Adzan Isya’ berkumandang lembut di langit malam. Roki duduk di ruang tengah, menatap meja makan yang sederhana. Hari itu terasa berbeda, lebih sunyi sejak ayahnya merantau ke luar kota demi sebuah pekerjaan.
Ibunya sibuk menata hidangan makan malam. Segelas air putih, beberapa lauk sederhana, dan sepiring gorengan hangat. Saat adzan selesai, ibunya tersenyum dan berkata, “Makan itu bukan soal banyaknya makanan, tapi rasa syukur.”
Roki mengangguk pelan. Saat meneguk air pertamanya, hatinya terasa hangat. Dalam hari-hari yang dijalaninya, Roki belajar bahwa kesabaran, kebersamaan, dan doa mampu mengisi ruang kosong yang ditinggalkan rindu.
Malam semakin larut. Setelah suasana rumah mulai tenang, Roki mengangkat tangannya dan berdoa lebih lama dari biasanya. Ia menyelipkan doa untuk ayahnya, berharap agar selalu sehat dan bisa pulang segera, dengan rasa rindu yang membara di hatinya.
Oleh: Muktafin


0 comments: