Wednesday, September 4, 2024

Qowa’idul Fiqh, Bukan Fiqih Biasa



  1. Definisi 

Secara bahasa, kata Qowa’id (قواعد) adalah jama’ dari kata Qo’idah (قاعدة), yang bermakna asas, dasar, atau pondasi. Jadi bisa disimpulkan bahwa Qowa’idul Fiqh adalah dasar-dasar yang berhubungan dengan berbagai masalah dan jenis fiqih. Sedangkan menurut Imam Tajjuddin As-Subki (w. 771 H) mendefinisikan Qowa’idul Fiqh sebagai : 

الأمر الكلي الذي ينطبق عليه جزئيات كثيرة يفهم أحكامها منها

“Sesuatu yang bersifat kulliy (general) yang meliputi bagian-bagian (juziyyat) yang banyak sekali, yang dipahami hukum nya dari kaidah tadi” 


Apabila Ushul Fiqih digunakan untuk takhrijul ahkam (mengeluarkan hukum) yang berasal dari Al-Quran dan Sunnah, maka Qowa’idul Fiqh berperan sebagai tathbiqul ahkam, yaitu penerapan hukum pada suatu masalah melalui kaidah-kaidah yang disimpulkan secara general dari materi-materi fiqih yang sudah ada, yang kemudian digunakan untuk menentukan hukum atau kasus baru yang belum tercantum di dalam nash (Al-Quran dan Sunnah). Keduanya secara sah telah diakui sebagai metodologi hukum (istinbathul ahkam) dari madzhab-madzhab yang diakui, dan mempunyai pionir pionirnya pada masing masing madzhab.


  1. Proses Pembentukan 

Apabila kita mengulik sejarah, sangat sulit untuk mengetahui siapa yang pertama kali menemukan dan membentuk Qowaidul Fiqih. Namun ada satu catatan yang menyebutkan bahwa Abu Thahir Ad-Dabbasi (4H), seorang ulama dari kalangan Hanafiyyah, telah mengumpulkan setidaknya 17 kaidah fiqih yang selalu beliau ulang-ulang di masjid sebelum para jamaah sholat pulang ke rumahnya masing-masing. Lalu seorang ulama Syafi’iyyah, Abu Sa’id Al-Harawi ‘menguping’ Abu Thahir dan mencatat kaidah kaidah fiqih yang telah dihafalkan Abu Thahir. Diantara 17 kaidah tersebut adalah 5 kaidah dasar yang terangkum apik dalam nadzom kitab الفرائد البهية berikut ini :


خَمْسٍ هِيَ الأُمُورُ بِالْمَقَاصِدِ

الْفِقْهُ مَبْنِيٌّ عَلَى قَوَاعِدِ

بِالشَّكِّ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُقَالُ

وَبَعْدَهَا الْيَقِينُ لاَ يُزَالُ 

ثَالِثُهَا فَكُنْ بِهَا خَبِيرَا

وَتَجْلِبُ الْمَشَقَّةُ التَّيْسِيرَا

يُزَالُ قَوْلاً لَيْسَ فِيهِ غَرَرُ

رَابِعُهَا فِيمَا يُقَالُ الضَّرَرُ

فَهَذِهِ الْخَمْسُ جَمِيعًا مُحْكَمَهْ

خَامِسُهَا الْعَادَةُ قُلْ مُحَكَّمَهْ


  •    الأُمُورُ بِمَقَاصِدِها 

“Semua perkara tergantung dari tujuannya” 

  •  الْيَقِينُ لاَ يُزَالُ بِالشَّكِّ

“Keyakinan itu tidak bisa dihilangkan dengan keraguan”

  • الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِير

“Kesulitan itu dapat mendatangkan atau menarik kemudahan”

  • الضَّرَرُ يُزَالُ

“Kemudharatan itu bisa dihilangkan”

  • الْعَادَةُ مُحَكَّمَهْ

“Adat atau kebiasaan itu bisa menjadi landasan hukum”


Seratus tahun kemudian, datang ulama besar bernama Imam Abu Hasan al-Karkhi, yang menambahkan kaidah fiqih yang sudah dikumpulkan Abu Thahir sehingga menjadi 37 kaidah. Dari sini bisa kita tarik benang merah bahwa Qowa’idul Fiqh muncul pada akhir abad ke-3.

Proses pembentukan kaidah-kaidah fiqh adalah sebagai berikut :


Keterangan : 

  1. Sumber hukum islam secara mutlak; Al-Quran dan As-Sunnah

  2. Proses takhrijul ahkam (mengeluarkan hukum-hukum) menggunakan metodologi (istinbath) ushul fiqh.

  3. Hasil dari penggalian hukum tadi menghasilkan fiqih. Materi materi fiqih ini luas sekali, sehingga para ulama mencoba mencari persamaan pola hukumnya secara deduktif (melihat hal-hal secara umum terlebih dahulu sebelum akhirnya mengerucut menjadi lebih spesifik atau khusus). Setelah menemukan polanya, mereka mengelompok setiap masalah yang serupa, dan jadilah …

  4. Kaidah fiqih (Qowa’idul Fiqh)

  5. Kaidah-kaidah yang sudah terbentuk tadi akan diuji lagi menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah untuk dinilai kesesuaiannya dengan substansi Al-Quran dan As-Sunnah.

  6. Setelah melewati proses pengujian, kaidah-kaidah fiqih yang akurat pun terbentuk. Kaidah yang mapan ini sudah bisa digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan yang memang belum pernah ada sebelumnya (karena kesamaan polanya dan substansinya dengan Al-Quran dan As-Sunnah), baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya.

  7. Hukum fiqih pun dapat digali dengan praktis dengan menggunakan kaidah diatas. Sebagaimana Turki Utsmani dulu yang menggunakan 99 kaidah dalam membuat undang-undang tentang akad-akad mu’amalah yang berisi 185 pasal. Peraturan ini tertuang dalam Majallatul Ahkam Al-’adliyyah. 


Penggunaan kaidah fiqih ini semakin kuat dengan adanya pernyataan dari Ibnul Qoyyim Al Jauzi : 

تغير الْفَتوى واختِلاَفُها بِحسبِ تغيرِ اْلأَزمِنةِ واْلأَمكِنةِ واْلأَحوالِ والنياتِ والْعوائِد

"Fatwa berubah dan berbeda sesuai dengan perubahan zaman, tempat, keadaan, niat, dan adat kebiasaan" 

Oleh karena itu, Qowa’idul Fiqih menjadi penting bagi seseorang yang hendak mendalami fiqih. Karena kepraktisannya, dia dapat dengan mudah memetakan masalah-masalah yang timbul dan mengambil keputusan hukum yang tepat di sepanjang zaman. Karena pentingnya ilmu ini, ulama berkata : 

"Barangsiapa menguasai ushul fiqih, tentu dia akan sampai kepada maksudnya, dan barangsiapa yang menguasai kaidah-kaidah Fiqih pasti dialah yang pantas mencapai maksudnya" 


C. Referensi Kitab-Kitab Qowa’idul Fiqh 


Ada banyak sekali ulama yang mengarang kitab dalam fan ini. Saya akan menyebutkan sebagian kitab yang masyhur karya ulama dalam 4 madzhab yang sudah mu’tabar : 

  1. Hanafiyyah

Dari kalangan Hanafiyyah, yang paling terkenal adalah Ushulul Karkhi karya Imam Karkhi (w. 340) (أصول الكرخي للكرخي) yang telah di singgung di atas. Dari beliau, ilmu Qowa’id Fiqh berkembang sampai sekarang. 

Ada juga kitab yang terkenal, Al-Asybah wan Nadzo ir (الأشباه و النظائر) karya Al Imam Ibnu Najim Al Hanafi (w. 970 H). Dalam Madzhab Hanafiy -khususnya fan Qowa’id- kitab ini menjadi kitab pegangan utama dan menjadi kitab paling penting. Dan tahukah kamu, bahwa rujukan utama kitab ini (dalam sistematika kepenulisan) adalah kitab Al-Asybah wan Nadzoir nya Imam Jalaluddin As Suyuthi! (w. 911 H). 

  1. Malikiyyah

Selanjutnya dari kalangan Malikiyyah ada kitab Al-Furuq (الفروق) karya Al Imam Syihabuddin Al Qarafi (w. 684 H). Beliau adalah ulama yang sangat bersemangat kalau sudah menyangkut dengan ilmu. Tidak hanya fiqih, beliau juga pionir dalam bahasa, sastra, debat, dan juga ahli dalam bidang sains. Salah satu Guru beliau yang paling terkenal adalah Imam Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H).

Salah satu motivasi beliau adalah : 

ينبغي لذوي الهمم العلية أن لا يتركوا الاطلاع على العلوم ما أمكنهم

“Bagi mereka yang mempunyai semangat yang tinggi, maka jangan sampai melewatkan untuk mempelajari berbagai ilmu bagaimanapun keadaannya”

  1. Syafi’iyyah

Madzhab yang paling besar pengikutnya ini mempunyai segudang karya dalam fan Qowa’idul Fiqh. Salah satu kitab paling terkenal dari ulama kalangan Syafi’iyyah adalah Qowa’idul Ahkam fi Mashalihil Anam (قواعد الأحكام في مصالح الأنام) karya Sulthanul Ulama Al Imam Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H). Julukan Sultahnul Ulama tersebut diberikan oleh salah satu muridnya, Ibnu Daqiq Al ‘id karena keluasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki sang Guru.

Selanjutnya, kitab yang tidak kalah terkenal adalah Al-Asybah wan Nadzo ir (الأشباه و النظائر) karya Al Imam Jalaluddin As Suyuthi (w. 911). Saking masyhurnya, membuat kitab ini menjadi semacam ‘branding’ dari fan Qowaid dari golongan Syafi’iyyah. “Cari kitab Qowaidul Fiqh Syafi’iyyah ? Asybah lah..” kira-kira begitu. Kitab ini mempunyai banyak syarah, ikhtishar (ringkasan), dan banyak pula yang membuatnya menjadi nadzom agar mudah dihapal. Salah satu nadzom Asybah favorit penulis adalah nadzom الفرائد البهية, karya Syaikh Abu Bakr bin Abil Qosim Al-Ahdal Al-Yamani. 


  1. Dari kalangan Hanabilah, kitab rujukan Qowaid yang paling terkenal adalah Al-Qowa’idun Nuroniyyah (القواعد النورانية) Karya Syaikh Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam (Ibnu Taimiyyah). Seorang ulama yang cukup ‘kontroversial’ karena pendapat-pendapat beliau dalam bidang aqidah yang sering berbeda dengan mayoritas ulama lain. Walaupun begitu, banyak ulama yang menyanjungnya karena keluasan dan kedalaman ilmu yang beliau miliki. 

Ada pula kitab Qowa’id Ibn Rajab  karya Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab (Ibnu Rajab). Beliau adalah murid dari Ibnul Qoyyim Al-Jauzi, murid kesayangan dari Ibnu Taimiyyah. Walaupun begitu, pandangan Ibnu Rajab agak berbeda dengan guru-gurunya, yang mana Ibnu Rajab adalah penganut madzhab Asy’ariyyah dalam bidang aqidah. 


‘Ala kulli hal, ilmu ini cukup penting untuk dipelajari dan dapat diterapkan pada kehidupan sehari hari, baik hukum, maupun kehidupan sosial.


Maraji’ : 

  1. الأشباه و النظائر للسيوطي

  2. الفرائد البهية للشيخ ابي بكر الأهدل

  3. المكتبة الشاملة

  4. فقه الحياة : أحمد سروات

  5. Google.com

  6. Salman Abdul Muthollib (2022), Majjallat Al-Ahkam Al-‘Adliyyah: Position and Influence on the Development of Fiqh, Media Syari’ah, Vol. 24, No. 2


Oleh: Ustadz Alawy Mahfudz


Saturday, August 31, 2024

Mengapa?

 


Aku bertanya pada mentari

Mengapa ia tetap mengejar bulan

Padahal bulan bersama bintang

Mentari naik dan menjawab

Gerhana akan datang


Aku bertanya pada Tuhan

Mengapa tetap mencintai insan

Padahal manusia bersama kemaksiatan

Tuhan tersenyum dan menjawab

Karena Aku adalah Tuhan


Oleh: Zidan


Saturday, August 17, 2024

Dibalik Makna Kemerdekaan


Semua orang Indonesia tahu bahwa negara ini (Indonesia) merdeka  pada tanggal  17 Agustus 1945 yang mana diproklamirkan oleh Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, hingga saat ini, telah memasuki tahun ke-79, Hari kemerdekaan Indonesia memiliki makna yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Proklamasi ini merupakan hasil dari perjuangan panjang dan merupakan puncak dari serangkaian perjuangan melawan penjajah. Kemerdekaan merupakan kata yang sering diucapkan tanpa memahami maknanya. Kemerdekaan berarti bangsa Indonesia memperoleh kebebasan yang seutuhnya, bebas dari segala bentuk penindasan dan penguasaan bangsa asing. Sementara itu, definisi kemerdekaan menurut KBBI sendiri ialah sebuah kebebasan, lepas, tidak mendapat tekanan dari luar, tidak terjajah, dan lain-lain.

Di era modern ini, kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan dari ketidaksetaraan dan diskriminasi. Usaha untuk meraih kemerdekaan Indonesia secara tidak langsung mengajarkan pentingnya edukasi bagi generasi penerus bangsa. Apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya? Apakah hanya sebatas bebas melakukan apa saja? Jika kita mengingat bagaimana kerasnya perjuangan para pahlawan untuk mendapatkan kehidupan yang merdeka, kita bisa belajar soal kegigihan dalam mengejar hidup yang lebih baik. Tantangan yang kita hadapi kini bukan lagi perkara penjajahan maupun medan perang, melainkan musuh tidak kasat mata seperti ancaman kesehatan, rasa malas  dan kebiasaan boros. 

Makna kemerdekaan bagi Indonesia adalah bebas dari penjajah, tetapi apa makna kemerdekaan bagimu? Mari kita renungkan, bagaimana visi hidup yang lebih baik? Apapun itu, tetaplah berjuang keras agar bisa mencapai semua tujuan hidup yang mampu membawa kita menuju masa depan yang lebih baik. Di masa penjajahan dulu, cita-cita Tanah Air adalah untuk merdeka. Sementara cita-cita Indonesia sekarang adalah untuk bisa menjadi poros ekonomi dunia yang kuat dan maju dalam berbagai macam hal. Intinya, cita-cita seharusnya bisa terukur dan realistis. Indonesia telah melihat banyak jasa para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan, bersikukuh membangun negeri, menjunjung tinggi keadilan, dan memulihkan Tanah Air dari ancaman seperti pandemi. Kita tidak boleh lengah dan harus pantang menyerah seperti para pahlawan kebanggaan kita.

Berikut sekilas Makna kemerdekaan yang patut dicontoh oleh para generasi muda. 

1.     Jangan Takut Coba Hal Baru

Hidup didunia itu hanya sekali, maka dari itu mari kita jalani dengan semaksimal mungkin. Begitulah kira-kira prinsip hidup yang dipegang oleh para pejuang bangsa. Makna kemerdekaan yang harus selalu kita resapi adalah berani untuk mengambil keputusan sulit dan mencoba hal baru. Rasa takut untuk memulai dan mengambil risiko bila dibiarkan begitu saja akan melumpuhkan semangatmu. Jadi Kumpulkan keberanian saat kita yakin bahwa ini adalah hal yang positif bagi diri sendiri dan sekitar. 

2.     Saling Toleransi dengan Sesama

Sejak era penjajahan dulu, masyarakat Indonesia merangkul satu sama lain terlepas dari perbedaan yang ada pada waktu itu. Inilah makna kemerdekaan yang khas dan hanya ada di Indonesia, saling toleransi dengan sesama. Meski fisik kita berbeda, kita sama-sama mencintai Tanah Air dan meneriakkan semangat “Merdeka!” 

3.     Indonesia Bisa, Indonesia Hebat

Selama 79 tahun Indonesia merdeka, sayangnya masih banyak generasi muda dan terdahulu yang memandang sebelah mata potensi bangsanya sendiri. Padahal, Indonesia telah mencetak banyak prestasi.

4.     Selalu Berjuang Demi Hidup yang Lebih Baik

Makna kemerdekaan adalah bebas dari penindasan dan tekanan dari sang penjajah (orang lain). Ketika kita selalu berjuang untuk menjadi lebih baik dan tidak hanya ingin berada di zona nyaman saja maka semangat dan rasa berjuang kita akan sangat manfaat untuk kita sendiri maupun orang lain.  

Jadi, dalam menggugah makna sejati kemerdekaan dan membawanya menuju masa depan yang lebih cerah, kita harus menggabungkan nilai-nilai ini dalam tindakan sehari-hari. Dengan inklusivitas, inovasi, tanggung jawab, pemahaman kritis, dan penghargaan terhadap sejarah, kita dapat merintis jalan menuju masyarakat yang lebih harmonis, berkeadilan, dan merdeka.

Oleh : Shofil


Monday, August 12, 2024

My Home Is My Castle

            


             Judulnya aja udah kece apalagi isinya slebeww, seperti yang tertulis di judul “My Home Is My Castle” yang artinya rumahku adalah istanaku. Rumah adalah sebuah bangunan yang pasti dihuni oleh seseorang kecuali rumah hantu, dan juga rumah adalah tempat dimana kita bisa bersenda gurau dengan keluarga, saling menyayangi dan lain-lain. Itulah yang diingat seorang santri baru yang belum lama mondok, pasti yang ada dibenak pikirannya adalah HP, game, orang tua, teman dan lain sebagainya.

            Maka ketika pondok ada jadwal libur pasti orang tua kita sangat bahagia melihat anaknya yang telah lama dinanti, tapi yang agak aneh itu ketika kita pulang bukanya membahagiakan orang tua malah kita pergi jalan-jalan bersama teman, pasti rasanya pulangnya ke rumah agak kurang baik ya kann…, orang yang asalnya dinanti-nanti tapi setelah sampai rumah malah pergi lagi, yang dinanti orang tua itu kita bro kalian kalau ingin jajan pasti dikasih uang, ketika mau apa saja pasti diusahakan karena ini semua adalah wujud sayangnya orang tua kepada kita.

Jalan-jalan boleh tapi juga harus ada waktu yang kita luangkan untuk keluarga kita, sebab ketika kita berkumpul dengan keluarga maka ada hikmah atau sebuah nasehat yang mana sangat bermanfaat bagi kita. syukur-syukur ketika kembali ke pondok pikiran menjadi fresh dan bisa belajar dengan giat, sungguh-sungguh dan semangat.   

Oleh : Nawa  


Friday, August 9, 2024

Rangkuman Ngaji Gus Aniq


 Kitab : Tajridus Shorih

Pengarang : Imam Zainuddin Ahmad Bin Abdul Latif  Az-Zubaidi

Cetakan         : DKI Beirut

Hadits : 103 dan 104

Halaman         : 40

Dikutip dari kajian kitab tajridus shorih pada tanggal 8 Juli 2024 di pondok pesantren Al-Fattah Kudus oleh beliau Gus Aniq Muhammad Makki, B. Sc., MA.

Selengkapnya bisa dilihat disini :Hadits 103, Ngaji Kitab Tajridus Shorih

                :Hadits 104, Ngaji Kitab Tajridus Shorih


  • Hadits 103


عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْقِتَالُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلٍ اللهِ.


Dari Abu Musa berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang disebut perang fisabilillah (di jalan Allah)? Sebab diantara kami ada yang berperang karena marah dan ada yang karena fanatik?” Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah orang yang bertanya, dan tidaklah beliau angkat kepalanya kecuali karena orang yang bertanya tersebut berdiri. Beliau lalu menjawab, “Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka dia berperang di jalan Allah ‘azza wajalla.


  • Dari hadits diatas ada pelajaran, jika ada orang yang bertanya dan dia bertanya dalam kondisi berdiri, maka seorang kyai atau ustadz tidak diwajibkan untuk ikut berdiri hanya karena untuk mengimbangi seorang yang bertanya tersebut. Tapi kyai atau ustadz masih diperbolehkan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

  • Dari cerita hadits tersebut kenapa kok ada orang yang bertanya sambil berdiri? Mungkin saat itu Nabi Muhammad sedang berada di majelis yang ramai dan mungkin orang yang bertanya tersebut berada di bagian belakang majelis.

  • Bertanya dalam keadaan berdiri itu boleh-boleh saja selama tidak terindikasi dengan sifat takabur (sombong).


  • Hadits 104


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَا أَنَا أمْشِي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي خرب الْمَدِينَةِ وَهُوَ يَتَوَكَّلْ عَلَى عَسِيبٍ . مَعَهُ فَمَرَّ بِنَفَرٍ مِنَ الْيَهُودِ فَقَالَ: ، بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ سَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا تَسْأَلُوهُ لَا يَجِيءُ فِيهِ بِشَيْءٍ تَكْرَهُونَهُ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَنَسْأَلَنَّهُ ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَالَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ مَا الرُّوحُ ؟ فَسَكَتَ فَقُلْتُ إِنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ فَقُمْتُ ، فَلَمَّا ا الْجَلَى عَنْهُ قَالَ : ﴿وَيَسْتَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ) (الإسراء : ١٨٥)


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, ketika aku berjalan bersama nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam di sekitar pinggiran kota madinah, saat itu beliau membawa tongkat dari batang pohon kurma. Beliau lalu melewati kumpulan orang yahudi, maka sesama mereka saling berkata, “Tanyakanlah kepadanya tentang ruh!” Sebagian yang lain berkata, “Janganlah kalian bicara dengannya hingga ia akan mengatakan sesuatu yang kalian tidak menyukainya.” Lalu sebagian yang lain berkata, “Sungguh, kami akan benar-benar bertanya kepadanya.” Maka berdirilah seorang laki-laki dari mereka seraya bertanya, “Wahai Abul Qasim, ruh itu apa?” Beliau diam. Maka akupun bergumam, “Sesungguhnya beliau sedang menerima wahyu.” Ketika orang itu berpaling, beliau pun membaca: ‘(Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”) ’ (Qs. Al-Isra’:85)


  • Apabila ada seorang alim yang mendapat pertanyaan dan dia tidak mengetahui jawabannya maka orang alim tersebut dilarang untuk buru-buru menjawab pertanyaan itu. Karena dikhawatirkan seorang alim tersebut menjawabnya dengan tanpa ilmu, yang mana akan berbahaya bagi masyarakat. Maka lebih baik untuk diam dan mencari dahulu jawaban dari pertanyaan tersebut.

  • Para ulama berbeda pendapat tentang  الرُّوحُ pada hadits tersebut, tapi jumhur ulama mengatakan yang dimaksud dengan الرُّوحُ yaitu sesuatu yang membuat jasad manusia dan jasad hewan menjadi bergerak.

  1. Nyawa manusia

  2. Nyawa hewan

  3. Malaikat Jibril

  4. Nabi Isa

  5. Al-Qur’an

  6. Wahyu

  7. Sesosok malaikat yang akan berdiri sendiri saat hari kiamat

  8. Nama malaikat yang memiliki 11.000 sayap dan 11.000 wajah.

  9. Makhluk yang kelakuannya mirip manusia (alien)

  10. Tapi jumhur ulama mengatakan, yang dimaksud dengan الرُّوحُ yaitu sesuatu yang membuat jasad manusia dan jasad hewan bisa bergerak.

  • Hikmah kenapa Allah SWT. Tidak menjawab pertanyaan dari orang yahudi tentang ruh tersebut, yaitu untuk menunjukkan betapa lemahnya kita dihadapan Allah. Karena ilmu kita tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang dimiliki Allah. 

  • Beberapa faedah dari hadits tersebut:

  1. Seorang alim atau seorang kyai itu boleh ditanya saat keadaan berjalan ataupun berdiri, apabila tidak memberatkan atau mengganggu beliau.

  2. Adab atau sopan santunnya Abdullah bin Mas’ud pada hadits tersebut, yaitu memasang badan saat nabi mendapatkan wahyu.

  3. Berusaha untuk diam jika tidak tahu jawaban dari pertanyaan atau melemparkan pertanyaan tersebut kepada orang lain.

  4. Ada sebagian ilmu yang hanya Allah yang tahu.

Friday, August 2, 2024

Review Novel Siluman Wadon

       


            Salah satu roman paling tersohor di dunia adalah Romeo dan Juliet, sebuah kisah cinta tragedi dari Italia yang ditulis oleh William Shakespeare ini sudah menjadi legenda di dunia kisah-kisah romansa. Saking hebatnya, kisah ini tetap menarik, dan dapat bersaing dibanding dengan romance-romance zaman sekarang. Terbukti, film yang menceritakan romansa ini dibuat beberapa kali atau mungkin sekedar pesta drama yang baru-baru ini malah mengundang kontroversi. Selain itu, ada pula adaptasi dalam bentuk animenya. 

