Halo para pembaca setia Website Al Fattah!
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang hingga detik ini masih melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus meneladani sosok-sosok mulia dalam sejarah Islam.
Di serial 'Mengenal Sahabat Nabi Episode Keempat' kali ini, kita akan menyelami kisah salah satu figur pahlawan wanita yang luar biasa, yaitu Sayyidah Nusaibah binti Ka'ab al-Maziniyyah raḍiyallāhu 'anhā. Beliau adalah simbol ketangguhan, keberanian, dan pengorbanan yang tak tergantikan. Saat kaum laki-laki berperang di garis depan, Sayyidah Nusaibah dengan gagah berani ikut serta, menunjukkan bahwa semangat jihad dan kecintaan pada agama tidak mengenal batasan gender. Kisahnya yang heroik dalam Perang Uhud, di mana beliau menjadi perisai hidup bagi Rasulullah ﷺ, telah menginspirasi jutaan umat Islam sepanjang masa. Lebih dari itu, beliau juga dikenang sebagai figur wanita yang berilmu dan mendidik putra-putrinya untuk menjadi pejuang tangguh di jalan Allah.
Sayyidah Nusaibah binti Ka'ab, atau yang dikenal dengan nama Ummu Umarah, adalah salah satu figur perempuan paling inspiratif dalam sejarah Islam. Beliau berasal dari Bani Najjar di Madinah, sebuah suku yang memiliki kedudukan terpandang. Ayah beliau bernama Ka'ab bin Amr dan ibu beliau bernama Rabab binti Abdullah. Kehidupan keluarga beliau dipenuhi keberkahan karena mereka menjadi salah satu keluarga pertama di Madinah yang menerima dakwah Islam, berkat peran sahabat Nabi, Sayyidina Mushab bin Umair, yang diutus oleh Rasulullah ﷺ.
Sayyidah Nusaibah pernah menikah sebanyak dua kali. Pernikahan pertamanya dengan Zaid bin Asyim memberinya dua putra, Abdullah dan Habib. Setelah suaminya wafat, ia menikah lagi dengan Gaziah bin Amr dan dikaruniai dua anak, Tamim dan Khaulah. Keimanan sayyidah Nusaibah sangat kuat, dibuktikan dengan kehadirannya sebagai satu dari tiga perempuan yang ikut serta dalam Bai'at Aqabah II, sebuah ikrar janji yang dilakukan oleh 73 penduduk Madinah di hadapan Rasulullah ﷺ.
Keberanian di Medan Perang Uhud
Peran sayyidah Nusaibah dalam Perang Uhud adalah salah satu kisah keberanian yang paling legendaris. Pada awalnya, ia tidak berada di garis depan, melainkan bertugas di belakang sebagai tim logistik dan medis, menyediakan air, makanan, dan merawat para prajurit yang terluka.
Namun, situasi perang berubah drastis. Pasukan Muslim mulai terdesak, dan Nabi Muhammad ﷺ terpisah dari pasukannya. Melihat Rasulullah ﷺ sendirian dan dikelilingi oleh musuh, sayyidah Nusaibah tidak ragu. Beliau segera mengambil perisai dan pedang yang tergeletak di medan perang lalu maju ke garis depan. Beliau berdiri sebagai perisai hidup bagi Rasulullah ﷺ, mengayunkan pedangnya dengan gagah berani untuk menghalau setiap serangan yang datang.
Aksi heroiknya ini membuat Rasulullah ﷺ sangat kagum. Beliau bahkan memuji sayyidah Nusaibah dengan berkata, "Sungguh, sayyidah Nusaibah jauh lebih baik, jauh lebih mahir dibanding Si Fulan, Si Fulan, Si Fulan itu."
Di tengah pertempuran, putra sayyidah Nusaibah, Abdullah, terluka. Dengan sigap, sayyidah Nusaibah mengobati lukanya dan menyemangatinya untuk kembali berjuang. Tak hanya itu, ketika Rasulullah ﷺ menunjukkan siapa musuh yang telah melukai putranya, sayyidah Nusaibah dengan kemarahan yang membara langsung mengejarnya dan berhasil membalaskan dendam.
Puncak pengorbanan sayyidah Nusaibah terjadi ketika beliau menahan pedang musuh dengan tubuhnya sendiri untuk melindungi Rasulullah ﷺ. Akibatnya, beliau menderita luka parah, yang diriwayatkan berjumlah 12 hingga 20 luka di seluruh tubuhnya, termasuk luka yang sangat dalam di leher.
Setelah Perang Uhud berakhir, Rasulullah ﷺ menjenguknya. Ketika ditanya apa yang ia harapkan sebagai balasan atas pengorbanannya, sayyidah Nusaibah dengan tulus menjawab, "Ya Rasulullah, hanya satu yang saya harapkan. Doakanlah saya agar kelak menjadi tetanggamu di surga."
Perjuangan di Perang Yamamah dan Akhir Hayat
Meskipun Rasulullah ﷺ telah wafat, semangat perjuangan sayyidah Nusaibah tidak pernah padam. Beliau tetap berpartisipasi dalam pertempuran-pertempuran penting, termasuk Perang Yamamah melawan nabi palsu, Musailamah al-Kadzab.
Dalam perang ini, sayyidah Nusaibah kehilangan putranya, Habib, yang ditangkap dan dibunuh secara keji oleh Musailamah karena tetap teguh pada keimanannya. Kematian putranya justru membakar semangat juang sayyidah Nusaibah. Meskipun usianya sudah lanjut (sekitar 52 tahun), beliau meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk ikut bertempur. Di medan perang, beliau mengalami serangan yang menyebabkan salah satu lengannya terputus. Sayyidah Nusaibah baru berhenti bertempur setelah Musailamah al-Kadzab berhasil terbunuh.
Perang Yamamah menjadi pertempuran terakhirnya. Beliau wafat setahun kemudian, pada tahun 13 Hijriah, di masa kekhalifahan sayyidina Abu Bakar. Diriwayatkan bahwa beliau wafat dalam keadaan tersenyum, mengakhiri hidupnya sebagai seorang pejuang yang penuh keimanan dan pengorbanan. Kisah sayyidah Nusaibah binti Ka'ab tetap menjadi pengingat tentang ketangguhan, keberanian, dan kesetiaan seorang perempuan yang berjuang di jalan Allah.
Oleh: Tim Litbang
0 comments: