Friday, October 2, 2026

Biografi Singkat Umar bin Abdul Aziz

            


            Memiliki Nama lengkap Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abu Al-’ash bin Umayyah. Dilahirkan tahun 61 H dari Ibu bernama Ummu ‘Ashim bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab.Beliau memiliki istri bernama Fatimah binti Malik ( putri Khalifah ke-5 Daulah Umayyah ). 

Beliau berhasil membawa Daulah Umayyah menuju kejayaannya. karena kesuksesannya dalam memimpin, para ahli sejarah menyatakan bahwa pemerintahannya mirip dengan Khulafaur Rasyidin.


Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah ke-8 berdasarkan wasiat pamannya, Sulaiman bin Abdul Malik, tanpa sepengetahuannya. Beliau tidak pernah berusaha menjadi Khalifah. Terjadi perubahan besar pada diri beliau, dari cara hidup dan lain-lain.


Banyak terjadi reformasi dan perbaikan pada masa beliau menjabat. Beliau banyak memperbaiki Jalan- jalan, menggali sumur dan membangaun masjid. Beliau juga mendistribusikan zakat dan sedekah dengan cara yang baik, sehingga pada zaman beliau menjadi Khalifah tidak ada orang yang kelaparan dan kekurangan.


Berkat ketakwaan dan kesalehan beliau, pada zamannya beliau dianggap sebagai salah seorang Khulafaur Rasyidin. Beliau wafat [ada tahun 101 H / 719 M.



Oleh : Naja

Sunday, September 27, 2026

Rindu Kehilangan Sosok Abuya




Detik telah berganti menjadi menjadi menit, menit telah berganti menjadi jam, jam telah berganti menjadi hari dan seterusnya. Banyak sekali waktu yang telah engkau habiskan dan pastinya engkau gunakan untuk mengabdi pada sang maha kuasa, engkau adalah anugrah terindah bagi kami. 


Aku dulu ketika lewat jendela sebelah ruanganmu untuk mengabdi, yang kami dengar selalu lantunan Al-Qur’an, sholawat dan ibadah lainnya, tapi itu dulu, karena sekarang engkau telah menuntaskan tugasmu dan sudah saatnya engkau kembali ke sisinya untuk menemui sang maha pengasih, kekasihmu, orang yang engkau sayangi, orang tua juga para guru-gurumu. Kami pasti ikut senang dengan hal itu, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, tapi kepergianmu adalah peristiwa yang sangat sulit dipercaya, hanya air mata yang dapat menjelaskannya waktu itu, langit pun turut bersedih kehilangan sosok sepertimu. segala sesuatu yang engkau lakukan padaku, aku takkan bisa melakukannya. kasih sayang, ketulusanmu tak pernah tergantikan, sekarang kami tak bisa lagi melihatmu, mendengarmu. Banyak sekali kenangan yang sangat indah yang sudah terlewatkan, bahkan jika kenangan itu dapat diputar beberapa kali pun, akan tetap kunikmati asal ada dirimu, awal mulaku bertemu dengan engkau, engkau dengan tulus memberikan senyuman dan pandangan yang teduh, tapi itulah waktu ia tak dapat untuk diputar kembali, dan sekarang yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang sangat kami rindukan. Rindu kepada guru, orang tua yang selalu mendidik anaknya dengan ketulusan dari hati yang terdalam. Kasih sayangmu menyeluruh kepada kami tanpa terkecuali, mungkin hanya sebatas kata terimakasih, saya sangat tidak pantas untuk menerima semua itu. 


  Maafkan aku jika khidmah ku kepadamu masih jauh dari kata sempurna, yang aku inginkan hanyalah aku masih engkau ingat, meskipun sangat tidak pantas aku mendapatkan hal tersebut. Entah apa jadinya diriku tanpamu, dan sampai kapan pun engkau takkan pernah aku lupakan, dan sampai kapan pun juga rindu ini terus ada untukmu…


Kito sedoyo kangen sanget kaleh Abuya….


Milad Abuya, 23 September



Tuesday, September 1, 2026

Rasulullah ﷺ, Pemimpin Sepanjang Zaman

 


Ketika mendengar kata “pemimpin,” mungkin yang pertama kali terbayang di pikiran kita adalah sosok yang punya jabatan, kekuasaan, banyak pengikut, atau harta yang melimpah.

Namun, ada satu pemimpin yang sangat berbeda dari gambaran tersebut. Beliau tidak memiliki istana yang megah, juga tidak meninggalkan harta yang banyak. Meskipun demikian, nama beliau tetap hidup dan disebut oleh miliaran manusia hingga hari ini. Beliau adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ bukan sekadar pemimpin yang mengomando masyarakat, melainkan sosok yang menuntun manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Beliau mengubah jalannya sejarah bukan dengan pemaksaan, melainkan melalui keindahan ajaran dan akhlak yang beliau contohkan.

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam masa kelam. Perselisihan antarsuku sering terjadi, dan kaum yang kuat bebas berbuat semena-mena kepada yang lemah. Orang-orang saat itu merasa lebih tinggi hanya karena faktor suku, keturunan, atau kekayaan.

Rasulullah ﷺ lalu hadir membawa cahaya Islam. Beliau menegaskan bahwa manusia tidak menjadi mulia karena harta, jabatan, atau garis keturunan. Di hadapan Allah, satu-satunya hal yang membuat seseorang mulia adalah tingkat ketakwaannya.

Beliau juga mengajarkan prinsip hidup yang sederhana namun sangat mendasar. Rasulullah ﷺ mendidik kita untuk selalu jujur, amanah, sabar, menyayangi sesama, menjaga lisan, dan berlapang dada untuk memaafkan. Beliau tidak langsung membangun sebuah negara besar, melainkan memperbaiki individu manusia satu per satu. Dari pribadi yang baik, lahirlah keluarga yang baik. Dari sana, terbentuk masyarakat yang baik hingga akhirnya tercipta sebuah peradaban yang mulia.

Hari ini, kita hidup di zaman yang jauh berbeda dengan masa Rasulullah ﷺ. Kita dikelilingi oleh ponsel, internet, dan media sosial. Kita bisa mengobrol dengan orang yang jauh hanya melalui layar, dan informasi bisa menyebar dalam hitungan detik.

Teknologi memang terus berkembang dan gaya hidup manusia ikut berubah. Namun, ada satu hal yang harus tetap kita genggam erat, yaitu akhlak.

Saat ada orang yang membuat kita kesal, ego kita mungkin ingin membalas. Namun, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menahan diri dan belajar berlapang dada. Ketika banyak orang berlomba-lomba mencari panggung demi pujian manusia, kita harus ingat bahwa hidup ini bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang mencari ridha Allah.

Pada akhirnya, ajaran Rasulullah ﷺ sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita. Kita tidak harus menunggu momen besar untuk meneladani beliau. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil di sekitar kita: berkata jujur, menghormati orang tua dan guru, menjaga ucapan, membantu teman, menepati janji, serta tidak gengsi untuk meminta maaf maupun memaafkan.

Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar menghafal nama dan kisah hidup beliau, melainkan tentang perjuangan kita untuk membumikan akhlak beliau dalam setiap langkah hidup kita sehari-hari.

Oleh: Ali.


Friday, August 28, 2026

Insan Terbaik

 

Berlalulah sang waktu, jauh sudah aku darimu. Rasa rindu untuk bertemu, walau hanya sebatas mimpi. Tak terbayangkan jika aku dapat bertemu denganmu, menatap wajahmu yang mulia.

Engkaulah sebaik-baiknya pemimpin, engkaulah insan yang terbaik. Namamu selalu disebut, walau terpisah oleh zaman. Namun, dirimu akan selalu ada di hatiku. Salam yang terindah kusampaikan untukmu, untuk sang manusia terbaik, untuk Rasulullah ﷺ.

Tiada yang lebih sempurna darimu, tiada yang lebih hebat darimu. Engkaulah cahaya yang membimbing umat menuju kebenaran. Engkau menunjukkan umat kepada jalan yang lurus, dari masa jahiliyah menuju masa yang terang benderang.

Dengan akhlakmu, manusia menjadi lebih baik. Tanpamu, manusia takkan jadi apa-apa. Engkaulah utusan yang terbaik, engkaulah sang pemimpin, yang memimpin umat menuju jalan yang diridhai Allah. Engkaulah sang pembawa rahmat, yang engkau bawakan untuk seluruh alam.

Alangkah indahnya hidup ini, andaikan dapat berjumpa denganmu.

Tiada yang lebih baik darimu. Engkau datang membawa ajaran yang benar, yang menjauhkan manusia dari kebatilan dan membawa manusia menuju kebenaran.

Walau terpisah oleh zaman yang begitu jauh, namamu akan selalu terikat dalam pikiranku, di mana pun dan kapan pun. Engkau adalah yang utama, engkau adalah yang mulia. Engkaulah nabiku, engkaulah idolaku, engkaulah pemimpinku, ya Rasulullah ﷺ.

Ya Allah, ingatkanlah aku kepada Nabi-Mu. Dekatkanlah aku kepada Nabi-Mu. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang dicintai oleh Nabi-Mu.

Sampaikanlah salamku, salam yang paling indah untuk Nabi Muhammad ﷺ.

Oleh: Azami


Tuesday, August 18, 2026

Manfaat Air Putih Bagi Otak



Tahukah kalian? dalam sehari, tubuh kita membutuhkan sekitar 2–3 liter cairan untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh dengan baik. Namun, kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung pada usia, aktivitas, cuaca, dan kondisi tubuh.

Salah satu organ yang sangat bergantung pada kecukupan cairan adalah otak. Air memiliki peran penting dalam membantu otak menjalankan berbagai fungsinya. Ketika tubuh kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, kemampuan otak dalam berkonsentrasi, mengingat, dan memproses informasi dapat ikut terganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan cairan sekitar 2% dari berat badan sudah dapat memberikan dampak pada beberapa fungsi kognitif, terutama perhatian dan kemampuan berpikir. Hal ini juga terlihat dalam beberapa penelitian pada anak-anak. Anak yang mendapatkan asupan air yang cukup menunjukkan hasil yang lebih baik dalam beberapa tugas yang berkaitan dengan perhatian dan memori.

Dengan kata lain, memenuhi kebutuhan cairan bukan hanya penting untuk menghilangkan rasa haus, tetapi juga membantu menjaga tubuh dan otak agar tetap bekerja secara optimal. Saat tubuh terhidrasi dengan baik, kita akan lebih siap untuk belajar, berpikir, berkonsentrasi, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, bukan berarti semakin banyak minum air maka kemampuan otak akan semakin meningkat. Tubuh memiliki kebutuhan cairan yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air yang cukup dan teratur sepanjang hari, terutama ketika sedang beraktivitas atau berada di cuaca yang panas.

Jadi, ketika ingin menjaga konsentrasi dan membantu otak bekerja secara optimal, jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari. Sederhana, tetapi sangat penting untuk mendukung kesehatan tubuh sekaligus menjaga pikiran tetap fokus dan siap beraktivitas.

 Oleh: Arsakha

Friday, August 14, 2026

Cahaya di Bulan Rabiul Awal 1448 H

 


Tidak terasa, waktu terus berjalan, dan kini kita sudah memasuki bulan Rabiul Awal 1448 H. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam hati.

Kata "Rabiul Awal" sendiri memiliki arti musim semi. Mengapa disebut musim semi? Hal itu karena pada bulan inilah lahir manusia paling mulia, pembawa pencerahan bagi seluruh alam, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ. Kehadiran beliau bagaikan musim semi yang membuat bumi kembali hidup, hijau, dan penuh harapan setelah lama tertutup kegelapan.

  • Mengenal Sosok Teladan Kita: Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ

Ketika berbicara tentang Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, kita sedang membahas sosok manusia yang paling lembut hatinya, jujur, dan penuh kasih sayang. Jauh sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah dikenal sebagai orang yang sangat terpercaya hingga mendapat julukan Al-Amin.

