Friday, August 7, 2026

Memahami Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Apa perbedaannya?

 


Setiap muslim hampir tidak pernah lepas dari ucapan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Kalimat ini dibaca sebelum memulai berbagai aktivitas, mulai dari membaca Al-Qur'an, belajar, bekerja, hingga melakukan berbagai amal kebaikan. Di dalamnya terdapat dua nama Allah yang agung, yaitu Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm. Keduanya sama-sama berasal dari akar kata رَحِمَ (raḥima) yang berarti kasih sayang atau rahmat. Meskipun memiliki akar kata yang sama, keduanya mengandung makna yang berbeda dan saling melengkapi.

  1. Makna Ar-Raḥmān


Ar-Raḥmān (الرَّحْمٰن) berarti Yang Maha Pengasih. Nama ini menunjukkan keluasan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali. Semua makhluk merasakan kasih sayang-Nya, baik orang yang beriman maupun yang tidak beriman, manusia, hewan, maupun seluruh alam semesta.


Bentuk kasih sayang tersebut tampak dalam berbagai nikmat yang Allah berikan, seperti kehidupan, kesehatan, udara yang dapat dihirup, sinar matahari, hujan, rezeki, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Ar-Raḥmān menggambarkan rahmat Allah yang bersifat umum dan mencakup seluruh ciptaan-Nya.


  1. Makna Ar-Raḥīm


Ar-Raḥīm (الرَّحِيم) berarti Yang Maha Penyayang. Nama ini menunjukkan rahmat Allah yang bersifat khusus, terus-menerus, dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.


Rahmat ini berupa hidayah, taufik, kemudahan dalam beribadah, ketenangan hati, ampunan dosa, serta kenikmatan surga di akhirat. Allah berfirman:


وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا»


"Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab: 43)»


Ayat ini menunjukkan bahwa sifat Ar-Raḥīm memiliki kaitan yang sangat erat dengan kasih sayang Allah kepada orang-orang yang beriman.


  1. Persamaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Kedua nama tersebut sama-sama menunjukkan kesempurnaan sifat rahmat Allah. Tidak ada kasih sayang yang lebih sempurna daripada kasih sayang-Nya. Semua nikmat yang diterima makhluk merupakan bukti dari rahmat Allah, baik rahmat yang bersifat umum maupun rahmat yang bersifat khusus.


  1. Perbedaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Para ulama menjelaskan beberapa perbedaan pokok antara kedua nama tersebut:


- Ar-Raḥmān menunjukkan rahmat Allah yang sangat luas dan meliputi seluruh makhluk, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan rahmat yang khusus bagi orang-orang beriman.

- Ar-Raḥmān lebih menggambarkan keluasan sifat kasih sayang Allah, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan kasih sayang yang terus diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

- Rahmat Ar-Raḥmān tampak pada berbagai nikmat kehidupan di dunia, sedangkan rahmat Ar-Raḥīm mencapai kesempurnaannya di akhirat berupa ampunan, keridaan, dan surga.


  1. Hikmah Penyebutan Keduanya dalam Basmalah


Allah menyebut kedua nama ini secara berdampingan dalam basmalah agar hamba-Nya memahami bahwa rahmat Allah sangat luas sekaligus memiliki bentuk rahmat yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Hal ini juga mengajarkan agar seorang muslim selalu berharap kepada kasih sayang Allah dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat.


Memahami perbedaan antara Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm akan semakin menumbuhkan rasa syukur, harapan, dan cinta kepada Allah. Rahmat-Nya yang luas membuat setiap hamba tidak pernah berputus asa, sedangkan rahmat khusus-Nya mendorong setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan agar termasuk golongan yang memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Dengan demikian, setiap kali mengucapkan basmalah, kita tidak sekadar melafalkan dua nama Allah, tetapi juga menghayati keluasan kasih sayang-Nya serta berharap memperoleh rahmat-Nya yang khusus. Oleh: Shofil


Friday, July 10, 2026

Menjauhkan Diri dari Sifat Hasad: Kunci Hati yang Tenang dalam Islam

 


Hasad atau dengki adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Hasad merupakan perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sifat ini dapat merusak hati, menghilangkan ketenangan, dan merusak hubungan antarsesama.

Dalam Islam, Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan hati. Salah satu doa perlindungan dari kejahatan orang yang dengki terdapat dalam Surah Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)

Rasulullah saw. juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah kita lakukan. Oleh karena itu, seorang muslim harus berusaha membersihkan hati dari rasa iri dan dengki.

Ada beberapa cara untuk menjauhkan diri dari sifat hasad. Pertama, memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Kedua, meyakini bahwa setiap rezeki telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan hikmah-Nya. Ketiga, mendoakan kebaikan bagi orang lain ketika melihat mereka mendapatkan keberhasilan. Keempat, memperbanyak ibadah dan berdzikir agar hati selalu dekat dengan Allah.

Sebaliknya, Islam mengajarkan ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sikap ini mendorong seseorang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan.

Marilah kita senantiasa menjaga hati agar terhindar dari sifat hasad. Hati yang bersih akan melahirkan ketenangan, mempererat persaudaraan, serta mengantarkan kita kepada ridha Allah Swt. Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit dengki dan menggantinya dengan rasa syukur, ikhlas, serta kasih sayang kepada sesama.

Oleh: Zacky


Friday, May 1, 2026

Mengenal Al-Lathîf dan Al-Khabir: Apa Perbedaannya?

 


Halo sahabat blogger alfattahkudus.net, kali ini kita akan membahas tentang apa perbedaan antara sifat Allah Al-Lathîf dan Al-Khabîr.

Dalam Asmaul Husna, kedua nama Allah ini sering disebut bersamaan dan sekilas tampak memiliki makna yang hampir sama, karena keduanya sama-sama berkaitan dengan pengetahuan Allah yang sempurna. Namun, jika kita menelaah lebih dalam, terdapat perbedaan makna yang sangat indah dan penuh pelajaran di dalamnya.


Al-Lathîf menggambarkan kelembutan Allah yang begitu halus dan penuh kasih. Allah mengetahui segala sesuatu hingga pada hal-hal yang paling kecil, paling tersembunyi, bahkan yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia. Tetapi keistimewaan sifat ini bukan hanya terletak pada pengetahuan-Nya, melainkan juga pada cara Allah mengatur kehidupan hamba-Nya dengan penuh kelembutan.


Sering kali dalam kehidupan, kita merasa keinginan kita tertunda, doa belum segera terkabul, atau jalan yang kita tempuh terasa sulit. Namun di balik semua itu, Allah sedang menunjukkan sifat-Nya sebagai Al-Lathîf, yaitu mengatur segala sesuatu dengan cara yang lembut, penuh hikmah, dan sering kali tidak kita sadari. Kebaikan yang Allah berikan bisa datang secara perlahan, tersembunyi, tetapi selalu tepat pada waktunya.


Sementara itu, Al-Khabîr menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui secara mendalam dan sempurna. Tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan-Nya. Segala sesuatu, baik yang tampak maupun tersembunyi, yang terucap maupun yang hanya tersimpan dalam hati, semuanya diketahui oleh Allah.


Allah mengetahui setiap niat, setiap rahasia, setiap kegelisahan yang tersembunyi di dalam hati manusia. Bahkan sesuatu yang belum terjadi sekalipun telah berada dalam pengetahuan-Nya. Sifat Al-Khabîr mengajarkan kepada kita bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah, sehingga tidak ada alasan untuk berbuat lalai atau merasa sendiri dalam menghadapi kehidupan.


Lalu, apa perbedaan utama di antara keduanya?

Perbedaannya terletak pada penekanannya. Al-Lathîf lebih menekankan pada kelembutan Allah dalam mengatur dan memberikan kebaikan kepada hamba-Nya secara halus dan tersembunyi. Sedangkan Al-Khabîr menekankan keluasan ilmu Allah yang mengetahui segala sesuatu secara detail dan mendalam.


Jika kedua sifat ini dipahami bersama, maka kita akan menyadari bahwa setiap takdir yang Allah tetapkan bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa tujuan. Semua terjadi karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Khabîr) dan mengaturnya dengan penuh kelembutan serta kasih sayang (Al-Lathîf).


Maka sebagai seorang hamba, memahami dua sifat ini akan menumbuhkan ketenangan dalam hati. Kita akan yakin bahwa apa pun yang sedang kita alami, semuanya berada dalam ilmu Allah dan pasti mengandung kebaikan yang diatur dengan penuh hikmah oleh-Nya.


Oleh: Shofil


Friday, February 13, 2026

Benarkah Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Hadits Populer: Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Tidak terasa waktu ini berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu, hingga tanpa kita sadari sebentar lagi kita akan kembali dipertemukan dengan bulan yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman: bulan suci Ramadhan.


Di momen seperti ini biasanya mulai beredar sebuah hadis yang berbunyi:


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.”


Secara kajian literatur hadis, para ulama ahli hadis menegaskan bahwa redaksi ini tidak memiliki sanad yang kuat. Sebagian menilainya dhaif, bahkan ada yang menganggapnya maudhu’ (tidak sah berasal dari Nabi ﷺ). Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menyandarkan suatu ucapan kepada Rasulullah ﷺ. Jadi, kalau mau menyampaikan hadis ini harus dikasih catatan: hadis ini secara sanad tidak sahih, bisa dhaif bahkan maudhu’.


Namun demikian, meskipun redaksinya tidak sahih sebagai hadis, makna kegembiraan menyambut Ramadhan bukanlah sesuatu yang tercela. Justru rasa bahagia adalah ekspresi iman. Allah ﷻ sendiri berfirman dalam Al-Qur’an agar manusia bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Dan Ramadhan jelas merupakan karunia besar, bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.


​Ramadhan: Tamu yang Tak Menuntut, Tapi Memberi


​Bayangkan Ramadhan adalah seorang tamu agung yang datang membawa koper penuh hadiah. Selayaknya tuan rumah yang baik, persiapan kita tidak boleh setengah-setengah:


  1. ​Persiapan Sarana (Dhahiriyah): 

Persiapan lahiriah bukan hal remeh. Membersihkan sajadah, mencuci mukena atau sarung, merapikan mushaf, hingga memastikan masjid nyaman bagi jamaah, semua itu adalah bagian dari adab menyambut bulan suci. Lingkungan yang bersih dan tertata akan membantu hati lebih mudah khusyu’.

Selain itu, menjaga kesehatan juga termasuk persiapan fisik. Mengatur pola makan sebelum Ramadhan, membiasakan diri bangun lebih awal, dan mengurangi begadang akan membantu tubuh lebih siap menjalani ibadah puasa dan qiyam.

  1. ​Persiapan Hati (Bathiniyah): 

Inilah yang paling penting. Hati adalah wadah. Jika wadahnya kotor oleh iri, dendam, riya’, dan prasangka buruk, maka limpahan rahmat Ramadhan sulit menetap di dalamnya.

Menyambut Ramadhan berarti memulai proses pembersihan diri: meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan memperbanyak istighfar. Jangan sampai kita memasuki tanggal 1 Ramadhan dengan hati yang masih penuh beban.

Kegembiraan yang benar bukan sekadar ucapan “Marhaban ya Ramadhan” di media sosial, tetapi kesiapan ruhani untuk berubah.

  1. ​Persiapan Aksi (Rencana): 

Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah tahunan—tempat kita “naik kelas” dalam iman dan takwa. Tanpa rencana, Ramadhan akan berlalu seperti bulan-bulan lainnya.

Cobalah membuat target yang terukur:

  • Berapa kali khatam Al-Qur’an?

  • Bagaimana jadwal tilawah harian?

  • Apakah akan mengikuti kajian rutin?

  • Berapa persen dari rezeki yang akan disedekahkan?

  • Bagaimana menjaga lisan dan media sosial dari hal sia-sia?

Dengan rencana yang jelas, Ramadhan tidak lagi sekedar rutinitas, tetapi proyek transformasi diri.


​Menutup Celah "Sekedar Haus dan Lapar"


​Banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Mengapa? Karena mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas seremonial.

​Kegembiraan yang sesungguhnya harus dibuktikan dengan aksi. Jika kita senang akan datangnya Ramadhan, maka kita akan mempersiapkan jadwal tilawah, mengatur waktu istirahat agar kuat bangun sahur, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang kekurangan.


​"Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini bukan sekadar pergantian bulan di kalender, tapi momen transformasi besar dalam hidup kita.”


Oleh: Abid


Monday, January 19, 2026

Tausiyah Isra' Mi'raj Al Fattah Kudus 1447 H

Ahad, 18 Januari 2026 M. Lebih tepatnya 29 Rajab 1447 H. Pesantren kami ikut memperingati peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ. Disela hujan deras dan bencana banjir di beberapa titik Kota Kudus, selaku panitia dan pihak pondok awalnya kebingungan terhadap cara merawuhkan Kyai Shomadi ke pesantren Al Fattah yang mana lokasi ndalem beliau ada di Kecamata Mejobo, Kudus. Disana sangat rawan akan banjir. Akan tetapi atas karunia dari Allah ternyata banjir disana sudah banyak yang surut sehingga ada akses transportasi yang bisa dilewati.


Di awal acara, guru kita semua yaitu Abah Aniq memberi washiat dan Ijazah Musalsal Talqin Bidz Dzikir kepada para santri. Dari jalur Abuya Ahmadi sambung kepada Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah yang mendapat musalsal tersebut dari Rasulullah ﷺ. Ijazah tersebut melaui bebepa cara yaitu mengucapkan kalimah ikhlas atau Lailahaillallah sebanyak 3x dengan suara nyaring seraya memejamkan mata lalu diikuti para santri yang mempraktekkan hal tersebut juga.


Rangkuman Tausiyah dari Kiyai Shomadi

Beliau ngebahas vibe perjuangan awal Islam sampai ke puncak kemuliaan Nabi ﷺ di malam Isra Mi'raj.


🛡️ Era Door-to-Door & Power Para Jagoan


Dulu, dakwah Nabi ﷺ itu ber gerilya dari pintu ke pintu. Nabi ﷺ sampai berdoa minta back-up orang kuat:

 (اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَدِ الْعُمَرَيْنِ)—


"Ya Allah, kuatkan Islam lewat salah satu dari dua Umar (Umar bin Khattab atau Abu Jahal)." Doa itu answered! Ditambah lagi moment heroic Sayyidina Hamzah. Pas tahu Nabi dihina Abu Jahal, beliau nggak pakai lama langsung samperin dan pukul kepala Abu Jahal pakai busur panah sampai bocor! Beliau bilang: "Lo berani hina dia? Aku sekarang di agamanya!" Sejak itu, mental umat Islam langsung up dan kaum haters mulai mikir seribu kali kalau mau bully Nabi.



Kalau kamu cinta orang sholeh, itu tanda ada good vibe di hatimu. Tapi kalau orang sholeh yang cinta sama kamu, itu tandanya ada "secret file" atau nur spesial di jiwamu. Jadi santri itu harusnya fans garis kerasnya ya Kyainya sendiri!


🚀 Isra Mi'raj: The Ultimate Space Trip


Percaya sama Isra Mi'raj itu wajib fardu ain, karena ini part dari Al-Qur'an:

 (سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا). 


Sebelum berangkat, hati Nabi ﷺ dicuci dulu pakai air terbaik, air zam-zam.

Nabi ﷺ naik Buraq yang speed-nya logic error—sekali melangkah sejauh mata memandang. Fisik Nabi ﷺ itu super strong (setara 40 laki-laki), makanya beliau nggak ada cindera apapun meski melaju secepat itu, kalau kita yang manusia biasa.... pasti organ tubuhnya akan tercerai berai. Di jalan, beliau ketemu spoiler dunia:

 * Nenek tua: Simbol kalau dunia ini sudah expired alias tua banget.


Panggilan Iblis: Nabi ﷺ ignore semua distraksi itu.


Stop-over Ibadah: Beliau sholat di Thaybah (calon tempat hijrah), Turisina (tempat Nabi Musa private talk sama Allah), dan Betlehem (tempat lahir Nabi Isa).


🥛 "Pilihan Fisabilillah: Milk Over Wine


Sebelum sampai di Masjidil Aqsha, Malaikat Jibril nawarin 3 bucket minuman: Susu, Khamr, dan Air. Nabi ﷺ fix pilih Susu. Malaikat Jibril langsung bilang: (اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ)— "Kamu milih Fitrah!" Susu itu pure, healthy, dan nggak bikin hangover. Itu simbol kalau ajaran Islam itu straight, clean, dan menenangkan. Kalau pilih khamr, umatnya bakal chaos kena fitnah terus dan banyak minum khamr. Kalau beliau pilih air, maka ummat nya banyak yang kebanjiran 


❤️Sholat itu Moment Me-Time bareng Allah



Yai Shomadi ngingetin kita kalau Sholat itu adalah hadiah biar kita bisa ngerasain nikmat-nya ketemu Allah, sama kayak nikmat-nya Nabi pas Mi'raj.


 * Level 1 (Mukasyafah): Sholatnya para Wali yang sudah "melihat" kebesaran Allah.



 * Level 2 (Muraqabah): Merasa selalu di-monitoring Allah.


 * Level 3 (Wujub): Yang penting gugur kewajiban (ini minimal banget).

Oleh : Ust. M. Faizunnas

Wednesday, November 12, 2025

Catatan Ngaos Tafsir A'la Jinan : Kenapa Yahudi Enggak Srek Sama Malaikat Jibril?



 قُلۡ مَن كَانَ عَدُوࣰّا لِّجِبۡرِیلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلۡبِكَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ وَهُدࣰى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِینَ 


Katakanlah (Muhammad), "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur`ān) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” 


Ayat 97 Surat Al-Baqarah ini muncul karena Allah mau menjawab semua alasan ngeles yang diutarakan Yahudi kenapa mereka enggak mau iman ke Nabi Muhammad ﷺ. Sebelumnya, mereka sudah ngeles dengan klaim merasa cukup dengan Taurat dan klaim auto-Surga karena merasa diri mereka umat pilihan. Nah, alasan ketiga yang paling absurd adalah tuduhan bahwa Malaikat Jibril itu musuh mereka. Padahal, Malaikat Jibril cuma menjalankan tugas! Ayat ini turun untuk menunjukkan betapa konyol dan enggak logis-nya alasan mereka, karena musuhin official messenger berarti musuhin yang ngutus (Allah).


Alasan Benci Jibril: Bad News dan Cepu


Kebencian Yahudi ke Malaikat Jibril itu dasarnya karena dangkal banget mikirnya. Ada dua alasan utama mereka enggak srek. Pertama, Jibril dianggap gak asik (versi ulama mereka, Abdullah bin Ṣūriyā) karena track record-nya selalu bawa warning kehancuran Baitul Maqdis yang beneran kejadian. Kedua, mereka nuduh Jibril itu "Cepu" karena ngaduin semua keburukan dan rahasia mereka ke Nabi ﷺ. Mereka ngotot hanya suka Mikail a.s. (Malaikat Rahmat yang bawa rezeki dan all good vibes), sementara Jibril dituduh Malaikat Adzab dan Bad News. Mereka bilang, kalau saja partner Nabi ﷺ itu Mikail, mereka pasti gampang iman.


Dua Kisah Asbābun Nuzūl: Uji Coba dan Poin Krítis


Ada dua kisah utama yang bikin Ayat 97 ini di-spill Allah. Kisah pertama melibatkan 'Abdullāh bin Salām (ulama Yahudi). Kisah ini berawal ketika Abdullāh bin Salām, seorang kyainya (ulama) Yahudi di Madinah, buru-buru nemuin Nabi Muhammad ﷺ yang baru datang, lalu langsung bilang, "Ya Rasulullah, aku mau ngetes kamu dengan tiga pertanyaan yang cuma Nabi yang tahu: Apa tanda pertama kiamat? Apa makanan pertama Surga? Dan, apa yang bikin anak mirip Bapak/Ibunya?" Nabi ﷺ menjawab dengan spill tegas, "Tiga hal ini baru aja Jibril kasih tahu aku!" yang langsung direspons Abdullah Bin Salām dengan auto-kaget, "Jibril?! Dia itu musuh Yahudi!" Namun, setelah Nabi ﷺ menjelaskan semua jawaban yang valid (untuk jawaban dari Rasulullah, silahkan tonton selengkapnya di YouTube Al Fattah Kudus), Abdullah Bin Salām langsung berseru, "Aku bersaksi kamu memang Rasulullah!", sambil bilang, Yahudi itu tukang bohong, plin-plan, dan susah banget balik ke kebenaran. Tak lama kemudian, rombongan Yahudi datang, dan Abdullāh bin Salām ngumpet di rumah; Nabi ﷺ ngetes mereka dengan bertanya, "Menurut kalian, Abdullāh bin Salām itu orangnya gimana?" Mereka kompak memuji, "Dia yang paling alim dan paling baik di antara kita!" Tapi ketika Nabi ﷺ bertanya, "Gimana kalau Abdullāh masuk Islam?", mereka auto-sewot dan bilang, "Semoga Allah menjauhkannya dari itu!" Saat itu juga, Abdullah Bin Salām keluar dan mengumumkan, "Aku bersaksi Lā ilāha illallāh dan Muhammad Rasūlullāh!", yang langsung membuat Yahudi tadi berubah 180 derajat dan menghinanya sebagai orang terburuk — yang kemudian dijawab Abdullah Bin Salām, "Inilah yang tadi aku khawatirkan!" — dan akhirnya drama ini disimpulkan oleh Nabi ﷺ dengan membacakan Ayat 97 Surat Al-Baqarah, yang menegaskan bahwa musuhin Jibril sama dengan musuhin Allah.


ada lagi satu kisah lainnya, silahkan tonton selengkapnya di YouTube Al Fattah Kudus, hehehe 


Sayyidina Umar : Jibril dan Mikail itu Bestie!


Sayyidina Umar pernah heran karena isi Taurat sama persis dengan Al-Qur'an. Ketika Yahudi kekeuh benci Jibril, Sayyidina Umar ngasih ceramah keras sambil bilang: "Jibril dan Mikail itu enggak mungkin musuhan! nggak mungkin bagi Jibril memusuhi Mikail, dan nggak mungkin juga Mikail mendamaikan musuh Jibril apalagi malah jadi besti nya orang yang musuhin malaikat Jibril!" Intinya, keduanya itu Bestie dan satu tim nya Allah! Sayyidina Umar menutupnya dengan kesimpulan tegas: "Aku bersaksi, keduanya, dan Rabb keduanya, berdamai dengan orang yang damai dengan mereka, dan memerangi orang yang memerangi mereka!" Ketika sayyidina Umar mau ngasih tahu Nabi ﷺ soal diss ini, Nabi ﷺ langsung mendahului dengan membacakan Ayat 97, membuktikan bahwa Wahyu Allah sudah auto-turun karena perdebatan tersebut.


Karya : Muhammad Faizunnas