Wednesday, August 12, 2026

Belajar Dari Senja


 “PRITTT…!”

Suara peluit ditiup. Terlihat sekumpulan anak sedang bermain bola di lapangan. Sore itu, suasana yang indah membuat hati terasa tenang. Setelah melewati siang yang panas, mereka sangat antusias untuk bermain.

“GOLLL…”

Terdengar suara mereka yang bersorak gembira.

“PRITT…”

Suara peluit tanda permainan selesai terdengar. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Kamu hebat banget Janu!” ucap Rayyan.

“Hehe, kamu juga hebat kok,” balas Janu.

“Hebat apanya? Kan aku wasit,” kata Rayyan.

“Ya, berarti kamu wasit yang hebat,” jawab Janu.

Mereka pun tertawa bersama sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Rayyan disambut hangat oleh ibunya.

“Ehh… pangeran kecilku sudah datang,” ucap Ibu sambil memeluk anaknya.

“Tadi gimana main bolanya? Seru?” tanya ibunya.

“Seru, walau aku cuma jadi wasit,” jawab Rayyan.

“Emang kenapa?” tanya ibunya sambil mengelus rambut anaknya.

“Hehe, kan kalau wasit nggak bisa ikut main,” jawab Rayyan sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting kan kamu tetap senang,” jawab Ibu sambil memencet hidung kecil anaknya.

Akhirnya, mereka pun duduk bersama di teras rumah sambil menikmati indahnya mentari senja dan ditemani hembusan angin sepoi-sepoi.

“Rayyan tahu nggak? Kita bisa belajar dari senja, lho,” kata Ibu.

“Belajar dari senja?” tanya Rayyan, tidak paham.

“Iya, kita belajar dari senja,” jawab Ibu.

“Maksudnya?” tanya Rayyan, tidak mengerti.

“Maksudnya, kamu bisa seperti mentari senja. Walaupun saat siang hari diabaikan, bahkan dibenci, ia tetap memberikan cahayanya yang terbaik saat senja. Ia tahu kalau ia sering diabaikan, tetapi ia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik sebelum ia tenggelam. Seperti halnya kamu, walaupun kamu diabaikan, kamu harus tetap menjadi anak yang baik,” jelas Ibu.

Rayyan pun paham apa yang dimaksud ibunya. Ia tersenyum sambil menggenggam peluit merah di tangannya.

Ia pun mendapat pelajaran. Bahwa, walaupun sering diabaikan, kita masih bisa memberikan yang terbaik di akhir. Dengan begitu, suatu saat kita tidak akan terabaikan lagi.

Oleh: Azami


Tuesday, August 4, 2026

"Jujur Janggal": Emangnya Wajib Bilang "'Jujur'' Supaya Nggak Bohong?

 


Yaa kembali lagi di part bedah istilah Gen Z. Kalau kemarin kita sudah bahas tentang "when yh", sekarang kita bahas yang "jujur janggal", dan ini pure perspektif saya sendiri yaa.

Kenapa sih ada kata "jujur"? Apakah kalau tidak pakai kata tersebut berarti bohong? Ngga yaa. Kata jujur itu adalah kata penguat dalam menyatakan suatu hal. Sedangkan kata janggal adalah kata imbuhan saja yang tujuannya menarik perhatian para pendengarnya.


Anyway, ini hanya sekadar kreativitas Gen Z membuat istilah di medsos. Kalau kita amati lebih dalam, fenomena lahirnya kosakata baru seperti ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Setiap generasi selalu punya cara uniknya sendiri untuk menciptakan bahasa kelompok yang membuat mereka merasa memiliki ikatan khusus, sekaligus sebagai bentuk kebebasan berekspresi di ruang digital. Dulu mungkin kita mengenal istilah-istilah gaul era 90-an atau 2000-an awal, dan sekarang giliran Gen Z yang memegang kendali dengan racikan kata yang sering kali terdengar kontradiktif namun jenaka.


Kombinasi kata "jujur" dan "janggal" ini sendiri sebenarnya mencerminkan bagaimana anak muda sekarang suka mendramatisasi situasi secara komedik. Kata "jujur" dipakai untuk memberikan seolah-olah apa yang mereka katakan adalah sebuah kabar yang sangat valid. Lalu dipadukan dengan kata "janggal" yang justru memberi kesan kontras, seolah menyiratkan bahwa situasi atau perasaan yang sedang dibahas itu begitu luar biasa, unik, atau bahkan di luar nalar sampai-sampai bikin relate tapi juga mengernyitkan dahi.


Nah, kalau kita lihat dari sudut pandang anak-anak pesantren, fenomena bahasa gaul seperti ini sering kali jadi warna tersendiri di balik tembok asrama. Santri zaman now tidak melulu kaku; mereka juga paham tren medsos yang lagi seliweran. Bedanya, di lingkungan pondok, kreativitas bahasa ini biasanya bergeser menjadi pelipur lara yang khas. Misalnya: Jujur janggal, rasanya baru kemarin masuk pondok, eh sekarang sudah mau sembilan tahun aja mondoknya.


Meski begitu, dibalik keisengan memakai istilah-istilah gaul tersebut, para santri harus tetap punya rem tangan bernama adab. Mereka tahu kapan harus melemparkan candaan santai dengan frasa gaul saat bercengkrama dengan sesama teman, dan kapan harus kembali menggunakan bahasa yang santun saat menghadap guru atau Kiai.


Jadi, kalau ditarik benang merahnya, bahasa gaul ala Gen Z ini sebenarnya nggak perlu ditelan secara mentah-mentah atau sampai bikin pusing kepala. Mereka cuma sedang meracik bumbu komunikasi agar obrolan di media sosial terasa lebih santai, hidup, dan punya vibe yang asyik buat disimak bareng-bareng. Pada akhirnya, bahasa adalah makhluk yang hidup; ia akan terus bertumbuh seiring dengan cara kita beradaptasi dengan zaman.

Gimana menurut kalian? Apakah istilah "jujur janggal" ini sukses bikin obrolan makin seru, atau malah bikin kita geleng-geleng kepala tiap kali mendengarnya?


Finally, itulah sedikit pembahasan istilah "Jujur Janggal" versi saya, kalau versi kalian gimana? Komen dibawah yaak. Sampai jumpa di karya bedah istilah gen Z yang akan datang.

Oleh: Muhammad Abid Yakhsyallah

Tuesday, July 21, 2026

Jejak di Ujung Sandal Kiai

 


Hujan baru saja berhenti ketika bel pesantren berbunyi. Santri-santri berlarian menuju masjid sambil mengangkat ujung sarung agar tidak terkena lumpur. Di antara mereka ada seorang santri bernama Zain. Ia dikenal cerdas, hafal banyak matan, dan selalu menjadi juara kelas. Namun, ada satu hal yang sering luput darinya: adab.


Baginya, ilmu adalah hasil kecerdasan dan kerja keras. Selama rajin belajar, menurutnya seseorang pasti akan berhasil.


Suatu pagi, Zain melihat sandal kiai terletak di serambi masjid. Beberapa santri dengan penuh hormat merapikannya agar tidak terkena air hujan. Zain hanya melirik sekilas.


“Kenapa harus repot mengurus sandal?” gumamnya pelan. “Yang penting kan belajar.”


Ucapan itu terdengar oleh Hasan, sahabatnya.


Hasan tersenyum.


“Belajar memang penting. Tapi adab kepada guru lebih dulu membuka pintu ilmu.”


Zain hanya tertawa kecil. Baginya, itu hanyalah kebiasaan orang-orang terdahulu yang terlalu berlebihan.


Hari demi hari berlalu.


Anehnya, semakin giat belajar, Zain justru semakin sulit memahami pelajaran. Hafalan yang dahulu mudah kini terasa berat. Kitab yang biasa ia baca berulang kali seakan kehilangan maknanya. Ia mulai mudah marah, sulit berkonsentrasi, bahkan sering lupa ketika diminta menjelaskan pelajaran di depan kelas.


Sementara itu, Hasan yang kecerdasannya biasa saja justru semakin berkembang. Penjelasannya mudah dipahami, hafalannya kuat, dan wajahnya selalu tampak tenang.


Zain mulai bertanya-tanya.


Suatu malam setelah mengaji, ia memberanikan diri menemui seorang kiai sepuh yang terkenal bijaksana.


“Yai,” katanya lirih, “saya belajar lebih lama daripada teman-teman saya. Saya membaca lebih banyak kitab. Tetapi mengapa ilmu terasa semakin jauh?”


Kiai itu tidak langsung menjawab.


Beliau justru bertanya,


“Ketika engkau mengambil air wudhu, dari mana engkau memulainya?”


“Dari tangan, Yai.”


“Lalu mengapa tidak langsung membasuh kepala?”


“Karena itulah urutannya.”


Kiai tersenyum.


“Begitu pula mencari ilmu. Ada urutannya. Sebelum ilmu masuk ke kepala, adab harus masuk ke dalam hati.”


Kalimat itu menancap kuat di dada Zain.


Namun ia masih belum benar-benar memahami maksudnya.


Keesokan paginya, sebelum adzan Subuh berkumandang, Zain melihat sesuatu yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.


Seorang santri tua sedang menyapu halaman ndalem kiai dengan penuh ketulusan. Setelah itu ia membersihkan sandal-sandal para tamu, lalu diam-diam mengisi kembali kendi air di serambi rumah sang kiai.


Tak ada yang menyuruhnya.


Tak ada yang memujinya.


Semua dilakukan dengan senyum.


Beberapa hari kemudian diumumkan hasil ujian besar pesantren.


Santri yang memperoleh nilai tertinggi ternyata bukan Zain.


Bukan pula Hasan.


Melainkan santri tua yang setiap pagi menyapu halaman.


Semua orang terkejut.


Padahal ia hampir tidak pernah terlihat membawa banyak kitab.


Seorang ustaz berkata,


“Jangan hanya lihat berapa lama seseorang membuka kitab. Lihat pula bagaimana ia memuliakan orang yang mengajarkan kitab itu.”


Sejak hari itu, hati Zain mulai berubah.


Ia mulai membiasakan diri berdiri ketika kiai datang. Ia mendengarkan setiap nasihat dengan sungguh-sungguh. Ia tidak lagi memotong pembicaraan guru. Ia membantu menyiapkan majelis sebelum pengajian dimulai dan membereskannya setelah selesai.


Ia juga mulai menyadari bahwa menghormati kiai bukan sekadar mencium tangan atau merapikan sandal. Hormat berarti menjaga nama baik guru, melaksanakan nasihatnya, mendoakannya, tidak membantah dengan kesombongan, serta mengamalkan ilmu yang diajarkan.


Perubahan itu berlangsung perlahan.


Tanpa disadari, hatinya menjadi lebih tenang.


Pelajaran yang dahulu terasa rumit kini lebih mudah dipahami. Hafalannya kembali kuat. Bahkan ia tidak lagi belajar hanya demi menjadi juara, tetapi agar ilmunya membawa manfaat.


Suatu sore, Zain dipanggil menghadap sang kiai.


Beliau berkata lembut,


“Zain, tahukah engkau mengapa para ulama terdahulu begitu menjaga adab kepada guru?”


Zain menggeleng.


Kiai mengambil sebuah kitab tua dari rak kayu.


“Kitab ini telah berpindah tangan selama ratusan tahun. Isinya sama, tintanya sama, kertasnya hampir sama. Namun mengapa ada orang yang membaca kitab ini lalu menjadi ulama besar, sementara ada pula yang membacanya tetapi tidak memperoleh keberkahan?”


Beliau menatap Zain dengan penuh kasih.


“Karena ilmu bukan hanya kumpulan huruf. Ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan menetap di hati yang dipenuhi kesombongan.”


Air mata Zain menetes.


Ia teringat saat menertawakan santri yang merapikan sandal kiai.


Ia teringat ucapan Hasan tentang adab.


Ia teringat semua sikap angkuhnya.


Dengan suara bergetar ia berkata,


“Yai… mohon maafkan saya.”


Kiai tersenyum hangat.


“Anakku, seorang santri tidak diukur dari seberapa tinggi nilai ujiannya. Ia diukur dari seberapa dalam hormatnya kepada guru, karena dari situlah keberkahan ilmu tumbuh.”


Bertahun-tahun kemudian, Zain menjadi seorang dai yang dikenal luas. Ceramahnya didengar ribuan orang. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah.


Namun setiap kali ditanya tentang rahasia keberhasilannya, ia tidak pernah menyebut kecerdasannya.


Ia selalu berkata,


“Dulu aku mengira ilmu hanya bisa diraih dengan membaca. Ternyata aku keliru. Ilmu juga tumbuh dari adab, dari ketundukan hati, dan dari hormat kepada orang yang mengajarkannya.”


Lalu ia menambahkan sebuah kalimat yang selalu membuat majelis hening.


“Jika engkau ingin ilmu yang hanya memenuhi kepalamu, belajarlah dengan tekun. Tetapi jika engkau menginginkan ilmu yang menerangi hidupmu, maka muliakanlah kiainya. Sebab keberkahan sering kali datang bukan dari banyaknya pelajaran, melainkan dari hormat yang tulus kepada guru.”


Sejak saat itu, setiap santri yang melewati serambi masjid tidak lagi menganggap sandal kiai sebagai benda biasa.


Mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kemuliaan tidak dimulai dari langkah kaki sendiri, melainkan dari kerendahan hati dalam memuliakan orang yang telah menunjukkan jalan menuju ilmu dan menuju Allah.


Oleh: Falah

Tuesday, May 5, 2026

Malu yang Salah Tempat


 Pernah nggak sih kamu ingin mencoba sesuatu yang baik atau hal baru, tapi akhirnya batal? Bukan karena nggak bisa, tapi karena takut dilihat orang, takut dihina, atau takut dibilang sok baik. Padahal, yang kamu lakukan itu hal baik dan nggak merugikan siapapun.

Kalau kamu pernah merasakan itu, tulisan ini cocok buat kamu yang ingin mulai lagi pelan-pelan jadi lebih baik.

Sekarang kita pahami dulu: apa itu rasa malu?

Malu itu sebenarnya perasaan nggak nyaman atau segan karena melakukan sesuatu yang dianggap kurang baik. Nah, perhatikan kata “dianggap kurang baik”. Artinya, kalau yang kamu lakukan itu baik, sebenarnya nggak ada alasan untuk malu. Justru itu hal yang seharusnya dilakukan.

Jadi, nggak semua rasa malu itu buruk. Ada malu yang memang harus dijaga, yaitu malu saat melakukan hal yang salah atau maksiat. Tapi ada juga malu yang justru menghambat kita untuk berkembang. Nah, yang seperti ini yang perlu dilawan.

Contohnya apa saja?

Malu bertanya padahal nggak paham.
Malu belajar dari nol karena takut dibilang bodoh.
Malu mencoba hal baru karena takut gagal.

Kedengarannya biasa saja, ya? Tapi justru karena terlalu biasa, banyak orang terjebak di situ tanpa sadar.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya itu bukan sekadar malu. Lebih tepatnya, kita takut sama penilaian orang lain. Kita sibuk mikir, “Nanti orang ngomong apa ya?” Padahal, hidup ini kita yang jalani, bukan mereka.

Lucunya lagi, orang yang kita takuti penilaiannya itu… belum tentu juga mikirin kita. Kita saja yang kebanyakan mikir.

Masalahnya, rasa malu yang seperti ini bisa pelan-pelan menahan langkah kita. Bikin kita ragu, nggak berkembang, dan akhirnya tetap di tempat. Bukan karena kita nggak mampu, tapi karena kita nggak berani mulai.

Coba deh kamu pikirkan:
Berapa banyak kesempatan yang kamu lewatkan karena malu?
Berapa banyak hal yang sebenarnya bisa kamu pelajari, tapi berhenti di awal karena takut terlihat bodoh?

Pada akhirnya, yang paling menyakitkan itu bukan kegagalan, tapi kesempatan yang nggak pernah dicoba.

Lalu, harus mulai dari mana?

Mulai saja dari hal kecil. Nggak perlu langsung besar. Cukup berani bertanya sekali, mencoba satu hal baru, atau keluar sedikit dari zona nyaman. Itu sudah langkah maju.

Lalu, biasakan diri untuk “terlihat bodoh” di awal. Semua orang hebat juga pernah nggak tahu apa-apa. Nggak ada yang langsung pintar tanpa proses.

Terus, ubah cara berpikirmu. Dari yang tadinya “apa kata orang”, jadi “apa manfaatnya buat aku”. Selama itu hal baik, kenapa harus malu?

Dan ingat ini: orang lain nggak sesibuk itu memperhatikan hidupmu. Kamu saja yang terlalu banyak mikir.

Akhirnya, kamu punya dua pilihan: tetap diam karena malu, atau mulai bergerak walaupun belum sempurna.

Karena faktanya, hidup nggak nunggu kamu siap. Hidup berjalan bareng orang-orang yang berani mencoba.

Kadang, yang perlu kita lawan itu bukan rasa takut… tapi rasa malu yang salah tempat.

Oleh: Naim


Tuesday, April 7, 2026

KH. Hasyim Latief, Sang Komandan Tempur Hizbullah


Dikisahkan bahwa pada masa Agresi Militer Belanda II di Jawa Timur, KH. Hasyim Latif bersama Laskar Hizbullah lainnya pernah terkepung oleh pasukan Belanda. Dalam keadaan tersebut, beliau segera berusaha meloloskan diri dari kepungan.

Ketika berjalan seorang diri di lereng gunung di kawasan Ngrimbi, Bareng, Jombang, pasukan Belanda kembali menemukan dan mengepung beliau. Tanpa jeda, mereka langsung melepaskan tembakan bertubi-tubi dengan senjata otomatis. Peluru menghujani tubuh KH. Hasyim Latif, mengenai wajah serta bagian tubuh lainnya.

Namun, setiap peluru yang mengenai tubuh beliau tidak menimbulkan luka sedikit pun. Peluru-peluru tersebut seolah meleset, tidak mempan sama sekali. Melihat kejadian itu, pasukan Belanda menghentikan penembakan, terlebih setelah seluruh amunisi telah dimuntahkan. Dalam keadaan gentar, mereka pun segera mundur dan kembali ke markas.

Ketika ditanya mengapa tubuh beliau tidak mempan terhadap peluru, KH. Hasyim Latif menegaskan bahwa hal itu merupakan karomah dari para kyai yang telah memberinya suwuk dan doa-doa sebelum beliau berangkat berjuang melawan Belanda. Ketika itu, memang tidak sedikit kyai yang memberikan bekal berupa doa-doa maupun air minum yang telah diberi doa kepada para pejuang perang untuk menghadapi pasukan musuh. Dan ternyata, doa-doa itu berkhasiat menjadikan seseorang kebal, walaupun terhadap peluru sekalipun.

Oleh: Arsakha

 


 

Friday, April 3, 2026

Karomah KH. Kholil Bangkalan


 Dalam komunitas pesantren, nama KH. Kholil Bangkalan Madura sudah sangat familiar. Beliau dikenal sebagai seorang Kyai dengan tingkat spiritualitas yang tinggi, sekaligus sebagai waliyullah.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu terdapat beberapa pejuang dari Jawa yang bersembunyi di kompleks Pesantren Kademangan. Sayangnya, informasi ini tercium oleh tentara penjajah. Dengan mengerahkan pasukan yang cukup besar, mereka menggeledah seluruh area pesantren. Mereka sangat yakin bahwa para pejuang bersembunyi di sana. Oleh karena itu, mereka merasa sangat marah ketika tidak menemukan apa pun di tempat tersebut.

Karena jengkel, mereka akhirnya menahan Kyai Kholil yang sudah sepuh. Mereka berharap, dengan ditahannya beliau, para pejuang akan menyerahkan diri.

Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan. Bukan para pejuang yang menyerahkan diri, melainkan pihak penjajah yang dibuat kebingungan oleh berbagai kejadian yang tidak mereka pahami. Mula-mula, semua pintu tahanan tidak dapat ditutup ketika Kyai Kholil dimasukkan ke dalam sel. Hal ini membuat mereka harus berjaga siang dan malam, jika tidak ingin para tahanan lain melarikan diri.

Pada hari-hari berikutnya, ribuan orang dari berbagai penjuru Pulau Madura, bahkan dari Jawa, berdatangan untuk menjenguk dan mengirimkan makanan kepada Kyai Kholil. Tentu saja, hal ini semakin memusingkan pihak penjajah. Akhirnya, mereka mengeluarkan keputusan yang melarang masyarakat untuk mengunjungi beliau.

Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak juga menyelesaikan masalah. Masyarakat yang berbondong-bondong tetap datang, berkerumun, dan berdesakan di sekitar rumah tahanan. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta untuk ikut ditahan bersama Kyai Kholil.

Daripada terus dipusingkan oleh hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti, pihak penjajah akhirnya melepaskan Kyai Kholil dari penjara begitu saja.

Oleh: Arsakha


Tuesday, March 31, 2026

Dalam Jalan Panjang

 



Sore itu cerah. Matahari memancarkan sinar hangat menjelang terbenam. Di lapangan, anak-anak bermain dengan riang. Di tengah suasana itu, seorang kakek melintas dengan motor tuanya.

“Paimen!” sapa seseorang.
“Eh, Thahirin,” jawab kakek.
“Wah, sudah tua masih sehat saja,” ujar Thahirin.
Kakek tersenyum. “Ah, tidak juga. Sekarang sudah tidak sekuat dulu.”
“Iya juga, sekarang tinggal menikmati waktu saja, sambil melihat anak-anak,” balas Thahirin.

Setelah berbincang sebentar, kakek pun melanjutkan perjalanannya.

Belakangan ini, ia memang sering berkeliling kampung setiap sore dengan motor tuanya yang setia menemaninya. Meski begitu, terkadang ia membuat keluarganya khawatir. Sebab ia kerap menyinggung soal kematian dalam ucapannya. Hanya satu orang yang tidak merasa demikian. Ziyad, anak kecil berusia lima tahun yang justru sangat senang mendengar cerita-ceritanya. Entah kisah nyata atau sekadar karangan yang tokoh utamanya diganti kakek, cerita-cerita itu selalu menarik bagi Ziyad.

Sesampainya di rumah, kakek memarkir motornya di depan rumah kayu.

“Kakek!” teriak Ziyad sambil berlari menghampiri. Ia langsung menarik tangan kakek. “Kakek, Ziyad mau jalan-jalan.”

“Sabar, Kakek baru sampai. Memangnya tidak capek?”
“Tidak. Tadi Ziyad sudah tidur,” jawabnya polos.
“Baiklah, Kakek ganti baju dulu supaya tidak kotor.”
“Memangnya kalau kotor kenapa, Kek?”
“Kalau bajunya kotor, nanti Kakek tidak bisa main sama Ziyad,” jawab kakek sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka pun berjalan-jalan menikmati sore. Angin berhembus pelan, menggerakkan janggut putih kakek.

Di tengah perjalanan, kakek bertanya, “Ziyad, kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Ziyad mau jadi pengusaha, Kek,” jawabnya mantap.
“Wah, cita-cita yang bagus. Dulu Kakek hanya ingin jadi petani.”
“Memangnya tidak capek, Kek?”
“Capek, tapi itulah cara Kakek menjalani hidup.”

Ziyad berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa tidak jadi pengusaha saja? Kan uangnya banyak.”

Kakek tersenyum, lalu berkata pelan, “Bekerja itu bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang tanggung jawab. Kita harus yakin dengan pilihan kita, bukan semata karena hasilnya, tetapi juga manfaatnya bagi orang lain. Petani misalnya, tanpa petani, tidak akan ada padi. Sopir juga, tanpa mereka barang tidak akan sampai. Kakek tahu menjadi petani itu tidak mudah, tetapi Kakek senang melihat orang-orang bisa makan dari hasil panen Kakek.”

Lalu kakek pun melanjutkan, “Begitu juga ayahmu. Ia menjadi dosen agar bisa membagikan ilmu yang dimilikinya.”

“Kalau pengusaha bisa apa, Kek?” tanya Ziyad lagi.
“Pengusaha adalah orang yang terus berusaha. Ia membangun dan mengembangkan usahanya, sedikit demi sedikit, sambil bersaing dengan yang lain. Kakek berharap kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses. Tapi ingat, perjalananmu masih panjang. Banyak hal yang belum kamu ketahui, jadi kamu harus terus belajar.”

Ziyad mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang cita-cita, tetapi juga tentang proses panjang untuk mencapainya.

Sore itu, langkah kecilnya terasa lebih mantap. Ia tahu, di perjalanan yang panjang nanti, ia akan belajar banyak hal hingga akhirnya mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Oleh: Azami




Wednesday, March 11, 2026

Dulu, Di Hari Minggu



ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.

“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.

Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.

Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.

“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.

Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.

Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.

“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”

“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.

Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.

“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.

“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.

Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.

Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.

Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.

“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.

“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.

Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.

Selesai sholat, Dika keluar lagi.

“Ayo main lagi!” katanya.

Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.

Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.

Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.

“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”

“Sebentar Bu!” jawab Dika.

“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.

Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.

Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.

Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.

Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.

Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.

“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.

Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.

Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.

Oleh: Arsakha

ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.

“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.

Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.

Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.

“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.

Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.

Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.

“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”

“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.

Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.

“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.

“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.

Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.

Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.

Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.

“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.

“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.

Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.

Selesai sholat, Dika keluar lagi.

“Ayo main lagi!” katanya.

Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.

Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.

Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.

“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”

“Sebentar Bu!” jawab Dika.

“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.

Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.

Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.

Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.

Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.

Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.

“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.

Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.

Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.

Oleh: Arsakha