Saat beliau lahir, dunia yang tadinya kacau dan penuh keburukan perlahan-lahan berubah. Beliau mengajarkan cara menyembah Allah yang benar, memanusiakan manusia, dan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang memusuhi beliau sekalipun.

Bahkan, Allah ﷻ memuji akhlak beliau dalam Al-Qur'an:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung."        (QS. Al-Qalam: 4)

  • Menghidupkan Semangat Rabiul Awal 1448 H dalam Kehidupan Nyata

Menyambut Rabiul Awal 1448 H dengan penuh khidmat menuntut kita untuk menerjemahkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ ke dalam tindakan nyata sehari-hari. Beberapa langkah penting yang bisa kita lakukan meliputi:

  1. Menghidupkan Sunnah dalam Keseharian. Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak cukup hanya diikrarkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti jejak langkahnya. Hal ini bisa dimulai dari adab berpakaian, cara berbicara, kepedulian terhadap tetangga, hingga kejujuran dalam bermuamalah.

  2. Memperbanyak Shalawat sebagai Bentuk Rindu. Penyelenggaraan majelis shalawat yang semarak di bulan ini merupakan wujud kerinduan kolektif umat. Mengumandangkan shalawat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah ﷻ  sekaligus membuka pintu syafaat Baginda Nabi di hari kiamat kelak.                                                       

  3. Mengkaji Ulang Sirah Nabawiyah. Membaca kembali kisah hidup dan perjuangan Rasulullah ﷺ akan memberikan keteguhan mental serta spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di era modern 1448 H ini.

  • Puisi Penutup: Permata Hati di Bulan Rabiul Awal

Di ufuk malam angin berbisik syahdu,

Membawa sejuk ke dalam ruang rindu.

Tanda musim semi tiba di beranda dunia,

Membawa damai yang menyapa jiwa.

Selamat datang, Rabiul Awal yang suci,

Bulan tersenyum menyambut sang matahari.

Bulan di mana bumi bergetar penuh bahagia,

Kala lahirnya Nabi pembawa pelita cahaya.

Duhai Kanjeng Nabi Muhammad, permata semesta,

Wajahmu bak rembulan yang menyejukkan mata.

Engkau hadir membawa cinta kasih nan abadi,

Mengusir gulita, menuntun hati kembali suci.

Tutur katamu adalah embun penawar lara,

Langkah kakimu adalah teladan sepanjang masa.

Akhlakmu adalah ayat-ayat suci yang nyata,

Menghidupkan asa di setiap relung dada.

Ya Rasulullah, meski raga tak pernah bersua,

Cinta ini mengalir deras di dalam dada.

Izinkan kami berjalan di bawah panji sunnahmu,

Hingga kelak berlabuh dalam damai syafaatmu.

  • Penutup

Semoga kehadiran bulan Rabiul Awal 1448 H menjadi titik balik bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta, serta meneladani akhlak mulia Baginda Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ secara menyeluruh.

Oleh: Nabil

Friday, August 7, 2026

Memahami Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Apa perbedaannya?

 


Setiap muslim hampir tidak pernah lepas dari ucapan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Kalimat ini dibaca sebelum memulai berbagai aktivitas, mulai dari membaca Al-Qur'an, belajar, bekerja, hingga melakukan berbagai amal kebaikan. Di dalamnya terdapat dua nama Allah yang agung, yaitu Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm. Keduanya sama-sama berasal dari akar kata رَحِمَ (raḥima) yang berarti kasih sayang atau rahmat. Meskipun memiliki akar kata yang sama, keduanya mengandung makna yang berbeda dan saling melengkapi.

  1. Makna Ar-Raḥmān


Ar-Raḥmān (الرَّحْمٰن) berarti Yang Maha Pengasih. Nama ini menunjukkan keluasan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali. Semua makhluk merasakan kasih sayang-Nya, baik orang yang beriman maupun yang tidak beriman, manusia, hewan, maupun seluruh alam semesta.


