keluarga Mangkunegara VII datang ke Belanda untuk menghadiri pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard. Saat itu, Gusti Nurul mempersembahkan tarian yang mana alunan musik gamelannya dimainkan di Pura Mangkunegara Surakarta. Suara gending itu dipancarkan ke Belanda dari SRV (Solosche Radio Vereneeging) lewat transmisi stasiun radio Malabar. Maka dari itu, Gusti Mangkunegara VII dinobatkan sebagai Bapak Penyiaran Nasional.
  2. Raden Saleh yang merupakan seorang pelukis itu keturunan Saadah Ba'alawiy yang bermarga Bin Yahya. Beliau berjihad melalui lukisan yang fenomenal untuk membantah sebuah lukisan karya Nicholas Pieneman yang bertemakan "Penyerahan Diri Diponegoro". Kemudian dibantah karya Raden Saleh dengan tema, "Penangkapan Diponegoro". Habib Luthfi menuturkan jika Beliau adalah salah satu Ulama besar yang patut kita ziarahi makamnya.
  3. Pangeran Diponegoro merupakan anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono III dengan Mangkarwati yang merupakan Selir Sultan HB III. Pangeran Diponegoro menolak menjadi Raja untuk menggantikan Sang Ayah. Fyi, untuk bisa jumeneng-menjabat sebagai raja - itu harus dari keturunan Raja dengan Permaisuri bukan Raja dengan selir.

Oleh: Mas Joko

Friday, January 20, 2023

SERIAL SI MEMET: CANGCORANG


Hari yang cerah, sambil menyirami tanaman Memet bersenandung ria menirukan suara kicauan burung-burung pak Bambang. macam-macam ragamnya, ada burung elang, kutilang, lovebird, pipit, murai, kacer, prenjak, burung pelatuk yang katanya punah pun ada, bahkan burung unta juga ada, dan burung-burung lainnya, baik yang bisa terbang maupun tidak. 

Tak sengaja mata Memet melihat ke arah salah satu ranting pohon, ada spesies burung yang baru pertama kali dilihatnya. seperti burung berkepala dua, satu kecil satu agak besar. dan kepalanya yang kecil menggantung di ranting. sedangkan kepalanya yang besar terkulai lemah. Karena tidak jelas, di usaplah matanya, satu kali masih sama, dua kali  masih sama, tiga kali masih sama, bahkan berkali-kali hingga matanya merah dan berair masih sama. karena penasaran di dekatilah burung itu. dan ternyata, “WOW..NGERI KALI!”. teriak Memet keras sekali.

“adaww….ada apa Met?”. teriak Udin kesal, karena jarinya tertusuk jarum yang sedang ia gunakan untuk ndondomi sarung favoritnya. sarung itulah yang selalu dipakainya untuk mengajari ngaji anak-anak kecil dikomplek perumahan pak Bambang. selain sebagai sopir pak Bambang, Udin juga mengajar anak-anak kecil komplek, mengaji alif ba’ ta’.

 “sini din”. undang Memet

“ada apa?”. Udin mendekat juga karena penasaran.

“tuh..”. tunjuk Memet ke ranting pohon. 

“WOW NGERI KALI!!”. teriak Udin lebih keras dari Memet.

“woy pelan-pelan dong bisa budek kupingku ini”.gerutu Memet

“habis tu keren kali”. jawab Udin.

Yang mereka lihat adalah burung pipit yang sedang dimakan lehernya oleh cangcorang atau belalang sembah. dengan posisi tangan cangcorang memegang leher burung pipit sambil menggerogoti lehernya.

“kok bisa ya Din cangcorang itu, sadis dan jahat kali dia, membunuh dan memakan hewan yang lebih besar darinya”. gumam Memet.

“ya bisalah Met, kau baru tau? aku pernah baca di internet kalo cangcorang memburu burung, hanya 2% kemungkinan burung bisa lolos”. terang Udin

“ha? masak iya?”. respon Memet tak percaya

“heem”. angguk Udin

“tapi, kok bisa ya Din cangcorang sekejam itu”

“ya bisalah, namanya juga hewan, tidak punya akal punyanya cuma nafsu”

“eh nafsu? ngomong-ngomong tentang nafsu nih Din, kenapa manusia dikasih nafsu, padahalkan kalo tidak ada nafsu, dunia ini akan aman dari orang-orang jahat, dunia damai, tidak ada orang-orang yang menuruti hawa nafsunya hingga menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diinginkannya. mulai dari menipu, nyolong, merampok, bahkan membunuh sekalipun macam cangcorang itu”.cerocos Memet

“ya gimana ya. gini deh, kamu kalo nyuci pakaian yang kamu hilangkan nodanya apa pakaiannya?”

“ya nodanya lah, masak pakaiannya aku buang”

“begitu juga nafsu. Allah kasih manusia akal dan nafsu adalah agar kamu bisa membersihkan nafsumu bukan menghilangkan akalmu. agar Allah bisa menampakkan akalmu yang mana menghasilkan sifat-sifat terpuji atau taqwa dari nafsu yang selalu mengajak ke kejelekan atau sifat-sifat tercela. paham?”

“emm… berarti kita bisa dianggap jujur kalo kita bisa menghilangkan bohong, atau kita bisa dianggap sabar kalo bisa menghilangkan marah  gitu ya Din kira-kira?”.

“Yap betul”.

Oleh: Arif Akbar.