Seorang santri Pondok Pesantren Putra Al-Fattah yang tertarik dengan kisah romansa legendaris tersebut juga mengadaptasikannya dalam versi imajinasinya sendiri. Ia menambahkan bumbu fantasy dalam kisah yang ia jadikan novel berjudul “Siluman Wadon”.

Novel “Siluman Wadon” menceritakan tentang seorang remaja laki-laki bernama Irfan dari keluarga pemburu tersohor di dunia, Jaeger Family. Suatu hari, ketika dirinya sedang pergi berkemah dengan kawannya di sebuah hutan, mereka bertemu dengan seekor siluman. Namun, berbeda dengan berbagai macam siluman yang ditaklukkan kakek neneknya dan kisah-kisah seram yang disampaikan, siluman yang ada dihadapan mereka cantik menawan. 

Novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang remaja yang menjadi harapan besar dari keluarga besarnya yang kebencian terhadap siluman sudah mendarah daging. Namun, remaja tersebut malah jatuh cinta dengan siluman. Lantas, bagaimana dia memperjuangkan kisah cintanya tersebut? Apakah dia berhasil memberikan pemahaman pada keluarga besarnya bahwa tidak semua siluman mengerikan? Semua pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab dalam novel “Siluman Wadon”.

Novel ini sangat mengasyikan. Sang penulis menggunakan bahasa yang tidak terlalu sederhana sehingga cerita menjadi monoton, tapi juga tidak terlalu sulit sehingga pembaca akan sukar dalam memahami cerita. K-San - begitulah nama penanya - menuangkan bahasa yang pas sehingga para pembaca dapat menikmati dan mengimajinasikan fantasi dengan nyaman. Selain itu, keseruan dalam novel ini terus berkesinambungan. Sehingga tanpa disadari, pembaca tiba-tiba sudah sampai di penghujung cerita. 

Walaupun begitu, novel ini memiliki beberapa kekurangan, seperti  typo yang ditemukan di beberapa halaman. Selain itu, Fiki Ishbahul Haq, santri Al-Fattah yang membantu K-San dalam mengedit novel tersebut menyatakan bahwa K-San sebenarnya bisa membuat karakter di dalam cerita lebih hidup dengan memberikan mereka dialek yang khas. 

K-San mengatakan, walau bergenre fantasy dan dibungkus dengan kisah romansa ala-ala Romeo dan Juliet, tujuannya dalam menulis novel “Siluman Wadon” adalah untuk menyampaikan pada pembaca bahwa kekuatan terbesar seorang manusia adalah cinta. Pelajaran ini didapatkan K-San bukan dari menonton kisah-kisah romansa seperti Romeo dan Juliet. Malahan, ia mendapatkannya di pondok tercinta, Pondok Pesantren Putra Al-Fattah. 

Di Pondok Pesantren Putra Al-Fattah, santri-santri diajarkan untuk mencintai Allah, Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, guru-guru, dan hal-hal luar biasa lainnya. Biasa disebut dengan mahabbah, dan dijadikan sebagai slogan utama Pondok Pesantren Putra Al-Fattah. المحبة طريقتنا K-San mengaku bahwa dirinya terus menerus terpukau dengan kisah-kisah keutamaan dan keajaiban mahabbah yang disampaikan oleh Agus H. Aniq Muhammad Makki B.Sc. MA.

Novel “Siluman Wadon” ini tersedia di Toko Mubarokatan Thoyyibah di Jl. Menara No.13, Pejaten, Langgardalem, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59315. Atau, bisa dengan menghubungi Instagram sang Penulis @kaji_k.san.



Semoga, karya Santri Al-Fattah ini dapat memberikan manfaat untuk Bangsa, Negara, dan Agama. Serta menjadi barokah untuk semuanya. 


Resentator : F-aza


Sunday, July 28, 2024

Kebencian Yang Berubah Menjadi Cinta

 

Setiap manusia pasti memiliki rasa benci karena membenci merupakan tabiat manusia. Sedangkan rasa benci itu muncul ketika kita menyaksikan peristiwa yang menyakitkan hati. Dalam hal sosial membenci karena disakiti mungkin masih termasuk dalam kategori wajar asal tidak berlebihan. Tetapi ada hal yang kurang wajar yaitu  membenci orang lain karena melakukan kebaikan yang sesuai dengan pandangan agama tetapi yang menurut kita salah apalagi sampai membenci secara berlebihan.

Rasulullah selalu mengajarkan kepada kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala hal termasuk dalam membenci dan mencintai orang. Karena mungkin orang yang kita benci itu baik di mata Allah dan apa yang kita cintai justru buruk di mata Allah. Bersikaplah proporsional dalam membenci dan mencintai. Rasulullah pernah bersabda, “Cintailah seseorang sekadarnya karena bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah seseorang sekadarnya,  karena bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang engkau cintai, (HR. Tirmidzi).”

Hal tersebut pernah dialami oleh Fadhalah, salah seorang sahabat yang dahulu sangat membenci Rasulullah dan dakwah yang dibawanya. Sebelum peristiwa penaklukkan Mekkah, Fadhalah pernah berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang aku benci di dunia ini selain Muhammad.” Kebenciannya itu semakin memuncak ketika melihat Nabi Muhammad memasuki Mekah dan menghancurkan semua berhala.

Fadhalah termasuk orang Quraisy yang pemberani. Bertubuh besar dan gagah. Ia selalu berusaha membunuh Nabi Muhammad seorang diri meskipun selalu gagal. Ia selalu mencari berbagai macam cara untuk membunuh Nabi. Sampai suatu ketika ia menemukan waktu yang tepat untuk membunuh beliau. Saat itu Nabi Muhammad sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Secara diam-diam Fadhalah membuntuti beliau dari belakang agar mudah mencekik lehernya. “Kali ini engkau tidak akan selamat, wahai Muhammad, “bisiknya dalam hati.

Tepat ketika Fadhalah ingin menerkam dan mencekik Rasulullah, tiba-tiba beliau berbalik ke belakang. Fadhalah sangat terkejut dan salah tingkah. Ia sama sekali tidak menyangka Rasulullah berbalik secepat itu dan menatap Fadhalah dengan penuh senyuman. Beliau sudah mengetahui niat buruk Fadhalah terhadap dirinya. Dengan cepat nabi meletakkan tangannya di dada Fadhalah dan berkata, “Mohonlah ampun kepada Allah! Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu.”

Fadhalah merasakan kelembutan tangan Rasulullah saat menyentuh dadanya. Fadhalah merasa tenang dan tidak gugup seperti tadi. Tiba-tiba senyuman yang tersirat di bibir orang yang selama ini ia benci seketika membuatnya cinta. Tak pernah terbayang dalam pikirannya, beliau akan mendapatkan balasan senyuman dan kehangatan tangan Rasulullah yang begitu menyentuh hatinya. Seketika Fadhalah langsung luluh dihadapan Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, ajaklah aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya.”

Saat itu Fadhalah menyatakan dirinya masuk Islam dihadapan Rasulullah dan belajar banyak tentang keimanan kepada beliau. Ia menjadi sahabat yang sangat menghormati dan mencintai Nabi. Sangking cintanya kepada nabi ia sampai berkata, ”Demi Allah, Rasulullah adalah makhluk yang paling aku cintai di dunia ini.”

Begitulah kebencian yang harus dibayar oleh Fadhalah dengan kecintaan kepada Nabi Muhammad. Ia tidak menduga orang yang tadinya sangat dibencinya kini menjadi orang yang paling dicintainya. Dalam kejadian ini tentu ada rasa penyesalan dalam diri Fadhalah karena telah membenci dan berusaha melenyapkan Rasulullah selama ini. Tetapi Rasulullah justru membalas kebencian Fadhalah dengan senyuman cinta yang menembus dan menghancurkan duri-duri benci dalam hati kecilnya. Kisah ini bisa menjadi pelajaran buat kita agar selalu memposisikan kebencian pada tempatnya yang proporsional. Karena boleh jadi orang yang kita benci hari ini, justru dialah yang menjadi penolong kita esok hari.

Oleh : Shofil