Bentuk kasih sayang tersebut tampak dalam berbagai nikmat yang Allah berikan, seperti kehidupan, kesehatan, udara yang dapat dihirup, sinar matahari, hujan, rezeki, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Ar-Raḥmān menggambarkan rahmat Allah yang bersifat umum dan mencakup seluruh ciptaan-Nya.


  1. Makna Ar-Raḥīm


Ar-Raḥīm (الرَّحِيم) berarti Yang Maha Penyayang. Nama ini menunjukkan rahmat Allah yang bersifat khusus, terus-menerus, dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.


Rahmat ini berupa hidayah, taufik, kemudahan dalam beribadah, ketenangan hati, ampunan dosa, serta kenikmatan surga di akhirat. Allah berfirman:


وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا»


"Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab: 43)»


Ayat ini menunjukkan bahwa sifat Ar-Raḥīm memiliki kaitan yang sangat erat dengan kasih sayang Allah kepada orang-orang yang beriman.


  1. Persamaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Kedua nama tersebut sama-sama menunjukkan kesempurnaan sifat rahmat Allah. Tidak ada kasih sayang yang lebih sempurna daripada kasih sayang-Nya. Semua nikmat yang diterima makhluk merupakan bukti dari rahmat Allah, baik rahmat yang bersifat umum maupun rahmat yang bersifat khusus.


  1. Perbedaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Para ulama menjelaskan beberapa perbedaan pokok antara kedua nama tersebut:


- Ar-Raḥmān menunjukkan rahmat Allah yang sangat luas dan meliputi seluruh makhluk, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan rahmat yang khusus bagi orang-orang beriman.

- Ar-Raḥmān lebih menggambarkan keluasan sifat kasih sayang Allah, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan kasih sayang yang terus diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

- Rahmat Ar-Raḥmān tampak pada berbagai nikmat kehidupan di dunia, sedangkan rahmat Ar-Raḥīm mencapai kesempurnaannya di akhirat berupa ampunan, keridaan, dan surga.


  1. Hikmah Penyebutan Keduanya dalam Basmalah


Allah menyebut kedua nama ini secara berdampingan dalam basmalah agar hamba-Nya memahami bahwa rahmat Allah sangat luas sekaligus memiliki bentuk rahmat yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Hal ini juga mengajarkan agar seorang muslim selalu berharap kepada kasih sayang Allah dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat.


Memahami perbedaan antara Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm akan semakin menumbuhkan rasa syukur, harapan, dan cinta kepada Allah. Rahmat-Nya yang luas membuat setiap hamba tidak pernah berputus asa, sedangkan rahmat khusus-Nya mendorong setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan agar termasuk golongan yang memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Dengan demikian, setiap kali mengucapkan basmalah, kita tidak sekadar melafalkan dua nama Allah, tetapi juga menghayati keluasan kasih sayang-Nya serta berharap memperoleh rahmat-Nya yang khusus. Oleh: Shofil


Friday, July 3, 2026

Kyai Kholil Dalam Perdebatan Antara Kepiting Dan Rajungan


Diceritakan bahwa pada suatu hari para ulama di Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk membahas berbagai persoalan fikih. Berbagai masalah dikumpulkan dan dibahas sesuai dengan ketentuan hukum islam. Satu per satu permasalahan hukum diselesaikan dengan mudahnya, meskipun terkadang disertai perdebatan. Hampir tidak ada masalah yang sulit diputuskan.

Namun, ketika pembahasan sampai pada hukum kepiting dan rajungan, para ulama mulai berbeda pendapat. Kesulitan itu muncul karena mereka hanya berpedoman pada kitab-kitab yang ada di hadapan mereka. Selain itu, jika dilihat sekilas, kepiting dan rajungan tampak mirip. Hanya orang yang benar-benar memahami dunia hewan yang dapat membedakan keduanya dengan jelas.

Perdebatan pun berlangsung cukup lama. Setiap ulama mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sebagian berpendapat bahwa kepiting dan rajungan sama-sama halal karena dianggap sejenis. Sementara itu, sebagian yang lain berpendapat bahwa rajungan halal, sedangkan kepiting haram. Karena belum mencapai kesepakatan, pembahasan tentang kepiting dan rajungan pun terus berlanjut. Selama ini, mereka hanya mengenal kedua hewan tersebut melalui gambar dan penjelasan.

Pada saat itu, Kyai Kholil yang sedang menuntut ilmu di Makkah juga hadir dalam majelis tersebut. Beliau duduk dengan tenang, mendengarkan perdebatan para ulama, dan sesekali tersenyum. Ketika melihat pembahasan tidak menemukan jalan keluar, Kyai Kholil pun berdiri dan meminta izin untuk menyampaikan pendapatnya.

“Hadirin yang terhormat, bisakah aku berbicara mengenai persoalan kepiting dan rajungan ini?” Kyai Kholil berdiri di hadapan hadirin.

“Ya, silahkan kemukakan pendapat Anda.”

Setelah berdiri di hadapan para ulama, Kyai Kholil berkata, "Sulitnya menentukan hukum kepiting dan rajungan karena para hadirin belum melihat secara langsung bentuk kedua hewan tersebut."

Para ulama saling memandang dan mengangguk, seolah membenarkan perkataan beliau.

Kemudian Kyai Kholil berkata lagi, "Inilah wujud kepiting."

Beliau memperlihatkan seekor kepiting yang masih basah di tangan kanannya.

Lalu beliau melanjutkan, "Dan inilah wujud rajungan."

Di tangan kirinya tampak seekor rajungan yang juga masih basah, seakan baru saja diambil dari laut.

Melihat kejadian itu, seluruh ulama yang hadir terkejut. Mereka saling berpandangan karena baru pertama kali melihat kepiting dan rajungan secara langsung dalam majelis tersebut. Suasana pun menjadi ramai karena semua orang merasa takjub.

Peristiwa itu membuat banyak ulama membicarakan karomah Kyai Kholil. Sejak saat itu, nama Kyai Kholil semakin dikenal dan dihormati oleh para ulama di Makkah karena keluasan ilmunya serta karomah yang Allah anugerahkan kepada beliau.

Oleh : Arsakha 


Tuesday, May 12, 2026

Kejarlah Mimpimu Sampai Orang Bilang: “When yh?”



Gen Z mana yang nggak tahu istilah “when yh”?
Kalimat yang hampir selalu “nangkring” di kolom komentar postingan tentang prestasi, kesuksesan, pencapaian, atau momen-momen dreamy di media sosial.

“Masuk kampus impian, when yh?”

“Bisa lancar baca kitab kuning, when yh?”

“Khatam 30 Juz bil Ghoib, when yh?”


Kelihatannya sederhana dan lucu, tapi sebenarnya kata “when yh” punya makna yang dalam. Bukan cuma berarti “kapan ya giliranku?”, tapi juga bentuk kagum sekaligus doa untuk orang lain. Dalam istilah Arab, ini mirip dengan ghibṭah: rasa ingin memiliki nikmat seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang darinya.


Saat seseorang berkata “when yh” kepada kita, itu berarti:

  1. Perjuangan kita terlihat.

  2. Proses kita menginspirasi.

  3. Keberadaan kita menjadi standar semangat bagi orang lain.


Sebagai pelajar, apalagi santri, bukankah kita juga ingin punya pencapaian yang membuat orang lain berkata:

“MasyaAllah… when yh bisa kayak dia?”

Bukan untuk pamer, tapi sebagai bukti bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil.


Ayo, Jemput Giliranmu!


Untuk kamu yang sekarang masih berkutat dengan tumpukan kitab, hafalan yang sering susah, atau tugas yang nggak habis-habis,  bertahanlah.


Jangan mudah menyerah hanya karena prosesnya panjang. Orang hebat yang kalian lihat hari ini juga pernah lelah, pernah gagal, bahkan pernah diremehkan. Bedanya, mereka memilih tetap berjalan.


Mungkin hari ini kita masih biasa saja.

Masih tertidur saat yang lain bangun malam untuk murojaah.

Masih mengeluh saat yang lain diam-diam memperbaiki diri.

Masih jadi penonton kesuksesan orang lain sambil mengetik: “when yh?”


Tapi selama kita mau berubah dan terus berusaha, bukan tidak mungkin suatu hari nanti justru giliran kita yang dipandang kagum oleh orang lain.

Belajarlah sampai kualitas dirimu  baik ilmu, adab, maupun skill membuat orang lain berhenti scrolling dan berkata dalam hati:

“Keren banget… kapan ya aku bisa sehebat dia?”


Jadikan rasa lelahmu hari ini sebagai investasi.


Biarkan hari ini kamu sibuk mutholaah kitab, sibuk menghafal di sudut pesantren, atau diam-diam memperbaiki diri saat orang lain tidur. Karena bisa jadi, semua proses itu sedang menyiapkan masa depan yang besar untukmu.


Tetap semangat para pelajar dan santri.

Belajar yang rajin, niatkan ibadah, perbaiki akhlak, dan jangan takut bermimpi besar. Karena mimpi yang diperjuangkan dengan doa, usaha, dan kesabaran InsyaAllah akan menemukan jalannya sendiri.


Dan saat waktunya tiba, biarkan dunia yang mengetik:

“Syeikh… when yh?” 


Oleh: Abid

 

Friday, May 8, 2026

Portal Sunyi Peradaban Perpustakaan Al-Qarawiyyin

Di kota tua Fez, ada satu tempat di mana waktu terasa seperti malas bergerak.

Mahasiswa datang dan pergi, turis memotret lengkungan-lengkungan kuno, dan para peneliti tenggelam dalam halaman-halaman yang ditulis ratusan tahun lalu. Tapi bagi Zaid, tempat itu lebih dari sekadar perpustakaan. Ia seperti portal sunyi—tempat di mana pikiran dari berbagai abad berkumpul tanpa perlu saling memperkenalkan diri.


Pagi itu, Zaid masuk ke dalam Perpustakaan Al-Qarawiyyin dengan secangkir kopi yang hampir dingin dan rasa penasaran yang terlalu besar untuk diabaikan.


“Cuma lihat-lihat sebentar,” gumamnya pada diri sendiri.


Ia sudah tahu itu bohong.


Rak-rak kayu tua berdiri tinggi seperti barisan penjaga rahasia. Aroma kertas tua, tinta, dan kayu bercampur menjadi satu. Cahaya matahari jatuh dari jendela tinggi, membelah ruangan menjadi potongan-potongan waktu.


Zaid selalu punya teori kecil tentang perpustakaan tua: buku-buku di sana sebenarnya tidak diam. Mereka hanya menunggu seseorang yang cukup penasaran untuk membuka percakapan.


Dan pagi itu, tanpa ia sadari, percakapan itu sedang menunggunya.



---


Ia berjalan melewati rak manuskrip Andalusia. Tangannya menyusuri punggung-punggung buku yang sebagian besar bahkan tidak lagi dicetak di zaman modern.


Lalu ia melihat sesuatu yang aneh.


Sebuah kotak kayu kecil terselip di antara dua manuskrip tua.


Kotak itu tidak memiliki label. Tidak ada nomor katalog. Bahkan tidak tampak seperti bagian dari koleksi resmi perpustakaan.


“Ini apa?”


Zaid membuka tutupnya.


Di dalamnya hanya ada satu benda.


Sebuah cincin tembaga tua dengan ukiran kaligrafi yang hampir pudar.


Ia memutarnya pelan di antara jari-jarinya.


“Antik banget…”


Dan tepat ketika cincin itu menyentuh kulitnya—


lantai seperti bergeser.


Udara berubah.


Suara yang tadi hanya bisikan pengunjung perpustakaan tiba-tiba digantikan oleh riuh pasar.


Zaid mengerjap.


Sekali.


Dua kali.


Rak buku menghilang.


Sebagai gantinya, jalan batu terbentang di depannya. Orang-orang berjalan dengan jubah panjang. Pedagang berteriak menawarkan kertas, tinta, dan buku. Bau kulit dan tinta memenuhi udara.


Zaid memutar tubuhnya perlahan.


“Sebentar…” gumamnya.


Di kejauhan berdiri megah bangunan yang tidak mungkin ia salah kenali—lengkungan merah-putih yang ikonik dari Masjid Agung Cordoba.


Jantungnya berhenti sepersekian detik.


“Cordoba…?”


Bukan Cordoba yang ia lihat di buku sejarah.


Cordoba yang hidup.



---


Hari terasa seperti mimpi yang terlalu nyata.


Zaid berjalan di antara para penyalin manuskrip, dokter, pelajar, dan pedagang buku. Kota itu terasa seperti festival ilmu yang tidak pernah selesai.


Di sebuah taman kecil dekat madrasah, ia akhirnya duduk untuk menenangkan pikirannya.


Di sana, seorang lelaki tua memperhatikannya sejak tadi.


Jubahnya sederhana. Matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa menimbang pikiran sebelum kata-kata keluar.


“Engkau terlihat seperti orang yang tersesat,” katanya akhirnya.


Zaid tertawa gugup.


“Mungkin memang begitu.”


Lelaki itu tersenyum tipis.


“Aku sering melihat pelajar dari berbagai negeri. Tapi cara engkau memandang kota ini… seperti seseorang yang sedang melihat masa lalu.”


Zaid menatapnya.


“Bagaimana kalau saya benar-benar dari masa depan?”


Lelaki itu tidak tampak terkejut.


Sebaliknya, ia justru terlihat terhibur.


“Kalau begitu,” katanya sambil menunjuk kota Cordoba yang ramai, “engkau sedang menyaksikan sesuatu yang penting.”


“Peradaban.”


Zaid menelan ludah. “Anda siapa sebenarnya?”


Orang-orang di taman lewat sambil menundukkan kepala hormat kepadanya.


Nama itu akhirnya disebut oleh seorang murid yang lewat:


Ibnu Rushd.



---


Mereka berbicara lama.


Tentang filsafat. Tentang ilmu. Tentang bagaimana buku dari Yunani diterjemahkan di Timur, lalu dipelajari kembali di Barat.


“Peradaban,” kata Ibnu Rushd, “bukan tentang siapa yang paling besar. Ia tentang siapa yang mau mendengar.”


Ia menunjuk ke arah kota.


“Di Cordoba, pikiran dari berbagai dunia bertemu.”


Zaid mengingat sesuatu yang pernah ia baca.


“Seperti konsep umran?”


Ibnu Rushd mengangguk pelan.


“Suatu hari nanti,” katanya, “akan lahir seorang pemikir besar bernama Ibnu Khaldun. Ia akan menjelaskan bahwa peradaban hidup dari hubungan manusia—ilmu, solidaritas, dan dialog.”


Ia berhenti sejenak.


“Jika dialog berhenti… peradaban ikut membeku.”


Kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang ditujukan langsung pada Zaid.



---


Cincin di jarinya tiba-tiba bergetar lagi.


Taman Cordoba mulai kabur.


Suara pena, pasar, dan diskusi filsafat perlahan menghilang.


Ketika Zaid membuka mata—


ia kembali berdiri di antara rak manuskrip Perpustakaan Al-Qarawiyyin.


Laptop mahasiswa kembali terdengar.


Langkah turis kembali menggema.


Semuanya normal.


Kecuali pikirannya.


Zaid memandang buku catatannya.


Tangannya menulis satu kalimat:


“Peradaban bukan warisan batu. Ia warisan percakapan.”


Ia memandang cincin di jarinya.


Dan saat itulah ia sadar sesuatu yang membuatnya merinding.


Artefak itu tidak membawanya ke masa lalu.


Ia hanya memperlihatkan bahwa percakapan Cordoba belum pernah benar-benar selesai.


Ia hanya berpindah tempat.


Ke perpustakaan.


Ke kampus.


Ke ruang-ruang diskusi kecil.


Ke generasi baru.


Zaid menutup buku catatannya perlahan.


Dan untuk pertama kalinya ia mengerti—


masa depan peradaban bukan tersembunyi di artefak kuno.


Ia ada di tangan yang berani berpikir.


Dan hari ini,


tangan itu adalah tangannya. ✨


Oleh: Falah