“Loh, kok bisa? Bukannya itu satu kata doang? Kata ربّ doang. Mudhāf kan harus ada mudhāf ilaih-nya?!”
Jadi, lafadz يا ربّ kalau kita telusuri lebih dalam, sebenarnya masuk dalam pembahasan munāda mudhāf ilā yā’ al-mutakallim, yang memiliki ketentuan tersendiri. Dengan kata lain, bentuk asalnya adalah يا ربّي, teman-teman :)
Munāda mudhāf jenis ini memiliki 6 lughoh (cara baca/dialek), dengan perincian sebagai berikut:
- Membuang yā’ mutakallim dan mencukupkan dengan kasrah pada huruf sebelum yā’mutakallim.Contoh: (يا عبادِ (الزمر:١٠.
Lughot ini merupakan yang paling banyak digunakan dan paling fasih di kalangan orang Arab. Menetapkan yā’ dengan bacaan sukun.
Contoh: يا عباديْ.Menetapkan yā’ dengan dibaca fathah.
Contoh: ( يا عباديَ الذين آمنوا إن أرضي واسعة فإياي فاعبدون (العنكبوت: ٥٦.Mengubah kasrah menjadi fathah dan mengganti yā’ menjadi alif.
Contoh: يَا حَسْرَتَى.Membuang alif dan mencukupkan dengan fathah.
Contoh: يا غلامَ.Membuang alif dan membaca dhammah pada huruf yang asalnya berharakat kasrah, seperti ucapan sebagian orang Arab:
يا أمُّ لا تفعلي.
Namun, lughot ini termasuk yang paling lemah di antara keenam lughot tersebut.
Kesimpulannya, boleh-boleh saja membaca ya rabbu, ya rabba, maupun ya rabbi, dengan catatan mampu memaparkan alasan dan dalilnya. Mengingat pembahasan ilmu nahwu memang sangat luas.
Sekian. Apabila terdapat kekeliruan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kritik dan saran pembaca sangat berharga bagi penulis.
Marja’: al-Kawakib ad-Durriyyah Syarh Mutammimah al-Jurumiyyah.
Oleh: Firdan


0 comments: