Tuesday, January 6, 2026

Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Penakluk Perang Salib

 


Shalahuddin Al-Ayyubi memiliki nama lengkap Yusuf ibn Ayyub ibn Shadi Al-Kurdi, yang di dunia Barat dikenal dengan nama Saladin. Ia merupakan salah satu panglima perang paling cemerlang pada masa Dinasti Zankiyah.

Di bawah kepemimpinan Nuruddin Zanki, Dinasti Zankiyah berhasil menaklukkan Mesir pada tahun 1168 M, sehingga aliansi Damaskus dan Aleppo (Suriah) semakin kuat. Keberhasilan peradaban Islam ini dipandang sebagai ancaman besar oleh negara-negara Kristen Eropa.

Setelah wafatnya Khalifah Nuruddin, Shalahuddin memanfaatkan momentum untuk mengkonsolidasikan kekuatan. Pada tahun 1169 M, ia mendirikan Dinasti Ayyubiyah yang berpusat di Mesir. Dalam waktu singkat, Salahuddin berhasil menyatukan dunia Islam guna menghadapi invasi pasukan Kristen Eropa.

Puncak kejayaannya terjadi pada 4 Juli 1187 M dalam Perang Hittin. Dalam pertempuran tersebut, Salahuddin yang memimpin pasukan Muslim berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan Pasukan Salib. Dalam perang ini, sekitar 30.000 Pasukan Salib terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Perang Hittin menjadi titik awal (pembuka) bagi perang-perang melawan Pasukan Salib selanjutnya.

Kembalinya Yerusalem ke dalam peradaban Islam inilah yang kemudian memicu diserukannya kembali Perang Salib Ketiga (1189–1192 M). Dalam Perang Salib Ketiga, pasukan Kristen dipimpin oleh tiga raja besar Eropa, yaitu:

  1. Frederick I Barbarossa, Raja Jerman dan Kaisar Romawi Suci (1152–1190 M);

  2. Philip II, Raja Prancis (1180–1223 M);

  3. Richard I, Raja Inggris (1189–1199 M).

Ketiga raja tersebut menerima seruan Paus untuk memulai Perang Salib Ketiga, yang juga dikenal sebagai Perang Salib Raja. Namun secara keseluruhan, usaha ini tidak mencapai tujuan utamanya. Pasukan Salib kalah baik dari segi jumlah maupun sumber daya, sementara pasukan Shalahuddin tetap utuh dan memiliki perbekalan yang memadai.

Pada akhirnya, Shalahuddin menunjukkan sikap toleransi yang tinggi. Orang-orang Kristen diizinkan untuk tetap tinggal atau melakukan ziarah ke Yerusalem sebagai kelompok minoritas yang berada di bawah perlindungan pemerintahan Islam.

Oleh: Arsakha