Malam itu terasa dingin dan sepi. Hanya ada Jackson dan laptopnya. Seperti biasa, ia duduk menatap layar setiap malam. Namun kali ini ada yang berbeda. Pandangannya tertuju pada kalender. Ada satu tanggal yang ia lingkari dan ia tulis: “Pulang.”
Besok kampus libur. Ia sudah memutuskan untuk pulang pagi hari setelah beristirahat.
Keesokan harinya, Jackson bersiap. Ia mengenakan celana jeans, jaket hitam, dan topi merah. Ia juga membawa hadiah untuk ibunya. Mobil dinyalakan, perjalanan pun dimulai. Hari itu terasa indah, seolah menjadi momen yang istimewa.
Sesampainya dirumah, ia langsung menemui ibunya. Mereka berbincang sebentar, melepas rindu. Jackson pun memberikan hadiah yang dibawanya. Namun karena merasa liburnya masih panjang, ia kembali membuka laptop dan mulai siaran langsung untuk mengurus para pengikutnya.
Lama-kelamaan, perhatiannya hanya tertuju pada layar. Ia asyik dengan dunia maya hingga mulai melupakan sekitarnya, termasuk ibunya.
“Ting!” ponselnya berbunyi. Ternyata Adrian mengirim pesan.
“Hei, lagi ngapain, Bro?”
“Lagi live, ngurus followers gue.”
“Buset, rajin banget. Nggak capek?”
“Capek sih, tapi ya gimana… lagi naik juga soalnya.”
“Heh, tapi lu udah nemenin ibu lu belum?”
“Hah? Ya santai aja kali. Ibu gue juga di rumah.”
“Ya bukan gitu Bro, Ini kan momen lu pulang. Masa malah sibuk sama layar?”
“Iya juga sih… tapi bentar doang ini.”
“Bentar lu bilang, tau-tau seharian.”
“Alah, lebay lu.”
“Serius gue, nanti nyesel loh kalau kebanyakan cuek.”
“Iya, iya… ntar juga gue samperin.”
“Yaudah deh, gue cuma ngingetin. Gue mau keluar dulu.”
“Oke, hati-hati.”
Setelah itu, Jackson kembali fokus pada siaran langsungnya. Waktu berlalu tanpa terasa. Siang berganti malam, tetapi ia tetap terpaku di depan layar.
Hingga tiba-tiba…
“Bruk!”
Terdengar suara keras dari dapur.
“Apa sih itu? Ganggu banget,” gumamnya sambil berjalan mengecek.
Langkahnya terhenti. Tubuhnya kaku.
Di lantai dapur, ibunya tergeletak… tak bergerak.
“Bu…?” suaranya pelan, gemetar.
Namun tak ada jawaban.
Dunia seakan berhenti saat itu juga.
Setelah pemakaman selesai, Jackson duduk termenung di depan makam ibunya. Ia menatap nisan itu lama, seolah berharap semuanya hanya mimpi.
“Maafin gue, Bu…” ucapnya lirih.
Ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas. Jumlah pengikutnya turun drastis. Notifikasi sepi. Perlahan, semuanya menghilang.
Saat itulah ia sadar… ia benar-benar sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah mobil Innova hitam berhenti. Adrian turun dan menghampirinya.
“Sabar ya, Bro…” ucap Adrian pelan.
“Iya… tapi gue ngerasa kosong banget. Kayak semuanya hilang,” jawab Jackson dengan suara berat.
“Lu masih punya waktu buat berubah, Jack.”
Jackson menggeleng pelan.
“Tapi buat ibu gue… udah nggak ada kesempatan lagi…”
Adrian terdiam.
“Makanya kemarin gue ingetin… jangan kebanyakan sibuk sama dunia lu sendiri.”
Jackson menunduk. Tangannya mengepal.
“Iya… sekarang gue nyadar. Tapi semuanya udah telat.”
Hari itu, Jackson benar-benar mengerti satu hal: waktu tidak pernah menunggu.
Ia menyesal telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk sesuatu yang pada akhirnya pergi begitu saja. Sementara orang yang paling berharga justru ia abaikan.
Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan…
karena waktu yang telah terbuang.
Oleh: Azami

0 comments: